Mengorbankan cinta untuk sahabat?
Cintanya pada seorang laki-laki ia pertaruhkan demi kesembuhan sahabat yang menderita depresi.
Bisakah Salma mengikhlaskan Doni hidup bersama Esti. Atau mereka akan tetap bersatu dengan cinta mereka?
Temukan jawabannya di Biarkan Ku Mengalah cerita yang seru dan mengharukan tapi ga usah baper. Happy reading💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 Bertemu Paman
Astuti selalu mencecar Salma untuk segera menikah setelah lulus kuliah. Dia berusaha mencarikan jodoh untuk putri sulungnya itu. Pada akhirnya Salma yang seharusnya lulus 2 bulan lagi terpaksa menunda skripsinya, dia begitu santai menggarap karya terakhir di kampusnya. Sambil menantikan sang pangeran turun dari langit yang mau menyapa dirinya dan mengikat hatinya untuk terbang di atas awan, ah mimpi. Mana ada yang mau diajak menikah mendadak? Ada yang mau saat itu namun ia tolak demi sahabat, ia rela mengalah untuk kesembuhan sahabatnya walaupun ia tahu saat itu orang tuanya sudah mendesaknya untuk menikah.
Salma memang selalu mengalah untuk kebahagiaan orang yang ada di sekitarnya walaupun mempertaruhkan perasaan cinta dan keinginan namun ia yakin suatu saat nanti ada kebahagiaan yang akan ia raih tanpa membuat orang di sekitarnya menderita.
Salma terus melangkahkan kakinya menuju sebuah pondok pesantren yang terletak tidak jauh dari SMA nya dulu. Di pesantren itu banyak siswa yang tinggal untuk belajar ilmu agama. Termasuk Doni dan Darma yang menetap di pondok tersebut saat masih sekolah karena mereka pendatang. Sedangkan Salma sering ke pondok tersebut lantaran Pamannya tinggal di sana.
Salma menghentikan langkahnya tepat di depan saung gazebo sebelum ia menemui Ustadz Adam, pamannya Salma.
Matanya menyapu sekitar banyak lalu lalang anak-anak sekolah yang baru pulang. Senyumnya mengembang saat matanya menangkap sosok yang ia kenal.
"Bi Hani!" Salma menghampiri isteri Pamannya itu dengan sumringah. Hani yang sedang menenteng belanjaan sambil menggendong anaknya yang kira-kira berumur 2 tahun menghentikan langkahnya. Dia tersenyum.
"Untung kamu datang, nih bawa!" Hani memberikan sekantong belanjaan kepada Salma. Hani selalu begitu, dia akan senang jika Salma datang dan dapat membantu meringankan pekerjaan di rumah. Anaknya 2 orang cukup membuatnya kewalahan karena jarak keduanya tidak berbeda jauh hanya terpaut 3 tahun jadi lumayan mengurus 2 balita sekaligus membutuhkan tenaga ekstra agar perkembangan dan pertumbuhan anak-anaknya dapat berkembang sesuai dengan usianya.
Salma menaruh barang belanjaan di dapur yang sederhana. Banyak piring yang belum dicuci sehingga mengharuskan Salma untuk segera mencucinya tanpa dikomando.
"Paman mana Bi?"
"Tadi sih pergi ke masjid An-Nur Sedang ada kegiatan santunan anak yatim, bentar lagi juga balik. Maaf ya Sal, kalo kamu ke sini pasti bantuin Bibi menyelesaikan pekerjaan rumah" Merasa ga enak hati pada keponakan suaminya itu.
"Ga apa-apa atuh Bi, aku senang kok. Ya hitung-hitung belajar jadi ibu rumah tangga. Ternyata benar-benar harus mempersiapkan mental biar ngga mental" Salma ngakak sendiri. Ga berlangsung lama Salma terdiam. Sementara Hani menidurkan Fauzan ke kamarnya. Salma menghampiri Farhan yang berumur 5 tahun sedang asik bermain mobil-mobilan di ruang tamu. Salma ikut bermain menemani Farhan yang sesekali tertawa mendengar celotehan anak kecil itu yang begitu menggemaskan. Tiba-tiba suara salam menggema ke seluruh ruangan mencuri atensi Farhan.
"Ayah!" Farhan menghambur memeluk sang ayah kemudian digendong. Adam melirik ke sudut ruangan, di sana ada Salma yang sedang merapikan mainan Farhan.
"Sudah lama, Sal?"
"Sekitar tiga puluh menit yang lalu, paman. Paman ada waktu? Salma mau ngobrol" Salma bertanya begitu karena setahunya pamannya itu orang yang cukup sibuk semenjak ia mengelola pesantren khusus pelajar.
"Kamu kenapa?" Salma terdiam
"Anu paman. Aku dijodohkan sama mas Tora."
"Tora yang.....mantri kesehatan itu, anak Bu Kokom?" Salma mengangguk.
"Terus kamu mau?"
"Sebenarnya sih ngga. masalahnya kan dia masih saudara walaupun saudara jauh tapi tetap saja judulnya saudara. Terus aku ngga ada rasa gimana gitu. Paman tolong aku. Aku ngga mau dijodohkan dengan mas Tora. Walaupun ia mapan tapi tetap aku ga mau"
"Nanti ibumu marah Lo. Kalo perintahnya dibantah." Adam mengingatkan
"Ibu sih bilang kalo aku sudah punya calon gapapa ga sama mas Tora tapi suruh secepatnya bawa calonku menemui mereka. Aku bingung paman, aku kan masih jomblo" Terdengar lirih yang membuat pamannya tersenyum.