Nessa Ibrahim Halana, seorang gadis berjilbab yang baru menduduki bangku SMA. Dipertemukan dengan seorang guru baru yang penampilannya membuatnya selalu mendapat cemooh oleh murid-muridnya sendiri. Berbeda dengan Nessa yang tidak pernah menjelekkan gurunya itu.
Tiba-tiba suatu kejadian yang membuat mereka dinikahkan padahal status Nessa masih anak sekolahan. Berawal dengan ketidaksengajaan tidur bersama malah membuat orang tua mereka memutuskan untuk menikahkan keduanya.
"Menikah dan membina rumah tangga di usia muda bukanlah keinginan dan tujuanku." ~ Nessa Ibrahim Halana.
"Nessa, izinkan saya mencintaimu." ~Dimas Endi Rey.
Sama-sama awam persoalan cinta dan perasaan. Berusaha saling memahami. Mereka hanya mengikuti naluri hati masing-masing. Berjalan sesuai garis yang sudah ditetapkan Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MT part 12
Hari ini weekend, setiap orang pastilah akan berlibur menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat. Begitu juga dengan Nessa, namun bedanya gadis itu terlihat cemberut. Sementara Mami dan Papinya terlihat membujuknya.
"Maaf ya, Sayang. Papi janji deh kalau ada waktu luang kita pasti liburan bareng. Papi gak lama kok di sana, paling cuman seminggu."
Tuh kan, Nessa terlihat semakin kesal. Weekend yang ada di bayangannya saat ini adalah berkumpul bersama kedua orang tuanya serta Kakek Neneknya. Namun, apa yang dia dapat? Malahan Nessa mendapat kabar kalau Papinya itu akan melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Iya, tepatnya di pulau Kalimantan.
"Sayang, masih marah sama Papi?" bujuk Papi Ibra tetap sabar.
Nessa hanya diam tanpa merespon apapun.
Datanglah Mami Hana sambil membawa sebuah koper berukuran sedang. Ah, dia lupa kalau Maminya juga ikut. Masih ingat juga kan kalau Maminya itu bekerja sebagai sekretaris Papinya? Jadi, kalau ada urusan pekerjaan Maminya pasti selalu ikut, apalagi kalau perjalanan bisnis. Rasanya Nessa sungguh tidak rela.
Apalagi kemarin malam Maminya mengatakan kalau Nessa akan dititipkan sebentar di rumah Winanti dan Resa. Masih ingat juga kan mereka? Pasangan suami istri yang meminta Nessa untuk memanggil mereka Mama dan Papa.
Padahal semalam Nessa sudah menjelaskan bahwa dia bisa tinggal berdua bersama Mbok Jum.
Flashback on
"Nessa, duduk sini, Sayang." titah Mami Hana sambil menepuk pelan sofa di sampingnya.
Nessa mengangguk, gadis itu pun mendaratkan bokongnya di atas sofa tepat di samping sang Mami.
"Kenapa, Mi?" tanya Nessa, sementara Papinya duduk di sofa single sambil membaca koran ditemani segelas kopi.
"Mami sama Papi kemarin kan udah janji ya kalau weekend besok kita bakal ngumpul di rumah Kakek Nenek."
Nessa yang mendengar itu mengangguk sambil mendengar lanjutan perkataan Maminya.
"Mungkin besok kita gak bisa ke sana, Sayang. Gak pa-pa kan?" tanya Mami Hana hati-hati.
Papi Ibra hanya menjadi mendengar saja, seolah-olah tidak ikut campur.
"Kok gitu?" tanya Nessa sedikit kesal.
Tampak Papi Ibra menghela nafas panjang, laki-laki itu menurunkan korannya dan meletakkannya di atas meja lalu menatap putrinya.
"Papi ada kerjaan mendadak yang gak bisa ditinggalkan ataupun diundur." jelas Papi Ibra membuat Nessa memejamkan matanya sejenak.
"Maaf, Sayang." ucap Mami Hana lembut dan mengusap sulur rambut Nessa yang tidak tertutupi jilbabnya.
Perlahan Nessa membuka kedua matanya, kemudian menatap wajah kedua orang tuanya.
"Nessa ngerti, Mi, Pi. Kalau gitu Nessa pamit ke atas dulu." ucap gadis itu kemudian berlalu dengan lesu.
"Sayang!"
"Mi!" tegur Papi Ibra.
Mami Hana menghela nafasnya berat.
"Kasih waktu dulu buat Nessa." ujar Papi Ibra yang diangguki oleh Mami Hana.
Mami Hana benar-benar memberikan waktu untuk putrinya. Lalu setelah satu jam kemudian wanita itu menemui putrinya.
Tok tok tok
"Sayang, kamu udah tidur?" tanya Mami Hana pelan.
Karena tidak ada sahutan dari dalam kamar, Mami Hana membuka pintu itu perlahan dan melihat kasur yang seharusnya ditempati putrinya itu kosong.
Wanita itu berjalan masuk dan langkah kakinya berjalan menuju balkon. Ternyata Nessa ada di sana sambil memandangi gelapnya malam disertai bintang yang bertaburan dan sinar bulan serta angin dingin yang berhembus.
Gadis itu membalikkan badannya saat merasakan usapan lembut di pundaknya.
"Kenapa di luar, hm? Ini kan dingin." tanya Mami Hana lembut. Kelembutan hati Hana sangat menurun pada putrinya.
"Gak pa-pa, Mi." jawab gadis itu kembali melihat gelapnya langit malam.
Terdengar suara helaan nafas Mami Hana.
"Sayang, maafin Mami sama Papi yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai gak bisa luangin waktu buat kamu."
Nessa yang mendengar itu menoleh, sambil memberikan senyumnya.
"Mami sama Papi gak salah. Harusnya Nessa lebih mengerti, sibuknya Mami sama Papi juga buat Nessa. Buat masa depan Nessa."
Mami Hana menatap putrinya hari, lalu tanpa aba-aba wanita itu langsung membawa putrinya ke dalam pelukannya.
"Gak apa-apa kan kalau kita liburannya kapan-kapan?"
Nessa berdehem sambil mengangguk.
Mami Hana mengurai pelukannya, menatap putrinya dengan senyuman.
"Besok Mami sama Papi harus berangkat. Kamu Mami titipin ke Mama Wina ya? Masih ingat kan?" gadis itu mengangguk.
"Tapi, Mi. Nessa di sini aja, kan udah ada Mbok Jum. Lagian ya biasanya kalau Mami Papi dinas, Nessa ditemenin Mbok Jum."
"Iya, tau kok. Tapi, itu permintaan mereka, Sayang. Mama Wina juga lagi sakit, sedangkan suaminya kerja. Kamu mau kan?" bujuk Mami Hana.
"Ya udah deh, Nessa mau."
"Alhamdulillah. Kalau gitu besok siap-siap ya? Sebelum ke bandara, Mami sama Papi antar kamu dulu."
Nessa hanya mengangguk dengan terpaksa.
Flashback off
🌼🌼🌼
Saat ini Nessa sudah berada di sebuah rumah minimalis yang dia yakini itu rumah Winanti dan Resa.
"Titip putri kami ya, Win?" ujar Papi Ibra dan diangguki oleh Winanti.
Papi Ibra mengelus pucuk kepala Nessa yang tertutupi jilbab.
"Baik-baik ya di sini? Nanti kalau udah pulang kamu Papi jemput sama Mami."
"Iya, Pi." jawab gadis itu menurut.
Tampak Mami Hana mengkode suaminya karena waktu keberangkatan mereka hampir tiba.
"Kalau gitu kami pamit karna jadwal keberangkatan bentar lagi."
"Hati-hati, Ib. Nessa aman di sini."
Papi Ibra hanya mengangguk, kini dirinya harus pamit pada putrinya.
"Papi pamit ya? Kamu baik-baik di sini. Kalau ada apa-apa atau butuh bantuan, kamu bilang aja ke Mama Wina."
"Iya, Pi."
"Assalam'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Mobil yang dikendarai kedua orang tua Nessa pun melesat menjauh.
Nessa menarik nafas dalam dan itu dilihat oleh Winanti.
Wanita itu menyentuh bahu Nessa pelan sambil menuntunnya memasuki rumah karena sebelumnya mereka berada di luar.
"Selamat datang di kediaman sederhana ini. Semoga kamu betah ya, Nak? Kalau butuh apa-apa bilang aja ke Mama. Jangan sungkan, anggap rumah ini sebagai rumah kamu, dan anggap Mama sebagai Mami kamu."
Nessa hanya mengangguk sambil tersenyum. Sungguh, ini terasa asing baginya dan sangat canggung. Apa bisa gadis itu berbaur dengan lingkungan barunya?