Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Kejujuran di Bawah Pengaruh Alkohol
Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Liu untuk menyelesaikan urusan berdarah di ruang bawah tanah. Ketika pintu kaca area VIP kembali bergeser terbuka, sosok Liu melangkah masuk dengan jas yang sudah kembali rapi. Wajahnya seketika berubah ceria, lengkap dengan senyum lebar konyolnya, seolah-olah ia baru saja kembali dari toilet, bukan dari ruang penyiksaan.
"Hahaha! Maaf membuat kalian menunggu lama! Urusan bisnis tadi sedikit menguras tenaga," seru Liu sambil menghempaskan tubuhnya di sofa seberang Chen dan Mei, lalu menuangkan kembali minuman ke gelasnya sendiri.
Mei yang polos hanya mengangguk sambil tersenyum maklum. Namun, Chen menatap Liu dengan tatapan yang sarat akan makna. Melalui kemampuan mata ajaibnya, Chen bahkan bisa melihat sisa getaran adrenalin yang belum sepenuhnya reda di otot-otot lengan Liu di balik kemejanya. Chen tahu persis apa yang terjadi di bawah sana, termasuk fakta bahwa Keluarga Wang adalah dalangnya. Namun, karena tidak ingin merusak suasana malam ini dan membuat Mei ketakutan, Chen memilih untuk diam dan tidak bertanya banyak. Ia hanya mengangkat gelasnya, berdenting dengan gelas Liu.
Malam pun berlanjut dengan penuh tawa. Liu yang royal terus memesan minuman terbaik, dan Mei yang larut dalam suasana bahagia tanpa sadar meminum terlalu banyak alkohol manis hingga kesadarannya mulai goyah.
Racauan Manis sang Kekasih
Saat jam menunjukkan pukul dua fajar, pesta kecil itu akhirnya berakhir. Setelah berpamitan dengan Liu yang juga sudah setengah teler, Chen membimbing Mei keluar menuju mobil sport mereka.
Mei benar-benar dalam keadaan mabuk berat. Wajah cantiknya memerah sempurna, matanya sayu, dan langkah kakinya sudah sangat sempoyongan. Sepanjang perjalanan pulang menyusuri jalanan kota yang sepi, Mei yang duduk di kursi penumpang mulai meracau tak keruan.
"Chen... kamu tahu tidak?" gumam Mei dengan suara serak yang manja, kepalanya bersandar lemas di kaca mobil yang dingin.
"Tahu apa, Mei?" sahut Chen lembut, fokus membelah jalanan malam sambil sesekali melirik kekasihnya.
"Aku... aku itu sebenarnya sudah lama sekali suka sama kamu," racau Mei sambil mengerucutkan bibirnya, menatap Chen dengan pandangan berputar-putar. "Bahkan... hiks... bahkan sebelum kamu seperti sekarang. Sebelum kamu bantu bayar utang adikku yang nakal itu..."
Mei mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Chen, menunjuk dada Chen dengan jari telunjuknya yang lemas. "Dulu... setiap kali aku lihat kamu pulang malam dengan baju basah karena keringat... hatiku rasanya sakit, tapi aku juga kagum. Kamu anak yatim piatu yang berjuang sendirian, tapi matamu selalu jujur. Aku selalu curi-curi pandang dari balik jendela kamar kosku..."
Mei menguap kecil, suaranya mengecil seiring kesadarannya yang semakin menipis. "Aku menyukaimu... Chen yang pekerja kerass... aku sudah suka..."
Kecupan di Keheningan Malam
Mengecap setiap untaian kalimat jujur yang keluar dari mulut Mei yang sedang mabuk, dada Chen mendadak dirayapi oleh rasa hangat yang luar biasa. Itu bukan sensasi hangat dari kekuatan mata mistisnya, melainkan kehangatan murni dari lubuk hatinya. Selama ini, ia mengira Mei baru menyukainya setelah ia berubah, namun ternyata gadis ini telah mencintai jiwanya yang rapuh sejak mereka masih sama-sama merangkak di dasar kehidupan.
Chen menepikan mobilnya sejenak di pinggir jalan yang sepi di bawah naungan pohon rindang. Ia mematikan mesin, lalu berbalik menatap Mei yang kini matanya sudah terpejam rapat, tertidur pulas dengan napas yang teratur.
Wajah Mei saat tertidur terlihat begitu polos. Pipi tembemnya yang merona merah akibat efek alkohol tampak sangat menggemaskan di bawah temaram lampu jalan.
Chen tidak bisa menahan rasa gemas dan cintanya yang membuncah. Ia tersenyum manis, lalu condong ke depan. Dengan sangat lembut, Chen mendaratkan sebuah kecupan hangat di pipi tembem milik Mei.
Cup.
"Terima kasih karena sudah menyukaiku sejak dulu, Mei," bisik Chen lirih di telinga gadis itu. Ia mengusap helai rambut yang menghalangi wajah kekasihnya, lalu mengecup pipinya sekali lagi sebelum kembali menyalakan mesin mobil untuk mengantarkan sang dewi pulang ke tempat peristirahatan mereka.
👍😁