Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon
"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."
Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.
Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.
Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.
Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Korban di Lingkungan Rumah
Desa lereng Gunung Raung tidak pernah benar-benar menerima matahari dengan suka cita semenjak Sabtu Kliwon berlalu. Kabut yang turun bukan lagi uap air pegunungan yang segar, melainkan gumpalan putih kekuningan yang beraroma belerang mati. Di atas atap rumah Sekar, burung-burung gagak dan kedasih bergantian bertengger, mengirimkan nyanyian kematian yang memotong kesunyian ladang jagung di sekitarnya.
Satu minggu telah berlalu sejak Bintang diusir. Rumah yang dihuni Sekar dan ibunya kian terisolasi. Tetangga terdekat, yang jaraknya terpisah puluhan meter oleh kebun kopi, mulai enggan melintas. Bukan hanya karena ketakutan ghaib yang tak kasat mata, melainkan karena sebuah teror indra yang sangat nyata: bau bangkai.
Bau itu mula-mula tipis, mirip bangkai tikus yang terjepit di sela-sela langit-langit. Namun, memasuki hari ketujuh, bau tersebut bermutasi menjadi aroma anyir yang teramat pekat, bercampur dengan bau daging yang membusuk di dalam rendaman air payau. Bau itu begitu kuat hingga mampu menembus pori-pori dinding bambu, melubangi udara bersih desa, dan mengendap di dahan-dahan pohon sekitar pekarangan.
Pak Darmo, sang Ketua RT yang rumahnya berada di ujung batas dusun, berulang kali menerima keluhan dari warga yang ladangnya berbatasan langsung dengan pekarangan rumah Sekar.
"Darmo, ini tidak bisa dibiarkan," kata Wakijan, salah satu petani sepuh, saat bertamu ke rumah Pak RT sore itu. Wajahnya pucat sambil terus menyeka hidungnya dengan kain sarung. "Bau dari rumah janda itu sudah keterlaluan. Sapi-sapiku di kandang tidak mau makan sejak dua hari lalu. Mereka terus melenguh ketakutan, menatap ke arah bukit tempat rumah Sekar berdiri. Ada yang tidak beres di sana."
Pak Darmo, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan kumis tebal, menghela napas panjang. Sebagai tetua lingkungan, dia tahu sejarah kelam keluarga Sekar. Dia juga tahu bahwa seminggu lalu, Bintang—pemuda yang dikenal memiliki kedigdayan batin—pergi meninggalkan rumah itu dengan tergesa-gesa di bawah tatapan penuh amarah Ibu Sekar.
"Aku sudah mencoba lewat ke sana kemarin siang, Jan," jawab Pak Darmo, suaranya berat dan penuh kecemasan. "Pintu rumahnya tertutup rapat. Jendelanya dipaku dari dalam menggunakan papan bekas. Saat aku mengetuk pintu, tidak ada jawaban. Hanya ada suara langkah kaki yang diseret... sreeet... sreeet... sangat lambat di atas lantai semen. Dan baunya... astaga, membuat kepalaku langsung pening seolah mencium racun kental."
"Kau harus periksa nanti malam, Mo," desak Wakijan dengan tatapan mata yang tajam dan ketakutan. "Jangan sampai ada bangkai manusia di dalam sana. Kita semua tahu, sejak anak itu pulang dari Sendang Pengilon, dia tidak lagi seperti manusia."
Pak Darmo terdiam. Tugas sebagai ketua RT mendadak terasa seperti vonis mati. Namun, rasa tanggung jawab dan rasa penasaran yang teramat sangat mengalahkan akal sehatnya. Dia tidak tahu bahwa melangkah ke pekarangan rumah itu berarti menantang otoritas ghaib yang baru saja mendeklarasikan wilayah kekuasaan barunya di dunia manusia.
Malam itu, jam dinding di rumah Pak Darmo baru menunjukkan pukul sepuluh, namun atmosfer desa sudah sepi seolah-olah seluruh kehidupan telah ditarik paksa masuk ke dalam tanah. Pak Darmo memasukkan sebuah senter kuno bermerk Eveready ke dalam saku jaketnya, tak lupa dia menyelipkan sebilah celurit tua yang telah diolesi minyak mistis di pinggang kirinya untuk berjaga-jaga.
Langkah kakinya membelah jalan setapak yang menanjak menuju rumah Sekar. Semakin dia mendekat, udara terasa kian berat. Tekanan udara di sekitar bukit itu seolah merosot ekstrem, membuat dada Pak Darmo terasa sesak dan paru-parunya seperti dipaksa menghirup udara berlendir.
Bau bangkai yang dikeluhkan warga kini menyerang indra penciumannya dengan intensitas sepuluh kali lipat. Bau itu bukan lagi sekadar aroma, melainkan seperti zat padat yang menyumbat tenggorokan, memicu rasa mual yang luar biasa hebat hingga Pak Darmo terpaksa menggigit ujung lidahnya sendiri agar tidak muntah.
Pekarangan rumah Sekar tampak seperti kuburan tua yang terlantar. Pohon mangga di depan halaman telah mati mendadak; daun-daunnya meranggas hitam dan batangnya mengeluarkan lendir pekat berwarna kelabu yang dikerubuti oleh ulat-ulat kecil tak berkedip.
Pak Darmo mematikan senternya. Dia tidak ingin kedatangannya disadari oleh Ibu Sekar, atau apa pun yang kini sedang bersarang di dalam sana. Dengan langkah yang sangat berhati-hati, dia merayap mendekati dinding kamar belakang—kamar tempat Sekar biasanya diisolasi sejak jatuh sakit.
Krrrk...
Sebuah bunyi ranting kering yang patah di bawah kakinya membuat Pak Darmo menghentikan langkah seketika. Dia menempelkan punggungnya pada dinding rumah yang terasa basah dan dingin seumpama kulit mayat. Dia menahan napasnya dalam-dalam, mendengarkan dengan seksama setiap suara yang mungkin terdengar dari dalam kamar.
Awalnya, hanya ada kesunyian murni yang mengerikan. Namun kemudian, telinga Pak Darmo yang menempel pada celah jendela menangkap sebuah suara yang membuat seluruh darah di tubuhnya mendadak berhenti mengalir.
Krrrr... ssshhh... krrrr...
Itu bukan suara napas manusia. Itu adalah suara dengkur ghaib yang sangat berat, kering, dan dalam, berpadu dengan gesekan konstan benda keras di atas lantai. Seolah-olah ada sesuatu berukuran raksasa yang sedang melingkar dan bergeser di dalam ruangan sempit tersebut.
Rasa penasaran yang bercampur dengan horor psikologis yang masif mendorong Pak Darmo untuk melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Di bagian atas dinding kamar tersebut, terdapat sebuah lubang ventilasi kecil berbentuk kotak yang ditutupi oleh kawat nyamuk yang sudah robek di beberapa bagian.
Pak Darmo mencari pijakan. Dia menginjak seonggok kayu log bekas tebangan pohon, lalu perlahan-lahan menegakkan tubuhnya hingga matanya sejajar dengan lubang ventilasi yang gelap gulita tersebut. Ruangan di dalam sana tidak memiliki cahaya sedikit pun, menyerupai sumur tanpa dasar yang pekat.
Pak Darmo mengucek matanya, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan kegelapan di dalam kamar. Mula-mula dia tidak melihat apa-apa selain siluet dipan kayu yang kosong. Di atas kasur kapuk tidak ada orang.
Lalu, ke mana Sekar?
Pandangan Pak Darmo bergerak turun, menyusuri lantai di bawah dipan yang dipenuhi oleh bayangan hitam yang tebal. Bau anyir belerang mendadak menyembur keluar dari lubang ventilasi, tepat mengenai wajah Pak Darmo hingga matanya terasa perih seperti terbakar.
Pada detik itulah, kegelapan di bawah dipan bergerak.
Dua buah titik cahaya kecil tiba-tiba muncul dari kegelapan murni tersebut. Titik cahaya itu mula-mula redup, namun dalam hitungan detik membesar dan menyala dengan warna kuning keemasan yang teramat tajam dan menyilaukan. Itu adalah sepasang mata.
Mata itu berukuran jauh lebih besar daripada mata manusia normal, dengan pupil vertikal hitam yang tipis sebilah pisau, berdiri tegak di tengah-tengah bola mata yang bersinar jahanam. Mata ular kobra raksasa.
Hhhssss...!!!
Sebuah desisan yang sangat nyaring dan mengandung frekuensi ghaib tingkat tinggi meledak tepat di depan wajah Pak Darmo. Desisan itu membawa embusan angin yang luar biasa dingin, sedingin es kutub, namun berbau daging busuk yang membakar indra penciuman.
Pak Darmo terbelalak mutlak. Jantungnya seperti dihantam gada besi. Melalui pendaran cahaya kuning mata tersebut, dia bisa melihat siluet kepala Sekar yang sedang merayap di atas lantai tanah. Wajah gadis itu tampak hancur secara struktural; kulit pipinya terkelupas memperlihatkan lapisan otot yang menghitam, dan dari sela-sela bibirnya yang robek, sebuah lidah bercabang dua yang panjang menjulur keluar, bergerak-gerak liar di udara, nyaris menyentuh kawat nyamuk ventilasi.
"A-Astagfirullah..." kalimat suci itu tidak pernah berhasil keluar sepenuhnya dari tenggorokan Pak Darmo.
Tekanan spiritual dari tatapan mata kuning itu seketika mengunci seluruh sistem sarafnya. Pak Darmo kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terlempar ke belakang, jatuh berdebam di atas tanah pekarangan yang becek. Rasa takut yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya membuat seluruh persendiannya lemas seolah-olah tulangnya telah dicairkan oleh bisa ghaib.
Sambil merangkak dengan gila, Pak Darmo menyalakan senternya dengan tangan yang bergetar hebat. Dia berlari tunggang langgang menuruni bukit, mengabaikan celuritnya yang jatuh terlempar di semak-semak. Dia tidak menoleh lagi ke belakang, tidak menyadari bahwa di atas atap rumah itu, siluet bayangan ular raksasa bermahkota emas sedang mengawasi gerakannya dengan tatapan mata penuh rasa lapar yang siap menuntut balas atas pelanggaran wilayah kekuasaannya.
Pak Darmo tidak pernah berhasil mencapai rumahnya malam itu. Rasa takut yang luar biasa merusak orientasi arah tindakannya. Bukannya mengikuti jalan setapak utama yang menuju dusun, langkah kakinya yang goyah justru membawanya melenceng masuk ke dalam area kebun kopi tua yang terbengkalai di kaki bukit—sebuah tempat yang dikenal warga sebagai wilayah sayap dari sendang keramat.
Kabut kelabu di dalam kebun kopi itu mendadak menebal hingga jarak pandang senternya tidak lebih dari satu meter. Cahaya senternya bergetar, menembus jalinan batang kopi yang meliuk-liuk seperti cakar iblis di dalam kegelapan.
Sreeet... sreeet... sreeet...
Suara itu kembali terdengar. Kali ini bukan dari dalam kamar, melainkan dari arah belakang punggungnya. Suara sesuatu yang berat, basah, dan bersisik sedang meluncur cepat di atas tumpukan daun kopi kering. Kecepatannya luar biasa, meliuk-liuk di antara sela-sela pepohonan, kian lama kian mendekat.
"Jangan... jangan mendekat...!" teriak Pak Darmo gila-gilaan. Dia mengacungkan senternya ke segala arah, namun cahaya kuningnya hanya menangkap bayangan-bayangan hitam yang bergerak cepat di batas jangkauan pandangan.
Tiba-tiba, kaki Pak Darmo tersangkut oleh seakar pohon yang menjalar di atas tanah. Tubuhnya tersungkur ke depan, berguling di atas tanah liat yang basah. Senter di tangannya terlepas, terlempar beberapa meter ke depan dengan posisi cahaya menembus langsung ke arah sebuah struktur bangunan tua yang berada di tengah kebun.
Itu adalah sumur tua dusun yang sudah mati sejak puluhan tahun lalu. Dinding sumur yang terbuat dari susunan batu kali hitam itu sudah retak-retak, ditumbuhi oleh lumut tebal dan tanaman rambat beracun. Mulut sumur itu menganga lebar tanpa penutup, memancarkan hawa lembap yang kental dari kedalamannya yang gelap.
Pak Darmo berusaha bangkit, namun tubuhnya mendadak membeku seolah-olah dia telah berubah menjadi patung batu.
Dari kegelapan di atas bibir sumur tua itu, sesosok tubuh perlahan-lahan menegakkan diri. Cahaya senter yang tergeletak di tanah menyorot tepat ke arah sosok tersebut dari bawah, menciptakan distorsi visual yang teramat mengerikan.
Itu Sekar—atau raga Sekar yang kini digerakkan sepenuhnya oleh insting reptil Kalingga. Dia tidak lagi mengenakan baju dengan benar; kain kebayanya compang-camping, menyingkapkan seluruh punggungnya yang kini telah berubah total menjadi hamparan sisik emas tua yang berkilat tajam di bawah sorot senter. Sisik-sisik itu berdenyut seirama dengan napasnya yang melepaskan asap belerang.
Lehernya berputar patah ke samping dengan sudut yang tidak wajar, menatap Pak Darmo dengan sepasang mata lentera kuningnya yang menyala gila.
“Kau... berani... mengintip... istanaku... manusia... cacing...?” sebuah suara berlapis tiga, dominan desisan ular yang berat, bergema langsung di dalam kepala Pak Darmo, meremukkan sisa-sisa pertahanan kesadaran manusianya.
Sebelum Pak Darmo sempat menjerit minta tolong, raga Sekar melompat dari bibir sumur dengan gerakan yang melanggar hukum gravitasi manusia. Dia menerjang maju seperti kobra yang melepaskan patukan maut. Kedua tangannya yang pucat dengan kuku-kuku hitam yang panjang mencengkeram erat bahu Pak Darmo, menjatuhkan pria itu kembali ke tanah dengan kekuatan yang mustahil dimiliki oleh seorang gadis desa.
Hhhssss...!!!
Dari dalam mulut Sekar yang membuka sangat lebar hingga engsel rahangnya terlepas, tidak keluar lidah manusia biasa. Ratusan ular kecil berwarna hitam mengkilat dengan mata merah menyala mendadak keluar merayap dari rongga tenggorokannya yang elastis. Ular-ular kecil itu merayap deras, menyerbu wajah, leher, dan dada Pak Darmo seperti air bah jahanam.
Jleeb... jleeb... jleeb...!
Miliaran taring kecil yang membawa racun batin tingkat tinggi menembus kulit Pak Darmo secara bersamaan. Pria itu tidak bisa berteriak; mulutnya langsung disumbat oleh gumpalan ular kecil yang memaksa masuk ke dalam saluran pernapasannya, memutus pasokan oksigen dan mengalirkan bisa dingin yang langsung membekukan aliran darahnya dari dalam.
Kulit tubuh Pak Darmo dalam hitungan detik berubah warna menjadi biru keunguan yang pekat. Matanya melotot liar, urat-urat di pelipis dan lehernya menonjol keluar, berwarna hitam pekat karena darahnya telah terkontaminasi total oleh racun anak-anak Kalingga. Tubuhnya bergetar hebat dalam kejang-kejang kematian yang singkat, sebelum akhirnya seluruh tanda kehidupan di dalam raganya padam total.
Setelah korbannya tak lagi bergerak, raga Sekar menyeret tubuh besar Pak Darmo dengan satu tangan yang sangat kuat, membawanya melintasi tanah kebun kopi, lalu melemparkannya tanpa belas kasihan ke dalam lubang menganga sumur tua dusun tersebut.
Byuuuarrr...!!!
Suara deburan air mati yang kental dari dasar sumur bergema pelan, diikuti oleh kesunyian murni yang kembali menguasai kebun kopi tua itu. Raga Sekar berdiri di bibir sumur, menjilat sisa-sisa cairan hitam yang menempel di jemarinya dengan lidah bercabangnya, sebelum akhirnya dia melangkah mundur, meliuk-liuk kembali menembus kabut menuju rumah panggungnya untuk melanjutkan proses transformasi jahanamnya yang kian sempurna.
Keesokan harinya, kepanikan massal meledak di dusun lereng Gunung Raung. Pak Darmo yang tidak kunjung pulang sejak semalam memicu pencarian besar-besaran oleh warga desa yang dipimpin oleh Wakijan.
Pencarian itu tidak memakan waktu lama, karena bau busuk dan anyir yang teramat pekat menuntun langkah warga langsung menuju ke dalam kebun kopi tua terbengkalai di kaki bukit. Di sana, mereka menemukan senter kuno milik Pak RT yang sudah mati kehabisan baterai, tergeletak di dekat ceceran lendir hitam yang berbau belerang.
"Wak... lihat ini...! Di dalam sumur...!" teriak salah satu pemuda desa dengan wajah yang memucat kaku, menunjuk ke dalam lubang sumur tua menggunakan bambu panjang.
Wakijan dan beberapa warga sepuh melangkah mendekat, menyalakan obor untuk menerangi kegelapan dasar sumur yang pengap. Begitu cahaya obor menyentuh permukaan air di dasar sumur, jeritan histeris dan tangisan ketakutan langsung pecah dari mulut para warga.
Di sana, mengambang di atas air mati yang hitam, tubuh Pak Darmo terbujur kaku dengan posisi yang sangat mengerikan. Seluruh kulit tubuhnya telah berubah warna menjadi biru legam seolah-olah telah direndam di dalam tinta raksa. Wajahnya membengkak hebat dengan sepasang mata yang melotot mati tanpa kelopak yang menutup, mengekspresikan horor mutlak pada detik-detik terakhir hidupnya.
Lebih mengerikan lagi, di sekujur kulit leher, wajah, dan lengan Pak Darmo, terdapat ribuan bekas luka gigitan kecil berbentuk lingkaran ganda yang terus mengeluarkan nanah kental berwarna kelabu berbau belerang panas. Tidak ada satu pun warga yang berani turun untuk mengevakuasi jenazah tersebut; mereka semua tahu bahwa luka-luka itu bukanlah hasil perbuatan binatang biasa yang ada di dunia nyata.
"Kutukan itu... Kutukan Istana Sisik Hitam telah kembali..." bisik Wakijan dengan bibir yang bergetar hebat hingga tubuhnya harus dipapah oleh warga lain. "Seseorang... seseorang harus mencari Bintang...! Jika pemuda itu tidak kembali sebelum malam Kliwon berikutnya, desa ini akan berubah menjadi kuburan massal bagi kita semua...!"
Di atas bukit, dari balik jendela kamar rumah , sepasang mata lentera kuning berkejap cepat di balik celah kayu, menyaksikan kepanikan warga di bawah sana dengan pancaran nafsu membunuh yang kian membesar seiring berjalannya waktu fana menuju kehancuran mutlak.
jgn2 sekar anak pungut
atau sengaja di tumbalkan
ibu nya sekar terlalu banyak diam
hubungan sekar dan ibu nya
tak harmonis ,
ada kisah rahasia apa disini
dgn keadaan sekar
mungkin ada perjanjian dgn dunia ghoib ,