Seorang pemuda dari Bumi modern bangun untuk menemukan dirinya di planet Blue star.
Setelah menyeberang ke dunia pararel, dia mengetahui bahwa di dunia ini hidup berdampingan dengan Pokemon.
Tapi, dia sadar dunia ini tidak lah seindah seperti yang kita tonton, karena Di setiap Sudut dunia sesuatu yang gelap sedang mengawasi, dan bagaimana dengan Arceus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Deino tidak langsung bangkit. Ia terbaring lemas di karpet, napasnya perlahan menjadi teratur. Rasa sakit yang membakar di punggung dan kakinya telah berubah menjadi rasa gatal yang tumpul dan hangat. Untuk pertama kalinya dalam entah berapa lama, rasa sakit itu terasa... menyembuhkan, bukan merusak.
Naga buta itu mengangkat kepalanya sedikit, mengarahkan hidungnya ke arah James. Kali ini tidak ada geraman. Ia mengendus. Bau darahnya sendiri bercampur dengan bau pemuda itu.
James melihat layar panel sistem yang melayang di atas kepala Deino.
[ Kondisi: Cedera Berat (Stabil), Infeksi (Menurun), Kelelahan Ekstrem ]
"Kau akan hidup," kata James pelan, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Dan kau akan menjadi monster yang mengerikan, Deino. Aku janji itu."
James bangkit berdiri, kakinya terasa kaku. Dia melihat jam dinding. Pukul 02.15 pagi.
Dia mengambil handuk basah dan mulai membersihkan noda darah di karpet. Dia harus menghilangkan semua bukti. Jika Jack masuk besok pagi dan mencium bau darah atau melihat noda ini, dia akan curiga. James menyemprotkan sedikit pengharum ruangan beraroma jeruk—tidak terlalu banyak agar tidak mencurigakan, cukup untuk menyamarkan bau anyir yang tersisa.
Setelah selesai membersihkan lantai, James memandang Deino lagi. Dia tidak bisa membiarkan Deino tidur di lantai yang dingin tanpa alas.
James mengambil selimut cadangan dari lemari—selimut tebal berwarna biru tua. Dia melipatnya menjadi alas tidur yang empuk dan meletakkannya di sudut ruangan yang paling gelap, tersembunyi di balik lemari pakaian besar.
"Pindah ke sana," perintah James, menepuk selimut itu.
Deino tidak bergerak. Tentu saja, dia tidak mengerti bahasa manusia sepenuhnya, apalagi perintah kompleks.
James menghela napas, lalu dengan hati-hati mengangkat tubuh Deino. Naga itu tersentak kaget, ototnya menegang, tetapi dia tidak menggigit. Dia membiarkan dirinya diangkat. Ternyata tubuhnya sangat ringan, jauh lebih ringan dari yang seharusnya untuk Pokemon seukurannya. Tulang-tulangnya terasa menonjol di bawah kulit. Malnutrisi parah.
James meletakkan Deino di atas selimut empuk itu. Begitu merasakan kelembutan kain di bawah tubuhnya yang sakit, Deino secara naluriah meringkuk, menyembunyikan hidungnya di balik ekornya. Kehangatan. Sesuatu yang mewah yang jarang dia rasakan.
"Tidurlah. Besok kita mulai neraka yang sebenarnya," bisik James. "Kita harus membuatmu kuat sebelum ada yang menyadari kau ada di sini."
James mematikan lampu meja, membiarkan kegelapan menyelimuti ruangan lagi. Cahaya lembut dari akuarium Magikarp memberikan satu-satunya penerangan, memproyeksikan bayangan air yang bergoyang di dinding.
Di dalam akuarium, Magikarp emas itu melayang diam, matanya yang besar menatap ke arah sudut tempat Deino tidur, seolah menyambut anggota keluarga baru yang berbahaya itu.
James berbaring di tempat tidurnya sendiri, menatap langit-langit. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya berpacu. Dia sekarang memiliki Magikarp Emas (calon Gyarados Merah), Ditto (agen spionase serba bisa), dan Deino (calon Hydreigon, penghancur massal).
Tim ini... tim ini adalah kumpulan orang buangan. Ikan yang dianggap sampah, gumpalan lendir yang dianggap lemah, dan naga buta yang dianggap cacat.
"Sempurna," gumam James sebelum kesadaran akhirnya meninggalkannya, menyeretnya ke dalam tidur tanpa mimpi.
Sinar matahari pagi menembus celah tirai, menusuk mata James. Dia terbangun dengan sentakan, jantungnya langsung berpacu.
Deino!
Itu adalah pikiran pertamanya. Dia langsung menoleh ke sudut ruangan di balik lemari.
Kosong.
Keringat dingin membasahi punggung James. Kemana perginya? Apakah dia keluar? Apakah dia menyerang seseorang?
"Krrrk..."
Suara garukan pelan terdengar dari bawah tempat tidurnya.
James menghela napas lega, bahunya merosot. Dia menunduk dan mengintip ke kolong tempat tidur.
Di sana, dalam kegelapan yang sempit dan berdebu, dua mata kecil yang tertutup bulu balas "menatapnya" (atau lebih tepatnya, mengarah padanya). Deino telah menyeret dirinya dan selimutnya ke bawah tempat tidur James. Tempat yang sempit, gelap, dan tertutup—sebuah gua buatan yang membuatnya merasa aman.
Sudut bibir James terangkat. "Anak pintar. Kau tahu cara bersembunyi."
Tepat saat itu, ketukan pintu terdengar.
Tok. Tok. Tok.
"Tuan Muda James? Anda sudah bangun?" Suara Jack terdengar dari balik pintu, sopan namun dengan nada menyelidik yang halus.
Wajah James berubah drastis dalam sekejap. Ekspresi kepedulian dan ketajaman seorang pelatih lenyap, digantikan oleh ekspresi malas, manja, dan sedikit bodoh dari tuan muda yang depresi dan gila.
"Argh... berisik sekali!" teriak James dengan suara serak, sengaja dibuat terdengar kesal. "Masuk! Kenapa kau mengetuk pintu rumahku sendiri?!"
Pintu terbuka. Jack melangkah masuk dengan nampan sarapan di tangannya. Dia memindai ruangan dengan cepat—kebiasaan mata-mata yang menyamar sebagai pelayan. Matanya menyapu lantai (bersih), tempat sampah (kosong), dan tempat tidur.
"Maaf, Tuan Muda. Saya hanya khawatir karena Anda tidak turun untuk sarapan. Ini sudah jam sembilan," kata Jack sambil meletakkan nampan di meja.
"Aku begadang main game," gerutu James, melempar selimutnya dan duduk. Dia menguap lebar, diam-diam melirik ke arah bawah tempat tidur. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Deino sepertinya mengerti bahwa ada predator lain di ruangan ini—predator yang lebih berbahaya daripada dirinya saat ini.
Jack tersenyum, senyum profesional yang tidak mencapai matanya. "Tentu saja. Oh, saya melihat Anda membeli beberapa... barang kemarin. Apakah Anda membutuhkan bantuan untuk merapikannya?"
"Tidak usah!" bentak James, mengambil roti bakar dari nampan dan menggigitnya kasar. "Itu koleksiku. Jangan sentuh apapun. Keluar sana, wajahmu membuatku mual."
Jack membungkuk sedikit, menyembunyikan kilatan dingin di matanya. "Baik, Tuan Muda. Saya akan menyiapkan makan siang nanti."
Saat Jack berbalik dan menutup pintu, James berhenti mengunyah. Dia menunggu sampai langkah kaki Jack menjauh di lorong.
Dia kemudian menelan roti itu dengan susah payah. Akting ini melelahkan, tapi perlu.
"Aman," bisik James ke arah kolong tempat tidur. "Dia sudah pergi."
Dari bawah tempat tidur, terdengar suara dengusan pelan sebagai jawaban.
James kemudian melihat ke panel sistemnya lagi, kali ini memeriksa detail misi atau pencapaian. Dia terkejut melihat notifikasi kecil yang berkedip di sudut pandangannya, sesuatu yang tidak dia perhatikan tadi malam karena terlalu fokus pada operasi medis.
[ Pencapaian Terbuka: The First Blood Bond ] [ Deskripsi: Berhasil menyelamatkan dan mendapatkan kepercayaan awal dari Pokemon Pseudo-Legendary yang terluka parah. ] [ Hadiah: Peningkatan afinitas elemen Naga (Kecil) - Aura Anda sekarang sedikit lebih menenangkan bagi Pokemon tipe Naga. ]
James menyentuh dadanya. Afinitas elemen Naga? Pantas saja Deino tadi malam berhenti meronta lebih cepat dari yang diperkirakan. Di dunia ini, karisma dan aura pelatih adalah hal nyata yang bisa mempengaruhi pertumbuhan Pokemon.
"Bagus," pikir James. "Ini baru permulaan."
Dia menarik koper besar dari lemari pakaiannya dan membukanya. Di dalamnya bukan pakaian, tapi tumpukan Power Anklet (Gelang Pemberat) dan Focus Band yang dia beli di pasar gelap kemarin bersamaan dengan pembelian Deino (dia membelinya dari pedagang lain agar tidak mencurigakan).
Dia perlu melatih Deino. Tapi Deino tidak bisa berjalan jauh. Dia harus mengubah kamar ini menjadi gym rehabilitasi rahasia.
"Ditto, keluar," panggil James.
Ditto meluncur keluar dari saku jaket yang tergantung di kursi, berubah menjadi bentuk aslinya yang kenyal.
"Gluu?"
"Kita punya pekerjaan rumah," kata James sambil menunjuk Deino yang mulai merangkak keluar dari kolong tempat tidur karena mencium bau sosis di nampan sarapan James. "Kita harus mengajari naga buta ini cara 'melihat' tanpa mata. Dan kau, Ditto, akan menjadi samsak tinjunya."
Ditto membelalakkan matanya yang berupa titik hitam, lalu tubuhnya meleleh sedikit seolah berkata: Nasibku begini amat.
James tersenyum menyeringai. Latihan neraka dimulai hari ini.