Kaina Chandrina terpaksa harus menikah dengan seorang CEO perusahaan besar. Ia harus menjadi tumbal akibat perbuatan orang tua, yang tega menukar dirinya dengan saham perusahaan.
Kini ia harus terjebak dalam sebuah pernikahan kontrak dengan Haikal Kusumanegara, CEO yang begitu berkuasa dan juga kejam.
Keluar dari kandang singa, masuk ke kandang harimau. Bagitulah ungkapan kata yang cocok untuk gadis malang itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bucin fi sabilillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karena Sisca
Kaina menutup pintu dan langsung menuju ke kamar. Ia masih terdiam sambil memegang bibirnya ketika mengingat ciuman pertama yang ia berikan kepada Haikal.
Ah, tuan muda memang pandai membuatku seolah mengemis kepadanya. Padahal, tadi dia yang meminta untuk dicium, tapi aku malah terlihat seperti orang yang begitu ingin merasakan ciumannya. Batin Kaina dengan perasaan bercampur aduk.
Ia berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Tersenyum malu dengan wajah yang merona.
Ah, Tuhan. Jadi seperti itu rasanya berciuman? Tuan muda terasa begitu mahir, apa dia sering berciuman dengan wanita-wanita lain? Bukankah dia terkenal playboy dan juga sering tidur dengan model-model cantik?. Batinnya.
Ia hanya menghela nafas, ketika menbayangkan bagaimana Haikal melakukn peraduan dengan perempuan lain.
Hingga ia terlelap dengan mata yang mulai terasa mengantuk. Kaina tertidur dengan lelap setelah ia begadang semalam suntuk. Tanpa ia ketahui jika ponselnya berdering sedari tadi.
Sementara itu di dalam mobil, Haikal tersenyum senang mengingat bagaimana Kaina mencoba untuk menciumnya tadi pagi.
Kaku dan tidak berbalas. Namun ia merasa beruntung karena ciuman pertama gadis itu telah didapatkan dengan sempurna.
"Sepertinya Tuan sedang bahagia pagi ini. Apa nyonya melakukan pekerjaan dengan baik?" ucap Along.
"Ah, tidak juga. Tapi, dia memang melakukan tugasnya dengan baik," ucap Haikal.
"Apa anda sudah menerima keberadaan nyonya, Tuan?" tanya Along.
"Ntahlah, Saya hanya tidak merasa sepi lagi," ucap Haikal tersenyum tipis.
"Bukankah dia perempuan yang cukup unik," ucap Along.
"Ya, dia begitu unik. Dia memiliki rasa takut, namun juga berani untuk menantang," ucap Haikal.
Along tersenyum tipis dan sesekali melirik Haikal. "Bukankah dia cocok menjadi istri anda, Tuan?" tanya asisten tampan itu.
Haikal terdiam sembari berpikir. Gadis kecil itu, terlalu kecil untuk menghadapi dunia kejam yang aku geluti. Dia tidak akan kuat untuk menerima semua hal yang akan membahayakannya. Batin Haikal.
"Saya tidak tau. Tapi untuk sementara biarkan seperti ini dulu," ucap Haikal.
Along terdiam. "Apa anda akan menceraikannya?".
"Tidak! Kau sudah tau bagaimana sifatku, Long. Sesuatu yang sudah menjadi milikku akan begitu selamanya," ucap Haikal tegas.
"Bagaimana jika dia kembali? Bukankah jadwal kepulangannya sudah dekat?" tanya Along.
"Biarkan saja dia. Jangan bahas apapun di depan gadis itu," ucap Haikal tegas.
"Baik, Tuan," ucap Along tersenyum tipis.
Haikal terdiam dengan pikirannya. Ia melupakan sesuatu. "Apa foto yang di dekat televisi sudah kau pindahkan?" ucapnya.
"Foto? Maaf, Tuan. Sepertinya saya kurang memperhatikan hal itu," ucap Along tersentak.
"Pasti dia sudah melihatnya," ucap Haikal.
Mereka terdiam hingga mobil sampai ke perusahaan Haikal. Mereka segera turun dan berjalan beriringan.
"Beritahu dia untuk mengantarkan makan siang untukku," ucap Haikal.
"Nyonya Kaina, Tuan? Apa dia bisa memasak?" tanya Along mengernyit.
"Ck, apa kau tidak mencari informasi tentang dia?" tanya Haikal mengernyit.
"Maaf, Tuan. Tidak sampai ke sana," ucap Along.
"Kau cari hingga hal terkecil yang dia lakukan," ucap Haikal tegas.
"Baik, Tuan." ucap Along.
Mereka berpisah di depan pintu ruangan CEO. Haikal masuk ke dalam ruangannya dan terdiam memikirkan tentang Kaina.
Baru satu minggu, aku belum bisa menerka bagaimana sifat gadis itu. Terkadang dia tersenyum seperti menerima, namun juga terlihat ketakutan. Sementara tadi malam, dia berani membentak ibu sambungnya dihadapanku. Batin Haikal.
"Ah, gadis yang aneh!" ucapnya sebelum memulai bekerja.
Along datang dengan membawa beberapa berkas informasi yang sudah ia cari sebelumnya.
"Bacakan saja!" ucap Haikal sembari memeriksa dokumen-dokumen yang ada di atas meja.
"Mungkin anda tidak akan terlalu tertarik mendengarkan ini. Nyonya sudah kehilangan sang ibu di usia 6 tahun, setelah dua bulan tuan Leo menikah lagi dengan istrinya yang sekarang. Nyonya Sisca memperlakukan nyonya Kaina seperti pembantu. Ia memotong hampir 70 persen uang saku Nyonya Kaina,"ucap Along.
"Lanjutkan!" ucap Haikal.
"Jika Nyonya Kaina melakukan kesalahan, maka Nyonya Sisca tidak akan mengizinkannya untuk makan hingga besok pagi. Bahkan Nyonya pernah tidak diberi makan selama dua hari dan juga tidak mendapat uang saku selama satu bulan. Sekarang anda bisa tau bagaimana Nyonya bisa kurus seperti itu," ucap Along.
Haikal mulai tertarik. Ia menatap Along dengan ekspresi mengernyit dan mulai kesal.
"Tuan Leo hanya sibuk bekerja dan tidak mempedulikan keadaan Nyonya karena menyerahkan semua urusan rumah kepada istrinya. Nyonya juga harus membersihkan rumah sebelum berangkat ke kampus dan sepulang dari kampus. Terkadang, Nyonya juga harus bekerja hingga larut malam," ucap Along.
"Terus?" Ucap Haikal terlihat kesal.
"Saya baru mendapatkan informasi, jika Nyonya Kaina pernah dilarikan ke rumah sakit karena sesak nafas. Namun, Nyonya Sisca menyembunyikan penyakit itu dari semua orang. Apalagi semenjak ia tau, jika perusahaan tuan Leo akan diwariskan kepada Nyonya dan beberapa aset lainnya. Sehingga Nyonya Sisca melakukan itu semua agar Nyonya bisa meninggal lebih cepat," ucap Along.
"Jadi perempuan itu tau tentang sakit gadis ini?" Tanya Haikal terkejut.
"Iya, Tuan!" ucap Along.
Haikal menggenggam pulpen itu dengan sangat keras hingga terbelah menjadi dua. Along tersentak melihat respon dari sang atasan.
"Pantas saja dia semena-mena kepada gadis itu!" ucap Haikal dengan wajah yang mulai terlihat marah.
"Nyonya Kaina tak lebih dari seorang pembantu di rumah itu, Tuan," ucap Along.
Haikal terdiam, ia menjadi ragu untuk membawa Kaina masuk ke dalam rumah utama. Karena melihat gadis itu yang cukup penurut, pasti sang ibu akan membuatnya kesulitan ketika berada di sana.
"Bagaimana menurutmu? Apa saya tetap membawa dia ke rumah utama atau tidak?" tanya Haikal.
"Selagi anda masih bisa menjamin keselamatan Nyonya, saya rasa itu tidak masalah, Tuan!" ucap Along.
"Apa dia tidak memiliki teman?" tanya Haikal.
"Tidak satupun, Tuan. Mereka hanya memanfaatkan Nyonya untuk membuat tugas dan menyontek ketika ujian," ucap Along.
"Berikan pengawal jika dia berada di luar. Jangan sampai ada yang menindasnya seperti itu lagi!" ucap Haikal.
"Baik, Tuan!" ucap Along.
"Untuk perempuan itu, teror dia terus sampai gila. Dan pastikan dia tidak menyentuh laki-laki tua itu!" ucap Haikal.
"Maaf, Tuan?" tanya Along mengernyit.
"Dia mengancam istriku, dan meminta uang dalam jumlah yang besar!" ucap Haikal kesal.
"Baik, Tuan muda," ucap Along.
Mereka terdiam mendengar Haikal mengucapkan kata istriku. Along mulai tersenyum tipis menatap Haikal yang terlihat salah tingkah.
"Anda sudah menerima keberadaan gadis itu, Tuan!" ucap Along.
"Ck! Terima atau tidak, dia sudah menjadi istriku, bukan?" tanya Haikal kesal.
"Iya, Tuan. Tapi, Nyonya tidak terlalu buruk jika harus bersanding dengan anda. Bahkan saya merasa, Nyonya lebih pantas dan cocok dibandingkan dia," ucap Along.
"Sudahlah! Lebih baik kau kembali bekerja dan dapatkan informasi lebih banyak tentang gadis itu," ucap Haikal.
"Baik, Tuan. Permisi!" ucap Along tersenyum dan berpamitan.
Haikal terdiam setelah kepergian sang asisten. Ia mulai mencerna apa yang dikatakan oleh Along tadi.
Apa benar aku mulai menerima keberadaan gadis itu? Ah, tidak! Aku hanya iba dan dia hanya sekedar sebuah mainan untukku!. Batinnya.
Ia kembali memeriksa semua berkas-berkas itu dengan pikiran yang mulai tidak fokus. Kata-kata tentang menerima Kaina berputar di kepalanya.
Hingga ia memilih untuk menelfon sang istri agar bisa memarahinya walaupun tanpa sebab.
Tanpa sadar, Haikal membenarkan kata jika ia telah menerima keberadaan Kaina disisinya.
Sayang bgt lho gak dilanjutin mana ceritanya bagus bgt..
Ayo kk semangat buat lanjutin lg ceritanya