NovelToon NovelToon
KUTUKAN GAUN PENGANTIN

KUTUKAN GAUN PENGANTIN

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Kutukan / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 27

​Pagi itu, suasana di dalam sanggar rias terasa jauh lebih sepi dan lengang dari biasanya.

​Anindiya tiba seperti biasa: memutar kunci pintu depan, menyalakan deretan lampu ruangan, lalu mulai merapikan meja rias dan menyiapkan perlengkapan untuk klien yang sudah membuat janji. Namun, ada yang mendadak membuat dadanya terasa hampa.

​Rina belum juga datang.

​Biasanya, sebelum Anindiya tiba, Rina sudah lebih dulu membukakan sanggar. Kalaupun berhalangan atau terlambat, gadis itu selalu rajin mengirim pesan singkat atau menelepon.

​Hari ini amat berbeda.

​Jarum jam sudah menunjuk angka delapan pagi. Belum ada satu pun kabar dari Rina.

​Anindiya mengambil ponsel dari dalam tasnya lalu mencoba menghubungi nomor sang asisten. Nada sambung terdengar memanggil beberapa kali, namun tak ada sahutan dari ujung sana. Ia kembali mencoba beberapa menit kemudian, hasilnya tetap nihil.

​"Mungkin masih ketiduran," gumamnya menenangkan diri sendiri.

​Meski begitu, benih-benih rasa cemas mulai merayapi benaknya. Selama bekerja bersamanya, Rina dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin dan bertanggung jawab. Gadis itu hampir tak pernah bolos, apalagi menghilang tanpa kabar berita begini.

​Anindiya menekan tombol panggil sekali lagi. Kali ini, hanya suara dingin mesin operator yang menyapa, memberitahukan bahwa nomor yang dituju sedang tidak dapat dihubungi. Ia menghembuskan napas panjang.

​Sepanjang pagi hingga siang, fokus Anindiya terpecah belah. Meski tangannya tetap telaten memoles riasan ke wajah pelanggan, sesekali matanya terus mengerling ke arah ponsel di atas meja—berharap ada denting pesan masuk dari Rina.

​Nihil.

​Makin sore, rasa gelisah di dadanya kian bergulung hebat. Anindiya sempat bertanya ke beberapa rekan kerja dan kenalan Rina, namun tak seorang pun tahu keberadaannya.

​Begitu pelanggan terakhir melangkah keluar, Anindiya bergegas membereskan alat-alat kosmetiknya. Ia memilih menutup sanggar lebih awal hari ini. Dalam pikirannya kini hanya ada satu tujuan rumah Rina.

​Perjalanan menembus jalanan kota menuju kediaman Rina memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Sepanjang perjalanan, kepala Anindiya terus berputar mencari dugaan logis.

​Mungkin dia mendadak sakit. Atau kelelahan berat. Atau mungkin, pasca-kejadian tragis yang menimpa Lestari kemarin, psikologis Rina benar-benar terguncang hebat dan mengalami syok berat.

​Sang surya mulai bergulir ke ufuk barat saat mobil Anindiya memasuki gang pemukiman tempat Rina tinggal. Suasana sore di perkampungan itu tampak tenang. Beberapa anak kecil masih asyik bermain di halaman, sementara beberapa ibu tetangga duduk santai mengobrol di teras.

​Anindiya memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah sederhana milik Rina. Pintu depan rumah itu tampak sedikit terbuka namun suasananya terasa sangat sunyi.

​Anindiya melangkah mendekat lalu mengetuk daun pintu kayu itu pelan. "Permisi... Rina?"

​Tak berselang lama, seorang ibu paruh baya keluar dari rumah sebelah dengan raut wajah cemas. "Mbak ini... temannya Rina, ya?"

​"Iya, Bu. Saya Anindiya," sahutnya sopan.

​Ibu tetangga itu langsung mengangguk lega. "Duh, syukurlah Mbak datang. Hari ini Rina sakit parah, Mbak."

​Anindiya tersentak kaget. "Sakit, Bu?"

​"Iya. Sejak semalam demamnya tinggi sekali. Kami warga sini sudah bantu kasih obat penurun panas, tapi belum ada perubahan."

​Tanpa membuang waktu, Anindiya bergegas melangkah masuk ke dalam rumah. Kediaman itu sangat sederhana namun terawat rapi. Suasananya begitu senyap.

​Anindiya paham betul bahwa Rina hidup sendirian di dunia ini. Ayah dan ibunya sudah lama berpulang, dan sejak saat itu Rina berjuang mandiri dengan bantuan serta kasih sayang dari tetangga sekitar yang peduli padanya.

​Namun, begitu Anindiya menggeser pintu kamar Rina, langkah kakinya seketika terkunci kaku.

​Rina terbaring lemah di atas kasur. Wajahnya amat pucat pasi bagai kertas, bibirnya mengering dan pecah-pecah, sementara helai rambutnya basah kuyup oleh peluh dingin. Suara helaan napasnya terdengar memburu dan berat.

​Anindiya cepat-cepat mendekat lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Rina.

​Panas!

​"Ya Allah... Rina..." bisik Anindiya prihatin.

​Ibu tetangga yang menyusul di belakangnya ikut menghela napas berat. "Dari semalam begitu terus, Mbak. Kadang sadar sebentar, habis itu ngigo lagi."

​Anindiya duduk di tepi tempat tidur. Rasa bersalah mendadak menghantam dadanya dengan amat telak. Beberapa hari terakhir ini ia terlalu sibuk dan egois memikirkan pekerjaannya sendiri, hingga mengabaikan kondisi Rina yang jelas-jelas terpukul. Padahal sejak awal, Rina adalah orang yang paling ketakutan.

​Anindiya menggenggam jemari asistennya. Telapak tangan Rina pun terasa sangat panas membara.

​Tiba-tiba, tubuh Rina bergetar pelan. Bibirnya yang kering mulai bergerak-gerak kaku.

​Anindiya refleks mendekatkan telinganya ke mulut Rina. Gadis itu seperti sedang merancac membisikkan sesuatu dengan suara yang amat lirih.

​"...ga...un..."

​Anindiya mengernyitkan dahi.

​"...ga...un..."

​Suara parau itu terdengar lagi, terbata-bata.

​"...gaun..."

​Rina terus mengatakan kata yang sama berulang kali. Kelopak matanya tetap terpejam rapat, sementara tubuhnya menggigil hebat di tengah sengatan suhu badannya yang tinggi.

​Anindiya menatap wajah Rina dengan rasa iba yang mendalam. Logikanya langsung menyimpulkan bahwa mental asistennya memang hancur akibat syok berat. Kematian Siska, lalu disusul tragedi Lestari... semua itu pasti meninggalkan trauma dalam yang menghantam jiwanya. Apalagi Rina memang sosok gadis yang sensitif dan mudah terbawa emosi.

​Anindiya mengusap lembut telapak tangan Rina. "Tenang, Rin... Kamu cuma kecapekan dan stres."

​Rina kembali menggigau parau, "...ja...ngan..."

"...gaun..."

"...am...bil..."

​Kalimatnya terputus-putus dan tak menentu.

​Anindiya hanya mampu membuang napas panjang. Ia makin yakin bahwa ini semua murni akibat tekanan batin yang luar biasa hebat. Demam tinggi memang sering kali membuat seseorang mengigau parah. Itu hal yang sangat ilmiah dan wajar.

​Ia sama sekali belum—dan menolak untuk—menghubungkan kondisi Rina dengan cerita-cerita gaib yang selama ini terlontar dari mulut gadis itu. Baginya, Rina hanya butuh istirahat total dan perawatan medis yang layak.

​Tak berapa lama, ibu tetangga datang membawakan baskom berisi air hangat dan sehelai kain kecil. Anindiya dengan sigap membantu mengompres dahi Rina, mengganti kain kassa itu tiap kali suhunya mulai menghangat.

​Di luar jendela, sang surya telah tenggelam sempurna. sinar cahaya temaram sore menyusup masuk melalui celah ventilasi, membuat suasana kamar terasa kian remang dan dingin.

​Tiba-tiba... Rina membuka kedua matanya lebar-lebar!

​Namun, tatapan mata itu terasa kosong dan mati. Sepasang bola matanya tak tertuju pada Anindiya, melainkan melotot lurus menembus bahu Anindiya—seolah-olah ia sedang menyaksikan sesosok wujud mengerikan yang berdiri tepat di belakang punggung Anindiya!

​Bibir kering Rina bergetar pelan. Dengan suara tercekat yang amat tipis, ia berbisik, "...di...a... ada..."

​Anindiya spontan memutar tubuhnya menoleh ke belakang!

​Tak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada lemari kayu tua yang usang dan sebuah cermin rias kecil yang tergantung di dinding.

​Saat Anindiya kembali memalingkan wajahnya ke arah kasur, Rina sudah kembali memejamkan mata rapat-rahar. Napasnya masih terdengar berat dan memburu.

​Anindiya menarik napas lega, menganggap hal itu hanyalah puncak ilusi dari igauan demam tinggi.

​Ia sama sekali tak menyadari...

​Bahwa tepat di dalam pantulan cermin kecil yang tergantung di dinding kamar itu...

​Sesaat, terpeta jelas bayangan sesosok perempuan bergaun pengantin putih yang berdiri mematung tepat di belakang tempat tidur Rina.

​Kepalanya dimiringkan kaku. Sepasang matanya yang berupa lubang hitam kelam tak sedikit pun menatap Rina...

​Melainkan mengunci pandangannya, menatap lurus penuh dendam ke arah punggung Anindiya.

​Dan secara perlahan...

​Sudut bibir kebiruan sosok itu terangkat naik, membentuk senyuman dingin yang teramat mengerikan.

1
Mega Arum
bagus kak.. cm kurang dlm dialog dan tokoh pemeran
andhig Rosdiana: siap kak ,sudah memberikan dukungan like dan komen ..untuk kedepannya saya akan lebih baik lagi dalam berkarya 💪
total 1 replies
MARQUES
semoga author lekas sembuh dan tetap semangat berkarya saya menantikan karya terbarunya 🙏
MARQUES
karya yang bagus author
andhig Rosdiana
jelas padat dan tamat 🤭
MARQUES
nah gitu dong cari tahu setelah kehilangan orang yang bisa di andalkan baru ngerasa janggal kan kalau ga sadar juga dah lha selanjutnya Anindya aja yang di incar🤣🙏
andhig Rosdiana
untuk beberapa hari kedepan author belum bisa melanjutkan bab berikutnya ,asam lambung author kambuh ,doain author cepat sembuh ya .jangan lupa tinggalkan like dan koment ya ...🙏
MARQUES: semangat terus buat author semoga lekas sembuh dan bisa up cerita baru🙏
total 1 replies
MARQUES
asli kesal banget sama Anindya jelas depan mata kenyataan begitu hadeh kalau didunia nyata ada orng begitu juga ku gaplok beneran kepalanya kesel asli🤣🙏
MARQUES: susah buat sabar Thor karna cerita nya menarik🤣🙏
total 2 replies
MARQUES
keras banget kepala si Anindya pingin ku gapluk biar sadar 🤣
MARQUES: sama sama author tetap semangat upload walaupun masih sepi pembaca terus up jangan berhenti ya author soalnya cerita nya bagus tanpa ada drama percintaan 🤣🙏
total 2 replies
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen supaya author tambah semangat berkarya👍🤭
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya suy🤭 supaya author lebih semangat lagi nulisnya 💪
MARQUES
mantap author sekali up banyak saya sangat senang tapi ga ada notif nya jadi telat baca🙏
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak ya suy like dan koment, terimakasih sudah memberikan dukungan
MARQUES
biasanya cewe keras kepala gini yang suka mencari masalah
MARQUES
absen author keliatan bagus nih ceritanya 🙏
andhig Rosdiana: siap .... terimakasih udah hadir dan memberikan dukungan ,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!