di saat seorang pemuda mengira sudah menemukan cinta yang tulus ternyata dia salah malah kembali di khianati...
Akankan dia menemukan cinta tulus itu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ray firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Hari berganti minggu telah berlalu kini sudah satu bulan Ardan bekerja di Restoran dan baru saja mendapatkan gaji pertamanya.
Ardan pun berniat mentraktir Adiknya yang bernama Alena makan es krim, ya walaupun kini Alena sudah mau sekolah menengah atas (SMA) tapi kesukaan Alena semenjak kecil tak pernah berubah sama sekali yaitu es krim.
Kini keduanya sudah berada di Mall lebih tepatnya di stand es krim, ya karena sebelumnya Ardan di ajak oleh Alena untuk berkeliling Mall terlebih dahulu untuk mencari keperluan sekolah nya, keduanya pun tak menyadari waktu pun sudah sore karena keasyikan dengan moment yang sangat langka bagi keduanya.
Ardan pun mengajak Alena untuk pulang tapi di pertengahan jalan pulang mereka menghentikan perjalanan karena melihat ada seseorang yang tergeletak dengan posisi perut yang mengeluarkan banyak darah di samping mobil pinggir jalan.
"Dek!! kamu bisa kan pulang sendiri, Kakak akan membawa Kakek ini ke Rumah Sakit." ucap Ardan.
"Bisa kok Kak!! kan sudah di ajari sama Kakak." sahut Alena.
"Ya udah tapi kamu harus Hati-hati di jalan nya yah dan jangan ngebut bawa motornya." ucap Ardan sambil menasehati.
"Iya baiklah Kak." sahut Alena.
Ardan pun pergi mengantar Kakek ke Rumah Sakit dengan mobilnya Kakek tersebut, sedangkan Alena langsung pulang sendiri dengan mengendarai motor Kakaknya.
Ketika Alena baru sampai di Rumah langsung di sambut sama Mama Shinta yang sedang menunggu di depan Rumah.
"Assalamualaikum Ma."
Ucap Alena sambil mencium punggung tangan Mama Shinta.
"Waalaikumsalam,, kok Dek pulangnya sendirian kemana Kakak kamu." sahut Mama Shinta.
"Itu Kakak sedang menolong seseorang yang tergeletak di pinggir jalan dan sekarang Kakak sedang mengantarnya ke Rumah Sakit." ucap Alena.
"Astagfirullah!! semoga orang itu baik-baik saja yah, eh kok Mama baru tau, kalau kamu bisa mengendarai motor Dek?" kaget Mama Shinta seraya bertanya.
"Hehe tentu saja bisa Ma! kan Adek belajar dari Kakak." jawab Alena sambil tertawa.
"Hah!! kapan kamu belajarnya Dek." shock Mama Shinta.
"Di setiap libur sekolah!! Adek selalu pergi ke Kontrakan Kakak dan Adek pun minta di ajari mengendarai motor." sahut Alena.
"Ck.kamu itu Dek!! kenapa tidak bilang saja ke Mama kalau ingin sesuatu, jangan terus menerus merepotkan Kakak kamu.'' kesal Mama Shinta.
"Ish pasti Mama lupa deh!! kan Adek juga pernah minta ke Mama tapi Mama menolak untuk mengajari Adek, jadi Adek minta ke Kakak deh." sahut Alena.
"Huft..ya udah sana kamu masuk dan langsung mandi yah, karena sebentar lagi juga mau maghrib." ucap Mama Shinta.
"Baiklah Ma." sahut Alena.
Alena pun masuk ke dalam Rumah dan langsung tertuju ke kamarnya, sedangkan orang yang tadi di bicarakan oleh Mama Shinta dan Alena.
Kini berada di Rumah Sakit sedang menunggu seorang Kakek yang mengeluarkan banyak darah di perutnya akibat tusukan pisau, kini sedang di tangani oleh seorang Dokter tak lama Dokter pun keluar dari ruangan tersebut.
"Dengan Keluarga Pasien." ucap Dokter.
"Iya Dok!! gimana dengan keadaan Kakek saya Dok?" sahut Ardan seraya bertanya.
Tanpa pikir panjang lagi Ardan pun mengakui Kakek tersebut adalah Kakeknya sendiri karena Ardan belum tau caranya untuk menghubungi Keluarga Kakek tersebut.
"Pasien mengalami kehilangan banyak darah jadi harus melakukan transfusi darah secepatnya, tapi stok darah golongan B di Rumah Sakit kebetulan sedang kosong." ucap Dokter.
"Ya udah ambil saja darah saya Dok." sahut Ardan.
''Baiklah Mas!! Suster tolong bantu Mas ini untuk transfusi darah yah." pinta Dokter.
"Siap Dok!! mari Mas ikut dengan saya." sahut Suster.
Suster pun melangkah pergi dengan Ardan yang mengikuti dari belakang, karena ingin mendonorkan darahnya untuk Kakek itu.
Kini Ardan sudah mendonorkan darahnya dan Kakek pun masih di tangani oleh Dokter setelah beberapa menit menunggu tak lama Dokter dan Suster pun keluar.
Dokter pun mengatakan akan membawa Pasien tersebut ke kamar rawat dan Ardan pun mengikuti sampai ke kamar rawat.
Ardan dengan setia selalu berada di dalam kamar rawat untuk menunggu Kakek tersebut tak lama tangan Kakek sedikit bergerak itu tandanya akan sadar, Ardan pun langsung bergegas memencet tombol darurat untuk memanggil Dokter, hanya hitungan menit Dokter pun masuk dan langsung memeriksa keadaan Pasien nya.
"Gimana Dok! dengan keadaan Kakek saya?" tanya Ardan.
"Pasien sudah melewati masa kritisnya, biarkan saja Pasien istirahat untuk malam ini dan jangan terlalu khawatir Mas, insyaallah besok juga Pasien sudah di perbolehkan untuk pulang." jawab Dokter.
"Terimakasih banyak Dok!! Karena sudah menyelamatkan Kakek saya." ucap Ardan.
"Sama-sama Mas!! Ya udah saya pamit dulu." pamit Dokter.
"Silahkan Dok!! oh iya Sus boleh saya minta tolong untuk menjaga Kakek saya sebentar, karena saya ingin memberi kabar pada Keluarga yang lain." ucap Ardan sambil pinta ke Suster.
"Baiklah Mas!! lagian kata Dokter kan paling besok sadarnya Kakek Mas nya, jadi Mas jangan terlalu khawatir." sahut Suster.
Ardan pun keluar dari ruang rawat hanya untuk mengisi perutnya di kantin, karena sudah memutuskan untuk menginap di Rumah Sakit ingin menjaga Kakek tersebut.
.
.
Keesokan Pagi
Kakek pun sudah sadar sejak pagi tadi dan sekarang sudah bisa untuk ngobrol dengan sang penolongnya.
''Nak terimakasih banyak sudah menolong dan sampai mau menunggu Kakek di sini, oh iya nama kamu siapa yah Nak?" ucap Kakek seraya bertanya.
"Sama-sama Kek!! namaku Ardan cukup Kakek panggil aku Ar saja, kalau nama Kakek sendiri siapa?" sahut Ardan seraya bertanya balik.
"Baiklah Ar!! Panggil saja Kakek Rahmat." jawab Kakek Rahmat.
"Oh iya Kakek Rahmat apa ada nomor Keluarga Kakek yang bisa aku hubungi?" tanya Ardan.
"Aduh tidak ada nomor yang Kakek hafal satu pun, Kakek boleh minta tolong di antar pulang saja Nak Ar." jawab Kakek Rahmat seraya minta tolong.
"Tentu saja boleh Kek! tapi Ar tanya dulu yah ke Dokter, apa sudah di perbolehkan untuk pulang atau belum nya yah Kek." sahut Ardan.
.
.
Kini Ardan sedang berada di perjalanan untuk mengantar Kakek Rahmat pulang ke Rumahnya dengan mengendarai mobil Kakek, setelah sebelumnya Ardan menemui Dokter dan Dokter pun mengizinkan untuk pulang dengan catatan harus banyak istirahat di Rumah.
Selama di perjalanan Ardan hanya mendengarkan saja cerita dari Kakek Rahmat tentang kejadian yang menimpanya kemaren cerita pun berhenti ketika bertepatan dengan sudah sampai di depan Rumah.
Ternyata kepulangan Kakek Rahmat di sambut sama Cucu Perempuannya yang sedang berada di depan Rumah dan dia pun langsung memeluk Kakeknya dengan isak tangisan yang menyayat hati.
Karena dari semalam Kakeknya tidak pulang dan tidak ada kabar sama sekali, sehingga dirinya tak bisa tidur semalaman karena terus memikirkan keberadaan Kakek tersayang.
"Sudah yah Cucu Kakek yang Cantik jangan menangis lagi, kan yang penting Kakek sudah pulang dalam keadaan baik-baik saja, oh iya tolong ambilkan minuman untuk tamu Kakek yah." pinta Kakek Rahmat.
"Baiklah Kek." sahut sang Cucu.
Sang Cucu pun melangkah ke dapur sambil menghapus air matanya untuk mengambil minuman, sedangkan Kakek Rahmat mengajak Ardan untuk duduk tak lama sang Cucu sudah kembali dengan membawa minuman serta menaruhnya di meja.
Kini ketiganya pun berkumpul Kakek Rahmat pun mengenalkan Ardan ke Cucu Perempuan nya dan kedua anak muda itu pun saling menyebutkan nama masing-masing di depan Kakek Rahmat dengan tanpa menyentuh tangan dari keduanya.
"Terimakasih banyak yah Mas! karena sudah bersedia menolong Kakek." ucap Zahra.
"Sama-sana Zahra! panggil saja aku Ar...
Bersambung
~ *See You Next* ~