Ketika Jiang Chen terbangun di dunia kultivasi, ia mendapati dirinya mewarisi takhta Ketua Sekte Pedang Bintang—sebuah sekte yang dulunya agung namun kini berada di ambang kehancuran absolut. Pilar utama sekte, sang guru, telah tewas terbunuh. Para tetua berkhianat dan membawa lari seluruh harta benda, sementara musuh bebuyutan telah mendobrak gerbang depan untuk merampas wilayah mereka.
Dengan tingkat kultivasi dasar yang sangat lemah dan hanya ditemani oleh satu adik seperguruan yang masih setia bertahan, ajal seolah sudah menanti Jiang Chen di depan mata.
Namun, di saat maut dan keputusasaan memuncak, sebuah suara mekanis yang dingin bergema di benaknya: [Sistem Pembangunan Sekte Abadi berhasil diikat!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Terbelahnya Lautan Darah
Berjalan di atas udara kosong adalah kemampuan yang secara teoritis hanya bisa dicapai oleh para kultivator di Ranah Inti Emas yang telah memahami hukum manipulasi spasial tingkat dasar.
Namun, berkat cadangan energi qi Jiang Chen yang murni seperti kristal—meskipun saat ini ditekan di puncak Pembentukan Fondasi oleh jubahnya—dia mampu memadatkan qi di bawah telapak kakinya untuk membentuk anak tangga pijakan sementara di udara.
Bagi ribuan kultivator dari berbagai sekte yang menonton di tepi Danau Darah, pemandangan pemuda berjubah putih yang berjalan menuruni langit ini sama mengejutkannya dengan melihat dewa turun ke dunia fana.
"Berjalan di udara... Apakah dia seorang monster?!"
"Puncak Pembentukan Fondasi! Di usia semuda itu, dia telah mencapai puncak!"
Wajah Penatua Mo, yang sedari tadi merah padam karena amarah, kini pucat pasi tak berdarah. Niat membunuhnya menguap, digantikan oleh teror primitif. Perbedaan antara Tingkat 8 dan Tingkat Puncak di Ranah Pembentukan Fondasi bagaikan jurang pemisah yang sangat lebar, apalagi kemurnian qi Jiang Chen berada di dimensi yang sama sekali berbeda.
Tetapi, mundur berarti aib bagi Sekte Iblis Darah, dan hukuman dari markas besar jauh lebih mengerikan daripada kematian.
"Jiang Chen!!" Penatua Mo meraung, menggigit ujung lidahnya hingga berdarah untuk memaksakan potensinya melebihi batas. Matanya menyala dengan kegilaan. "Jangan berpikir kau bisa menindasku hanya dengan pamer kultivasi! Aku telah membunuh puluhan orang di ranah yang sama denganku!"
Penatua Mo melemparkan pedang besarnya ke udara. Dia kemudian mengeluarkan belasan botol kecil berisi darah manusia murni dan menghancurkannya. Darah-darah itu bercampur dengan qi miliknya, membentuk pusaran mematikan yang menyelimuti seluruh tepi danau dengan bau anyir yang bisa membuat orang biasa pingsan seketika.
"Teknik Rahasia Tingkat Bumi: Lautan Darah Iblis Melahap Surga!"
Sebuah gelombang tsunami darah setinggi belasan meter bangkit dari balik punggung Penatua Mo. Tengkorak-tengkorak ilusi meratap di dalam gelombang tersebut, menerjang ke depan dengan kecepatan kilat, berniat untuk menelan Jiang Chen bulat-bulat. Para kultivator lain menjerit dan lari menjauh, takut tersentuh oleh racun korosif dari serangan itu.
Jiang Chen, yang masih mengambang sepuluh meter di atas permukaan tanah, menatap gelombang darah yang menjulang itu dengan mata setengah tertutup.
"Teknik yang mencolok, tapi penuh dengan celah," ucap Jiang Chen dengan nada bosan.
Dia tidak repot-repot menghindar. Jiang Chen mengangkat tangan kanannya, menggabungkan jari telunjuk dan jari tengahnya menjadi bentuk pedang. Cahaya perak yang menyilaukan meledak di ujung jarinya, membelah kabut di Alam Rahasia layaknya fajar.
"Tebasan Pemisah Awan."
Jiang Chen mengayunkan dua jarinya ke bawah dengan santai.
SYUUT!!
Bukan gelombang energi pedang yang besar, melainkan hanya sebuah garis tipis cahaya perak yang melesat membelah udara. Garis itu sangat sunyi, nyaris tak bersuara, tetapi mengandung ketajaman yang tidak bisa ditahan oleh apa pun di dimensi ini.
Cahaya perak itu bersentuhan dengan puncak tsunami darah... dan seketika, lautan darah raksasa itu terbelah menjadi dua layaknya kain basah yang digunting.
"A-Apa?!" Mata Penatua Mo terbelalak lebar. Teknik terkuatnya yang harus dibayar dengan esensi nyawanya hancur dengan satu jentikan jari?
Garis perak itu tidak berhenti setelah membelah lautan darah. Garis itu terus melaju menembus ruang hampa dan melewati tubuh Penatua Mo dalam sekejap mata.
Hening.
Gelombang darah jatuh berhamburan ke tanah seperti hujan deras biasa. Penatua Mo berdiri kaku di tempatnya, matanya menatap kosong ke arah Jiang Chen.
Detik berikutnya, sebuah garis merah tipis muncul dari dahi Penatua Mo, turun melewati hidung, leher, hingga ke pinggangnya.
CRAATT!
Tubuh ahli Pembentukan Fondasi Tingkat 8 itu terbelah menjadi dua bagian yang sangat simetris dan jatuh ke sisi kiri dan kanan, menyemburkan darah dan organ dalam ke atas tanah merah berbatu. Ia mati bahkan sebelum sarafnya sempat mengirimkan sinyal rasa sakit ke otaknya.
Melihat pemandangan brutal yang dilakukan dengan cara yang begitu elegan, belasan murid elit Sekte Iblis Darah di belakang Penatua Mo menjerit histeris. Mereka membalikkan badan dan lari kocar-kacir, membuang seluruh gengsi sekte mereka.
Jiang Chen mendarat dengan lembut di tanah. Dia menoleh ke arah Hei Ming yang sedang duduk menguap di tepi danau.
"Hei Ming. Makanan ringanmu," kata Jiang Chen pelan.
Mendengar izin tuannya, mata anjing hitam bersisik itu menyala ungu. Hei Ming melesat bagaikan kilat ungu, memburu belasan murid yang lari tunggang langgang itu. Suara jeritan dan percikan petir segera menggema dari arah hutan, diikuti oleh kesunyian yang mencekam.
Ribuan kultivator yang tersisa di sekitar danau tidak ada yang berani bernapas keras. Mereka menatap pemuda berjubah putih itu layaknya menatap iblis yang menyamar sebagai dewa.
Mengabaikan tatapan mereka, Jiang Chen membalikkan badan dan menghadap ke arah danau merah. Teratai Darah Seribu Tahun masih mengambang di tengah, memancarkan godaan yang mematikan.
Jiang Chen menginjakkan kakinya ke atas permukaan air danau, berjalan di atas riak air berdarah itu menuju ke tengah.
Namun, tidak ada harta tingkat tinggi yang tidak dijaga.
Tepat saat Jiang Chen berjarak lima meter dari teratai tersebut...
BLUMMM!!
Danau darah meledak. Pilar air setinggi puluhan meter menyembur ke udara. Dari kedalaman air yang keruh, seekor monster raksasa melesat keluar dengan raungan yang membekukan tulang.
Itu adalah Ular Naga Berdarah, binatang iblis kuno bermata merah menyala dengan tanduk tunggal di kepalanya. Sisiknya setebal perisai baja, memancarkan aura puncak Pembentukan Fondasi yang setara dengan Jiang Chen (dalam wujud penyamarannya)!
"Surga! Itu Ular Naga Berdarah! Konon ia memakan kultivator yang berani mendekati teratai itu selama seratus tahun terakhir!" teriak seorang tetua sekte di kejauhan dengan ngeri.
Ular raksasa itu membuka rahangnya, memperlihatkan taring beracun sebesar pedang, dan menukik tajam ke arah Jiang Chen dengan kecepatan peluru. Hembusan angin beracun dari mulutnya cukup untuk melelehkan batu karang.
Namun, Jiang Chen yang sedang berada di tengah danau tidak memundur selangkah pun.
"Seekor cacing tanah berani menghalangi jalanku?"
Jiang Chen mengepalkan tinju kanannya. Bukannya memanggil senjata atau qi pedang, ia memadatkan energi spiritual murni di tinjunya hingga bersinar seperti matahari kecil. Dia menarik lengan kanannya ke belakang, menyesuaikan napasnya, dan saat rahang raksasa itu berjarak satu inci dari wajahnya...
Jiang Chen meninju ke atas.
BOOOOOOMMMM!!!
Bukan teknik tingkat tinggi, melainkan murni hantaman qi yang dikompresi ke titik absolut!
Tinjunya menghantam rahang bawah Ular Naga Berdarah dengan suara ledakan yang memekakkan telinga. Gelombang kejut dari pukulan itu menciptakan kawah air di tengah danau, menghempaskan ombak besar ke tepi.
KRAAAK! SPLASH!
Kepala ular raksasa yang kebal terhadap sebagian besar senjata pusaka itu... hancur lebur! Tulang, daging, dan sisiknya meledak seperti semangka yang dihantam palu godam. Darah iblis menghujani danau, sementara tubuh tak berkepala Ular Naga Berdarah jatuh berdebum ke dalam air, menciptakan cipratan setinggi puluhan meter.
Hanya satu pukulan telanjang tangan! Binatang penjaga puncak Pembentukan Fondasi tewas seketika!
Rahang ribuan penonton di tepi danau nyaris jatuh ke tanah. Lutut mereka lemas. Apakah pemuda ini manusia atau monster prasejarah yang menyamar dengan kulit manusia?!
Jiang Chen menarik tinjunya, mengibaskan sisa darah di jubah putihnya yang dilindungi qi tak kasat mata, lalu melangkah ke depan dan memetik Teratai Darah Seribu Tahun beserta akarnya. Dia menyimpannya ke dalam kotak giok dingin di cincin spasialnya.
Di saat yang sama, suara yang ditunggu-tunggu bergema.
[DING!]
[Misi Utama Selesai: Dominasi Alam Rahasia!]
[Mengekstrak Hadiah: Pil Peningkat Akar Roh (Tingkat Surga), Teknik Pergerakan: Langkah Bintang Hantu, 1.000 Poin Sekte!]
[Teknik Pergerakan 'Langkah Bintang Hantu' telah dipelajari ke tahap Penguasaan Sempurna!]
Jiang Chen tersenyum puas. Kunjungannya ke tempat ini benar-benar tidak sia-sia.
"Guru!!"
"Ketua Sekte!!"
Dua suara yang familiar memanggil dari arah pinggir hutan.
Jiang Chen menoleh. Lin Mo dan Su Yue, keduanya berlumuran darah dan kotoran, berlari mendekat sambil menerobos kerumunan kultivator yang otomatis membelah jalan untuk mereka karena ketakutan.
Lin Mo memanggul Pedang Meteor Darah-nya, sementara Su Yue memegang Pedang Bulan Beku-nya. Meskipun tubuh mereka penuh luka gores dan pakaian mereka compang-camping, aura yang memancar dari mereka sangat tajam dan mematikan. Mereka telah berhasil melewati ujian baptisan darah dunia kultivasi.
Di belakang mereka, puluhan cincin spasial bergantungan di pinggang Lin Mo layaknya medali kemenangan. Hei Ming juga berjalan malas mengikuti mereka, menjilat darah segar di bibirnya.
Jiang Chen mengambang kembali ke tepi danau, mendarat di depan kedua muridnya dengan senyum bangga.
"Sepertinya kalian bersenang-senang," ucap Jiang Chen santai, mengabaikan ribuan tatapan mata yang penuh rasa takut di sekeliling mereka. "Harta utama sudah didapat. Sekarang... mari kita sapu bersih sisa Alam Rahasia ini."