Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*
Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:
> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27
Aku Tidak Akan Lari Lagi
"Larasati... Bapak tahu kamu di mana sekarang."
Jari Laras mencengkeram seprai.
Bram duduk di sampingnya, cukup dekat untuk disentuh tetapi tidak merebut telepon.
"Apa yang Bapak inginkan?" tanya Laras.
Pak Rusdi tertawa pelan. Suara itu sama seperti dulu, ketika ia baru saja mengunci pintu lalu bertanya mengapa Laras membuat hidupnya sulit.
"Pulang. Semua akan selesai kalau kamu pulang dan minta maaf."
"Saya tidak punya rumah di sana."
"Jangan kurang ajar. Bapak yang membesarkanmu. Bapak memberi makan, sekolah, pakaian. Sekarang kamu menikah dengan perwira dan melupakan utang?"
"Membesarkan anak tidak memberi hak untuk menjualnya."
Di seberang, napas Pak Rusdi berubah berat.
"Kamu termakan omongan suamimu. Lelaki itu akan membuangmu setelah bosan. Orang seperti mereka tidak akan menerima anak pungut selamanya."
Bram menegang, tetapi Laras menempelkan telapak tangan ke lengannya. Ia ingin menjawab sendiri.
"Mas Bram tidak pernah menyuruh saya menelepon Bapak, tidak pernah memilihkan kata-kata saya, dan tidak pernah menahan saya di rumah. Itu perbedaan yang Bapak tidak akan mengerti."
"Beri telepon kepada dia."
"Tidak. Bapak menelepon saya, jadi bicara dengan saya."
Untuk sesaat, Laras merasakan sesuatu bergeser di dalam dirinya. Dulu suara Pak Rusdi saja mampu membuat lututnya lemah. Kini lelaki itu berada jauh, hanya suara dari benda kecil di tangannya.
"Bapak tahu rumah keluarga suamimu," kata Pak Rusdi. "Bapak juga tahu kalian akan pindah ke rumah dinas. Jangan pikir pagar tentara bisa menyembunyikanmu."
Bram mengambil kertas dan menulis: `Tanya sumber informasi.`
"Siapa yang memberi tahu Bapak?"
"Banyak orang tidak suka perempuan licik."
"Tania?"
Keheningan setengah detik cukup menjadi jawaban yang tidak lengkap.
Pak Rusdi mendengus. "Bapak tidak kenal nama itu. Tapi ada orang baik yang mencari kebenaran tentangmu. Mereka tahu kamu membawa malu ke keluarga terhormat."
"Kalau Bapak datang, saya akan melapor. Rekaman suara ini juga diserahkan kepada polisi."
"Kamu mengancam Bapak?"
"Saya menetapkan batas."
"Jangan merasa hebat hanya karena memakai nama suamimu!"
"Saya tidak memakai nama siapa pun. Laporan dibuat atas nama Larasati Purnama. Rekaman ini dibuat dari ponsel saya. Kata-kata yang Bapak dengar juga milik saya."
Pak Rusdi terdiam, seolah untuk pertama kalinya kesulitan menemukan celah untuk menyerangnya.
"Dulu Bapak mengambil KTP saya supaya saya tidak bisa pergi," lanjut Laras. "Sekarang dokumen saya sudah dipulihkan. Bapak mengunci pintu, sekarang saya punya kunci rumah sendiri. Bapak berkata tidak ada yang akan percaya, sekarang saya tahu cara membuat bukti."
"Orang-orang itu akan bosan membelamu."
"Kalau semua orang pergi pun, saya tetap tidak kembali."
"Batas? Setelah semua yang Bapak keluarkan?"
"Hitung uangnya. Ajukan melalui jalur hukum kalau Bapak merasa saya punya utang. Tapi saya tidak akan membayar dengan tubuh, pernikahan, atau hidup saya."
Suara benturan terdengar, seolah Pak Rusdi memukul meja.
"Kamu akan menyesal!"
"Yang saya sesali hanya karena tidak pergi lebih cepat. Jangan hubungi saya lagi kecuali melalui polisi atau pengacara."
Laras memutus panggilan.
Tangannya langsung gemetar hebat.
Bram memeluknya setelah Laras bergerak lebih dulu ke dadanya. "Kamu berhasil."
"Saya ingin muntah."
"Boleh. Kamar mandi di kiri."
Laras tertawa sekaligus menangis. "Kamu benar-benar tidak romantis."
"Saya bisa menggendongmu sambil mengatakan kalimat indah."
"Jangan. Duduk saja."
Bram menahan tubuhnya sampai gemetar mereda. Setelah itu, mereka menyimpan rekaman dalam dua salinan dan mengirim satu kepada penyidik dengan keterangan waktu.
***
Pak Hardjono dan Bu Rahayu mendengar rekaman malam itu juga.
Wajah Bu Rahayu memerah. "Dia masih menyebut dirinya bapak setelah hendak menjual anak?"
"Statusnya memang ayah angkat di dokumen lama," kata Laras. "Tapi bagi saya, hubungan itu selesai."
Pak Hardjono menatap Bram. "Laporkan juga kepada piket keamanan kompleks. Bukan untuk mengerahkan anggota, hanya agar orang tanpa izin tidak masuk."
"Sudah saya siapkan, Pak. Besok kami pindah sesuai jadwal."
Bu Rahayu menggenggam tangan Laras. "Kalau kamu ingin menunda, tinggal di sini."
Laras menggeleng. "Saya tidak mau keputusan kami berubah karena ancaman. Saya akan pindah. Saya juga akan tetap bekerja dan keluar rumah. Hanya pengamanannya yang diperbaiki."
"Yakin?" tanya Bram.
"Saya sudah lari dari rumah Pak Rusdi. Saya tidak akan terus berlari setiap kali dia bersuara."
Pak Hardjono mengangguk bangga. "Begitu. Berani bukan berarti berjalan tanpa perlindungan. Berani adalah tetap berjalan setelah jalannya diperiksa."
Malam itu mereka membuat daftar sederhana. Dokumen penting dibawa sendiri. Nomor polisi dan penjaga kompleks disimpan cepat. Alamat baru tidak dibagikan ke grup. Kinan dan Gilang diberi tahu untuk tidak menjawab pertanyaan orang asing.
Kinan menelepon melalui video begitu menerima pesan keluarga.
"Mbak Laras, kalau ada orang mengaku kenal dari kampung, jangan percaya sebelum Gilang periksa. Dia punya teman di kepolisian daerah."
"Jangan membuat Gilang menyalahgunakan akses," tegur Pak Hardjono.
Gilang muncul dari sisi layar. "Tenang, Pak. Saya hanya akan arahkan laporan ke jalur resmi. Tidak ada data yang diambil diam-diam."
"Bagus."
Kinan mencondongkan wajah. "Dan kalau takut, telepon saya. Saya bisa bicara dua jam tanpa berhenti. Penjahat mana pun menyerah."
"Itu ancaman paling nyata malam ini," kata Bram.
"Mas Bram!"
Laras tertawa. Untuk pertama kalinya setelah telepon Pak Rusdi, suara itu keluar tanpa dipaksa.
"Saya merasa seperti operasi pemindahan saksi," kata Laras.
Bram menulis `martabak` di bawah daftar kebutuhan.
"Operasi besar memerlukan logistik."
"Hapus itu."
"Tidak bisa. Sudah masuk rencana."
Bu Rahayu tertawa, dan ketegangan di meja sedikit pecah.
***
Pagi berikutnya, kardus memenuhi ruang tengah.
Bik Inah menempelkan label `DAPUR`, `KAMAR`, dan `JANGAN DIBANTING`. Bram mengangkat kardus buku seolah ringan, sementara Laras membawa kotak sketsa dan dokumen.
"Itu saya bawa sendiri," katanya ketika Bram meraih kotak.
"Berat."
"Isinya hidup baru saya. Saya mau memegangnya."
Bram melepaskan tangan. "Baik. Tapi kalau jatuh, saya menangkap kamu dulu, bukan kotaknya."
"Memang seharusnya begitu."
Sebelum mobil berangkat, Laras berdiri di gerbang rumah Adiprawira. Di tempat ini ia pernah datang tanpa KTP, tanpa pakaian layak, dan tanpa kepastian esok hari. Sekarang namanya tertera di dokumen nikah, tabungannya sendiri ada di tas, dan kotak sketsanya berada dalam pelukan.
Bu Rahayu memeluknya. "Ini tetap rumahmu."
"Saya tahu, Bu."
Pak Hardjono menepuk bahu Bram. "Jaga keluargamu. Jangan mengurungnya dengan alasan menjaga."
"Siap, Pak."
Mereka baru masuk mobil ketika ponsel Bram berbunyi. Pesan datang dari penyidik yang memeriksa jejak komunikasi Tania.
`Kapten, kami menemukan nomor perantara yang menghubungkan pencarian data Laras. Ada dua nama yang muncul dalam satu rangkaian percakapan: Rusdi dan Suryadi.`
Bram membaca ulang pesan itu.
Laras melihat perubahan wajahnya. "Apa yang terjadi?"
Bram memutar layar kepadanya.
Untuk pertama kalinya, nama Pak Rusdi dan Pak Suryadi berdiri pada baris yang sama.