Aldara, wanita yang hatinya baru saja remuk redam ditinggalkan kekasih demi wanita lain, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tenang agar tidak dikasihani orang lain. Ketika dipanggil oleh kenalannya, Siska, untuk bertemu di kafe langganan, ia tidak menyangka bahwa kunjungannya kali ini akan menjadi titik balik hidupnya. Di sana ia diperkenalkan kepada Aries—seorang pemuda pendiam namun memiliki pesona tersendiri. Pertemuan yang awalnya terasa biasa saja perlahan membuka jalan bagi sebuah kisah baru yang akan menyembuhkan luka lama dan mengajarkan Aldara arti cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 031: Cerita Hati yang Berbeda
Di teras rumahnya, Hafizah dan Ikbal duduk bersandar santai menikmati sisa waktu sore. Angin berhembus lembut membelai wajah mereka, seolah ikut merasakan kehangatan kebersamaan yang jarang tercipta belakangan ini.
“Kamu hari ini tidak sibuk dengan pekerjaan, sayang?” tanya Hafizah sedikit heran, melihat Ikbal tampak begitu tenang di sampingnya.
“Semuanya sudah selesai dikerjakan lebih awal. Mungkin baru tiga hari lagi aku akan kembali sibuk sepenuhnya,” jawab Ikbal sambil tersenyum lembut.
“Syukurlah kalau begitu. Meski sibuk, jangan lupa jaga kesehatan ya, jangan sampai tubuhmu jatuh sakit,” pesan Hafizah tulus sambil menatap kekasihnya.
Di tempat lain, Dede Ara dan Hiken juga sedang menikmati waktu berdua di taman kecil dekat rumah gadis itu.
“Terima kasih ya sudah selalu mau mengerti keadaanku,” ucap Dede Ara pelan sambil menatap Hiken.
“Aku akan selalu berusaha mengerti segala hal tentangmu. Kalau kamu merasa belum siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan, aku akan menunggu kapan pun waktunya kamu merasa siap,” jawab Hiken tegas.
“Kamu tahu sendiri kan, aku harus bekerja keras membantu ibu dan adik-adikku. Mereka masih sangat membutuhkan bantuanku,” jelas Dede Ara.
“Aku paham sepenuhnya, sayang,” ucap Hiken sambil merangkul bahu kekasihnya erat, ingin memberi rasa aman.
Sementara itu, Aldara dan Aries yang sudah berbaikan memutuskan untuk pergi ke pantai sebelum Aries kembali disibukkan pekerjaan. Mereka ingin menikmati keindahan matahari terbenam berdua saja, menenangkan hati Yang sempat retak.
Namun suasana jauh berbeda yang dirasakan Siska. Baru saja ia berjalan melewati sebuah jalan raya, matanya tak sengaja menangkap sosok yang sangat ia kenal berjalan beriringan erat dengan seorang wanita lain. Tangan mereka bahkan saling bertaut seolah tak ingin terpisah. Tanpa sadar kakinya melangkah mendekat dan menegur lantang.
“Jadi benar dugaanku, kamu benar-benar menduakanku!” bentak Siska dengan suara bergetar menahan tangis.
Randy terkejut sesaat, namun segera Menampilkan wajah tak peduli. “Jangan asal menuduh sembarangan, Siska. Aku tidak melakukan hal yang kamu tuduhkan. Mana bukti kalau aku menduakanmu?” elaknya tenang.
Siska tertawa sinis. "Kamu masih butuh bukti, jelas jelas kamu sudah ketahuan jalan sama cewek bahkan bergandengan tangan, terus itu apa namanya." Bentak Siska sambil meneteskan air mata dipipinya.
“Dia hanya teman lama, tidak lebih dari itu. Kamu ini terlalu cemburuan dan sulit percaya. Kalau sikapmu terus begini, bukan tidak mungkin hubungan kita akan hancur begitu saja,” ucap Randy dengan nada menekan, lalu berbalik pergi meninggalkan Siska yang terpaku di pinggir jalan tanpa rasa iba.
“Kamu benar-benar keterlaluan, Rand,” batin Siska pilu. Ia segera menyeka air matanya dan berjalan menuju rumah Fearny, satu-satunya tempat yang bisa ia tuju saat hatinya terasa hancur begini.
Sesampainya di depan rumah Fearny, ia mengetuk pintu dengan lemah. Begitu pintu terbuka, wajah Fearny langsung terlihat cemas melihat penampilan sahabatnya yang berantakan dan mata sembab.
“Masuklah dulu, duduk dengan tenang. Siapa yang berani menyakitimu?” tanya Fearny sambil menuntun Siska duduk di kursi ruang tamu.
Tangis Siska seketika pecah tak terbendung. Fearny segera beranjak mengambil segelas air minum untuk menenangkannya. “Minumlah dulu agar perasaanmu sedikit lebih tenang,” ucapnya lembut.
“Terima kasih, Fearny,” ucap Siska lirih.
“Coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?” bujuk Fearny pelan.
“Tadi aku melihat Randy berjalan bersama wanita lain sambil bergandengan tangan. Saat aku menegurnya, dia malah membela diri dan pergi meninggalkanku begitu saja,” cerita Siska di sela isak tangisnya.
“Sudahlah, tenangkan perasaanmu dulu. Nanti setelah pikiranmu jernih, barulah kamu tentukan keputusan apa yang paling tepat untuk dirimu ke depannya,” hibur Fearny.
Sementara itu di tepi pantai, matahari perlahan mulai turun menyentuh cakrawala dengan Semburat jingga yang sangat indah. Aldara menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya dengan perasaan damai.

“Terima kasih sudah mengajakku ke sini, keindahan ini benar-benar membuat hati menjadi tenang,” ucap Aldara lembut.
“Aku ingin selalu melihat senyuman di wajahmu dan membuatmu bahagia setiap hari,” janji Aries sambil menggenggam jemari gadis itu.
“Aku sangat menyayangimu, Ris. Namun aku punya satu permintaan, jika suatu saat hatimu sudah tidak lagi untukku atau kamu merasa bosan, katakanlah dengan jujur. Aku bisa menerima keterbukaan, namun aku tidak akan sanggup jika harus dikhianati,” ucap Aldara pelan namun penuh makna.
Aries mencium punggung tangan kekasihnya dengan tulus. “Percayalah, aku tidak akan pernah menjadi orang yang melukaimu dengan pengkhianatan sekecil apa pun.”