NovelToon NovelToon
Berpijak Di Antara Batu Karang

Berpijak Di Antara Batu Karang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

meylani yang sedang putus cinta dengan Andrian membuat nya mengambil keputusan untuk menerima tawaran dipindahkan ke Surabaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Raksasa dari Jakarta

Kabar burung itu bukan sekadar desas-desus kosong. Tiga hari setelah malam hujan yang intim itu, Meylani menerima email resmi dari kantor pusat di Jakarta. Subjeknya singkat namun menggetarkan: "Strategic Acquisition Proposal Surabaya Genteng Zone."

Pengirimnya adalah Divisi Strategi Korporat, dengan tembusan langsung ke Direktur Utama. Isi email tersebut menyatakan bahwa PT Mahakarya Nusantara, konglomerat properti terbesar di Indonesia yang berbasis di Jakarta, telah menunjukkan minat serius untuk membeli seluruh aset lahan dan hak pengembangan di kawasan revitalisasi Genteng, termasuk proyek "Ruang Pulang" yang sedang digarap Meylani.

Tawaran harganya fantastis. Angka nol-nya begitu banyak hingga membuat kepala Meylani pening sejenak. Bagi perusahaan, ini adalah keuntungan instan yang bisa mendongkrak laporan keuangan kuartal ini secara signifikan. Bagi Meylani, ini adalah ancaman eksistensial.

"Ruang Pulang" bukan sekadar proyek bisnis bagi Meylani. Itu adalah manifestasi dari filosofinya tentang rumah, kepercayaan, dan komunitas. Jika dijual ke Mahakarya Nusantara, visi itu akan hilang. Lahan itu akan diubah menjadi apartemen mewah vertikal yang eksklusif, menggantikan konsep ruang terbuka dan komunitas kreatif yang selama ini mereka bangun.

Meylani duduk di mejanya, menatap layar laptop dengan wajah pucat. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu apa artinya keputusan ini. Jika ia menolak, ia akan berhadapan dengan direksi pusat yang hanya melihat angka profit. Jika ia menerima, ia mengkhianati prinsipnya sendiri dan mimpi-mimpi warga Surabaya yang sudah mulai percaya pada visinya.

Pintu ruang kerjanya diketuk pelan. Bima masuk tanpa menunggu jawaban, membawa dua gelas kopi tubruk dalam gelas plastik. Ia meletakkannya di meja Meylani, lalu menarik kursi untuk duduk di hadapannya.

"Wajahmu kenapa pucat banget, Mey? Kayak habis lihat hantu," tanya Bima khawatir, meski nada bicaranya tetap santai.

Meylani menghela napas panjang, lalu memutar layar laptop agar Bima bisa melihat email tersebut. "Baca ini, Mas."

Bima membaca perlahan. Matanya menyipit saat sampai pada bagian harga penawaran. Ia mengerutkan kening, lalu menatap Meylani.

"Harganya gila-gilaan, Mey. Ini rezeki nomplok buat perusahaan. Kenapa kamu kelihatan sedih?"

"Karena jika kita terima, proyek ini berubah total, Mas. Mahakarya nggak peduli sama konsep 'Ruang Pulang'. Mereka cuma mau bangun apartemen mahal. Komunitas yang sudah kita bangun, tukang-tukang lokal yang sudah kita libatkan, semua akan tersingkir. Visi kita mati," jelas Meylani, suaranya bergetar menahan emosi.

Bima diam sejenak. Ia menyeruput kopinya, berpikir keras. Wajahnya yang biasanya ceria kini tampak serius.

"Jadi, kamu mau menolaknya?" tanya Bima.

"Aku ingin menolak. Tapi aku nggak punya wewenang penuh. Keputusan ada di tangan Direksi Pusat. Dan mereka pasti akan menekan aku untuk menerima. Aku terjepit, Mas. Di satu sisi, aku harus loyal pada perusahaan. Di sisi lain, aku harus loyal pada hati nurani dan janji pada masyarakat sini," keluh Meylani, memegang kepalanya.

Bima meletakkan gelasnya. Ia meraih tangan Meylani, menggenggamnya erat.

"Dengar, Mey. Kamu nggak sendirian. Kalau Direksi Pusat mau maksa, kita lawan dengan data. Kita tunjukin bahwa nilai jangka panjang dari konsep komunitas itu lebih besar daripada untung instan dari penjualan tanah. Kita hitung dampak sosial, dampak ekonomi lokal, dan brand value yang didapat. Orang Jakarta mungkin cuma lihat angka, tapi kita bisa bikin mereka lihat 'nilai'."

"Tapi apakah mereka mau mendengar? Mereka orang korporat murni, Mas. Bahasa hati nggak masuk di rapat dewan direksi," bantah Meylani pesimis.

"Maka kita pakai bahasa mereka," kata Bima tegas. Matanya berbinar dengan ide. "Kita bikin presentasi tandingan. Bukan cuma soal perasaan, tapi soal profitabilitas jangka panjang. Tunjukin bahwa Mahakarya itu reputasinya buruk di mata publik Surabaya karena sering menggusur warga. Kalau kita jual ke mereka, brand 'Ruang Pulang' akan tercoreng. Kerugian reputasi itu bisa dihitung dengan uang juga, kan?"

Meylani menatap suaminya takjub. Bima, yang tidak memiliki latar belakang MBA, justru melihat celah strategis yang luput dari analisis para eksekutif berkemeja rapi di Jakarta.

"Kamu jenius, Mas," bisik Meylani.

"Bukan jenius. Cuma logika pasar aja, Yang. Di Surabaya, rakyat itu ingat siapa yang baik sama mereka. Kalau kita khianatin mereka demi uang Jakarta, besok-besok nggak ada yang mau beli properti kita lagi. Itu rugi besar," jelas Bima sederhana.

Semangat Meylani kembali menyala. Ia segera membuka file presentasi lama, mulai mengumpulkan data survei kepuasan warga, proyeksi pendapatan sewa ruang komunal, dan artikel berita tentang kontroversi pengusuran yang dilakukan Mahakarya Nusantara di kota lain.

Selama tiga hari berikutnya, Meylani dan Bima bekerja seperti mesin. Meylani mengurus data finansial dan strategi komunikasi korporat, sementara Bima menghubungi tokoh masyarakat, ketua RT, dan pemilik usaha kecil di sekitar Genteng untuk mendapatkan testimoni dukungan. Mereka tidur larut, makan seadanya, dan hidup dari kopi serta mie instan.

Rumah mereka di Wonocolo berubah menjadi markas perang. Kertas-kertas berserakan di lantai, papan tulis penuh dengan coretan strategi, dan udara dipenuhi ketegangan yang produktif.

Bu Siti tetangga sebelah sempat mengetuk pintu, mengintip ke dalam. "Lho, Mbak, Mas... kalian sakit ya? Kok mukanya kusut semua?"

Meylani tersenyum lelah. "Kami lagi kerja keras, Bu. Ada proyek penting."

Bu Siti mengangguk paham. "Wes, tapi jangan lupa makan. Nanti saya antar soto ayam. Gratis. Buat semangat kalian."

Kebaikan sederhana itu menjadi bahan bakar tambahan bagi Meylani. Ia semakin yakin bahwa perjuangan ini bukan sia-sia.

Hari presentasi tiba. Meylani harus terbang ke Jakarta untuk menghadapi Rapat Dewan Direksi. Bima tidak bisa ikut karena ada urusan lapangan yang kritis, tapi ia memberikan dukungan moral terakhir sebelum Meylani berangkat ke bandara.

Di depan terminal keberangkatan, Bima memeluk Meylani erat.

"Pulanglah dengan kepala tegak, Mey. Apa pun hasilnya, kamu sudah berjuang untuk hal yang benar. Kalau mereka nggak ngerti, berarti mereka yang buta, bukan kamu yang salah," pesan Bima.

Meylani mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Doakan aku, Mas."

"Aku Selalu, mendoakan mu Mey" kata Bima memberi semangat kepada meylani

Ruang rapat di gedung pencakar langit Mahakarya Nusantara di Jakarta terasa dingin dan steril. AC disetel sangat rendah, menciptakan suasana yang membekukan. Di ujung meja panjang, duduk lima orang direktur dengan ekspresi datar. Di tengah mereka, Bapak Hendra, Direktur Utama, menatap Meylani dengan tatapan menilai.

"Mbak Meylani," suara Bapak Hendra berat. "Kami sudah membaca proposal Anda. Sangat... emosional. Tapi bisnis adalah bisnis. Tawaran dari divisi akuisisi kami sudah sangat menguntungkan. Mengapa Anda bersikeras menolak?"

Meylani berdiri, mengatur napasnya. Ia mengingat kata-kata Bima: Gunakan bahasa mereka.

"Terima kasih, Pak Hendra. Saya mengerti bahwa angka penjualan tanah terlihat menggiurkan dalam jangka pendek. Namun, izinkan saya menunjukkan sisi lain dari koin tersebut," kata Meylani tenang, memulai presentasinya.

Ia menampilkan grafik proyeksi kerugian reputasi, testimonial video dari warga Genteng yang mendukung konsep "Ruang Pulang", dan analisis risiko boikot masyarakat jika proyek diambil alih oleh pengembang yang memiliki rekam jejak kontroversial.

"Jika kita menjual ke pihak eksternal, kita kehilangan kontrol atas narasi brand. 'Ruang Pulang' bukan sekadar properti, Pak. Ini adalah gerakan sosial. Nilai gerakannya jauh lebih tinggi daripada nilai tanahnya. Jika kita pertahankan dan kembangkan sendiri, dalam lima tahun, ROI (Return on Investment) kita akan melampaui tawaran akuisisi ini, ditambah dengan loyalitas pelanggan yang tak ternilai harganya," jelas Meylani dengan data yang solid.

Para direktur saling bertukar pandang. Beberapa mulai terlihat tertarik. Bapak Hendra mengetuk-ngetuk pulpen di meja, berpikir.

"Anda yakin konsep ini bisa bertahan tanpa suntikan dana besar dari akuisisi?" tanya salah satu direktur keuangan.

"Saya yakin, karena kami memiliki mitra lokal yang kuat, biaya operasional yang efisien, dan dukungan komunitas yang solid. Kami tidak butuh uang besar untuk membangun tembok, kami butuh waktu untuk membangun kepercayaan. Dan kepercayaan itu sudah kami miliki," jawab Meylani tegas.

Rapat berlangsung selama dua jam. Debat panas terjadi. Namun, di akhir sesi, Bapak Hendra menutup laptopnya.

"Kami akan menunda keputusan akuisisi selama tiga bulan," umumkan Bapak Hendra. "Dalam tiga bulan itu, Mbak Meylani harus membuktikan bahwa proyeksi pertumbuhan organik Anda realistis. Jika target KPI tercapai, kami akan dukung penuh pengembangan mandiri. Jika tidak, opsi akuisisi tetap terbuka."

Itu bukan kemenangan mutlak, tapi itu adalah kesempatan. Sebuah reprieve.

Meylani keluar dari ruang rapat dengan kaki gemetar, namun hatinya lega. Ia berhasil membeli waktu. Ia berhasil menyelamatkan visi "Ruang Pulang" untuk sementara.

Sesampainya di hotel, Meylani segera menelepon Bima.

"Mas! Mereka setuju menunda! Aku dapat waktu tiga bulan!" teriak Meylani bahagia.

Di ujung telepon, Bima tertawa renyah. "Syukurlah, Yang! Aku tahu kamu bisa. Sekarang pulanglah ke Surabaya. Kita punya kerjaan besar menanti. Tiga bulan itu bukan waktu untuk santai, tapi waktu untuk membuktikan bahwa kita benar."

Meylani tersenyum, menatap langit Jakarta yang tertutup polusi. Ia merindukan langit Surabaya yang lebih bersih, merindukan suara klakson yang bising, dan terutama, merindukan pelukan hangat suaminya yang selalu memberinya kekuatan untuk melawan raksasa.

Pesawat malam itu membawanya pulang. Bukan hanya pulang ke kota, tapi pulang ke tujuan hidupnya. Perjuangan belum selesai, bahkan baru saja dimulai. Tapi kali ini, Meylani tidak takut. Karena ia tahu, di balik setiap badai korporat, ada Bima yang siap menjadi payungnya.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!