NovelToon NovelToon
Hamil Anak Mantan Dinikahi Musuh Bebuyutan

Hamil Anak Mantan Dinikahi Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayamgoreng

Di hari ulang tahun suaminya, Nadia berjalan dengan hati penuh bunga. Dua garis merah di tangannya adalah hadiah terindah yang ingin ia persembahkan untuk Arkan–suaminya.

Namun, kejutan manis itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan dunianya.

Di balik pintu sebuah restoran mewah, Nadia memergoki Arkan tengah memeluk mesra Ghea—kakak tirinya sendiri.

Bukan hanya dikhianati, Nadia juga harus menelan pil pahit saat mendengar kenyataan bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok busuk Arkan untuk menguras habis seluruh harta warisan mendiang ayah Nadia.
Di ambang keputusasaan, di bawah guyuran hujan yang menyamarkan air matanya, Nadia hampir kehilangan nyawanya dan bayi di kandungannya. Tepat saat itu, sebuah tangan kekar menyelamatkannya.
Devan Alister. Pria berkuasa, sekaligus musuh bebuyutan suaminya di dunia bisnis, hadir dan menawarkan sebuah aliansi berbahaya.

"Ikut denganku, kita hancurkan mereka bersama. Sebagai gantinya, jadilah istri sandiwaraku selama satu tahun."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayamgoreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11 Ghea pergi?

Suasana di dalam ruang sidang utama Mapolda terasa begitu dingin dan mencekam. Deru pendingin ruangan yang berembus konstan tidak mampu mendinginkan ketegangan yang menyelimuti ruangan.

Nadia duduk di kursi penggugat dengan punggung tegak, sementara Arkan berada di sisi seberang, tampak layu dengan kepala yang terus tertunduk. Di belakang Nadia, Devan duduk di jajaran kursi instruktur publik dengan aura tenang namun dominan, mengawasi setiap gerak-gerik di dalam ruangan dengan mata elangnya.

Hakim Ketua berkacamata di depan meja hijau mulai membaca tumpukan berkas perkara dengan saksama. Lembar demi lembar dibalik, menciptakan suara gesekan kertas yang memicu detak jantung Arkan berpacu lebih liar.

"Berdasarkan bukti-bukti yang diajukan oleh pihak penggugat" Hakim Ketua memulai, suaranya berat dan berwibawa, menggema lewat pengeras suara. "Pengadilan telah memeriksa bukti digital berupa rekaman CCTV, laporan transaksi keuangan, serta pernyataan saksi terkait adanya hubungan luar nikah yang dilakukan oleh saudara tergugat, Arkan Jaya, bersama saudari Ghea Clarissa."

Arkan memejamkan matanya rapat-rapat. Pengacaranya di samping hanya bisa menghela napas pasrah. Tidak ada celah sedikit pun untuk menyangkal karena semua bukti yang disusun oleh tim hukum Devan terlalu mutlak dan sempurna.

"Selain itu–" lanjut Hakim, tatapannya beralih menembus lensa kacamatanya, menatap tajam ke arah Arkan. "Ditemukan bukti otentik mengenai penyalahgunaan wewenang dan penggelapan dana sisa warisan almarhum Handoko Wijaya, ayah dari penggugat, yang dialirkan secara ilegal ke rekening pribadi tergugat dan pihak ketiga. Apakah saudara tergugat memiliki pembelaan terakhir sebelum putusan dibacakan?"

Arkan mendongak dengan sapaan putus asa. Dia menoleh ke arah Nadia, mengabaikan formalitas persidangan.

"Majelis Hakim yang mulia... saya akui saya melakukan kesalahan dalam pernikahan ini" suara Arkan bergetar, parau dan penuh emosi. "Tapi tolong pertimbangkan kondisi psikologis saya. Perusahaan saya sedang di ambang kebangkrutan karena tekanan dari pihak luar. Nadia... Nadia saat ini sedang hamil anak saya. Saya mohon, beri saya kesempatan untuk memperbaiki semuanya demi masa depan anak kami. Saya tidak ingin bercerai."

Pengacara Nadia langsung bangkit berdiri dengan tenang namun tegas. "Keberatan, Yang Mulia. Saudara tergugat menggunakan alasan kehamilan klien kami sebagai tameng emosional. Kami memiliki rekam medis dari rumah sakit yang menyatakan bahwa klien kami sempat mengalami ancaman keguguran akibat syok berat setelah memergoki perselingkuhan tergugat secara langsung. Tergugat juga terbukti menelantarkan klien kami selama masa kehamilan awal. Jadi, argumen demi 'masa depan anak' ini sangat tidak masuk akal mengingat tindakan nyata tergugat."

Hakim Ketua mengangguk-angguk setuju, mengetukkan palu kecilnya sekali untuk menenangkan ruangan.

"Keberatan diterima. Pengadilan berpendapat bahwa ikatan rumah tangga antara penggugat dan tergugat sudah pecah sepenuhnya dan tidak dapat dipertahankan lagi secara lahir maupun batin" ucap Hakim Ketua dengan tegas.

Hakim Ketua kemudian mengangkat dokumen putusan akhir, menarik napas dalam sebelum membaca kalimat yang paling dinantikan oleh Nadia.

"Mengingat dan menimbang seluruh fakta persidangan, dengan ini Majelis Hakim memutuskan. Satu, mengabulkan gugatan cerai saudari Nadiara secara keseluruhan. Dua, menjatuhkan talak satu dari tergugat Arkan Jaya terhadap penggugat. Tiga, memerintahkan pembekuan dan pengembalian seluruh aset atas nama mendiang Handoko Wijaya dari penguasaan tergugat kepada penggugat. Serta empat, melimpahkan berkas penggelapan dana kepada pihak kepolisian untuk diproses secara pidana."

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan palu hakim sebanyak tiga kali itu menggema, memutus rantai pernikahan yang selama ini menyiksa hidup Nadia. Nadia memejamkan mata, mengembuskan napas panjang yang terasa begitu lega. Namun bagi Arkan, ketukan itu adalah vonis mati bagi seluruh sisa hidupnya. Tubuhnya merosot dari kursi, terduduk lemas di lantai ruang sidang dengan pandangan kosong.

Begitu melangkah keluar dari ruang sidang, Arkan berjalan seperti zombi. Langkah kakinya berat, terseret di atas lantai koridor pengadilan yang dingin. Di ujung lorong, dua orang polisi berpakaian dinas sudah berdiri tegak, menunggu formalitas penjemputan terkait kasus pidana penggelapan dana.

Ghea yang sejak pagi menunggu di luar dengan cemas, langsung berlari menghampiri Arkan begitu melihat pintu ruang sidang terbuka. Wajah wanita itu sembab, matanya merah karena menahan tangis kekhawatiran semalaman.

"Arkan!" Ghea langsung menggenggam erat kedua tangan Arkan yang sedingin es. "Gimana hasilnya? Tolong jawab aku, Arkan... kamu nggak bakal dipenjara, kan? Rumah kita gimana?" tanya Ghea bertubi tubi.

Arkan tidak langsung menjawab. Dia menatap Ghea dengan pandangan mata yang benar-benar kosong, penuh rasa pesimis dan keputusasaan yang mendalam terhadap dirinya sendiri.

"Ghea... lepasin tangan aku" bisik Arkan, suaranya terdengar begitu rapuh dan parau. Dia mencoba menarik tangannya, namun Ghea justru mencengkeramnya semakin kuat.

"Nggak! Aku nggak mau lepasin! Kenapa kamu kayak gini? Kita bisa cari jalan keluar sama-sama, Arkan. Aku bakal bantu kamu" tangis Ghea mulai pecah, air matanya mengalir membasahi pipinya.

Arkan menggelengkan kepala perlahan, sebuah senyuman miris dan penuh penyesalan muncul di wajahnya yang lebam. "Cari jalan keluar apa, Ghea? Aku udah hancur. Aku udah miskin. Sebentar lagi polisi bakal bawa aku ke sel tahanan, dan aku bakal mendekam di sana sampai sepuluh tahun ke depan. Semua harta, rumah, perusahaan... semuanya udah balik ke tangan Nadia. Aku nggak punya apa-apa lagi buat kamu."

Ghea menggeleng tak peduli. "Aku nggak peduli soal harta itu lagi, Arkan! Aku nggak peduli kamu dipenjara atau nggak, aku bakal tetap nungguin kamu!" seru Ghea egois, suaranya melengking menembus keheningan koridor, mengabaikan tatapan orang-orang di sekitar mereka.

Mendengar kata-kata Ghea, dada Arkan justru terasa semakin sesak. Rasa bersalah, rasa hina, dan kebencian terhadap dirinya sendiri menumpuk jadi satu di ulu hatinya. Dia menatap Ghea dengan pandangan yang menyedihkan.

"Ghea, dengerin aku" Arkan memegang kedua bahu Ghea, memaksa wanita itu menatapnya. "Kamu itu cantik. Di luar sana, nggak mungkin nggak ada pria yang nggak mau sama kamu. Ada ribuan pria kaya, pria terhormat, pria yang jauh lebih baik dari aku yang bakal antre buat dapetin kamu. Jangan buang-buang hidup kamu buat bajingan kayak aku. Pergi, Ghea. Cari pria lain."

Ghea menggeleng keras, memukul dada Arkan dengan mata yang memerah. "Nggak, Nggak mau! Aku nggak mau pria lain, Arkan! Aku maunya kamu!" Ghea terisak hebat, dadanya naik turun karena sesak. Dia memeluk tubuh Arkan dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu. "Kenapa kamu malah ngusir aku di saat kayak gini? Aku tulus sama kamu, Arkan..."

Arkan memejamkan matanya, air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya luruh juga, membasahi pipinya.

Dengan sisa tenaga yang dia miliki, Arkan mendorong tubuh Ghea menjauh. Pria itu menatap Ghea dengan sorot mata yang penuh keputus asa an menyedihkan yang pernah Ghea liat seumur hidup bersama Arkan selama ini. Wajah kuyu dengan guratan lelah.

Arkan tertawa getir, dia lalu menunjuk Ghea dengan jari gemetaran. "Tulus? Kamu bilang kamu tulus sama aku, Ghea?!" suara Arkan mendadak meninggi, bergetar hebat karena emosi yang meluap-luap. "Kamu pikir aku pantas dapetin ketulusan? Kamu pikir aku beneran bisa jadi pria baik buat kamu setelah ini?!" Tanya Arkan membuat Ghea tertegun.

Arkan mencengkeram kepalanya sendiri, menjambak rambutnya dengan frustrasi yang teramat sangat.

"Kamu beneran cinta sama pria pengecut kaya aku yang tega khianatin istrinya sendiri demi wanita lain?! Hah?! " tanya Arkan. "Lihat aku, Ghea! Kalau aku bisa khianatin Nadia yang begitu tulus, yang nemenin aku dari nol, yang selalu sabar ngadepin sikap bajingan nya aku–" Arkan menggantung ucapannya, lalu menatap Ghea meremehkan seolah kata kata tulus Ghea tadi hanya lelucon semata.

"aku juga pasti bisa khianatin kamu kalau nanti aku sukses lagi! Pria kayak aku ini brengsek! Aku ini pengecut yang nggak layak buat dicintai atau ditemani oleh siapa pun!"

Teriakan histeris Arkan yang menguliti kebusukan jiwanya sendiri membuat Ghea tersentak mundur. Kata-kata Arkan barusan bagaikan tamparan keras yang menusuk langsung ke lubuk hatinya.

"A–Arkan... kamu..." kata kata Ghea tersendat di tenggorokan, dia menggeleng-gelengkan kepalanya dalam tangis yang semakin histeris, melangkah maju lagi dan mencoba memeluk pinggang Arkan walaupun Arkan selalu mencoba menghindar, tapi Ghea kekeh tidak mau pergi meskipun Arkan sudah merendahkan dirinya sedemikian rupa. "Jangan ngomong kayak gitu... aku mohon..." lirih Ghea pilu.

Nadia yang baru saja keluar dari ruang sidang bersama Devan terhenti beberapa langkah dari sana. Dia menyaksikan seluruh pemandangan itu. Melihat Arkan yang begitu pesimis, begitu membenci dirinya sendiri, dan menangis meratapi kehancuran jiwanya di pelukan Ghea yang terus menangis histeris.

Tidak ada rasa puas yang meledak-ledak di hati Nadia. Yang ada hanyalah rasa hampa yang mendalam saat melihat bagaimana karma bekerja dengan cara menghancurkan mental dan harga diri seseorang hingga ke titik nadi.

Devan menggenggam jemari Nadia yang sedikit bergetar, memberikan kehangatan mutlak di tengah dinginnya koridor persidangan itu. "Ayo pergi, Nadia. Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri" kata Devan.

Nadia mengangguk pelan. Dia melangkah pergi mendampingi Devan, berjalan melewati Arkan dan Ghea yang masih berpelukan dalam tangis penyesalan yang mendalam, tepat saat kedua petugas kepolisian melangkah maju dan menyentuh pundak Arkan untuk memasangkan borgol besi di pergelangan tangannya.

★★★

Gak sesuai dugaan yah. kirain Ghea bakal pergi ninggalin Arkan yang udah miskin melarat dan sekarat😌

1
Rita Rita
pelakor selalu menikmati hasil orang lain,dan Arkan sama Ghea menikmati hasil juga dari merampas harta orang
Rita Rita
pokoknya begitu klik langsung lebur,, AQ paling suka gercap,,,
Rita Rita
diri ku mampir, keknya menarik banget alur ceritanya Thor,,
KakLia
canggung bngt yah pak🤭
KakLia: terserah kk aja, kan author adalah penguasa🤣
total 2 replies
Ayamgoreng
wah ad yg komen. oke!! udh ta up satu tuh
Iffanaya 😽
kuy ditunggu lanjutannya kk 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!