NovelToon NovelToon
REVENGE; The Mad Twin'S

REVENGE; The Mad Twin'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Identitas Tersembunyi / Keluarga / Teen School/College / Crazy Rich/Konglomerat / Dendam Kesumat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: QueenBwi

Ketika Arbiyan Pramudya pulang untuk melihat saudara kembarnya, Abhinara, terbaring koma, ia bersumpah akan menemukan pelakunya. Dengan menyamar sebagai adiknya yang lembut, ia menyusup ke dalam dunia SMA yang penuh tekanan, di mana setiap sudut menyimpan rahasia kelam. Namun, kebenaran ternyata jauh lebih mengerikan. Di balik tragedi Abhinara, ada konspirasi besar yang didalangi oleh orang terdekat. Kini, Arbiyan harus berpacu dengan waktu untuk membongkar semuanya sebelum ia menjadi target berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

"Hya! Kau idiot?! Apa otakmu itu sudah pindah ke selangkangan?! Kenapa kau ceroboh sekali sih, Biyan?!" geram Dean dengan wajah horor saat melihat keadaan Arbiyan yang seperti Zombie. Wajah pucat dan tubuhnya berkeringat dingin diakibatkan banyak darahnya yang terbuang.

"Kak, aku baik-baik saja," ucap Biyan pelan. Jujur saja, ia merasa lemas dan lelah sekarang jadi tak punya kekuatan apapun untuk balik berargumen pada sepupu menyebalkannya ini.

"Baik-baik saja kepalamu! 5 jahitan dilengan, 3 jahitan ditelapak tangan serta 15 jahitan diperut itu kau bilang baik-baik saja?! Aaarghh! Rasanya ingin sekali ku cekik kau!" pekik Dean gemas.

Apa salahnya, Ya Tuhan? Hingga ia diberikan sepupu menyebalkan seperti dia?!

Biyan hanya menarik nafas panjang, berusaha memposisikan tubuhnya dengan nyaman. Sekarang ini ia sedang berbaring di ranjang rumah sakit—atas paksaan Dean—untuk diinfus, mengingat dirinya yang sedang mengalami anemia mendadak.

"Kak."

"Apa?!" Jawab Dean kasar, sungguh ia masih kesal dengan adik sepupunya yang keras kepala, menyebalkan, angkuh tapi jenius.

Jenius?!

Iya, Arbiyan si jenius tapi jenius yang tolol dan bodoh! Percuma saja dikarunia otak jenius tapi tidak digunakan sama sekali. Dasar!

"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Abhi tiba-tiba mengamuk? Bukankah kondisinya baik-baik saja tadi?" tanya Biyan sambil menatap Dean yang seolah membeku ditempat.

Tubuh Dean seketika menegang. Hal yang dicemaskan nya terjadi juga. Dean menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, mencoba menetralkan detak jantungnya.

"Kak?"

"Sebenarnya ... "

***

Flashback

"Kau sungguh baik-baik saja kan Abhi?" tanya Dean lagi setelah kepergian Biyan.

"Iya, kak. Kenapa bertanya terus?" jawab Abhi dengan alis berkerut cemberut, membuat Dean terkekeh gemas.

"Aku hanya khawatir saja."

Abhinara memutar matanya malas, walaupun ia senang karena Dean selalu menjaga dan memanjakannya tapi terkadang ia juga sebal dengan sikap overprotektifnya itu. Yah, walaupun tidak separah Biyan, sih.

"Eh? Aku baru sadar. Kok Kak Dean memakai seragam sekolahku?" tanya Abhi heran saat melihat kakak sepupunya ini masih terbalut dengan seragam SMA seperti miliknya.

"Aku pindah ke sekolahmu."

Kedua mata Abhi langsung membulat kaget. "Serius?! Tapi kenapa tiba-tiba?"

"Hanya ingin," jawab Dean seadanya lalu tersenyum menatap Abhi lagi. "Abhi, boleh aku bertanya padamu?" tanya Dean dan dijawab anggukan oleh yang lebih muda.

"Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" tanya Dean lagi dengan hati-hati.

Ekspresi ceria serta menggemaskan tadi menghilang seketika digantikan dengan ekspresi terkejut, takut dan yang tak terbaca sekali pun menjadi satu.

"Abhi, cerita padaku. Biar aku bisa membantumu," bujuk Dean pelan. Sebenarnya ia sedikit cemas karena melihat perubahan raut wajah Abhi. 

Ada sesuatu yang tak beres.

"Tidak! A—aku ti-tidak apa-apa, kak."

"Abhi."

Tubuh Abhi menegang seketika, kepalanya berdenyut-denyut tak henti. Potongan-potongan kenangan buruk yang ingin ditutupnya rapat-rapat kembali bermunculan dikepalanya. Seperti ada proyektor film yang memutarnya sekilas, tidak utuh tapi cukup membuatnya ketakutan.

"Aku tak percaya kau begitu, Abhi!"

"Ti-tidak! A-aku bisa jelaskan! Aku—"

"Kau menjijikan, Abhi!"

Abhi mulai meremas kepalanya, menarik-narik rambutnya hingga beberapa helai mulai rontok. Nafasnya memburu, matanya sudah basah oleh air mata, mulutnya terus saja berkomat-kamit tidak jelas. Membuat Dean jadi panik setengah mati.

"Abhi, kau baik-baik saja? Abhinara?"

"Rasakan! Dasar kau menjijikan!" pekik suara itu sembari memukul Abhi dengan kuat.

"Ma-maafkan aku! Aku mohon!"

"Jangan menyentuhku, sialan!"

"Tidak! Tidak! Jangan mendekat! Jangan mendekat! Maafkan aku! Aku tidak bermaksud!" gumam Abhi disela-sela tangisannya. Ia menekuk tubuhnya, memeluknya seolah-olah tubuhnya adalah benda rapuh dan mudah hancur.

Tapi kenyataannya, ia memang telah hancur.

"Abhi?! Ada apa denganmu?! Aku akan memanggil dokter. Kau tunggu disini," kata Dean kemudian berlari bak orang gila mencari siapa saja yang bisa membantu adiknya.

Suara tawa mereka yang merendahkannya, mempermalukan dirinya bahkan membuatnya merasa begitu tak berdaya. Abhi hanya bisa memohon sembari menangis belas kasihan mereka. Tapi mereka hanya terus tertawa dan terus menyakitinya.

"Aaaaarggggghhhh! Sialan! Menjauh dariku brengseekk!" teriak Abhi dengan brutalnya. Entah bagaimana tapi ia telah turun dari ranjangnya, mencabut selang infus sembarangan hingga membuat pergelangannya berdarah.

Abhinara mulai menarik kasur dan melemparnya kesembarang arah, ia bahkan mengambil vas bunga dan membantingnya begitu saja. Perasaan sakit dan direndahkan benar-benar membuatnya gelap mata.

Ia mengambil dan melempar benda apapun yang dapat diraihnya, meski itu kursi sekalipun. Dengan ganasnya, ia melempar kursi itu hingga menembus keluar jendela kaca dan membuat serpihan kaca jendela itu berserakan dilantai.

Dean yang baru saja kembali diikuti dokter serta beberapa perawat, terkejut melihat pemandangan didepannya. Kamar ini berantakan bagaikan habis diterpa tornado.

Matanya kemudian beralih ke sosok yang masih menangis dan sesekali teriak serta mengumpat tidak jelas. Membuat hati Dean seperti diremas, adik kecil kesayangannya terlihat sangat mengenaskan.

"Abhinara, tenangkan dirimu."

Abhi yang menyadari keberadaan orang lain dengan sigap langsung mengambil sebuah pecahan kaca jendela yang terlihat cukup tajam. Menggenggamnya erat, tidak perduli walaupun telapak tangannya mulai berdarah. Ia mengacungkan pecahan itu kearah kerumunan yang entah mengapa terlihat seperti mereka yang telah menyakitinya. Membuat dirinya semakin panik dan ketakutan.

"Pergi kau brengsek! Jangan mendekatiku!"

"Abhi, ini aku kak Dean," bujuk Dean lagi berusaha menenangkan dan perlahan mendekati sang adik.

"Kubilang jangan mendekatiku! Dasar Brengsek! Arrrghhh!!" teriak Abhi marah tapi air matanya masih setia mengalir.

Flashback End

***

Dean menghela nafas pelan dengan perasaan bersalah yang bertumpuk. "Lalu aku menghubungimu segera. Karena dokter pun bingung harus bagaimana. Aku minta maaf, Biyan. Ini salahku, kalau saja aku tidak bertanya," Sesal Dean sambil menundukkan kepalanya.

Biyan mendecakkan lidahnya kesal mengetahui kecerobohan sepupunya ini, tapi ia mau marah pun semua sudah terjadi. Lagipula Dean tidak salah apa pun, ia tahu sepupunya itu hanya mencemaskan Abhi.

"Seharusnya kau tidak gegabah!" kata Biyan dengan penekanan tajam dan dingin. Kemudian ia menarik nafas lega. "Tapi berkat itu, sekarang aku tahu harus mencari siapa," lanjut Biyan lagi.

Dean yang mendengar hal itu langsung mendongak menatap Biyan dengan tatapan heran, tapi berubah sedetik kemudian saat ia melihat seringaian keji yang ditampilkan wajah sepupunya ini. Membuat seluruh bulu kuduknya merinding.

Dean bukannya takut, hanya saja ia cemas dengan yang akan terjadi nanti. Jujur saja, ia pernah melihat Arbiyan mengamuk sekali saat mengetahui Ayahnya berselingkuh. Dan Dean bersumpah demi mendiang ibunya, itu adalah hal yang paling mengerikan yang pernah ia lihat.

Arbiyan yang pendiam dan dingin akan berubah menjadi beringas dan tidak terkendali. Ia bahkan menghajar hampir semua pengawalnya hingga masuk rumah sakit karena mereka menahan dirinya untuk tidak membunuh pria brengsek yang dulu merupakan orang yang paling ia kagumi dan segani.

Tapi itu DULU, tolong dicatat.

Mengingat hal itu membuat Dean bergidik ngeri, tak bisa ia bayangkan rencana mengerikan apa lagi yang tengah disusun didalam otak psycho sepupunya ini.

***

(Disekolah)

Lagi-lagi Biyan berdecak jengkel saat dirinya merasa Ara menghindarinya. Ara bahkan berpura-pura tidak melihatnya, padahal dia tepat berada didepannya. Sebenarnya gadis itu kenapa, sih?

Baiklah, ini sudah cukup.

Kali ini Arbiyan benar-benar tidak tahan. Ia ingin tahu apa penyebab gadis manisnya ini terus bersikap seperti ini padanya.

Jadi tanpa pikir panjang, ia langsung menarik tangan Ara dan membawanya pergi.

"Aduh! Apa yang kau lakukan?! Sebentar lagi guru datang!" protes Ara yang kaget karena sedang sibuk mencatat tiba-tiba saja tangannya ditarik secara paksa.

"Hey! Kau dengar aku tidak?!"

"Diam atau kuhamili kau disini!" gertak Biyan asal dan langsung membuat Ara bungkam. Ia benar-benar takut dihamili oleh pemuda pemarah ini disini sekarang.

Tapi tunggu! Ini kan di koridor sekolah, memang remaja gila itu berani?

"Apa?! Hey! Beraninya kau mengancam ku dengan itu! Lepaskan aku!" teriak Ara lagi tapi tak dihiraukan Biyan yang masih setia menariknya dan membawanya ke suatu tempat.

Ara mengernyit heran saat dirinya ditarik masuk kedalam gudang sekolah, bahkan ia harus menelan salivanya takut saat melihat Biyan mengunci pintu gudang tersebut.

"K-kau mau apa?"

"Sekarang jelaskan padaku, kau aneh sejak kemarin. Ada apa?" tanya Biyan dengan ekspresi datar.

"A-apa maksudmu? Aku tid—"

"Bohong!"

"Apa?! A-aku tida—"

"Kau seperti menghindariku sejak kemarin! Bisa katakan alasanmu kenapa? Dan jangan coba-coba berbohong lagi karena aku akan tahu!" ancam Biyan.

"Kenapa? Ke-kenapa aku tidak boleh berbohong padamu sementara kau bisa berbohong padaku?!" Kali ini Ara meninggikan suaranya meskipun ia sedang ketakutan setengah mati sekarang.

Dahi Biyan mengernyit. "Apa maksudmu aku berbohong?"

Ara menarik nafasnya, menenangkan dirinya dan mulai menatap mata hitam coklat yang akhir-akhir ini membuat jantungnya berdegup dengan tak normalnya.

"Ka-kau, kau bukan Abhibara, kan? Siapa kau sebenarnya?"

Kalimat itu meluncur dengan mulus dan membuat kedua mata Arbiyan membola sempurna.

Darimana dia tahu?

1
Ryo gunawan
dabel up lah thor
Helmi Sintya Junaedi
beruntung abhi punya kakak yg sangat menyayanginya,,, cari pelakunya sampai dapat balas kn perbuatan nya,,
CutiePie
next! 😊
CutiePie
curiga sih mereka pelakunya 😡
CutiePie
heh 😂😂
CutiePie
bguss
CutiePie
Ini bagus sekali!
Tidak sabar untuk selanjutnya!
semangat ya!
CutiePie
😍😍
CutiePie
😭😭
CutiePie
semangat!
QueenBwi
💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!