NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Naga

Reinkarnasi Sang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen adalah pewaris sah dari Keluarga Lin di Ibukota Jingcheng. Namun, karena intrik ibu tirinya dan adik tirinya (Lin Tian), meridiannya dihancurkan, dia dijebak atas kejahatan penggelapan, dan dibuang ke kota kecil Donghai sebagai orang cacat. Tunangannya yang kejam, Ye Mei, akhirnya membunuhnya di gang gelap.
​Namun, takdir berkata lain. Lin Chen terbangun 5 tahun di masa lalu, tepat di hari ia dibuang ke Donghai. Kali ini, ia tidak hanya membawa ingatan masa depannya, tetapi jiwanya telah terikat dengan [Sistem Penguasa Urban Tertinggi]. Mulai dari menyembuhkan tubuhnya, membangun kerajaan bisnis, hingga menguasai seni bela diri kuno, Lin Chen bersumpah akan menginjak-injak mereka yang pernah mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Bayangan Naga di Bawah Rembulan

​Langit senja perlahan berganti menjadi kanvas malam yang dihiasi gemerlap lampu Kota Donghai.

​Setelah meninggalkan Gedung Grup Su, Lin Chen tidak langsung kembali ke kediaman Keluarga Su. Ia berjalan menyusuri taman kota yang sepi, duduk di sebuah bangku panjang yang menghadap ke danau buatan, dan menutup matanya.

​"Sistem, buka Toko Sistem," batin Lin Chen.

​[Ding! Membuka Toko Sistem...]

[Poin Host saat ini: 5.000 Poin]

​Sebuah layar transparan berwarna biru holografik yang hanya bisa dilihat oleh Lin Chen muncul di depannya. Layar itu menampilkan berbagai macam kategori: Pil Medis, Teknik Bela Diri, Senjata, hingga Keterampilan Khusus.

​Mata Lin Chen memindai daftar tersebut. Meskipun ia memiliki kekuatan Tahap Awal Tingkat Bumi, ia menyadari bahwa pertarungannya melawan pengawal Zhao Tian pagi tadi hanya mengandalkan kekuatan fisik kasar dan Qi dasar. Untuk menghadapi musuh yang sesungguhnya, ia membutuhkan teknik bela diri sejati.

​"Tampilkan Teknik Bela Diri yang bisa dibeli dengan 5.000 Poin," perintah Lin Chen.

​Layar berkedip, menyaring ratusan ribu teknik menjadi beberapa pilihan teratas:

​[Teknik Tinju Harimau Besi] - 1.500 Poin (Kelas Fana)

​[Langkah Bayangan Naga] - 2.500 Poin (Kelas Bumi - Keterampilan Gerakan/Agility)

​[Tinju Penghancur Bintang - Tahap 1] - 2.500 Poin (Kelas Bumi - Keterampilan Serangan)

​[Seni Pedang Angin Jatuh] - 4.000 Poin (Kelas Bumi)

​Tanpa ragu, Lin Chen membuat pilihannya. "Beli Langkah Bayangan Naga dan Tinju Penghancur Bintang."

​[Ding! Pembelian berhasil. Mengurangi 5.000 Poin. Saldo Poin: 0]

[Mengintegrasikan teknik ke dalam memori otot dan lautan spiritual Host... 10%... 50%... 100%!]

​Seketika, gelombang informasi yang sangat besar membanjiri otak Lin Chen. Ia tidak perlu berlatih puluhan tahun seperti seniman bela diri pada umumnya; sistem langsung menanamkan pemahaman dan penguasaan teknik tersebut ke tingkat Master ke dalam tubuhnya.

​Lin Chen membuka matanya. Sebuah kilatan cahaya biru melintas di pupil matanya. Ia merasa tubuhnya sedemikian ringan hingga seolah bisa terbang, sementara energi yang luar biasa destruktif bersemayam di kedua kepalan tangannya.

​"Sangat kuat..." gumam Lin Chen sambil tersenyum puas.

​Tepat pada saat itu, telinga Lin Chen yang telah diperkuat oleh Qi menangkap suara gesekan langkah kaki yang sangat halus, berasal dari kegelapan pepohonan di belakangnya. Tidak hanya satu, tapi puluhan orang. Niat membunuh yang pekat menguar di udara.

​Senyum di wajah Lin Chen semakin lebar, namun suhunya sedingin es.

​"Lalat-lalat sudah berdatangan," gumamnya pelan.

​Alih-alih panik, Lin Chen berdiri dengan santai, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, dan berjalan ke arah area pabrik tua yang terbengkalai di ujung taman kota. Ia sengaja mencari tempat yang sepi agar tidak ada saksi mata.

​Begitu Lin Chen melangkah masuk ke halaman pabrik yang gelap gulita dan dipenuhi ilalang tinggi, tiga mobil van hitam tanpa plat nomor tiba-tiba melesat memblokir satu-satunya jalan keluar.

​Cittt!

​Pintu van didorong terbuka kasar. Tiga puluh pria berbadan tegap berpakaian hitam berhamburan keluar. Mereka semua memegang senjata tajam; golok panjang, pipa besi, dan rantai bergerigi. Suasana malam itu seketika dipenuhi aura kematian.

​Dari tengah-tengah kerumunan, seorang pria paruh baya dengan bekas luka codet melintang di wajahnya melangkah maju. Ia memainkan sebilah belati militer bergerigi di tangannya.

​"Kau punya nyali juga, Nak. Tahu sedang diikuti, tapi malah menggiring kami ke tempat sepi seperti ini. Apa kau sedang mencari kuburan yang nyaman untuk dirimu sendiri?" ucap pria itu, suaranya serak seperti parutan besi. Dia adalah Serigala Hitam.

​Lin Chen berhenti melangkah. Ia berbalik perlahan, menatap puluhan pria bersenjata itu dengan tatapan datar yang biasa ia gunakan saat melihat sekawanan semut.

​"Serigala Hitam, kepala anjing peliharaan Keluarga Zhao," ucap Lin Chen menyebut nama pria itu dengan tepat. "Zhao Tian mengirimmu karena tamparanku tadi pagi belum cukup keras untuk membangunkannya dari mimpi?"

​Mata Serigala Hitam menyipit tajam. "Mulutmu cukup tajam untuk ukuran orang cacat. Tuan Muda Zhao berpesan, aku harus mematahkan keempat anggota tubuhmu, mencabut lidahmu, dan membawamu berlutut di depannya malam ini."

​Serigala Hitam mengangkat belatinya ke udara. "Saudara-saudara, habisi dia! Jangan sampai mati, aku butuh dia bernapas saat kita memotong urat nadinya!"

​"BAIK, BOS!"

​Tiga puluh preman elit itu meraung bersamaan, melesat maju mengepung Lin Chen dari segala penjuru bagaikan sekawanan hyena kelaparan. Golok panjang dan pipa besi diayunkan ke arah kepala, dada, dan kaki Lin Chen tanpa belas kasihan.

​Jika itu adalah manusia biasa, mereka akan tercincang menjadi daging giling dalam hitungan detik.

​Namun, Lin Chen hanya mendengus pelan.

​"Langkah Bayangan Naga."

​WUSSH!

​Tepat saat senjata-senjata itu akan mengenainya, sosok Lin Chen tiba-tiba menghilang dari pandangan layaknya asap yang tertiup angin!

​Golok dan pipa besi itu hanya menghantam udara kosong, saling berbenturan satu sama lain dan menciptakan percikan api. Para preman itu terbelalak bingung.

​"Di mana dia?!"

​"Di belakangmu," bisik sebuah suara sedingin dewa maut tepat di telinga salah satu preman berbadan besar.

​Sebelum preman itu sempat menoleh, sebuah tinju yang dilapisi cahaya Qi redup menghantam punggungnya.

​BAM!

​"Tinju Penghancur Bintang."

​Kekuatan tinju itu meledak seperti meriam. Tulang punggung preman itu patah seketika, dan tubuh besarnya terlempar ke depan seperti peluru kendali, menabrak lima rekannya yang lain hingga mereka semua terpental belasan meter, memuntahkan darah segar sebelum jatuh pingsan di tanah.

​Keheningan mengerikan menyelimuti halaman pabrik itu.

​Serigala Hitam melebarkan matanya hingga nyaris robek. "A-apa yang kalian tunggu?! Serang dia bersama-sama! Dia hanya satu orang!"

​Namun, yang terjadi selanjutnya bukanlah pertarungan, melainkan sebuah pembantaian sepihak.

​Sosok Lin Chen berkelebat di bawah cahaya bulan bak hantu. Setiap kali ia melangkah, Langkah Bayangan Naga meninggalkan ilusi optik (afterimage) yang membingungkan musuh. Setiap kali tangannya bergerak, Tinju Penghancur Bintang mematahkan tulang, menghancurkan senjata baja muda menjadi serpihan, dan mengirim musuh terbang ke udara.

​Jeritan pilu bergema membelah malam. Darah mewarnai ilalang.

​Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, dua puluh sembilan preman elit yang ditakuti di dunia bawah tanah Donghai kini terkapar di tanah. Ada yang memegangi dada mereka yang melesak ke dalam, ada yang merintih dengan anggota tubuh bengkok tak wajar, dan sebagian besar telah kehilangan kesadaran.

​Tidak ada yang bisa menyentuh ujung baju Lin Chen sekalipun.

​Lin Chen berdiri di tengah tumpukan tubuh yang merintih itu. Kemeja putihnya masih bersih tanpa setetes pun noda darah. Ia mengalihkan pandangannya pada satu-satunya orang yang masih berdiri.

​Serigala Hitam.

​Pisau belati di tangan sang pembunuh bayaran itu bergetar hebat. Wajahnya sepucat kertas. Sebagai seorang seniman bela diri di Tahap Puncak Kelas Fana, ia bisa merasakan dengan jelas tekanan energi (Qi) yang memancar dari tubuh Lin Chen. Tekanan itu membuatnya nyaris tidak bisa bernapas.

​"T-Tahap Bumi... kau adalah seorang Grandmaster Tahap Bumi!" Serigala Hitam mundur selangkah demi selangkah, kakinya terasa seperti agar-agar.

​Di seluruh Kota Donghai, seniman bela diri Tahap Bumi bisa dihitung dengan jari! Mereka biasanya adalah tetua dari keluarga-keluarga besar tingkat atas. Bagaimana mungkin "menantu sampah" yang meridiannya dikabarkan hancur ini memiliki kekuatan monster seperti ini?!

​"Menyadari perbedaan kekuatan kita, namun terlambat." Lin Chen mengambil langkah maju.

​Serigala Hitam tahu ia tidak bisa melarikan diri. Dengan raungan putus asa, ia memobilisasi seluruh Qi ke bilah pisaunya dan melesat maju, menusuk langsung ke arah jantung Lin Chen.

​"Mati kau!"

​Cling.

​Dua jari.

​Hanya dengan jari telunjuk dan jari tengahnya, Lin Chen menjepit bilah belati baja itu di udara, tepat lima sentimeter dari dadanya. Kekuatan tusukan Serigala Hitam yang mampu menembus pelat baja, terhenti seketika layaknya menabrak gunung yang kokoh.

​"Terlalu lambat. Terlalu lemah," ucap Lin Chen datar.

​Ia memutar pergelangannya dengan santai.

​TRANG!

​Bilah baja tebal itu patah menjadi dua bagian dengan suara nyaring!

​Sebelum Serigala Hitam bisa mencerna apa yang terjadi, Lin Chen mengayunkan kakinya, menyapu lutut pria itu.

​KRAK!

​"AAARRGHHH!" Serigala Hitam menjerit histeris saat kedua tempurung lututnya hancur berkeping-keping. Ia jatuh berlutut di depan Lin Chen dengan suara debuk yang keras.

​Lin Chen menatapnya dari atas ke bawah, seolah menatap seekor anjing sekarat. Ia menempelkan telapak tangannya ke perut bawah (Dantian) Serigala Hitam, lalu melepaskan sedikit gelombang Qi.

​Blar!

​Sebuah letupan teredam terdengar dari dalam tubuh Serigala Hitam. Pusat kultivasinya (Dantian) dihancurkan seketika. Seluruh energi bela diri yang ia latih selama dua puluh tahun lenyap menjadi ketiadaan. Ia kini hanyalah seorang cacat biasa.

​"Kau... kau menghancurkan kultivasiku..." Serigala Hitam menangis dalam keputusasaan dan rasa sakit yang luar biasa. Baginya, ini jauh lebih kejam daripada dibunuh.

​"Keluarga Zhao menghancurkan meridianku di kehidupan masa lalu. Mengambil kultivasimu hanyalah pembayaran bunga yang sangat kecil," bisik Lin Chen, kata-kata yang tidak bisa dipahami oleh pembunuh itu.

​Lin Chen kemudian menjambak rambut Serigala Hitam, memaksa wajah pria itu mendongak menatap matanya yang sedingin jurang es.

​"Aku akan membiarkanmu hidup hari ini. Bukan karena aku berbelas kasihan, tetapi karena aku butuh anjing pembawa pesan," ucap Lin Chen dengan nada memerintah yang absolut.

​"Kembalilah pada majikanmu, Zhao Tian. Katakan padanya: Hitung mundur kehancuran Keluarga Zhao dimulai malam ini. Jika dia, atau siapa pun dari Keluarga Zhao berani menyentuh sehelai rambut Su Ruoxue atau Keluarga Su... aku, Lin Chen, akan menghapus nama Keluarga Zhao dari silsilah kehidupan dunia ini hingga ke akar-akarnya."

​Lin Chen melepaskan cengkeramannya, membiarkan Serigala Hitam jatuh tertelungkup ke tanah berdebu.

​Tanpa menoleh ke belakang, Lin Chen membalikkan badannya dan melangkah pergi, meninggalkan area pabrik yang kini tampak seperti medan perang neraka, menghilang ke dalam kegelapan malam.

​Satu jam kemudian. Klub Malam 'Surga Merah'.

​Zhao Tian sedang duduk di sofa VIP, dikelilingi oleh dua wanita cantik berpakaian minim yang sedang menuangkan anggur mahal untuknya. Ia tersenyum membayangkan Su Ruoxue yang besok akan berlutut memohon di kakinya, dan Lin Chen yang akan menjadi mayat tanpa anggota tubuh.

​Brak!

​Pintu ruangan VIP didorong terbuka dari luar.

​Dua orang pengawal klub masuk sambil memapah sesosok tubuh manusia yang bersimbah darah, pakaiannya robek-robek, dan kedua kakinya terseret tak berdaya di lantai.

​Gelas anggur di tangan Zhao Tian tergelincir dan pecah di lantai. Wajahnya seketika memucat.

​"S-Serigala Hitam?!" Zhao Tian berdiri dengan gemetar. "Apa yang terjadi padamu?! Di mana Lin Chen? Apakah Keluarga Tang atau Keluarga Su membawa pengawal untuk menyelamatkannya?!"

​Serigala Hitam mengangkat kepalanya yang berlumuran darah. Matanya memancarkan teror yang mendalam, teror dari seorang pria yang baru saja menatap wajah dewa kematian.

​"T-Tuan Muda... larilah..." suara Serigala Hitam bergetar dan parau. "Dia bukan manusia... dia monster... seorang Grandmaster Tahap Bumi... Kita telah memprovokasi eksistensi yang tidak boleh disentuh..."

​"Apa?!" Zhao Tian terhuyung mundur hingga menabrak meja. "Tahap Bumi? Orang cacat itu?! KAU PASTI BERCANDA!"

​"Dia menyuruhku... menyampaikan pesan..." Serigala Hitam memuntahkan darah sebelum melanjutkan, "Hitung mundur kehancuran Keluarga Zhao... dimulai malam ini."

​Mendengar kata-kata itu, hawa dingin merayap naik dari telapak kaki Zhao Tian hingga ke ubun-ubunnya.

1
Arinto Ario Triharyanto
muantaffff 😎
Arinto Ario Triharyanto
mantap ini 😎 ☕☕☕
Arinto Ario Triharyanto
yoiii lanjutken..😎
Arinto Ario Triharyanto
yoiii😎
Arinto Ario Triharyanto
yoi😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!