Rafania Amora.
Tinggal dan hidup bersama dengan ibunya dalam kesederhanaan. Hingga 2 tahun berlalu wanita yang akrab dipanggil Nia itu kembali merasakan kehilangan. Ibunya meninggal dunia, hingga mau tak mau dia harus ikut tinggal bersama dengan sang ayah.
Setelah terjadi petemuan kecil Keluarga sang ayah dengan teman lamanya, keduanya memutuskan untuk menjodohkan anak mereka yang masih single diusianya yang sudah cukup matang.
Lika-liku kehidupan rumah tangga telah dijalani oleh mereka, hingga suatu ketika terjadi masalah yang menjadi pukulan berat baginya.
Rafania Amora pun akhirnya memutuskan untuk berpisah dengan Adrian Martadinata.
Setelah mengalami penderitaan yang mendalam akibat ulah mantan suaminya, takdir pun menggantikannya dengan kebahagiaan yang tiada tara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon faray_glad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Jalanan di Surabaya barat tampak masih cukup ramai pada pukul delapan malam. Masih banyak mobil yang berlalu-lalang, salah satunya adalah mobil yang dikemudikan oleh Adri.
Lelaki itu memboyong istrinya untuk tinggal dirumah keluarga Martadinata. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Adri membelokkan mobilnya, memasuki halaman rumah mewah milik keluarga Martadinata yang diikuti dengan mobil lain milik keluarga Nia di belakangnya.
Besar sekali rumahnya. batin Nia.
Nia melirik sekilas kearah Adri yang saat ini telah mematikan mesin mobilnya.
"Ku harap, kamu akan betah tinggal di sini, Nia," ucap Adri sambil melemparkan senyuman kearah istrinya.
"Semoga saja."
Keduanya turun, tidak disangka jika keluarga besar Martadinata sudah menunggu kedatangan mereka. Menyambut kedatangan menantunya dengan memasang wajah bahagia.
"Selamat datang, Sayang."
Sambut mami Ulfa dan papi mario sambil memeluk anak dan menantunya secara bergantian. Tidak lupa mami Ulfa dan papi Mario juga menyambut kedatangan besannya.
"Mari, kita masuk! Saya sudah menunggu kedatangan kalian sejak tadi," ucap papi Mario sambil melebarkan senyumnya.
Mereka semua digiring masuk ke dalam rumah. Sungguh pemandangan yang sangat indah bagi siapa saja yang melihatnya. Rumah mewah yang sangat megah.
Rumahnya besar sekali. Beruntung sekali Nia menikah dengan orang sekaya ini. gumam Nayla dalam hati.
Nayla memang masih berusia 24tahun sehingga dia belum terpikirkan untuk segera menikah, namun jika tahu yang dijodohkan dengan kakak tirinya adalah orang kaya, mungkin dia akan menerimanya dengan senang ketika kemarin sang kakak menolak perjodohan itu.
Semuanya kini terlihat sedang duduk di ruang keluarga. Pemandangan indah telah disuguhkan di depan mata. Keindahan alam di taman belakang nampak jelas karena memang dindingnya yang terbuat dari kaca yang super besar.
Kedua keluarga tersebut saling berbincang senang. Membagi cerita tentang pengalaman hidupnya. Namun Nia terlihat enggan untuk berlama-lama disana.
"Maaf, saya permisi ke belakang."
"Iya, Sayang." jawab mami ulfa
"Adri antarkan istrimu. Sekalian ajak dia untuk melihat kamar kalian. Mami sudah merenovasi kamar kamu sesuai dengan keinginanmu," lanjutnya.
Adri tersenyum sembari mengangguk, "Oke, Mi."
Tanpa ragu lelaki meraih tangan istrinya, walau tahu jika nanti dia akan mendapatkan pelototan dari wanitanya, namun bukan hal yang perlu ditakutkan, bukan. Dia bahkan merasa sangat gemas jika melihatnya sedang kesal seperti itu.
"Ayo, kita lihat kamar kita!" ucapnya lirih sambil menggandeng tangan Nia.
Nia hanya menurut saja tanpa berniat untuk menolak atau mengiyakan. Membiarkan lelaki itu menggandeng tangannya. Jika saja tidak ada anggota keluarga, mungkin saat ini dia akan meronta. Bahkan hanya untuk menatap wajahnya saja begitu enggan.
Kini setelah mereka menaiki anak tangga, Adri menggiring Nia untuk melangkah menuju di mana kamarnya berada. Kamar yang mulai hari ini akan menjadi kamar mereka.
Ceklek
"Wauw ... Mami benar-benar the best. Ini bagus sekali," ucap Adri dengan senang.
"Masuklah, nia!" imbuhnya.
Nia terperangah melihat ke dalam kamarnya. Kamar yang akan ditempatinya sebentar lagi. Sungguh diluar dugaan.
Ini bahkan 3x lebih besar dari kamar milikku. batin Nia.
"Bagaimana, kamu suka? l" tanya Adri sambil melangkah masuk kedalam kamar mereka.
"Hem ... Ini sangat indah sekali," balasnya dengan mengikuti langkah Adri dari belakang. Nia sangat takjub dengan apa yang telah disuguhkan oleh keluarga suaminya.
"Mami, memang paling tahu seleraku," ucp Adri sendiri sambil menelisik setiap sudut kamarnya.
Sama halnya dengan memilih wanita yang pas untukku. Mami dan Papi tidak pernah salah. gumam Adri dalam hati sambil melirik kearah Nia
"Baiklah. Di mana kamar mandinya?" tanya Nia yang kini berada tidak jauh darinya.
Adri memutar kepalanya sehingga saat ini dia dapat melihat sosok Nia yang berdiri dibelakangnya.
"Ah, Iyah. Aku hampir lupa," ucap Adri.
"Di sebelah sana," imbuhnya sambil menunjuk pada sebuah pintu.
Tanpa menunggu lama, Nia segera melangkah pergi dari tempatnya menuju kamar mandi tersebut.
Setelah beberapa menit berlalu, Adri yang masih sibuk mengamati kamar barunya dikagetkan oleh ketukan pintu dari luar kamarnya.
Dengan langkah besar Adri segera beranjak dari tempatnya menuju kearah pintu.
Ceklek
"Ah, ada apa mbak Tami?" tanya Adri pada seorang pelayan di rumahnya.
"Anu den, nyonya memanggil karena tamunya akan segera pulang."
"Ohhw ... Iyah. Bilang sebentar lagi kami akan turun."
***
"Nia, bersikaplah sopan dan jangan pernah menentang mereka. Anggap mereka berdua seperti kedua orangtuamu sendiri," bisik bagus sambil memeluk erat tubuh anak sulungnya.
"Hemm." Nia hanya berdehem pelan
"Ayo pa!" Ajak Bu Tania yang saat ini sudah lebih dulu masuk kedalam mobil.
"Baiklah, saya sekeluarga pamit pulang Mario. Titip Nia, jaga dia seperti anak kamu sendiri," pamit Bagus pada Mario.
"Kamu tenang saja, gus. Aku akan menganggap sama seperti putriku sendiri."
"Baiklah, terimakasih. Saya harus segera pulang. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, Hati-hati."
Mereka semua masih berdiri di sana, berada di depan teras rumah mewah tersebut hingga kini mobil keluarga Nia sudah tidak nampak lagi.
"Nia, ayo kita masuk! Mami punya hadiah buat kamu," ajak mami Ulfa pada Nia. Wanita itu tanpa ragu menganggukkan kepalanya sambil melemparkan senyuman.
Kedua perempuan itu masuk kedalam rumah tanpa menghiraukan kedua lelaki yang sedang menatap mereka.
***
"Mami, Nia tidak mau. Ini terlalu sexy," tolak nia sambil menggeleng pelan.
"Astaga, Nia. Kamu harus memakainya. Ini adalah hadiah dari Mami. Bukankah seharusnya kamu senang karena kamu akan terlihat cantik di depan suami kamu, Nia," tutur mami Ulfa.
"Ya ... mau ya ...."
Nia menggeleng pelan sambil menatap bingung kearah mami Ulfa.
"Mami, Nia malu. Ini terlalu sexy."
"Bagaimana kamu bisa malu? Yang melihatnya juga hanya suami kamu. Sudah pakai saja! Mami akan sedih jika kamu menolak hadiah dari Mami," ucap mami Ulfa dengan memasang wajah melas.
"Mami ingin lihat kamu pakai gaun tidur itu," lanjutnya
"Baiklah," ucap Nia pada akhirnya.
Dengan berat hati, Nia meraih gaun tidur itu dari tangan mami Ulfa. Perlahan dia melangkah pergi menuju kamar mandi.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Nia membuka pintu kamar mandinya. Keluar dengan perlahan sambil memperhatikan di sekitar kamarnya. Dia bisa bernafas lega karena hanya ada mami Ulfa yang masih tetap ditempatnya.
"Astaga, Nia. Kamu cantik sekali," pekik mami Ulfa yang tidak sengaja menatap ke arah Nia.
"Ayo, duduk sini! Mami akan merapikan penampilan kamu," imbuhnya.
Melihat Nia yang masih bergeming di tempatnya, mami Ulfa segera beranjak dari tempatnya. Melangkah besar untuk menghampiri Nia.
"Ayo, sayang!" Mami Ulfa menggiring Nia agar duduk di depan meja rias. Dia tidak segan merapikan penampilan Nia.
"Mami, sepertinya tidak perlu. Sebentar lagi Nia juga akan tidur dan akan memakai cream malam milik Nia sendiri."
"Sudahlah. Kamu diam saja. Adri akan senang jika melihatmu cantik."
"Tapi ...." Nia hanya bisa menghela nafas. Mami Ulfa tidak menghiraukan perkataan Nia yang seakan enggan menerima perlakuan seperti itu.
Dengan menahan kekesalannya, Nia mencoba untuk tetap tersenyum manis. Membiarkan wanita paruh baya itu melampiaskan keinginannya.
Keduanya masih asyik dengan kerjaannya. Hingga tidak sadar jika sejak tadi Adri telah berada di ambang pintu kamarnya. Memperhatikan keduanya.
Adri melebarkan senyumnya. Hatinya berbunga-bunga hanya dengan melihat wajah cantik istrinya.
"Eheermm ...." Kedua wanita berbeda usia itu segera memutar kepalanya setelah mendengar suara deheman dari seseorang.
Kini kedua mata Nia membesar seiring dengan sebuah senyuman yang telah terukir indah di wajah tampan suaminya.
Tbc.
salahmu dewe...
udah lah jd istri yg baek ajah
JANGAN PERNAH PERTAHANKAN HUBUNGAN DENGAN PRIA YANG TAKUT AKAN MAMANYA YANG GA BISA MEMBERI SIKAP KARENA KEPATUHAN KEPADA MAMANYA.
mempertahankan hanya memperburuk kewarasanmu.
kecuali mama mertuanya segera dicabut nyawanya. akan beda ceritanya.
sekalipun saya seorg ibu 😁😅
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa