NovelToon NovelToon
Jembatan Dosa

Jembatan Dosa

Status: tamat
Genre:Roman-Angst Mafia / Mafia / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:167.7k
Nilai: 5
Nama Author: Stanalise

Ketika target Pelenyapan nya, adalah cinta nya sendiri! Apakah ia mampu melenyapkan nya?
Keduanya cerdas namun memiliki cerita hidup yang menyimpang, tapi bagaimana jika persimpangan itu sendiri menyatukan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencintai Seorang Pembunuh

Ada perasaan tak rela, ketika Brian melangkah memasuki pesawat, meninggalkan Kota Saporo bersama Bella. Meskipun hanya dua minggu, Saporo adalah tempat yang paling berkesan, baginya dan Bella. Mereka duduk di kabin kedua pesawat. Bella bersandar di bahu Brian. Dalam hitungan menit mesin mulai menyala, pesawat mulai terbang menuju Kota Tokyo.

Setelah berjam-jam perjalanan, akhirnya tujuan mereka pun sampai, di bandara Kota Tokyo. Brian menggenggam tangan Bella, akhirnya setelah dua minggu, mereka kembali ke Tokyo. Mereka berjalan, beriringan keluar dari pesawat.

"Nic!" Gumam Bella, Brian hanya berdehem kecil.

"Antarkan aku ke apartemen aku ingin mengambil sesuatu disana!"

"Sesuatu Apa?"

"Berkas penting, sudah sembilan bulan ini masih disana, aku pun belum menyelidikinya."

"Penyelidikan? Apa yang sedang kau selidiki?"

"Hey, kau tidak tau?"

"Tau apa?"

"Padahal itu sudah disiarkan di media!"

"Sungguh aku tidak tau."

"Itu tentang... "

Bunyi ponsel membuat Brian beralih, dari pandangannya. Brian merogoh sakunya, mengambil ponsel didalamnya. Matanya terbelalak, melihat nama siapa yang tertera di layar itu

"Tunggu sebentar!" Ucap Brian pada Bella lalu meninggalkannya, Brian menatatap layar ponselnya, ternyata memang benar itu telfon penting.

"Halo, Tuan Brian"

"Bagaimana? Apa perlu waktu sembilan bulan membantai para keturunan mereka?'''

"Bukan begitu Tuan, hanya saja penjagaan di rumah mereka terlalu ketat"

"Tapi tugasku sudah selesai kan?"

"Beres tuan, semua selesai!"

"Bagus, kalian boleh kembali!"

"Tapi tuan, ada satu hal!"

"Apa?"

"Ada satu yang belum terbunuh, sepertinya dia ikut pergi ke Tokyo saat keluarganya bertugas!"

"Kebetulan aku sedang ada di Tokyo. Siapa satu orang ini? Biar kubereskan dia!"

"Dia anak dari keluarga Drew, Tuan. Seorang perempuan!"

"Kita tidak mengenal belas kasih bukan! Selesaikan misi ini. Kita senangkan kakek tua itu lalu beralih ke rencana B. Sebutkan siapa namanya?"

"Bella Alexandria Drew, anak dari detektif Brad sekaligus kakak dari detektif Stevan!"

Brian terkejut mendengar, satu nama yang di sebut oleh anak buahnya.

"Ka.. Kau tidak salah menyebutkan nama orang lain bukan ?"

"Tidak Tuan."

Brian tangannya bergetar, ketika mendengar nama target yang sedang disebutkan, oleh anak buahnya disebrang sana. Brian menutup telfonnya, pandangannya beralih kearah seorang gadis yang berada tak jauh darinya.

'Benarkah kau anak dari detektif yang sudah kubunuh? Jika benar, maka untuk berdiri di sampingmu sambil menggenggam tanganmu aku tidak pantas.' Jeritnya dalam hati.

Brian harus mengambil keputusan segera. Keputusan besar yang akan merubah segalanya. Tangannya menepuk bahu Bella, yang sedang membelakanginya.

"Siapa tadi yang menelfonmu ?" Tanya Bella.

"Itu tidak pentingkan, baiklah sekarang bagaimana jika kita istirahat sejenak ?"

"Kita sudah cukup istirahat bukan di dalam pesawat!"

"Ayolah, kita duduk sebentar di cafe dekat sini!"

"Tapi setelah itu, antarkan aku ke apartemenku!"

"Baik, dan setelah itu kita bertemu daddy mu kan? Jadwalmu padat sekali ya?"

"Aku hanya mengatur jadwal padat untuk hari ini kan?Lagipula jarang bagiku sibuk akhir akhir ini karenamu."

"Aku?"

"Apa sebegitu mengusiknya aku, hingga tidak membiarkanmu, mengerjakan apapun? Jadi selama ini aku hanya pengganggu?"

"Aku tidak menyebutmu pengganggu. Kau yang menyebut dirimu sendiri sebagai pengganggu!"

Mereka terus saja melontarkan beberapa candaan, sambil berjalan beriringan dengan santai, perlu waktu dua puluh menit bagi mereka untuk menemukan sebuah cafe yang tepat. Dengan senang, mereka masuk kedalam, dan duduk di bangku yang telah disediakan. Seorang waiters mendatangi mereka.

"Hey nona cantik!"

'Sial, pelayan muda itu menggoda gadisku' Batin Brian. Pelayan itu sedang mengulum senyum pada Bella.

"Terima kasih."

"Anda begitu cantik nona, sebelum saya mencatat pesanan anda, boleh kutahu siapa nama anda?" Cukup sudah, Brian tidak tahan melihat tingkah laku genit waiters di hadapannya itu.

"Dia Bella kekasihku dan aku Nico ! Sekarang catat pesanan kami, dan segera pergi dari hadapan kami!" ucap Brian kesal, Bella terkekeh geli saat melihat Brian memarahi waiters itu.

"Ba..baiklah Tuan, maaf anda ingin memesan sesuatu?"

"Kopi Capucino hangat satu, juice strawberry satu, dua es krim coklat, dan dua kentang goreng!"

"Sebanyak itukah?" Tanya Bella, Brian hanya mengangguk.

"Ada lagi? Apa anda butuh sesuatu nona?"

Bella menggeleng kecil dan tersenyum, cukup Brian harus mengusir manusia genit ini.

"Pergi dari hadapan kami sekarang juga! Kami akan memanggilmu jika kami membutuhkanmu! Sekarang cepat buatkan makanan kami!"

Dengan langkah terbirit birit, Waiters itupun pergi dari hadapan mereka, Bella tertawa kecil melihatnya.

"Apa yang sedang kau tertawakan?" Tanya Brian, dingin dan menatap mata teduhnya, sedang yang ditatap malah menahan tawanya.

"Kau!"

"Aku? Apa yang lucu?"

"Tentu saja lucu, kau memarahi seorang waiters yang hanya menanyakan namaku!"

"Itu tidak lucu, tidakkah kau lihat dia menggodamu tadi!"

"Kau cemburu?"

"Tidak!"

"Kau menyangkalnya, hey Jangkung, melihat caramu memarahi waiters tadi aku jadi takut kau membunuhnya."

"Berhenti memanggilku Jangkung!"

"Lalu apa? Nico? Ah itu tidak cocok aku lebih suka memanggilmu jangkung !"

Ocehan dari mulut Bella selalu bisa membuat Brian mengulum senyum. Dengan gemas, Brian mencubit pipinya, semua beban yang sempat di pikul tadi hilang begitu saja ketika melihat senyum Bella.

Apa benar Brian sanggup menghadapi keputusannya setelah ini, tidak Brian tidak boleh pesimis, semua yang Brian lakukan nanti untuknya, Brian menjauhkan tangannya dari wajah cantiknya itu.

"Aku pasti akan merindukanmu setelah ini!" Fikir Brian, sambil menatapnya dengan penuh kasih.

"Ada apa?" Tanya Bella dengan nada lembut.

"Tidak, aku hanya memikirkan sesuatu!"

"Oh iya? Boleh kutahu apa itu?"

"Entahlah, hanya pikiran konyol yang tiba tiba melintas!"

"Ayolah aku ingin tau apa itu?"

"Apa kau mencintaiku?" Tanya Brian serius.

"Konyol, tentu saja aku mencintaimu."

"Terima kasih, dan apakah kau akan percaya padaku, ketika aku mengatakan sesuatu ?"

"Aku percaya dan akan selalu percaya padamu, tapi ada apa? Kenapa kau tiba-tiba menyakan ini?"

"Satu lagi pertanyaan, ketika ada seseorang yang merebut orang orang yang kita sayangi, dan menghilangkan mereka dari dunia, apakah kesalahan seperti itu pantas dimaafkan?" Bella terlihat sedikit bingung ketika mendengar ucapan Brian.

"Sulit untuk memaafkan orang seperti itu. Kesalahan kecil mungkin bisa dimaafkan. Tapi kehilangan seseorang yang kita sayangi, karena orang lain. Maka orang yang melakukan hal itu, pantas menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatannya."

'Tentu saja kau tidak akan pernah memaafkanku jika mengetahui kebenaran sesungguhnya. Ini untuk yang terakhir kalinya untukmu dan untuk kita. Untuk kebaikanmu. Ini keputusan yang berat. Sebelum aku melangkah untuk menjalankannya, biarkan waktu yang singkat ini menjadi momen yang paling berkesan untuknya, biarkan waktu berhenti disini.' Batin Brian.

Brian bergerak meraih dagu tirus milik Bella. Mendekatkannya ke arahnya. Satu ciuman lembut di berikan Brian tepat pada kening Bella. Semoga Bella mengingat ini. Ini untuk yang terakhir, jerit Brian dalam hati. Cukup dengan mengenalnya selama sembilan bulan membuat segalanya berubah.

Lancang bagi Brian jika meminta lebih dari semua yang tuhan berikan padanya. Satu gadis yang begitu berani datang di hidupnya, menjungkir balikkan dunia nya. Brian tidak akan melupakannya. Sepertinya cukup sampai disini baginya.

"Nic, apa yang kau lakukan ?" Protes Bella ketika Brian mengakhiri ciuman itu.

"Apa yang salah ?"

"Memang kau tidak salah, tapi tempatnya yang salah!"

"Apa kau akan pulang ke rumah pinggir pantai?"

"Tentu saja!"

"Tinggallah di apartemenmu!"

"Apa kau mengusirku?"

"Tidak, tapi tinggallah disana untuk dua atau tiga hari!"

"Jika aku menolak?"

"Entah apa yang akan kulakukan padamu, mungkin satu ciuman lagi untuk hari ini!"

"Tidak, baiklah aku akan tinggal selama dua hari disana!"

"Bagus itu baru gadis baik!"

Tak lama seorang waiters datang membawa nampan nampan berisikan makanan yang sudah Brian pesan tadi. Tepat ketika waiters itu berhenti, di hadapan mereka makanan pun disajikan.

"Selamat menikmati hidangannya!" Ucap waiters lalu berlalu.

"Untung saja bukan pemuda tadi yang kemari! Jika tidak mungkin dia akan tamat!"

"Kau kejam!"

"Biarlah daripada melihatmu jatuh kepelukan orang lain."

Bella menyentuh lembut tangan kiri Brian, menatap penuh ke arah mata Brian dan tersenyum.

"Aku hanya tertarik padamu!"Brian mengusap lembut surai Bella, dan tersenyum.

"Aku senang mendengar itu ayo kita makan sekarang!"

"Tentu!"

_____0_____

...Tidak ada yang lebih menyakitkan...

...daripada dikecewakan oleh satu orang...

...Yang kamu pikir tidak akan pernah menyakitimu...

Kepala Brian tertunduk melihat sebuah batu berbentuk salib bertuliskan Brad Drew. Bella berjongkok menyentuh batu itu. Tangan putihnya itu, mulai mengusap batu itu. Tak jarang setitik air mata turun dari matanya. Hal inilah yang menjadi kelemahan Brian, melihat kelopak mata teduh itu kembali meneteskan berliannya.

"Daddy, ini Bella datang, sudah sembilan bulan Daddy tak disini bersamaku, Stevan pun sama. Aku merindukan kalian berdua, tapi kali ini aku datang bukan untuk menangis, melainkan untuk meminta restumu. Dad ini Nic, lebih tepatnya Nicolas. Dia kekasihku lihatlah. Dia tampan bukan?"

Bella menyentuh tangan Brian. Brian menatap sendu gadisnya itu. Tepat di hadapan makam ini, Brian merendahakan dirinya. Berjongkok sama seperti yang Bella lakukan. Perasaan iba datang begitu saja.

"Tuan Alexander Brad Drew, saya Nico senang bisa bertemu dengan anda, saya berjanji akan menjaga anak anda mulai saat ini!"

"Daddy, dia pemuda yang baik bukan? Tolong, restui kami Daddy, dia sangat mencintaiku!"

Bella menangis sesenggukan, satu tarikan kecil membawanya masuk dalam rengkuhan Brian. Brian mencoba menenangkannya. Setelah cukup tenang, Brian melepas pelukan itu, mengajaknya berdiri, perlahan Bella pun mulai menceritakan tragedi pahit, yang menimpa keluarganya. Brian menahan rasa sakit yang menghantam hatinya, setiap kali air mata Bella turun, pahitnya hidup yang dirasakan Bella terjadi kerenanya.

"Ini terlalu cepat bagiku!"

"Ceritakan padaku apa yang terjadi pada mereka?" Brian ingin mendengar realita pahit itu langsung dari Bella, meskipun dirinya pun tau akan kenyataan pahit itu.

Bella mulai mengatur nafasnya yang mulai sesak karena menangis. Ia menarik nafas dan mebuangnya perlahan.

"Malam itu tepat dihari ulang tahun adikku, aku sengaja datang ke kantor polisi tempatnya bertugas dengan daddy, dengan membawa kue dan harapan yang ada di hatiku. Aku begitu bahagia saat itu, tapi ketika aku tiba di kantor polisi, kantor bagian atas tempat itu meledak. Mereka bilang ada bom di ruangan itu. Mereka bilang, ini semua perbuatan seseorang! Aku tidak tau siapa? Keluargaku tidak bersalah! Kenapa harus dihukum! Dengan cara yang begitu keji! Sejak hari itu aku bertekad untuk mencari tau, siapa dalang dibalik peristiwa itu! Aku ingin mereka mendapat balasan yang setimpal!"

"Apa kau ingin membunuhnya?"

"Aku? Tidak, masalah buronan itu cukup diserahkan pada polisi. Mereka yang akan menghukumnya, tapi kami tidak akan memberikan keringanan pada bos mereka!"

Sejenak Brian memejamkan matanya, mencerna setiap kata yang diucapkan Bella. Brian merogoh sesuatu di saku jaket miliknya, sebuah pistol. Mata Bella membulat ketika melihatnya,Brian mengarahkan pistol itu kearahnya dan menatapnya serius.

"Kenapa kau? Untuk apa itu?" Tanyanya.

"Sekarang jangan bicarakan apapun, termasuk cinta. Kita lupakan itu sejenak! Dan dengarkan aku. Kau, begitu membenci dalang dari semua ini bukan? Baik, kuberikan kau satu kesempatan! Jika dalang dari peristiwa sembilan bulan lalu, adalah aku! Maka, aku, ingin dihukum tepat dihadapanmu! Atau kau boleh membunuhku nanti! Tapi untuk saat ini, biarkan aku mengurus kepala organisasi ini!"

"Apa maksudmu ?" Pandangannya begitu bingung, Brian meraih satu tangan Bella memberikan pistol itu pada Bella.

"Untuk apa ini?"

Brian tidak menjawab pertanyaannya. Brian menyerahkan pistol itu ditangannya. Mengarahkan pistol itu tepat, ke arah jantungnya.

"Aku Brian, anggota dari organisasi yang sekarang sedang diburu di Amerika! Aku juga sudah, meledakkan kantor polisi itu. Aku ingin menebus dosaku dengan mati di tanganmu."

"Tidak, kau bohong kan?"

"Kenapa aku harus berbohong Bella?"

"Tidak aku tidak percaya! Kau pemuda baik, bagaimana mungkin tanganmu tega melenyapkan seseorang? Kau bohongkan?!!"

"Sayangnya kali ini aku tidak berbohong!"

Bella terkejut mendengar itu, bagaimana mungkin. Bella begitu sibuk mencari tau dalang dibalik tragedi pembunuhan keluarganya, namun orang yang ia cari adalah pemuda yang begitu ia cintai. Terluka, ya Bella benar benar terluka akan kenyataan pahit yang Brian lontarkan.

PLAKK

Tamparan keras melayang begitu saja dari tangan Bella. Tangan itu yang selalu memanjakan Brian kini melayang begitu saja ke arahnya.

'Maafkan aku, tapi memang seperti ini realita-nya. Dari awal aku yang memulai, sekarang aku juga yang harus mengakhirinya.' Batin Brian.

"Kenapa kau lakukan ini ?" Tanya Bella, Brian mencoba tetap tenang sambil menatapnya.

"Kau boleh melakukan apapun padaku ! Tapi tahan itu sebentar, aku akan pergi mengalahkan Tetua Shawn dan menyerahkannya padamu! Lalu, aku akan menyerahkan diri padamu! Saat itulah keputusan ada di tanganmu!"

"Baru saja kau mengatakan pada daddy kau akan menjagaku! Apa itu palsu?"

"Tidak! Itu benar, aku akan menjagamu. Shawn adalah ancaman terbesar dalam hidupmu! Menyingkirkan dia, adalah salah satu cara memberimu kebebasan!"

"Kenapa kau berbohong!!! Aku benar benar menbencimu!!!" Bella berlutut. Ia terisak dan terus menyumpah.

Brian mencoba mengacuhkan setiap ucapan pahit yang Bella lontarkan. Berpura pura tidak mendengar apapun yang dia katakan. Brian melangkah pergi, meninggalkan Bella yang begitu rapuh. Sakit memang melihat Bella seperti itu. Tapi keputusan Brian sudah bulat. Ia harus membereskan Shawn secepatnya! Dia sudah benar benar keterlaluan.

..."Hubungan tidak selamanya manis bukan? Akan ada luka yang membuatnya semakin kuat... Akan ada kebahagiaan yang membuatnya kian berwarna dan berarti."...

..._____0_____...

...Jangan lupa beri suara yaa gaes, terima kasih...

1
Andriani
baca dulu
Andriani
hadir kk
ʝσуα♉
apa bryan punya dendam kesumat atau aga kurang anu sehingga menganggap di dunia hanya ilusi
ʝσуα♉
bryan manusia apa jelmaan ya🤔
🗿
knp jdi dikurang sih si bryan? emm penasaran gwe jadinya,

wiihh ngomong² nm nya sama gwe thor hahahaa...

kaget gwe pas pertama bca..
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦💜⃞⃟𝓛 ѕнαѕ⍣⃝✰ˢ⍣⃟ₛ
bersyukur edie dan Brian membawa mereka semua ke jalan yg benar yaa..tak lagi berada di dunia hitam
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦💜⃞⃟𝓛 ѕнαѕ⍣⃝✰ˢ⍣⃟ₛ
bellaaa apakah kau tidak mengenali yg menjemput itu Brian 😔
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦💜⃞⃟𝓛 ѕнαѕ⍣⃝✰ˢ⍣⃟ₛ
dan suprise akan segera menunggumu di sana bella..kejutaaaaaannnn
Deniayu ajah⚞⚟🧕🤑💦
kok perasaan ku gak enak sama pelayan yg ngasih minuman itu jangan jangan ramuan peluruh kandungan dari Nami, selamat ya Bella dan Brian pasti kamu senang Stevan dpt ponakan
Deniayu ajah⚞⚟🧕🤑💦
Nami bener bener sangat licik,Stevan kamu harus extra hari hati menyelidiki reiner
Deniayu ajah⚞⚟🧕🤑💦
Stevan Janagn mudah goyah ma rayuan Nami,Janagn buat kakakmu kecewa
Doͥctͣoͫr•ន𝑎𝗻𝐝ī🦅
Bau² nya bakal berjodoh ni Brian dan Bella 🚴🏻‍♂️🚴🏻‍♂️
@Ani Nur Meilan
Brian tenyata masih hidup namun Bella tidak mengetahui nya...
@Ani Nur Meilan
Bagaimana nasib Brian loloskah dari hukuman itu🤔🤔🤔
Doͥctͣoͫr•ន𝑎𝗻𝐝ī🦅
Si tajam dan si teduh, cie uda saling melengkapi ni🤭
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ 𓆈
ya itu benar, dan setiap pertemuan pasti ada perpisahan
Doͥctͣoͫr•ន𝑎𝗻𝐝ī🦅
Sudah jelas itu pasti target keturunan nya si Bella, haduh ini parah ini, sgala jenis buntut dan ekor mw di habiskan pdahal gk punya salah kejam sekali si tua bangka itu 🙄🗿
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ 𓆈
dunia ini panggung sandiwara kata nike
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ 𓆈
hadehh sekuat kuatnya wanita pasti pingsan juga,, krn mereka hanya berusaha untuk tetap kuat, namun mereka tidak tau, wanita diciptakan dengan kelembutan 🤣
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ 𓆈
sayang banget berlian cuma buat diduduki🚶‍♂️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!