Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.
Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.
Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Langit-langit Dunia Ini
Ia harus membaca buku pelajaran dunia ini.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi Arya Pratama, itu seperti membuka pintu ke ruang gelap yang selama ini ia kira hanya dinding.
Jika apoteker salah menghitung, itu bisa disebut kelalaian. Jika pedagang pasar, pemilik warung, pemilik toko, dan wartawan lokal membuat kesalahan yang sama, itu sudah menjadi pola. Namun pola masih bisa berasal dari kebiasaan buruk.
Buku pelajaran berbeda.
Buku pelajaran adalah dasar yang dipakai sekolah untuk membentuk pikiran jutaan orang. Jika dasarnya benar, mungkin masyarakat hanya buruk dalam mempraktikkannya. Jika dasarnya salah, berarti kerusakan itu ditanam sejak awal.
Arya pulang sebentar untuk melihat keadaan Ayah. Budi Pratama sedang duduk di teras, memegang gelas air hangat. Wajahnya masih pucat, tetapi napasnya lebih baik.
"Kamu dari mana pagi-pagi, Nak?"
"Jalan sebentar, Yah."
"Jangan terlalu banyak pikiran soal sekolah."
Arya menatap ayahnya. Di atas meja ruang tamu, surat pemberhentian itu masih ada. Kertas yang kemarin menekan dadanya kini tampak lebih kecil.
"Aku mau ke perpustakaan daerah," kata Arya.
Budi berkedip. "Perpustakaan?"
"Iya. Mau baca buku."
Untuk pertama kalinya sejak surat itu datang, senyum lemah muncul di wajah Budi. "Bagus. Ayah selalu senang kalau kamu baca. Tapi makan dulu."
Arya mengangguk. Ia makan nasi sisa semalam dengan telur dadar tipis, lalu berangkat membawa buku catatan lama dan pulpen. Tidak ada tas sekolah. Ia sudah bukan siswa sekolah mana pun.
Perpustakaan Daerah Kota Buana berdiri di dekat alun-alun kecil, bersebelahan dengan kantor dinas pendidikan. Bangunannya dua lantai, cat putihnya mulai kusam, tetapi halaman depannya bersih. Di pintu masuk, seorang petugas perempuan duduk di balik meja pendaftaran sambil menempelkan label pada kartu anggota.
"Mau baca di tempat atau pinjam, Mas?" tanyanya.
"Baca di tempat, Bu. Bagian buku pelajaran SMA di mana?"
Petugas itu menunjuk tangga. "Lantai dua, rak pendidikan. Matematika di sebelah kamus. Kalau bingung, ikuti label warna hijau."
"Terima kasih, Bu."
Arya naik ke lantai dua.
Ruangan itu sejuk karena AC tua yang bekerja keras. Rak-rak buku berjajar rapi. Ada siswa berseragam duduk di meja panjang, menyalin sesuatu dari buku ke kertas dengan wajah sangat serius. Di sudut lain, seorang mahasiswa tampak tertidur di atas modul tebal.
Arya menuju rak pendidikan.
Buku pertama yang ia ambil adalah matematika SMA kelas X. Sampulnya bergambar grafik dan segitiga, dengan logo kurikulum nasional di sudut bawah. Ia membukanya di bab bilangan.
Lima menit kemudian, alisnya mulai berkerut.
Sepuluh menit kemudian, ia menutup buku itu, menarik napas, lalu membukanya lagi dari awal untuk memastikan ia tidak salah membaca.
Di halaman dua puluh tiga, buku itu menulis bahwa hasil 7 x 8 "mendekati 54 atau 58 tergantung konteks penggunaan". Di halaman tiga puluh satu, pecahan 1/2 disebut selalu lebih besar dari 2/3 karena angka 2 lebih kecil daripada angka 3. Di bagian latihan, soal yang meminta siswa menyederhanakan 12/18 diberi kunci jawaban 12/18 karena "angka tidak boleh diubah tanpa izin guru".
Arya menatap kalimat itu lama sekali.
Ia ingin tertawa.
Ia juga ingin marah.
Ia tidak merasa lebih hebat. Masalahnya, buku ini bukan coretan anak kecil. Buku ini dicetak, diedarkan, diajarkan, dan dipakai untuk menentukan siapa yang pintar dan siapa yang bodoh.
Termasuk dirinya.
Arya mengambil buku fisika.
Bab pertama membahas gerak. Di sana tertulis bahwa gaya adalah "keinginan benda untuk berpindah tempat". Rumus yang seharusnya F \= m x a ditulis terbalik menjadi a \= F x m, lalu penjelasan di bawahnya menyebut bahwa semakin berat benda, semakin besar percepatan bila didorong dengan gaya yang sama.
Arya mencoret di buku catatannya sendiri.
F \= m x a.
a \= F / m.
Ia menulis contoh sederhana: dua benda didorong dengan gaya sama, benda lebih ringan bergerak lebih cepat. Tidak sulit. Anak SMP di dunia asalnya bisa memahami ini dalam satu pelajaran.
Di sini, kesalahan itu duduk tenang di buku teks seperti raja.
Arya berpindah ke kimia. Tabel periodik yang tercetak di bagian belakang buku tampak rapi, tetapi beberapa unsur ditempatkan berdasarkan warna favorit penulis. Oksigen berada dekat emas karena "keduanya penting bagi kehidupan dan kemakmuran". Natrium dan klorin dipisahkan jauh karena "terlalu berbahaya jika berdekatan di kertas".
Pulpen Arya berhenti bergerak.
"Ini bukan salah cetak," gumamnya.
Seorang siswa berseragam di meja sebelah menoleh. "Mas bilang apa?"
Arya melihat badge di seragamnya. Siswa itu berasal dari SMA lain, mungkin kelas XI. Di depannya ada buku matematika yang sama, terbuka di bab pecahan.
"Tidak apa-apa," kata Arya.
Siswa itu menunjuk catatan Arya. "Mas bisa mengerjakan bagian pecahan?"
"Bisa."
Mata siswa itu langsung berbinar. "Yang ini, Mas. Satu per dua sama dua per empat, kan? Tapi guru saya bilang belum tentu sama kalau bentuknya beda. Saya bingung."
Arya menatap soal itu.
1/2 dan 2/4.
"Itu sama," katanya.
"Sama bagaimana?"
Arya menggambar sebuah persegi panjang, membaginya menjadi dua bagian, lalu mengarsir satu. Di sampingnya, ia menggambar persegi panjang lain, membaginya menjadi empat bagian, lalu mengarsir dua.
"Lihat luas yang diarsir. Sama besar."
Siswa itu memandangi gambar tersebut. Dahinya berkerut sekeras orang memecahkan sandi rahasia.
"Oh..." katanya setelah hampir setengah menit. "Jadi angka bawah boleh beda asal bagiannya sama?"
"Iya."
"Masya Allah." Siswa itu menatap Arya dengan kagum polos. "Mas kuliah matematika?"
Arya hampir menjawab bahwa ia baru dikeluarkan dari SMA.
Ia menelan kata itu.
"Belum."
"Berarti Mas anak Kelas Inovasi?"
Kelas Inovasi.
Nama itu pernah ia dengar. Program unggulan di SMA Negeri 1 Buana, sekolah terbaik di Kota Buana. Katanya hanya siswa paling cerdas yang bisa masuk. Katanya guru-gurunya lulusan kampus besar. Katanya kelas itu melahirkan juara olimpiade kota hampir setiap tahun.
Dulu, nama itu terasa seperti puncak gunung yang mustahil ia sentuh.
Sekarang, setelah melihat 1/2 dan 2/4 menjadi masalah besar, gunung itu mulai terlihat berbeda.
"Bukan," kata Arya.
Siswa itu tampak terkejut. "Kalau bukan, kok bisa paham?"
Arya tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu kembali ke rak.
Buku sejarah menunggunya.
Di bagian awal, tertulis bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia terjadi "sekitar pertengahan bulan yang penting" karena penulis tidak yakin tanggal pastinya, lalu halaman berikutnya menulis tanggal 17 Agustus tetapi menyebut tahunnya berbeda. Peristiwa besar dicampur dengan legenda lokal tanpa pemisahan. Sebuah peta menunjukkan Kota Buana berada terlalu dekat dengan Jakarta, padahal jarak perjalanan darat di bagian lain buku disebut lebih dari dua belas jam.
Kesalahan logika.
Kesalahan angka.
Kesalahan sebab akibat.
Kesalahan yang terlalu banyak untuk disebut kesalahan biasa.
Arya duduk di lantai di antara dua rak. Buku catatannya kini penuh coretan. Di satu halaman, ia membuat tiga kolom: matematika, sains, sejarah. Di bawah setiap kolom, daftar kesalahan memanjang hampir memenuhi kertas.
Ia berhenti menulis saat menyadari sesuatu.
Jika ia terus mencari, daftarnya tidak akan selesai.
Masalahnya melampaui satu buku, satu guru, dan satu sekolah. Kerusakannya berada di seluruh sistem pengetahuan dunia ini.
Dan jika seluruh sistem itu rusak, maka label "bodoh" yang ditempelkan padanya sejak lama juga berasal dari sistem yang rusak.
Arya menutup buku catatannya.
Di luar jendela lantai dua, Kota Buana bergerak di bawah matahari. Angkot berhenti sembarangan. Seorang petugas parkir memberi aba-aba berlawanan arah kepada dua motor sampai keduanya hampir bertabrakan. Di halaman kantor dinas pendidikan, papan slogan berdiri tegak:
PENDIDIKAN CERDAS UNTUK MASA DEPAN CERDAS.
Arya membaca kalimat itu, lalu melihat kembali tumpukan buku di sekelilingnya.
Masa depan cerdas, dibangun dari buku yang bahkan tidak memahami pecahan.
Ada rasa dingin yang aneh merambat di dadanya. Bukan takut. Lebih dekat pada kesadaran bahwa sebuah pintu raksasa baru saja terbuka di depannya.
Selama ini, ia berdiri di dasar.
Ternyata dasar itu bukan tempatnya.
Ia hanya ditempatkan di sana oleh orang-orang yang tidak bisa membedakan langit-langit dengan lantai.
Arya kembali ke rak matematika dan mengambil buku latihan ujian masuk sekolah unggulan. Di sampulnya tertulis:
TES MASUK KELAS INOVASI SMA NEGERI 1 BUANA.
Edisi persiapan paling sulit se-Kota Buana.
Ia membuka halaman pertama.
Soal nomor satu meminta menghitung 15 + 27.
Soal nomor dua meminta menentukan mana yang lebih besar, 3/4 atau 2/4.
Soal nomor tiga meminta melengkapi pola 2, 4, 6, 8, ...
Arya membaca sampai halaman terakhir dalam waktu kurang dari dua puluh menit.
Tidak ada satu pun soal yang benar-benar menahan matanya.
Di meja dekat jendela, siswa SMA tadi masih memandangi gambar pecahan yang Arya buat. Di rak depan, mahasiswa yang tidur akhirnya bangun, membuka buku, lalu menguap bingung di depan soal perkalian dua digit.
Arya menutup buku latihan ujian itu.
Kertasnya mengeluarkan bunyi pelan, tetapi bagi Arya, bunyi itu seperti pintu yang terkunci dari dalam akhirnya terbuka.
SMA Budi Utama sudah membuangnya.
Bagus.
Kalau sekolah itu menganggapnya sampah, ia akan masuk ke tempat yang disebut paling pintar di Kota Buana dan melihat seberapa tinggi sebenarnya langit-langit dunia ini.
Arya menyalin alamat pendaftaran SMA Negeri 1 Buana dari halaman belakang buku. Lalu, di bawahnya, ia menulis satu kalimat.
Masuk Kelas Inovasi.
Pulpen berhenti. Ia menatap tulisan itu beberapa detik, lalu menambahkan kalimat kedua.
Tapi jangan terlalu cepat menunjukkan semuanya.
Karena jika kemampuan menghitung Rp 43.000 saja bisa membuat orang dewasa ketakutan, Arya harus tahu dulu satu hal penting.
Di dunia seperti ini, menjadi terlalu pintar mungkin jauh lebih berbahaya daripada menjadi bodoh.