Selalu dianggap jelek dan dihina oleh suami dan keluarganya, bahkan hingga diceraikan. Membuat Nadi Djiwa membalaskan dendamnya dengan merubah penampilannya, ia ingin membuat mantan suaminya menyesal karena telah menceraikannya, dan ia pun ingin merebut kembali perusahaan yang ia rintis dari nol.
Akankah Nadi berhasil membalaskan dendamnya? Cerita selengkapnya hanya ada di novel Beauty - NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Di tempat berbeda, Surya bersama staf keuangannya tengah sibuk menghitung ulang anggaran dana perusahaan. Dulu sebelum bercerai, urusan keuangan sepenuhnya Surya serahkan pada Nadi, tapi setelah bercerai, Surya harus menghitung sendiri.
Namun sayangnya selama bercerai dengan Nadi, Surya sama sekali tak pernah mengecek laporan keuangannya, baik pribadi mau pun perusahaan. Hingga ia mendapati tagihan kartu kredit yang membengkak.
"Hah?? Mengapa bisa sebesar ini??" surya nyaris pingsan melihat tagihan kartu kredit yang hampir menyentuh angka 10 miliar, ia melonggarkan dasinya karena ia benar-benar tak bisa bernapas.
"Nina, cepat kau cari tahu mengapa tagihanku bisa sebesar ini!"
"Baik pak," Nina beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan ruang kerja Surya.
Cindy yang panik melihat wajah suaminya merah padam dan tidak bisa bernapas bergegas menghampirinya. "Kau kenapa mas?" ia langsung mengambil minum dan menyambar beberapa lembar kertas untuk mengipasi suaminya. "Mas minum dulu airnya."
Surya menepis gelas itu hingga jatuh dan pecah berantakan. "Berhentilah berpura-pura bersikap manis seperti itu," bentak Surya. "Aku sudah muak denganmu Cindy, mari kita akhiri semuanya sekarang!"
"Apa maksudmu mas?" Cindy tak mengerti mengapa suaminya tiba-tiba membentaknya, padahal saat di Global Group tadi Surya nampak mesra dengannya.
Mata Surya tertuju pada perut Cindy, ia menatapnya dengan tatapan tajam. "Tanpa tes DNA, kita sama-sama tahu jika anak itu bukan-lah anakku!"
"Kalau kau merasa anak ini bukan anakmu, mengapa kau mau menikah denganku?" Seketika Cindy tertawa terbahak-bahak. "Kita ini simbiosis mutualisme Surya, seharusnya kau bersyukur aku menyelamatkanmu dari rasa malumu. Bagaimana jika keluargamu tahu kau tidak bisa mendapatkan keturunan?" Cindy tersenyum sinis ke arah Surya.
"Mantanmu terlalu bodoh sehingga tidak bisa mengetahui kau pria mandul, dan dia pun tidak sadar jika selama kalian menikah kau membuat seolah-olah dia-lah yang tak dapat memberikan keturunan."
Surya mengangkat tangannya, hampir saja ia melayangkan satu tamparan ke wajah Cindy, namun untungnya ia masih bisa menhannya. "Tutup mulutmu Cindy!" perlahan ia menurunkan tangannya. "Hanya karena kau menyelamatkan aku dari rasa malu, lantas kau menguras uangku. Tagihan kartu kreditku mencapai 10 miliar, apa kau tahu itu!" teriak Surya.
"10 miliar?" Cindy sendiri bingung mengapa Surya menuduhnya menggunakan kartu kreditnya hingga 10 miliar. "Hei, kartu kredit yang kau berikan limitnya hanya 10 juta per bulan dan itu hanya cukup untuk makan saja. Bagaimana mungkin aku menggunakan kartu kreditmu sampai 10 miliar??"
Surya terdiam karena apa yang di katakan Cindy ada benarnya, ia hanya memberikankartu kredit yang limitnya tidak lebih dari 10 juta per bulan, sehingga mustahil jika ia memiliki tagihan hingga hampir mencapai 10 miliar.
"Lantas mengapa tagihanku membengkak sebanyak itu?"
Tak lama kemudian Nina datang membawa laporannya. Bak tersambar petir di siang bolong, nyawa Surya hampir terangkat dari raganya begitu melihat isi laporan yang di bawa Nina untuknya.
Surya menggelengkan kepalanya mendapati pembelian mobil BMW senilai 5.6 miliar, apartement senilai 2.1 miliar, hingga pengeluaran lain yang cukup besar seperti Pengobatan rumah sakit di Korea, hingga Klinik kecantikan di Korea. "Tidak-tidak, aku tidak pernah melakukan perjalanan ke Korea Selatan dan aku pun tidak pernah membeli barang-barang ini. Ini pasti ada kesalahan."
Setelah Surya membaca laporan tersebut secara menyeluruh, ia baru teringat jika dulu dirinya pernah membuat black card dan sampai sekarang kartu tersebut masih ada pada mantan istrinya. "Astaga mengapa aku sampai lupa dengan kartu itu?" ia tertunduk memegangi kepalanya yang hampir mau meledak. "Dasar wanita ular, beraninya kau diam-diam memerasku."
Lebih jauh Nina menyampaikan jika Surya terkena BI checking, sehingga kemungkinan untuk meminjam dana ke Bank akan sulit dan jika Surya tidak segera membayar tagihan kartu kredit itu pihak bank akan menyita rumah yang kini ia tempati bersama istri dan orang tuanya.
"Sementara untuk percepatan project Global Group, sepertinya agak sulit untuk di jalani sebab kita tidak punya back up dana untuk menambah modal, uang perusahaan yang masih tersisa hanya untuk operasional dan biaya gaji karyawan," terang Nina.
"Kapan Invoice penagihan paling dekat?" tanya Surya.
"Dua minggu lagi."
"Brengsek kau Nadi," Surya mengusap wajahnya dengan kasar, ia meraih kunci mobilnya dan bergegas pergi menuju kantor Sofia. "Kau yang belanja, maka kau juga yang harus membayarnya. Wanita sialan."
Tiba di Sor Karya, ia langsung berpapasan dengan Sofia yang kebetulan sedang ngobrol dengan staf resepsionisnya. "Dimana wanita sialan itu?"
Sofia mengerutkan keningnya, sebetulnya ia tahu siapa yang Surya maksud namun ia tak akan mengatakannya jika Surya tak menyebutkan nama sahabatnya dengan benar. "Siapa?"
"Nadi. Siapa lagi?" teriaknya pada Sofia.
"Dia sudah pulang sejak dua jam yang lalu," jawab Sofia dengan jujur dan santai.
"Kau sama ularnya dengan dia," bentak Surya. "Cepat katakan di mana dia sekarang, atau aku akan mencari sendiri ke dalam."
"Kalau kau tidak percaya kau cari saja sendiri sana, tapi liftnya sedang dalam perbaikan jadi kau harus menggunakan tangga darurat," dustanya, ia menunjuk ke arah tangga darurat yang berada di belakang ruang resepsionis.
"Dasar kau bedebah!" tanpa membuang waktu Surya berlari menuju tangga dan ia mulai menakikinya satu persatu.
Setelah Surya pergi, Sofia tertawa terbahak-bahak karena dengan mudahnya ia menipu Surya. "Mampus, pegel pegel deh kaki loe," ia buru-buru kabur sebelum Surya kembali dan ngamuk padanya.
Surya menyusuri tiap lantai untuk mencari keberadaan Nadi, di lantai ke empat ia melihat salah seorang pegawai Soe Karya masuk ke lift. "DASAR WANITA LAKNAT KAU SOFIAAAAA....." suara Surya menggema hingga ke seluruh lantai Soe Karya.
Tak menemukan Nadi di kantor, Surya mencari Nadi di kediamannya. Alangkah terkejutnya Surya ketika melihat papan bertuliskan 'RUMAH INI DIJUAL' pada pagar kediaman Nadi.
"Ooh rupanya wanita ular itu sudah pindah ke apartement yang ia beli dari hasil memerasku secara diam-diam," gumam Surya, tak sulit bagi Surya untuk menemukan aprtement yang kini di tempati oleh Nadi, sebab pada laporan yang di berikan Nina kepadanya terdapat nama dan alamat apartement yang di beli Nadi.
Hanya saja Surya tak bisa masuk ke gedung apartement tersebut karena menggunakan accses card. "Sial! Awas saja kau wanita ular, tunggu pembalasanku."
Sementara itu di dalam hunian barunya, Nadi tengah berendam sembari mengobrol manja dengan Margareth via telepon. Nadi baru saja membeli satu tas mewah seharga 800 juta untuk hadiah kunjungannya besok malam ke kediaman Margareth bersama Aaron. 'Jangan lupa kau bayar ya Surya,' batinnya, Nadi menganggap semua itu adalah gaji dan komisinya selama ia menemani Surya dari nol.