perjalanan seorang remaja yang mencari ilmu kanuragan untuk membalaskan dendam karena kematian kedua orang tuanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan di Gunung Api
Hari itu Gunung berapi yang biasanya sepi karena hawa panasnya yang menyengat kini di penuhi oleh manusia. Kabut belerang mengepul dari celah-celah tanah yang retak, hawa panas merayap hingga menusuk tulang, namun tak satu pun dari para pendekar yang mundur. Mata mereka hanya tertuju pada satu tujuan: puncak Gunung Api, tempat Kolam Naga berada.
Langit berwarna kelabu kemerahan. Bulan merah yang belum sepenuhnya tenggelam masih menggantung pucat, seolah menjadi pertanda bahwa hari itu darah akan tumpah tanpa ampun.
Puluhan, bahkan ratusan pendekar dari berbagai aliran berdatangan. Ada yang mengenakan jubah putih bersih dengan lambang perguruan ternama, ada pula yang berpakaian serba hitam, wajahnya dingin dan penuh niat jahat. Di antara mereka, tampak bendera-bendera kecil tertancap di tanah—tanda kehadiran sekte besar yang tak ingin kehilangan muka dalam perebutan pusaka.
“Gunung Api hari ini seperti pasar setan,” gumam Badra dari balik batu besar di lereng barat. Bersama Sunar dan Ludira, ia mengamati situasi dengan mata tajam.
“Lebih dari yang kuduga,” sahut Sunar lirih. “Jika kita ceroboh, kita bisa mati konyol sebelum melihat pusaka itu.”
Ludira menyeringai, matanya justru berbinar. “Justru semakin ramai, semakin banyak yang bisa kita manfaatkan. biarkan saja mereka bertarung dan saling bunuh kita akan mengurusi sisanya yang pastinya sudah kehabisan tenaga.” ucap Ludira
Belum sempat mereka menyusun rencana lebih jauh, teriakan menggema dari sisi timur.
“MENYINGKIR! GUNUNG API ADALAH WILAYAH PERGURUAN LANGIT MERAH!”
Sekelompok pendekar berjubah merah menyala menerobos jalur pendakian, memaksa siapa pun yang berada di depan mereka untuk menyingkir. Aura panas memancar dari tubuh mereka, tanda tenaga dalam mereka telah mencapai tingkat tinggi.
Namun di hadapan mereka berdiri seorang pria tua berbaju cokelat kusam, membawa tongkat kayu hitam.
“Wilayah?” suara pria tua itu datar namun mengandung tekanan mengerikan. “Gunung ini milik alam, bukan milik kalian.” dengusnya
“Sialan tua bangka!” salah satu pendekar Langit Merah menyerang lebih dulu.
Wuuut
Dugh
Blaaar
Aaaaargh
Tongkat kayu itu menghantam tanah. Gelombang tenaga dalam meledak, membuat tiga pendekar Langit Merah terpental sekaligus, darah menyembur dari mulut mereka.
pertempuran itu menjadi pemicu
Dalam sekejap, semua batas lenyap.
“SERANG!”
"Hiaaaaat"
Ciaaaaat
Traaaang
sriiiing
Teriakan demi teriakan saling bersahutan. Pedang terhunus, tombak berkilat, cambuk baja dan kipas besi beterbangan. Tak ada lagi aliansi, tak ada lagi tujuan bersama. Siapa pun yang bergerak, siapa pun yang mencoba naik, langsung dianggap musuh.
CLANG! CLASH! BRAK!
Suara benturan senjata memekakkan telinga. Tanah gunung yang rapuh mulai retak oleh hentakan tenaga dalam. Lava kecil menyembur dari celah tanah, membakar kaki mereka yang lengah.
Seorang pendekar wanita dari Sekte Angin Putih melompat tinggi, pedangnya berkilau seperti cahaya bulan.
Hiaaaaat
“Jurus Tarian Daun Gugur!”
Wush
Wush
Aaaaargh
Belasan tebasan angin melesat, merobek tubuh tiga pendekar hitam sekaligus. Namun sebelum ia sempat mendarat, sebuah rantai berduri melilit kakinya.
“Ke mana kau mau pergi, cantik?” ejek seorang pria bermata sipit.
SRAAAT!
Darah muncrat. Pedang wanita itu menembus tenggorokan si pemilik rantai. Tubuh keduanya jatuh bersamaan ke jurang kecil yang terbuka akibat retakan tanah.
“Gila… benar-benar kacau,” Sunar berbisik, keringat dingin mengalir di pelipisnya. walau ia sering membunuh tetapi baru kali ini ia melihat pembantaian yang seperti ini
Di sisi lain lereng, sekelompok pendekar dari Perguruan Harimau Batu menerjang tanpa formasi. Tubuh mereka besar, otot menonjol, setiap pukulan mampu menghancurkan batu.
BUK! BUK! PRAAANG!
Seorang pendekar kurus langsung remuk dadanya terkena tinju, tulangnya terdengar patah sebelum tubuhnya terlempar jauh.
Namun dari balik kabut belerang, sesosok bayangan muncul dengan gerakan aneh.
“Hantu Berkabut…?” serentak beberapa pendekar bergumam, satu sosok tokoh golongan Hitam yang
Belum sempat orang-orang bereaksi, bayangan itu sudah bergerak cepat seperti asap. Pisau kecil berkilat, satu demi satu tenggorokan terbelah tanpa suara.
“Hantu BerKabut!” seseorang berteriak panik.
Nama itu membuat beberapa pendekar gemetar. Tapi dalam kekacauan seperti ini, rasa takut hanya bertahan sepersekian detik.
“Bunuh dia!”
Puluhan senjata mengarah ke bayangan itu, namun kabut semakin tebal. Saat kabut menipis, Hantu Kabut sudah menghilang, meninggalkan belasan mayat yang masih hangat.
Badra menyipitkan mata. “Bahkan dia turun gunung…”
“Berarti pusaka itu benar-benar nyata,” Ludira bergumam.
Di jalur utama menuju puncak, pertarungan semakin brutal. Pendekar yang terluka tak diberi kesempatan bangkit. Begitu terjatuh, puluhan kaki menginjak, senjata menusuk tanpa ragu.
“Menjauh! Aku dari Perguruan Naga Hitam!”
“TIDAK PEDULI!”
SLEEEET!
Kepala melayang. Darah membasahi batu panas, mendesis saat menyentuh tanah.
Gunung Api benar-benar berubah menjadi medan pembantaian.
Dari balik batu, Badra mengamati dengan tenang. “Biarkan mereka saling menghabisi. Kita bergerak saat jalur ke Kolam Naga terbuka.”
“Tapi Kakang, lihat itu…” Sunar menunjuk ke arah puncak.
Langit di atas Gunung Api bergetar. Awan berputar membentuk pusaran besar. Dari pusat pusaran itu, cahaya emas samar memancar.
“Pusaka mulai bereaksi,” Ludira menelan ludah.
Pada saat yang sama, raungan menggema dari perut gunung.
ROOOAAARRR!
Suara itu bukan suara manusia. Tanah bergetar hebat. Beberapa pendekar terjatuh kehilangan keseimbangan.
“ITU SUARA NAGA!”
Kepanikan melanda. Namun alih-alih mundur, para pendekar justru semakin menggila.
“Cepat! Pusaka akan muncul!”
Mereka berlari, melompat, saling menabrak. Tak peduli kawan atau lawan, siapa pun yang menghalangi jalan menuju puncak akan diserang.
Seorang pendekar tua yang mencoba menenangkan keadaan berteriak, “Hentikan! Jika kita bertarung seperti ini, tak seorang pun akan selamat!”
Wush
Jleb
baru saja ia berhenti berteriak satu tombak yang menembus dadanya.
Di sisi utara, sebuah kelompok kecil berhasil mendekati jalur Kolam Naga. Namun baru beberapa langkah, tanah di depan mereka amblas.
Blus
“AAAAA!”
Lima orang terjatuh ke dalam lubang magma, jeritan mereka terputus oleh panas yang melahap segalanya.
“Gunung ini menolak kita…” seseorang berbisik ketakutan.
Namun kata-kata itu tenggelam oleh suara pertempuran yang kian menggila.
Badra mengepalkan tangan. “Tunggu sedikit lagi…”
Saat itulah, sebuah ledakan besar terjadi di jalur utama.
DUUUUAAAR!
Seorang pendekar muda terlempar dan jatuh berguling hingga dekat persembunyian Badra. Dadanya robek, napasnya tersengal.
“Kolam… Kolam Naga… sudah terlihat…” ucapnya sebelum nyawanya melayang.
Mata Badra berbinar kejam.
“Waktunya hampir tiba,” katanya pelan.
Di kejauhan, di tengah kabut dan darah, pertempuran terus berlangsung tanpa arah. Gunung Api bergemuruh, seolah menertawakan keserakahan manusia. Tak seorang pun sadar bahwa di balik semua kekacauan itu, ada kekuatan lain yang mulai bangkit dari dasar gunung—kekuatan yang akan mengubah nasib dunia persilatan selamanya.
" apa rencana kita kakang?" tanya Sunar yang tak sabar karena takut pusaka itu di dahului orang
" Kita bersembunyi dulu, nanti kita bergerak saat lawan tinggal sedikit" jawab Badra
dengan berendap endap mereka bergerak dari balik batu besar