Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily tak mengingat kejadian yang lalu. Akankah keduanya bersatu lagi merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Leon lalu menjelaskan bahwa dirinya pernah menolong bocah itu dan malah dituduh ingin menculiknya. Leon juga mengatakan jika melihatnya, dia teringat dengan istrinya yang hilang beberapa tahun lalu.
Setelah mendengar penjelasannya, Robi pun percaya bahwa Leon tak berbohong.
"Anak itu memang sungguh aneh. Aku aja heran kenapa dia sanggup berjalan kaki sejauh lima kilometer!" kata Robi.
"Apa orang tuanya terlalu sibuk dan memang tak peduli dengannya?" tanya Leon.
"Entahlah, aku tak tau," jawab Robi.
"Apa Tuan tak jadi menelepon ibunya?" tanya Leon lagi.
"Astaga, aku lupa!" jawab Robi gegas mengambil ponsel dalam saku celananya.
Robi lalu mengirimkan pesan kepada ibu bocah itu dan Leon kembali melakukan pekerjaannya.
Sudah 1 jam berlalu, kedua orang tuanya belum kunjung menjemput. Robi dan karyawan lainnya mulai cemas.
"Duuh...lama sekali ibunya datang!" gerutu Robi.
"Mungkin dia sengaja ingin di buang!" celetuk Leon.
"Huss... Jangan asal bicara!" kata Robi.
"Buktinya orang tuanya tak datang menjemput!" ucap Leon.
"Kau lagi istirahat 'kan?" tanya Robi.
"Iya," jawab Leon.
"Kau temani dia. Jangan sampai dia keluar dari restoran ini sebelum ibunya menjemput!" kata Robi.
"Saya?" Leon menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Siapa lagi?" kesal Robi.
"Saya tidak mau, Tuan. Nanti dia menuduh saya lagi!" tolak Leon.
"Kau mau dipecat?" ancam Robi.
Leon menggelengkan kepalanya.
"Temani dia, jangan sampai polisi datang kemari dan urusannya menjadi panjang!" kata Robi.
Leon dengan terpaksa menghabiskan waktu istirahat kerjanya menemani bocah itu mengobrol.
"Mengapa Paman ke sini? Mau menculik aku, ya?" bocah itu melemparkan tatapan ketus.
Leon memutar bola matanya, ia sangat malas berurusan dengan anak kecil yang mulutnya tajam.
Menarik kursi di depannya, Leon duduk berhadapan dengannya lalu berkata, "Aku terpaksa menemanimu karena tak mau kehilangan pekerjaanku!"
"Itu bukan urusan aku!"
Leon mengepalkan kedua tangannya, jika bukan anak kecil mungkin dirinya akan meremas mulutnya dengan tangannya.
"Aku tidak perlu ditemani. Aku juga takkan ke mana-mana!"
"Siapa namamu? Mengapa kau sangat nakal sekali?" tanya Leon tanpa wajah ramah.
"Kenapa Paman ingin sekali tau namaku?" bocah itu malah balik bertanya.
"Biar kita saling enak mengobrol," jawab Leon.
"Sebelum aku memberitahu namaku. Siapa nama Paman dan dari mana?" tanya bocah itu.
"Hmm.. baiklah. Aku akan memperkenalkan diriku. Namaku Leon. Aku berasal dari negara Marrow," jawab Leon.
"Marrow? Ibuku juga berasal dari sana."
"Benarkah? Memangnya siapa nama ibumu?" tanya Leon.
"Namanya---"
"Zayn!"
Keduanya menoleh ke arah suara. Zayn lalu bergegas berdiri dan berjalan menghampiri seorang wanita paruh baya.
Leon juga ikutan berdiri.
Wanita paruh baya itu menghampiri Leon dan berkata, "Terima kasih sudah menjaga cucu saya."
"Iya, Bibi. Sama-sama." Leon tersenyum tipis.
"Paman, aku pulang dulu, ya. Sampai jumpa lagi!" Zayn melambaikan tangannya dan berlalu bersama neneknya.
Leon yang melihat sikap manis Zayn lantas melengkungkan bibirnya.
-
Malam harinya, selepas pulang bekerja Leon memikirkan ucapan Zayn yang mengatakan bahwa ibunya berasal dari negara yang sama dengannya.
Leon sempat berpikir jika ibunya Zayn adalah istrinya namun ia segera menepisnya. Tak mungkin Emily ada di negara ini dan belum tentu juga Emily masih hidup. Apalagi Zayn tak sempat menyebutkan nama ibu kandungnya.
Sebelum tidur, Leon menghubungi kedua orang tuanya. Dia kembali menceritakan pertemuannya dengan Zayn. Dia menyebut nama bocah itu dan asal negara ibunya.
"Nak, ada banyak warga dari negara kita yang merantau atau memang memilih menetap di sana. Jadi, tak mungkin saja itu Emily. Jika memang wajah anak itu mirip kalian kemungkinan juga kebetulan," ujar Rachel. Ia ingin putranya tak terlalu berharap lebih dan pastinya membuatnya semakin sedih.
"Iya, juga, Ma."
"Fokus saja dengan pekerjaanmu. Kami berharap kamu mendapatkan kebahagiaan!" kata Rachel.
***
Beberapa hari kemudian, Leon akhirnya pindah ke sebuah apartemen murah. Setidaknya tempat itu lebih murah daripada penginapan harian karena pembayarannya khusus per satu bulan.
Jarak tempat tinggal dan restoran sangat dekat, cukup berjalan kaki selama 10 menit saja. Itu sangat menghemat pengeluarannya.
Sudah 2 minggu ini sejak obrolan singkat mereka, Zayn tak pernah datang lagi. Padahal, Leon sangat penasaran dengan bocah itu dan kedua orang tuanya. Ia ingin menggali lebih banyak tentang Zayn.
Hari ini Leon kebetulan sedang libur bekerja. Ia menghabiskan waktu istirahatnya untuk mencari keberadaan Zayn.
Menggunakan bus, Leon berangkat menuju jalanan tempat ia dan Zayn pertama kali bertemu. Leon lalu mengunjungi toko roti dan kue yang pernah diakui Zayn sebagai toko milik ibunya.
Leon masuk dan mengedarkan pandangannya, ia tak menemukan sosok Zayn.
"Permisi, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang wanita yang merupakan pelayan toko.
"Hmm..saya ingin mencari Zayn," jawab Leon.
"Zayn?" wajah wanita itu seketika berubah menjadi ekspresi kecurigaan.
"Maksud saya ibunya Zayn!" kata Leon dengan cepat biar tak salah paham.
"Oh, mereka sedang keluar. Mungkin dua atau tiga jam lagi balik ke sini!"
Leon akhirnya menunggu di bangku taman, tak jauh dari toko roti milik ibunya Zayn. Sembari menunggu, Leon lantas membaca buku. Ia memang sengaja membawa buku untuk mengisi waktu luangnya.
Tak butuh waktu lama, Zayn tiba-tiba muncul dan menghampiri Leon. Ia melemparkan bola ke arah Leon sehingga buku yang sedang dibaca terjatuh.
Leon yang kaget lantas menoleh.
"Paman, kenapa ada di sini?" Zayn mengambil buku yang jatuh lalu diserahkannya kepada Leon. Ia kemudian mengambil bolanya dan dipeluknya.
"Aku mencari kamu!" kata Leon.
"Buat apa mencari aku?" tanya Zayn lalu duduk di sebelahnya.
"Aku masih penasaran dengan asal ibu kamu," jawab Leon.
"Oh," ucap Zayn singkat.
"Siapa nama ayahmu?" tanya Leon.
"Ayah?" Zayn menoleh ke samping dan mendongakkan kepalanya. "Aku tak punya ayah!"
Leon mengernyitkan keningnya.
"Dari aku lahir, aku tidak punya ayah," kata Zayn.
"Kenapa begitu? Apa orang tuamu bercerai?" tanya Leon.
"Entahlah, aku tidak tau," jawab Zayn.
"Selama ini kau tinggal bersama siapa?" tanya Leon lagi.
"Di rumah ada ibu, nenek dan kakek," jawab Zayn jujur.
"Jadi, kau tidak tau di mana keberadaan ayahmu?" cecar Leon.
"Ibu bilang ayahku sudah mati."
Deg..
Tiba-tiba hati Leon terasa sakit mendengarnya padahal ia sama sekali tak mengenal ibunya Zayn.
"Kenapa Paman ingin mengetahui kehidupan aku? Apa jangan-jangan Paman seorang mata-mata?" Zayn menatap Leon penuh selidik.
Leon malah tertawa mendengar tudingan Zayn.
"Kata ibu, aku harus berhati-hati dengan orang asing. Mereka bisa saja mau menyakiti aku," kata Zayn dengan polosnya.
"Sebegitukah ibumu menanamkan pikiran negatif ke dalam isi kepalamu?" Leon tak habis pikir dengan ibunya Zayn.
"Ibuku orang yang baik. Dia hanya ingin melindungi aku. Jadi, Paman jangan menilainya buruk!" kata Zayn kesal.
"Ya, baiklah. Tapi, kau belum menyebutkan nama ibumu. Siapa namanya?" tanya Leon.
"Paman harus berjanji padaku terlebih dahulu!" kata Zayn sebelum menjawab pertanyaan.
"Janji apa?"
"Berjanjilah untuk memberikan alasan mengapa Paman sangat penasaran dengan ibuku?"
"Hmm... baiklah, aku akan memberitahu alasanku."
"Janji?" Zayn menyodorkan jari kelingking kanannya.
Leon tak segera menyambutnya, ia teringat dengan Emily yang selalu melakukan hal sama jika sedang membuat keputusan berjanji.
"Paman?" panggil Zayn.
Leon pun segera menautkan jari kelingkingnya.
Zayn melepaskan tautan jemarinya dan berkata, "Nama ibuku Emily!"