Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Suara rintik hujan mulai terdengar menabrak atap seng kantor kepolisian pusat kota Jakarta.
Tik tik tik.
Suasana malam ini terasa sangat dingin dan sepi di blok sel tahanan khusus.
Lampu neon di lorong sel berkedip-kedip tidak beraturan karena tegangan listrik yang tidak stabil.
Dimas meringkuk di sudut selnya yang sempit dan berbau tidak sedap.
Dia merangkul kedua lututnya dengan tubuh yang terus gemetar hebat.
"Aku tidak mau mati di tempat kotor seperti ini," batin Dimas penuh keputusasaan.
Setiap kali ada suara langkah kaki dari luar, Dimas langsung tersentak dan mengangkat kepalanya.
Matanya sudah memerah dan bengkak karena terlalu banyak menangis sejak siang tadi.
Dia tidak bisa tidur sama sekali memikirkan nasib buruk yang menimpanya.
Di luar gedung kepolisian, sebuah mobil van hitam besar terparkir diam di bawah pohon rindang.
Mesin mobil itu mati, tapi bagian dalamnya dipenuhi oleh cahaya dari puluhan layar monitor.
Sony duduk santai di kursi kulit sambil menyilangkan kakinya.
Tangannya memegang sebuah cangkir kertas berisi kopi hitam yang masih mengepulkan asap.
Sruput.
"Kau benar-benar yakin mereka akan mengirim pembunuh malam ini, Sony?"
Nadhira bertanya memecah keheningan di dalam mobil van tersebut.
Dia duduk di sebelah Sony sambil memegang sebuah kamera kecil yang terhubung ke monitor.
"Orang-orang dari dunia bawah tanah tidak pernah suka membuang waktu, Nadhira."
"Bagi mereka, saksi hidup seperti Dimas adalah sebuah bom waktu yang bisa meledak kapan saja."
Sony menjawab dengan pandangan yang tetap fokus pada layar monitor utama.
Layar itu menampilkan rekaman kamera CCTV dari lorong sel tahanan Dimas.
Leo yang bertugas sebagai operator menggeser beberapa tuas di meja kontrol.
"Tuan Sony, saya sudah menyuap dua penjaga piket malam ini untuk pergi ke kantin."
"Saat ini blok sel tempat Dimas ditahan benar-benar kosong tanpa penjagaan sama sekali."
Leo melaporkan situasinya dengan nada suara yang sangat tenang.
"Kerja bagus, Leo."
"Kita beri jalan masuk selebar-lebarnya untuk tikus yang mau datang malam ini."
Sony tersenyum tipis melihat layar monitor yang menunjukkan lorong sepi tersebut.
"Tapi bukankah itu terlalu berbahaya?"
Nadhira menatap Sony dengan wajah yang terlihat cemas.
"Bagaimana kalau pembunuh itu bergerak terlalu cepat dan Dimas terbunuh sungguhan?"
"Kalau dia mati, kita akan kehilangan satu-satunya jejak untuk mencari penjual racun itu."
Nadhira memberikan argumen logisnya sebagai seorang jurnalis.
Sony menoleh ke arah Nadhira dan menatap matanya dalam-dalam.
"Dimas memang pantas mati, tapi tidak malam ini."
"Aku sudah menempatkan orang-orang kita di titik buta kamera CCTV lorong itu."
"Begitu tikus itu masuk ke dalam perangkap, kita langsung tutup pintunya."
Sony menjelaskan rencananya dengan sangat santai seolah ini hanyalah permainan anak-anak.
Tap tap tap.
Suara langkah kaki yang berat terdengar dari pelantang suara monitor di depan mereka.
Leo langsung menunjuk ke arah salah satu layar di pojok kiri atas.
"Tuan, ada pergerakan di pintu masuk blok selatan."
"Seseorang menggunakan seragam polisi dan topi petugas jaga malam."
Semua orang di dalam van langsung menatap tajam ke arah layar tersebut.
Seorang pria bertubuh tegap berjalan menyusuri lorong sel dengan sangat tenang.
Dia menurunkan ujung topinya untuk menutupi sebagian besar wajahnya dari kamera CCTV.
Tangannya menggunakan sarung tangan kulit berwarna hitam pekat.
"Dia bukan anggota polisi di sini," ucap Nadhira dengan suara pelan.
"Cara berjalannya terlalu ringan dan tidak mengeluarkan suara gesekan sepatu sama sekali."
Sony menganggukkan kepalanya menyetujui analisis dari wanita itu.
"Itu adalah cara berjalan khas seorang pembunuh bayaran profesional, Nadhira."
"Leo, bersiaplah, kita akan menyambut tamu kita sekarang."
Sony meletakkan cangkir kopinya dan langsung berdiri dari kursi.
"Baik, Tuan."
Leo ikut berdiri dan segera membuka pintu samping mobil van tersebut.
Srek.
Sony dan Leo berjalan menembus hujan gerimis menuju pintu belakang kantor polisi.
Mereka menyelinap masuk melalui jalur yang sudah disiapkan oleh anak buah Leo sebelumnya.
Sementara itu di dalam lorong sel, pria berseragam polisi palsu itu sudah sampai di depan sel Dimas.
Dimas yang mendengar langkah kaki itu langsung mendongakkan kepalanya.
"Pak Polisi, tolong berikan aku selimut tambahan, di sini sangat dingin."
Dimas memohon dengan suara serak dari balik jeruji besi.
Pria itu tidak menjawab dan hanya menatap Dimas dengan tatapan sedingin es.
Klek.
Pria itu mengeluarkan sebuah kunci master dari sakunya dan membuka gembok sel Dimas.
Pintu jeruji besi itu terbuka dengan suara decitan yang memekakkan telinga.
Kriet.
Dimas merasa ada yang tidak beres dan langsung merangkak mundur ke sudut dinding.
"S-siapa kau sebenarnya?"
"Kau bukan polisi yang berjaga tadi sore."
Dimas bertanya dengan nada panik dan napas yang mulai tersengal-sengal.
Pria itu melangkah masuk ke dalam sel dan menutup pintu jeruji di belakangnya.
"Aku adalah mimpi buruk terakhirmu, Tuan Dimas."
Suara pria itu terdengar sangat berat dan serak.
Srek.
Dia mengeluarkan sebuah jarum suntik kecil dari balik seragam polisinya.
Jarum suntik itu berisi cairan berwarna bening yang terlihat seperti air biasa.
Mata Dimas langsung membelalak lebar melihat benda mematikan tersebut.
"T-tolong jangan bunuh aku."
"Aku punya banyak uang, aku bisa membayarmu sepuluh kali lipat dari majikanmu."
Dimas menangis histeris dan menangkupkan kedua tangannya memohon ampun.
"Majikanku tidak butuh uangmu yang sudah disita negara itu."
"Majikanku hanya butuh kau tutup mulut untuk selamanya."
Pria itu melangkah maju dengan cepat dan mencengkeram kerah baju tahanan Dimas.
"Lepaskan aku, tolong."
"Siapa saja tolong aku."
Dimas berteriak sekencang-kencangnya meminta pertolongan.
Tapi lorong sel itu sudah benar-benar dikosongkan malam ini.
Tidak ada satu pun petugas yang akan mendengar teriakannya.
Pria itu mengangkat jarum suntiknya tinggi-tinggi dan mengarahkannya ke leher Dimas.
"Ucapkan selamat tinggal pada duniamu yang menyedihkan ini."
Wush.
Tangan pria itu meluncur deras ke bawah bersiap menusuk leher Dimas.
Brak.
Pintu sel ditendang dengan sangat keras dari arah luar hingga terbuka lebar.
Sebuah bayangan hitam melesat masuk ke dalam sel dengan kecepatan luar biasa.
Bugh.
Tendangan keras mendarat tepat di pergelangan tangan pria berseragam polisi palsu itu.
"Argh."
Pria itu mengerang kesakitan dan melepaskan cengkeramannya dari baju Dimas.
Jarum suntik di tangannya terlempar ke udara dan jatuh menghantam lantai beton.
Prang.
Jarum suntik itu pecah dan cairan beningnya tumpah berserakan.
Pria itu melompat mundur dan langsung memasang kuda-kuda bertarung.
Dia menatap tajam ke arah dua orang yang baru saja menggagalkan tugasnya.
"Siapa kalian berdua?"
"Beraninya kalian mencampuri urusanku."
Pria itu membentak dengan suara penuh amarah.
Sony melangkah masuk ke dalam sel dengan santai sambil menepuk-nepuk debu di bahunya.
Leo berdiri tegak di sampingnya dengan wajah yang sama sekali tidak menunjukkan emosi.
"Seharusnya aku yang bertanya siapa kau dan siapa yang menyuruhmu kemari."
Sony membalas pertanyaan itu dengan senyum sinis yang meremehkan.
Dimas yang masih gemetar di sudut sel membelalakkan matanya melihat kedatangan Sony.
"Sony."
"K-kau mau apa lagi kemari?"
Dimas bertanya dengan suara terbata-bata antara takut dan bingung.
"Tutup mulutmu, Dimas."
"Aku sedang mengurus orang dewasa sekarang, kau diam saja di pojok sana."
Sony sama sekali tidak melirik ke arah Dimas saat berbicara.
Pembunuh bayaran itu menyipitkan matanya menilai lawan di depannya.
Dia merasa pernah melihat wajah Sony dari foto target yang diberikan bosnya.
"Jadi kau yang bernama Sony itu?"
"Kebetulan sekali, bosku juga menaruh harga untuk kepalamu."
Pria itu mencabut sebuah pisau belati bergerigi dari balik sabuknya.
Bilah pisau itu memantulkan cahaya redup dari lampu lorong sel.
"Kalau begitu cobalah ambil kepalaku jika kau memang mampu."
Sony merentangkan kedua tangannya seolah menantang pria itu untuk maju.
[Sistem Pemberitahuan: Target bermusuhan terdeteksi]
[Apakah Tuan Rumah ingin mengaktifkan Mata Dewa?]
"Aktifkan," batin Sony tanpa ragu sedikit pun.