Kehidupan Adistya yang awalnya tenang dan biasa saja tiba-tiba terganggu oleh kedatangan seorang lelaki bernama Darren Bramastya. Lelaki itu mengklaim dirinya sebagai istri, bahkan memaksa dirinya untuk kembali ke rumah.
Tentu mendapat perlakuan seperti ini, Adistya menjadi sangat risih. Namun, semakin hari melihat kegigihan Darren untuk meluluhkan hatinya membuat Adistya memberikan kesempatan pada Darren.
Adistya mengajukan permintaan agar mereka menjalani hubungan layaknya sepasang kekasih, bukan sebagai suami istri. Apakah permintaannya ini akhirnya bisa di setujui Darren, atau malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emak Gemoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DD - 12
"Camel, boleh Mama tanya?"
"Boleh, Mama mau tanya apa," jawab Camelia masih belum fokus ke arah Adistya. Matanya masih terus menelusuri sekitar, seperti takut jika ada yang mengikuti mereka.
"Siapa orang tadi? Kenapa kamu sangat takut ketika melihatnya, apa ada sesuatu yang Mama nggak ketahui?" tanya Adistya terus-menerus. Dia merasa ada yang aneh, selama masuk dalam keluarga Darren, beberapa orang selalu memanggilnya Nurma bukan Adistya.
Dia menjadi curiga, tapi Adistya belum memiliki banyak bukti dan mungkin butuh waktu panjang untuk mengetahui siapa itu Nurma.
"Emm ... itu, tapi Mama jangan bilang papa kalau kita habis bertemu kakek kecil ya? Nanti, papa marah besar dan nggak akan izinkan aku keluar sendiri lagi," balas Camelia sedikit takut. Jujur, meski Camelia masih berusia lima tahun hampir ke enam, tapi bicaranya sangat lancar dan sangat cerdas.
"Iya, Mama janji."
Camelia sedikit ragu, tapi dia akhirnya juga jujur pada Adistya. Camelia bilang kalau tadi adalah pamannya Darren, orangnya sangat tamak bahkan pendendam. Siapapun akan dimarahi, jika menghalangi niatnya. Sebab itulah, Camelia begitu takut pada Boby.
"Jadi seperti itu ...."
"Iya, kalau Mama melihat kakek kecil langsung lari atau nggak pergi. Pokoknya jauhi kakek kecil," balas Camelia.
Adistya mengangguk paham, sebenarnya dia masih ingin tanya lagi tentang masalah Nurma. Tapi, dia tak sempat karena Camelia harus segera di antar ke rumah besar. Hari ini, keluarga Darren sengaja mengadakan pesta jadi Camelia harus segera pulang.
Sebenarnya Camelia memaksa Adistya ikut masuk ke dalam, tapi dia menolak dan beralasan ingin memberi kejutan untuk Darren di rumah saja. Adistya merasa tak pantas masuk rumah itu, ditambah identitasnya masih samar-samar. Jadi, setelah melihat Camelia masuk Adistya langsung kembali ke rumah Darren.
***
Malam harinya, Darren terpaksa menghadiri pesta yang diadakan ibunya. Menolak pun juga percuma, pasti ibunya akan selalu meneror bahkan menyuruh para pengawal menangkapnya.
Jujur saja, Darren sangat malas hadir ditambah dia tau kalau ibunya sengaja mengundang beberapa wanita. Padahal Darren berkali-kali menolak perjodohan itu, tapi sayangnya Ningrum ingin Darren kembali berkeluarga seperti dulu.
"Aduh, anak Mama akhirnya datang juga. Pesta mau di mulai, ayo cepat masuk," ucap Ningrum sangat bahagia.
"Ma ... please, jangan paksa Darren untuk berbaur dengan mereka," kata Darren sangat memohon.
"Nggak ada penolakan, kamu harus melihat mereka satu persatu. Pasti ada yang cocok, sebelumnya Mama sudah seleksi dan mereka —"
"Mama, aku nggak mau siapapun! Sampai kapanpun istriku hanya Nurma, meski dia sudah meninggal tapi Nurma istriku satu-satunya nggak ada yang lain!" tegas Darren agar Ningrum tak memaksanya lagi.
Namun, dugaannya salah Ningrum sama sekali tak mau dibantah dan semakin memperkenalkan dia dengan salah satu gadis cantik, anggun juga menawan.
"Kenalin, dia Gendis. Anaknya tante Mita, kalian dulu saling berteman apa kamu masih ingat, Ren?" tanya Ningrum. Tatapan matanya juga memberi isyarat pada Darren, agar dia mendekati Gendis.
"Lupa!" Hanya itu jawaban Darren.
"Ren!"
"Ma! Aku sudah beristri, stop menjodohkan ku dengan wanita lain! Jangankan Gendis, wanita di dalam pesta ini nggak ada yang bisa menggantikan Nurma. Kalian paham!" Marahnya tak bisa tertahan lagi.
Tak mau semakin menyakiti orang sekitarnya, Darren memilih undur diri dari hadapan mereka dan melewatkan pesta begitu saja, padahal dia lah tuan rumah.
Sedangkan Ningrum, merasa sangat malu pada sikap Darren. Dia berusaha menstabilkan kondisi di sana, bagaimanapun Ningrum tetap memilih Gendis untuk menjadi menantunya nanti. Jadi, sebisa mungkin dia membujuk keluarganya agar bersabar sedikit saja.
***
Darren turun dari mobil dengan wajah muram, perasaannya masih amat kesal. Lagi-lagi Ningrum memaksanya untuk menikah lagi, padahal Nurma baru saja meninggal belum ada setahun, tapi orang tuanya seperti tak sabar ingin mendapatkan menantu lain.
"Tuan, akhirnya anda pulang," ucap bik Ina.
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu pada nyonya?" Darren mulai panik, dia sampai melupakan Adistya gara-gara pesta tak jelas yang diadakan ibunya.
"Itu ...."
"Itu apa? Yang jelas, Bik!"
Perasaan Darren jadi tak enak, dia langsung menerobos masuk dan naik ke atas mencari Adistya, dia bahkan tak memperdulikan bik Ina yang terus memanggilnya. Sekarang otaknya hanya terpenuhi tentang satu nama, yaitu Adistya.
Darren takut Adistya kabur lagi seperti dulu, meski dugaannya hanya 30℅ tapi juga tak menutupi kemungkinan itu. "Dimana Nyonya!" serunya mulai capek mencari Adistya.
"Saya tadi mau memberitahu Tuan, tapi Tuan langsung masuk begitu saja. Nyonya ada di taman belakang, dari jam tujuh Nyonya Nurma menunggu anda di sana," jelas Bik Ina.
"Sial! Dia pasti kedinginan! Kenapa di biarin sih!" marahnya sambil bergegas ke taman belakang.
Sesampainya di sana, jantung Darren tiba-tiba berdegup sangat kencang. Matanya melihat sosok Nurma di dalam diri Adistya, matanya pun langsung berkaca-kaca tak bisa menahan perasaannya. Dia benar-benar merindukan mendiang istrinya, sampai melihat Adistya saja seperti Nurma.
"Nurma ...." lirihnya dengan suara serak. Darren tak dapat membendung air matanya lagi, dia langsung berlari ke arah Adistya dan memeluknya dari belakang.
"Aku merindukanmu, Nur. Sangat merindukanmu, ku mohon jangan tinggalkan aku lagi," ucap Darren tanpa sadar menyebut nama Nurma.
"Nur?" Adistya langsung tercengang mendengar ucapan Darren. Meski dia sangat mengantuk, tapi telinganya jelas-jelas mendengar Darren menyebut nama Nur.
Sedangkan Darren, yang tadinya sangat larut dalam pelukan Adistya langsung tersadar. Dia membuat kesalahan besar, menyebut nama Nurma padahal selama ini dia selalu hati-hati dalam menyebutkan nama.
"Apa? Kamu mungkin salah dengar, Sayang. Aku nggak pernah nyebut nama Nur, siapa itu Nur?" Darren sangat gugup.
"Telinga ku masih normal dan kamu memang menyebut nama Nur, Darren! Aku jadi ingat sekarang, banyak sekali orang yang memanggilku Nurma. Apa jangan-jangan ... umpphhtt ...."
Darren memilih membungkam bibir Adistya begitu saja, dia tak mau wanita di depannya ini semakin curiga apalagi semua adalah kecerobohannya yang tak bisa mengontrol emosi sampai salah menyebut nama.
"Maaf, hari ini ada masalah di kantor. Pamanku berusaha merebut perusahaan, sehingga otakku tak dapat berpikir dengan jernih, maaf Sayang," jelas Darren.
Dia sama sekali tak berbohong, memang pamannya hari ini membuat ulah dan ingin melengserkan nya dari perusahaan. Untung saja Fal mengetahui semua rencana busuk pamannya, sehingga dia tak jatuh dalam jebakan.
"Kamu serius?" Adistya memastikan ada kebohongan tidak di mata Darren.
"Aku berani bersumpah, Sayang. Bahkan hari ini Mama juga membuatku semakin pusing, dia ingin aku menikah lagi dan memiliki salah satu wanita pilihannya, itu semakin membuatku lelah," ucap Darren memilih duduk di atas kursi dan menarik Adistya agar duduk di pangkuannya.
"Terus kamu terima?" Adistya seperti sangat kesal mendengar penjelasan Darren.
"Nggak lah, aku tolak semua. Untuk apa menikah lagi, kamu lebih dari cukup dan satu-satunya istriku hanya kamu Sayang," balasnya terus meraup bibir Adistya.
Dia cium bibir itu penuh kelembutan, dia masih sangat merindukan Nurma. Dengan cara seperti ini, rindu dalam hatinya bisa terobati. Meski mereka berbeda orang, tapi pelukan maupun ciumann Adistya sama seperti Nurma.
"Jangan terus menciumku, Ren. Lipstik Ku nanti hilang, kita belum makan malam bersama, tapi make-up ku sudah luntur," cibir Adistya.
Gelak tawa Darren pun menggelegar di taman belakang, dia sangat gemas melihat Adistya seperti ini. Dia pun mulai melirik sekelilingnya, dan benar saja dia baru sadar jika banyak sekali hidangan makan malam di atas meja.
Dia terlalu fokus pada kecantikan Adistya yang sangat mirip dengan Nurma, sampai makanan sebanyak itu tak terlihat sedikitpun. Namun, tak dapat dipungkiri hati Darren sangat berbunga-bunga melihat semua.
'Jika tau Adistya menyiapkan semua ini, lebih baik aku pulang saja langsung daripada menghadapi pesta nggak penting yang diadakan mama,' batin Darren.
"Karena kamu sudah menyiapkan semua, mari makan kalau seperti itu," ajak Darren tapi Adistya menahannya.
"Tunggu, ada sesuatu yang harus aku bicarakan padamu. Ini sangat penting, jadi bisakah kita bicara sebentar?" tanya Adistya ragu-ragu.
Dia masih bimbang, antara mengungkapkan atau tidak. Adistya sangat malu, tapi jika terus diam maka semua tak akan selesai.
"Katakanlah, aku akan mendengarkan."
Adistya diam sejenak, tangannya terus dia remas, keringat dingin juga mulai bercucuran. Bibirnya pun rasanya sangat sulit untuk bicara, seperti menyatu sangat kuat.
"Sayang ...."
"Ren, sebenarnya aku masih ragu dengan semua perkataanmu yang mengatakan aku ini istrimu. Selama lima bulan berusaha juga tak bisa membuatku ingat apapun, tapi jika memang kamu ingin berhubungan denganku, maka mari kita mulai dari awal," ucap Adistya masih belum berani menatap Darren. Dia takut salah bicara, sehingga membuat lelaki di depannya ini salah paham
"Maksudmu?" Darren ingin langsung ke intinya.
"Aku mau kita mulai dari awal, bisa dibilang seperti pasangan kekasih bukan sebagai suami-istri. Karena jujur, hatiku belum siap jika semua orang memanggilku istrimu, tapi tak ada sedikitpun ingatan tentang pernikahan kita," jelas Adistya sekali lagi, dia berharap Darren paham akan ucapannya ini.
"Jadi kamu mau kita menjalin hubungan sepasang kekasih, bukan suami-istri?" Darren menatap Adistya penuh tatapan tajam.
"Iya, hanya sampai ingatanku pulih."
"Baiklah jika itu maumu, tapi untuk Camelia —"
"Dia tetap anakku, jadi biarkan dia memanggilku mama. Yang penting, kita." Potong Adistya langsung.
Darren mengangguk paham, dia semakin mengeratkan pelukannya pada Adistya. "Jika itu membuatmu rileks, maka baiklah. Mulai sekarang kamu adalah kekasihku, tidak boleh ada yang mendekatimu kecuali aku. Terutama Zidan, aku nggak suka dengan dia," balas Darren dalam posisi mencium pundak Adistya.
"Dia sahabatku," lirih Adistya.
"Tapi aku cemburu, aku nggak suka dia."
Adistya memutar kedua bola matanya sangat malas. Darren terlalu posesif, sehingga membuatnya merasa terkekang. Tapi, entah kenapa akhir-akhir ini Adistya merasa senang jika Darren selalu menampilkan sikap posesifnya.
"Iya, iya, aku akan jauhi dia. Tapi, nggak janji — aduh! Sakit, Ren! Kebiasaan ih, suka gigit." Kesal Adistya. Sering sekali Darren menggigit nya, bahkan sampai membekas.
"Habisnya gemes, pengen bawa kamu ke ranjang. Tapi, kamu pasti nggak mau," goda Darren.
"Ish, apaan sih! Lepas aku mau makan, nanti keburu dingin!" Adistya menjadi malu mendengar ucapan Darren barusan, selalu vulgar dan mengarah ke ranjang.
Darren tak menghalangi Adistya, dia juga mulai lapar jadi mereka pun makan malam bersama. Meski sudah terlalu larut malam, tapi rasanya masih nikmat dan sangat berkesan.
...****************...
Maaf emak kehilangan asupan, jadi entah dapat fell atau nggak. Lagi bergelut juga dengan sinyal, yang kadang-kadang muncul dan hilang. 😌😌😌