Kehidupan seorang anak yang terus diremehkan. Di bully, karena miskin. Berpenampilan tidak menarik dan tampak tidak sehat.
Gavino adalah nama anak laki-laki tersebut. Yang secara kebetulan, mendapatkan keberuntungan dengan adanya sistem mafia yang hadir dalam otaknya.
Apakah Gavino bisa menjadi kuat, sama seperti seorang mafia yang hebat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Penculikan
Semua berjalan sebagaimana mestinya. Dan yang memang harus terjadi, tetaplah terjadi. Tidak ada seorang pun yang mampu membuatnya harus terhenti atau pun terlewati.
Karena semua hal, juga sudah ditentukan oleh takdir Tuhan Yang Maha Esa.
*****
Dua bulan kemudian.
"Bi. Nanti malam dinner yuk!"
Bianca menoleh kebelakang, di mana seseorang sedang mengajaknya bicara.
Ternyata, itu adalah Alano. Dia sudah sudah sembuh, dan kembali beraktivitas seperti biasa di sekolah.
Tidak ada yang berubah dari perilaku dan kebiasaannya selama ini.
Tapi yang paling menonjol adalah, dia tidak lagi mem-bully dan menindas Gavino. Sama seperti biasanya, waktu dulu.
Bukan karena Alano yang memang benar-benar sudah berubah. Atau dia tidak lagi berani untuk menghadapi Gavino. Tapi ini adalah, salah satu rencana yang telah dia susun bersama dengan kawan-kawannya.
Apalagi sekarang ini, kehidupan Gavino sudah tidak lagi sama seperti dulu.
Dia sudah membeli rumah, di salah satu komplek perumahan besar. Yang ada di kota Roma ini.
Kedua orang tuanya, juga sudah dia jemput untuk ikut tinggal bersama dengannya di rumah tersebut. Dengan beberapa pembantu rumah tangga, yang dia pekerjaan untuk mengurusi urusan pekerjaan yang ada di rumahnya.
Kehidupan Gavino yang benar-benar tidak lagi sama seperti dulu, memang sudah tersebar di sekolahnya. Sehingga dia tidak lagi diremehkan lagi seperti dulu.
Tapi ternyata, semua itu tidak bisa membuat geng Alano menerima kenyataan ini.
Mereka semua, justru lebih merasa sangat dendam. Pada Gavino, yang sudah mengalahkan ketenaran mereka di sekolah.
Apalagi, mereka juga masih memendam rasa penasaran dan ingin tahu. Apa dan bagaimana caranya Gavino bisa secepat itu berubah. Baik dari segi fisik, finansial, dan semua kekuatan yang luar biasa.
Mereka semua masih berpikir bahwa, Gavino memiliki ilmu sihir atau semacam ilusi. Sehingga dia bisa mempengaruhi orang-orang yang ada di sekitarnya. Supaya mereka dapat bersimpati, kemudian terpengaruh dengan ajakan Gavino.
Ini karena teman mereka, Dante dan Jeffrie, jadi berpihak dan berteman baik dengan Gavino.
Sejak Dante dan Jeffrie keluar dari rumah sakit pada waktu itu, mereka berdua tidak lagi mau dekat-dekat dengan Alano dan kawan-kawannya.
"Kamu mau kan Bi?" tanya Alano, karena ajakannya tadi tidak direspon oleh Bianca.
"Kamu bisa ajak Madalena atau Violetta. Dia kan teman Kamu," jawab Bianca datar.
"Tapi ini ajakan dinner Bi. Bukan makan malam biasa. Dan Aku mau ajak Kamu sebagai seseorang yang spesial di hatiku."
Bianca tidak langsung menyahuti perkataan yang diucapkan oleh Alano. Dia tahu jika, saat ini Alano sedang berusaha untuk mencari simpati darinya.
"Aku ada acara."
Penolakan secara tidak langsung ini, membuat Alano marah. Tapi, dia tentu saja tidak langsung mengatakan apa yang sekarang ini dia rasakan.
Alano mencoba untuk menahan amarahnya, dengan mengatupkan mulutnya. Sehingga rahangnya mengeras.
"Bisa kan acaranya di cancel?"
Dia masih mencoba untuk berbicara dengan baik-baik, agar Bianca mau menerima ajakannya tadi.
"Maaf Al. Aku tidak bisa."
Akhirnya, Alano pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. Karena Bianca masih saja menolaknya.
'Awas Kamu Bi. Lihat saja, apa yang akan Kamu terima sebagai balasan, karena telah menolakku.'
Alano mengeratkan kepalan tangannya, tanda jika dia sedang menahan amarah. Dia ingin menghajar seseorang, yang saat ini menjadi penyebab utama Bianca menolaknya.
'Semua ini gara-gara Kamu Gavin! Kamu harus menerima akibatnya?'
Begitulah kira-kira, pikiran dan amarah yang ada di dalam hatinya Alano. Dia akan melakukan apa saja, untuk bisa melampiaskan kekesalannya pada Gavino.
Dan untuk semua ini. Alano sudah mempersiapkan segala sesuatunya, sesuai dengan rencana yang sudah dia lakukan bersama dengan kawan-kawannya.
'Bersiaplah untuk mampus Gavin!'
*****
Di sebuah bangunan yang tidak lagi terurus. Tampak beberapa meja dan kursi yang sudah tidak berbentuk lagi secara benar.
Ada beberapa barang, yang juga ada di tempat itu. Tapi semuanya juga tidak bersih. Karena debu tebal ada menempel pada barang tersebut.
Tapi itu tidak membuat beberapa orang risih. Mereka sedang menunggu temannya, yang sedang menjemputnya target.
Salah satu dari mereka menghubungi temannya yang sedang bertugas.
Tut tut tut!
..."Halo Bos."...
..."Bagaimana?"...
..."Ada Bos. Sedang dalam pantauan."...
..."Tetap hati-hati, dan jangan melakukan kesalahan apapun!"...
..."Siap Bos!"...
Klik!
Panggilan telpon tersebut tertutup. Orang yang disebut dengan panggilan Bos, tampak menghela nafas panjang, kemudian senyuman misterius tampak di sudut bibirnya.
"Kamu tidak akan bisa dekat lagi dengan Dewa_mu lagi. Hahaha..."
Dua orang yang sedang ikut bersama dengannya di tempat itu, juga ikut tertawa senang. Karena keinginan mereka semua, akan segera terwujud tidak lama lagi.
*****
Di tempat yang lain.
Kepergian Bianca dari rumah ke tempat yang dia tuju, ternyata sudah di awasi sedemikian rupa. Sehingga setiap pergerakannya juga bisa di pantau.
Karena malam ini Bianca membawa mobil sendiri, dia pun tidak tampak khawatir dengan keadaan dirinya. Karena biasanya dia mengunakan supir, sehingga merasa merepotkan orang lain. Jika acara yang dua hadiri berlangsung lama.
'Semoga mama dan papanya Vin tidak mempermasalahkan diriku.' Batin Bianca dalam hati.
Ternyata, malam ini dia bersama dengan Lorenzo dan sepupunya Dante, akan bersama-sama datang ke rumah Gavino.
Mereka akan merayakan kedatangan kedua orang tuanya Gavino di rumah tersebut. Karena memang baru semingguan ini, Giordano dan Mirele ada di kota Roma. Dengan bertempat tinggal di rumah anaknya. Yaitu di rumah baru Gavino, yang besar dan ada di kompleks perumahan elit juga.
Sebenarnya, Gavino ataupun sepupunya Dante, sudah menawari untuk menjemput Bianca.
Tapi Bianca sendiri yang tidak mau. Dia ingin merasakan kebahagiaan dengan menyetir mobil sendiri. Ke rumah Gavino. Cowok yang dia kagumi sedari awal.
Rencananya, Lorenzo akan menjemput Dante terlebih dahulu, sebelum mereka semua datang ke rumah Gavino. Sedangkan Bianca, akan datang sendiri. Karena dia tidak mau ada yang menjemputnya ke rumah.
Tapi semua rencana tinggal rencana.
Bianca tidak sadar jika, ada sesuatu yang akan terjadi pada dirinya kedepannya nanti.
Dan benar saja, di sebuah jalan yang akan dia lalui, terjadi sesuatu yang mengakibatkan mobilnya tidak bisa melalui jalan tersebut. Sehingga dengan terpaksa harus membelok ke arah jalan yang lain, untuk bisa sampai ke tujuan.
"Hufhhh... kenapa harus ada penutupan jalan? Kan jadi memutar ini."
Bianca bergumam seorang diri, tanpa merasa curiga sedikitpun. Jika sebuah mobil, sudah ada di belakangnya. Dan siap untuk mengeksekusi target. Yaitu Bianca sendiri, yang dijadikan sebagai target mereka.
Citttt!
Bruakkk!
Mobil Bianca oleng ke samping kiri, dan menabrak pembatas jalan. Pada saat mobil yang tadi ada di belakangnya, melaju dengan kecepatan tinggi, kemudian menyalip ke posisi depan dan berhenti secara mendadak.