Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekalahan Sudaraksa
Sementara itu di panggung 1, Raden Sanjaya ternyata harus melalui pertarungan dengan perlawanan yang tangguh dari Pangeran Sudaraksa. Meskipun dari kerajaan kecil, kemampuan ilmu kanuragannya tidak dianggap remeh.
Sudah lebih dari seratus kali mereka berdua bertukar serangan, namun sejauh ini belum terlihat siapa pemenang di antara mereka.
Raden Sanjaya mendengus kesal. Dia yang jauh lebih diunggulkan, ternyata harus menanggung malu yang begitu besar. Bukan malu dalam artian kalah, tapi dia sejauh ini bahkan belum bisa menyarangkan sekalipun serangannya ke tubuh Pangeran Sudaraksa.
Emosi dan kesombongan yang bercampur baur menjadi satu, membuat ritme serangan yang dibangun Raden Sanjaya.
"Ternyata kau hanya besar di mulut saja, Raden. Meskipun kemampuanmu ada di atasku, tapi ternyata sejauh ini kau belum bisa mengalahkanku!" ucap Pangeran Sudaraksa. Ketenangan yang dimilikinya sejauh ini bisa menghindarkannya dari kekalahan.
"Aku tidak boleh meremehkannya," gumam Raden Sanjaya. Dia sadar jika serangannya mudah terbaca karena terlalu meremehkan kemampuan lawannya. Tanpa mengindahkan ucapan Pangeran Sudaraksa, Raden Sanjaya kembali melakukan serangan beruntun. Kali ini dia menambahkan kecepatan dan kekuatannya. Gerakannya pun terlihat semakin tenang dan tidak mudah terbaca.
Lain halnya dengan Raden Sanjaya, Pangeran Sudaraksa bisa merasakan perbedaan gerakan yang dilakukan lawannya. Secara perlahan dia mulai terlihat keteteran dengan serangan yang terus mencecarnya, meski belum ada yang berhasil mengenai tubuhnya.
Raden Sanjaya tidak memberikan kesempatan kepada lawannya untuk menata kembali kuda-kudanya yang sudah goyah. Dia terus menekan tanpa sekalipun memberi jeda kepada Pangeran Sudaraksa untuk bernafas lega.
"Mati kau!" teriak Raden Sanjaya. Pukulannya yang cepat dan terarah, berhasil menembus celah pertahanan Pangeran Sudaraksa yang mulai terbuka.
Tanpa bisa menahan serangan lawannya, Pangeran Sudaraksa akhirnya harus rela tubuhnya terlempar ke belakang beberapa langkah. Dadanya terkena pukulan yang dilepaskan Raden Sanjaya dengan telak, setelah gagal mengantisipasi serangan susulan lawannya.
Tidak mau kalah begitu saja, Pangeran Sudaraksa bangkit berdiri. Alih-alih menata kembali kuda-kudanya, sesaat berikutnya dia malah memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Menyerahlah dari pada kau semakin menderita!" cibir Raden Sanjaya. Kesombongannya muncul kembali setelah melihat keadaan lawannya.
"Menyerah hanyalah kata bagi yang lemah. Lebih baik aku kalah terhormat dari pada menyerah begitu saja!" balas Pangeran Sudaraksa.
Pangeran dari kerajaan Ngelawan tersebut mengalirkan tenaga dalamnya untuk meredakan rasa nyeri di bagian dalam dadanya.
"Di saat seperti ini kau masih bisa bersikap sombong padaku...? Luar biasa! Tapi ada yang perlu kau ketahui, sikapmu itu malah akan membuatmu semakin menderita!"
cibir Raden Sanjaya.
"Jangan banyak bicara, Raden! Ayo kita lanjutkan pertarungan!" bentak Pangeran Sudaraksa. Dengan sisa-sisa kekuatannya, dia kembali menata kuda-kudanya.
Bentakan yang dilakukan Pangeran Sudaraksa membuat Raden Sanjaya geram. Selama ini tidak ada yang berani membentaknya, Walau kedua orang tuanya sekalipun.
Raden Sanjaya menarik tenaga dalamnya dan memusatkannya di kedua kepalan tangannya. Kali ini dia yakin akan membuat lawannya itu menyerah.
Kedua pendekar dari kalangan bangsawan itupun sama-sama maju untuk melanjutkan pertarungan yang sempat terhenti.
Jual beli serangan kembali terjadi dengan begitu sengit. Namun faktor tenaga dalam yang semakin menipis membuat Pangeran Sudaraksa kembali dalam keadaan tersudut. Kuda-kudanya mulai goyah dan langkah semakin tidak beraturan.
"Pukulan Pelumpuh tulang!" Raden Sanjaya melenting cukup tinggi dan langsung menyusur cepat ke arah Pangeran Sudaraksa.
Sadar tidak ada kesempatan untuk menghindar, pangeran dari kerajaan Ngelawan itu hanya bisa memperkuat pertahanannya.
Sayang, pertahanan yang sudah dibuat Pangeran Sudaraksa ternyata tidak cukup kuat untuk menahan serangan yang dilepaskan Raden Sanjaya. Tubuhnya terpental jauh keluar dari panggung dan terjatuh ke tanah dengan keras.
Pertarungan yang panjang itupun akhirnya berakhir dengan kemenangan Raden Sanjaya. Dia mengangkat kedua tangannya sambil berteriak keras menunjukkan kepuasan atas kemenangannya.
Lesmana yang tadi mengetahui Raden Sanjaya menggunakan jurus andalannya, langsung bangkit berdiri. Namun dia tak kuasa untuk mencegahnya, karena Pukulan Pelumpuh Tulang yang dilepaskan Raden Sanjaya, sudah terlebih dahulu mengenai dada Pangeran Sudaraksa.
Lelaki setengah baya itu langsung berlari untuk melihat keadaan Pangeran Sudaraksa. Dahinya mengernyit tebal setelah mengetahui Pangeran Sudaraksa sudah mengalami kelumpuhan.
"Kalau seperti ini jadinya, kerajaan Ngelawan akan semakin ingin lepas dari Kerajaan Sanggawana. Raden Sanjaya harus didiskualifikasi!" ucapnya dalam hati. Dia menyesalkan apa yang dilakukan Raden Sanjaya.
Lesmana langsung mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuh Pangeran Sudaraksa.
Setelah itu dia memberi perintah kepada dua orang prajurit yang ada di dekatnya.
"Bawa Pangeran Sudaraksa ke ruang pengobatan!"
Bergegas ketua panitia turnamen itu mendekati Raden Sanjaya yang baru turun dari anak tangga.
"Berhenti, Raden!"
Raden Sanjaya menoleh ke belakang. "Ada apa, Tuan Lesmana?"
"Kau telah melakukan pelanggaran berat, Raden. Kau harus didiskualifikasi dari turnamen ini dan dinyatakan kalah!"
Mendengar Vonis tersebut, Raden Sanjaya langsung berang, "Apa kesalahanku hingga Tuan menyatakan aku kalah? Apa Tuan tidak bisa melihat jika Pangeran Sudaraksa keluar dari panggung?"
"Kau sudah membuat Pangeran Sudaraksa lumpuh, Raden. Dan itu menyalahi peraturan yang sudah dibuat Paduka Raja! Melumpuhkan lawan sama dengan menghapus kemampuan ilmu kanuragan lawan!" jawab Lesmana. Dia sudah tidak sabar dengan sikap Raden Sanjaya yang berani membantahnya. Andai jabatan ayah Raden Sanjaya tidak lebih tinggi dari jabatannya, mungkin dia sudah menamparnya saat ini juga
"Peraturan yang mana? Jurus yang kupakai itu tidak menghilangkan kemampuan ilmu kanuragan Pangeran Sudaraksa, Tuan. Dampak jurus itu hanya akan membuatnya lumpuh dalam beberapa bulan saja. Dan jika diobati dengan teratur, mungkin dalam dua bulan dia sudah bisa bergerak," bantah Raden Sanjaya membela diri.
"Benar Sanjaya, Lesmana. Dia tidak melakukan kesalahan dalam pertarungan tadi," sahut Patih Anggadharma tiba-tiba.
Lesmana menoleh ke belakang dan melihat Patih Anggadharma sudah di belakangnya.
"Tapi, Tuan Patih..."
"Sudahlah, Lesmana. Pangeran Sudaraksa masih bisa sembuh dari kelumpuhannya. Dan ilmu kanuragannya pun juga tidak akan hilang."
"Baik, Tuan Patih." Lesmana hanya bisa mengeluh dalam hati dengan keputusan Anggadharma.
Raden Sanjaya tersenyum mencibir ke arah Lesmana sebelum melangkah pergi. Tubuhnya yang lelah dan tenaga dalamnya yang lumayan terkuras, membuatnya langsung pulang menuju kediamannya. Dia merasa tidak perlu melihat lagi pertarungan berikutnya. Apalagi hari juga sudah sore mendekati malam.
Patih Anggadharma juga terlihat puas sudah membantu Raden Sanjaya. Dia teringat dengan ucapan Raden Sanjaya beberapa hari lalu, yang mengatakan bahwa Putri Cempaka akan menerima perjodohan jika Raden Sanjaya menjadi Senopati agung. Dalam pikirannya, dia sebisa mungkin akan membantu Raden Sanjaya memenangkan turnamen dan meraih jabatan Senopati agung kerajaan Sanggawana.
Sementara itu di panggung 4, Wira semakin membuat Bima Danureksa terpojok. Lelaki bertubuh tinggi besar itu teelihat kesulitan mengantisipasi serangan yang dilepaskan Wira dengan kecepatan tinggi.
Beberapa pukulan berkekuatan kecil yang dilepaskan Wira, berhasil bersarang beberapa kali di tubuh lawannya tersebut. Pemuda itu berpikir jika turnamen kali ini hanyalah pertandingan biasa, dan dia tidak perlu membuat lawannya terluka parah.
Beda persepsi ada dalam pikiran Bima Danureksa. Meski serangan lawan berhasil beberapa kali mengenai tubuhnya dan membuatnya terpojok, tapi karena kecilnya kekuatan serangan lawan membuatnya mempunyai keyakinan, bahwa dia masih bisa memenangkan pertandingan.
Lelaki tinggi besar itu langsung mencabut pedangnya begitu melihat ada kesempatan. Tanpa berpikir panjang, dia menyerang Wira yang bahkan belum mengeluarkan pedangnya.