Saat cinta menyapa, mampukah Resti menepis rasa dendam itu?
Restina Adelia, menerima pinangan Raka Abhimana. Pernikahan mereka, hanya diwarnai pertengkaran demi pertengkaran. Suatu hari, Raka pulang dalam keadaan mabuk, hingga membuka rahasia kematian orang tua Resti.
Resti pun memutuskan pergi dari kehidupan Raka. Saat itulah, Raka menyadari perasaannya pada Resti. Mampukah Raka menemukan Resti? Bagaimana cara Raka meyakinkan Resti, bahwa hanya Resti pemilik hatinya, setelah Raka menyakiti Resti terus menerus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruth89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12 ~ Harapan
Sepanjang malam, Resti tak bisa memejamkan mata. Sampai langit menampakkan cahaya matahari, ia tak juga bisa tidur barang sebentar. Ia pun beranjak bangun dan menyiapkan sarapan. Setengah jam kemudian, ia udah selesai dengan pekerjaan dapur.
Resti segera membersihkan diri. Saat masuk ke kamar, Raka sudah selesai bersiap. Mata mereka bertemu. Sesaat kemudian, Raka membuang pandangan. Resti menghampiri sang suami. Ia berdiri dihadapannya, dan memasangkan dasi Raka.
"Apa yang terjadi pada orang tuaku, sudah menjadi suratan takdir. Sekalipun kamu berhati-hati, jika sudah waktunya mereka berpulang, pasti akan terjadi dengan cara apa pun," ucap Resti.
Raka menatap Resti yang masih fokus pada dasinya. Saat selesai, Resti mengangkat pandangannya. Sekali lagi, mereka saling berpandangan.
"Jangan merasa bersalah atas kepergian mereka. Aku tidak akan menyalahkan siapa pun. Lupakan apa yang terjadi pada mereka. Hem," lanjut Resti. Ia tersenyum sangat manis pada Raka.
"Jadi, kamu ingin memaafkanmu?" tanya Raka.
"Bukan ingin. Tapi sudah," jawab Resti yakin.
Sesaat keduanya saling terdiam. Mereka seakan tengah menyelami hati masing-masing.
"Masalah perasaanmu, aku tidak bisa memaksa. Tapi, tolong jangan paksa aku menghapus cinta yang sudah terpahat di hatiku," ucap Resti kemudian.
"Kau ... mencintaiku?"
Anggukan kepala Resti berikan sebagai jawaban. Raka menundukkan kepala sesaat. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini.
"Ayo, kita coba semua dari awal. Jika sampai nanti kamu tidak mencintaiku juga, dan ingin bercerai, aku tidak akan memaksa," ujar Resti.
Raka memeluk Resti erat. Mengecup kepalanya berkali-kali.
"Entah terbuat dari apa hatimu. Sampai semudah itu memaafkan aku." Raka melepas pelukannya. Menatap Resti dalam. "Kenapa kau bisa jatuh cinta padaku? Bukankah aku selalu menyakitimu?" tanya Raka.
"Aku jatuh cinta padamu, sebelum kau menyakitiku. Mungkin, karena itu aku berharap kau akan kembali seperti di awal pernikahan kita," jawab Resti, "jadi, maukah kamu mengulang pernikahan kita seperti di awal? Membangun keluarga kecil kita sendiri?" Resti mengangkat kedua alisnya.
Melihat kesungguhan di mata sang istri, Raka pun menganggukkan kepala. Resti pun ikut tersenyum.
***
Setelah sarapan, Raka mengantar Resti ke kantornya. Dalam perjalanan, Raka meminta Resti mengambil cuti. Ia akan mengajak wanita yang telah menjadi istrinya selama hampir empat bulan itu, menikmati waktu berdua.
"Honeymoon?" tanya Resti.
"Hem, apa itu bisa disebut honeymoon?"
Keduanya tertawa bersama, hingga tak terasa mereka telah tiba di tempat Resti bekerja. Resti melepas seat beltnya. Ia tak bisa langsung turun dari mobil, karena Raka menahannya. Resti pun menoleh dan mengangkat kedua alisnya.
"Terima kasih," ucap Raka.
"Untuk?" tanyanya.
"Semuanya. Cinta, maaf, kesabaran, dan kesempatan." Raka menggenggam jemari Resti.
"Bukankah setiap orang memiliki kesempatan kedua?" Resti mengecup pipi sang suami cepat.
Raka terdiam sesaat. Tak menyangka sang istri berinisiatif menciumnya. Ia bisa melihat rona merah di pipi sang istri. Kau cantik saat tersipu, gumamnya.
Setelah memastikan Resti masuk ke lobby, Raka pun pergi ke tempatnya bekerja. Tiba di sana, Bayu sudah menumpukkan file pekerjaan yang cukup banyak. Raka mengangakan mulutnya lebar.
Sejak pertengkaran mereka, Bayu mulai jarang bicara padanya. Pria itu, akan berbicara bila dirasa perlu. Raka kembali keluar dan menatap Bayu tajam. Pria itu membalas tatapan Raka.
"Masuk!" titah Raka.
Bayu pun mengikuti langkah Raka. Ia berdiri di depan meja kerja atasannya.
"Senin depan, kosongkan semua jadwal pekerjaanku. Reschedule saja rapat yang harus kuhadiri," titah Raka.
Ia tak menatap Bayu sedikit pun. Raka fokus pada pekerjaan di depannya. Bayu menatap horor sahabat sekaligus atasannya itu.
"Untuk apa saya mengosongkan jadwal, Anda?" tanyanya ketus.
"Apa aku harus memberitahu semua urusan pribadiku padamu?" Raka bertanya balik. Kali ini, dengan nada sarkas.
"Bukankah pekerjaan lebih penting, dari kegiatan pribadi, Anda?"
Mendengar pertanyaan dari sahabat sekaligus asistennya, Raka mengangkat pandangan dan menatap Bayu sengit. Keduanya seperti sedang melakukan perang dingin. Membuat aura di dalam ruangan itu terasa sesak.
"Ah, jadi istriku tidak penting?" Raka memiringkan kepalanya.
"Istri? Istri yang mana? Model, bintang film, artis sinetron?"
Kali ini, Raka membanting pena dari tangannya dengan keras. Nada suara Bayu, seakan tengah mengejeknya. Ia pun menyilangkan tangan di dada.
"Istriku hanya satu! Kau mengerti! Keluar!" usir Raka.
Bayu tertegun. Ia tak percaya dengan apa yang Raka ucapkan. Angin apa yang membuatnya berubah secepat ini? Tidak mungkin dia sadar secara mendadak, pikir Bayu.
"Kenapa masih di sini? Cepat keluar!" usir Raka lagi.
Dengan linglung, Bayu melakukan perintah Raka. Tak lupa, ia melaporkan tindakan atasannya ini pada Dewi dan Ibra.
***
Sepanjang hari, Raka dan Resti saling berkirim pesan. Sekedar untuk mengingatkan makan. Bak remaja labil yang tengah dimabuk asmara. Dewi dan Ibra yang mendengar cerita Bayu, sangat bersyukur dengar perubahan Raka.
Dewi dan Ibra pun menyiapkan tiket bulan madu untuk mereka. Pasangan paruh baya itu, segera menuju kediaman Raka dan Resti.
"Mama, Papa! Kok, gak ngomong mau ke sini? Resti gak masak soalnya," ucap Resti tak enak.
"Gak apa-apa, Sayang. Kita bisa pesan, kok. Gak usah repot-repot," jawab Dewi.
Wajah kedua mertuanya terlihat bahagia. Tak lama, Raka tiba di rumah. Ia terkejut melihat kehadiran kedua orang tuanya.
"Ma, Pa," ucapnya lirih.
"Kenapa wajahmu seperti itu? Kamu tidak suka, papa dan mama datang?" tanya Ibra sarkas.
"Bukan begitu. Tadinya, aku mau ajak Resti makan di luar," jawabnya
"Bagus. Ayo, kita pergi bersama," ajak Ibra kemudian.
Mau tidak mau, mereka pergi bersama. Resti merasa memiliki keluarga yang utuh. Tidak pernah ia bayangkan, bila Raka akan kembali bersamanya dalam waktu secepat ini. Semoga saja, pernikahan kami semakin harmonis, harap Resti dalam hati.
Kpan lgi nie kax🥰🥰🥰🥰🥺🥺🥺🥺🥺🥺