NovelToon NovelToon
Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno / Balas Dendam
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: AzhuraAstra

Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.

Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.

Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.

Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.

Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.

Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

𖣂|Bab 15 Pengasuh Wakadanna|

...|Legacy of Soryu|...

...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...

Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka dengan ayunan lebar. Ibu Siti melangkah masuk sembari menjinjing tas kulit yang tampak berat di satu tangan dan sebuah kantong plastik yang aromanya mengkhianati isinya sebagai sebuah nasi uduk di tangan lainnya.

Pandangan tajam di balik kacamata Ibu Siti menyapu seluruh ruangan. Fokusnya sempat tertahan pada sosok Bara yang asing, lalu bergeser ke arah Nana yang wajahnya masih semerah tomat, sebelum akhirnya jatuh pada kursi Vina yang kosong melompong di baris terdepan.

"Ada yang berantem?" tanya Ibu Siti dengan nada santai, seolah ia baru saja menanyakan apakah hujan di luar sudah reda.

Keheningan melanda. Tak ada mahasiswa yang cukup berani untuk membuka suara.

"Kalau nggak ada yang mati atau masuk UGD, kita mulai saja," Ibu Siti meletakkan tasnya ke meja dengan dentum yang mantap.

"Tapi sebelumnya, kita kedatangan 'penduduk' baru. Kamu, maju ke depan sebentar."

Bara mengembuskan napas pendek. Ia berdiri dan melangkah ke depan kelas. Postur tubuhnya yang tegap dan cara berjalannya yang penuh otoritas seketika membuat seisi ruangan kembali menahan napas.

"Ini mahasiswa pindahan yang saya ceritakan kemarin," Ibu Siti menepuk bahu Bara—sebuah kontak fisik yang membuat Bara sedikit kaku.

"Silakan, perkenalkan dirimu. Nama saja cukup, tidak perlu berseta daftar kekayaan."

Bara menatap audiensnya dengan tatapan datar yang menyapu dari sudut kiri ke kanan. "Bara Adipta Reiz," ucapnya singkat. Ia memaksakan sebuah senyum tipis yang terasa asing di wajahnya.

"Salam kenal..."

Hening sesaat, sebelum akhirnya barisan mahasiswi di sayap kiri meledak dalam riuh rendah yang tak terkendali.

"Salam kenal kembali, Ganteng! Boleh minta WhatsApp-nya nggak buat koordinasi tugas? Kiw kiw..." celetuk salah satu mahasiswi yang disambut tawa genit rekan-rekannya.

"Atau Instagram-nya aja deh! Kita butuh asupan visual di grup kelas nih!" tambah mahasiswi yang lain.

Bara hanya berdiri mematung, merasa harga dirinya sedang dipertaruhkan di depan sekumpulan remaja yang terlalu bersemangat. Ibu Siti segera menggebrak meja dosen dengan penggaris kayu keramatnya, menciptakan suara nyaring yang seketika membungkam seisi kelas.

"Fokus! WhatsApp untuk koordinasi itu urusan nanti. Sekarang buka modul minggu kesembilan, kita bahas Social Media Marketing," Ibu Siti melirik Bara sembari memberi isyarat agar ia kembali ke kursinya.

Sebelum Bara menjauh, dosen senior itu berbisik cukup keras hingga terdengar ke baris depan.

"Duduklah, Bara. Kadang ketampanan itu memang bisa jadi momok, tapi di kelas saya, itu tidak akan menambah nilai tugasmu."

Beberapa mahasiswa tertawa kecil. Bara kembali ke kursinya tanpa sepatah kata pun. Laptopnya masih menyala, menampilkan laporan keuangan yang tetap terbuka, namun fokusnya telah bergeser total.

Bara mengepalkan kedua tangannya, ia rasanya ingin menghilang saja ditelan bumi, dengan harga diri yang sudah tergerus secara bertubi-tubi dia akhirnya duduk.

Matanya kini mengamati punggung Nana. Gadis itu duduk dengan postur terlalu tegak, seolah seluruh otot punggungnya sedang berusaha keras untuk menahan beban emosional dari kejadian tadi. Penanya bergerak lincah di atas kertas, mencatat setiap penjelasan Ibu Siti dengan ketekunan yang luar biasa. Kepang duanya sedikit bergoyang setiap kali ia mengangguk paham.

Sesekali, Nana memberanikan diri untuk menoleh ke baris keempat. Pandangan mereka bertemu selama satu detik—sebelum Nana cepat-cepat membuang muka kembali ke papan tulis, membiarkan pipinya merona untuk ketiga kalinya hari itu.

Bara mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Di luar, angin tropis menggerakkan daun-daun ketapang dan palem yang rimbun.

Ia menghela napas panjang, sangat pelan hingga hanya ia yang bisa merasakannya, lalu kembali menekuni layar laptopnya.

Rencana ini menjadi semakin rumit, gumamnya menutup percakapan batinnya, sementara di depannya, Nabhila Adama masih menjadi sebuah teka-teki terbesar yang pernah ia hadapi di luar ruang rapat Soryu Group.

...-Parkiran Kampus-...

...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...

Sementara di sisi lain, Davian masih bergeming di kursi depan, tablet menyala di pangkuan, dan sebuah onigiri salmon yang telah kehilangan kehangatannya di genggaman tangan kanannya.

Namun, yang sedang ia bedah kali ini bukanlah laporan keuangan, melainkan sebuah artikel berjudul: 10 Strategi Menjadi Bapak Sambung yang Baik bagi Majikan yang Kurang Kasih Sayang.

Pak Gunawan, yang sejak tadi asyik memperhatikan burung-burung di dahan pohon parkiran, melirik ke arah Davian.

"Mas Davian... serius sekali. Baca laporan logistik yang tadi diminta Den Bara?"

Davian tidak langsung menjawab. Ia menelan potongan kecil onigiri yang mulai terasa seperti karet. "Lagi riset mendalam, Pak."

"Riset apa memangnya?"

Davian mematikan layar tabletnya dengan bunyi klik yang getir. "Bagaimana caranya memastikan seseorang tidak memicu insiden yang menghebohkan atau supaya tidak ada laporan polisi di hari pertama kuliahnya."

Pak Gunawan mengangguk-angguk, meskipun dahi tuanya berkerut bingung. "Kalau Den Bara... biasanya persentase keberhasilannya bagaimana, Mas?"

Davian mengalihkan pandangan ke arah gedung kampus yang berdiri kokoh di kejauhan, seolah mencoba menembus dinding beton untuk melihat apa yang sedang dilakukan tuannya di dalam sana.

"Rata-rata lima puluh-lima puluh, Pak Gun. Antara dia berhasil membaur, atau dia berhasil membuat satu fakultas kena mental dalam satu jam pelajaran."

"Waduh, gawat juga ya," Pak Gunawan terkekeh pelan sembari merapikan topi seragamnya.

"Saya memang kurang dekat dengan Den Bara dari dulu, jadi tidak terlalu paham wataknya. Setahu saya, selama saya bekerja di keluarga Soryu, beliau orangnya sangat pendiam, Mas."

Davian menghela napas panjang, sebuah gestur yang sarat akan beban hidup selama bertahun-tahun menjadi bayang-bayang seorang pewaris Soryu.

"Aslinya tidak sependiam itu, Pak... Dia hanya malas bicara dengan orang yang menurutnya tidak berguna. Dan sekalinya bicara..." Davian menjeda, "lidahnya lebih tajam dari pedang samurai."

"Hahaha... Mas Davian yang sabar ya," sahut Pak Gunawan tulus. "Pekerjaan Mas ini sepertinya setengah asisten, setengah pengasuh."

"Lebih tepatnya penjinak bom, Pak Gun," gumam Davian sembari kembali menyalakan tabletnya, melanjutkan membaca tips nomor empat tentang cara menghadapi kemarahan impulsif sang 'anak asuh' dengan kepala dingin.

"Sepertinya hari ini memang akan berjalan sangat panjang."

1
Alia Chans
Hadir Thor
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉
AzhuraAstra: Terimakasih 🫡
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!