Karena nila setitik rusak susu sebelanga, itulah perumpamaan yang terjadi dalam kehidupan Khalisa Suci Kirani. Jejak noda yang tersemat padanya membawa lara. Cemoohan sudah akrab menyapa yang selalu ditanggapi Khalisa dengan senyuman. Bahkan secara tak terduga, orang-orang yang dianggapnya keluarga termasuk sang suami, bermain madu dan racun di balik punggungnya sebab jejak noda tersebut.
Namun, saat poros hidup yang menjadi kekuatannya terenggut dari sisinya, mampukah Khalisa tetap tersenyum kala noda itu menyeretnya hingga ke dasar nestapa?
Yudhistira Lazuardi, si pengacara muda yang memutuskan mandiri dan menjauh dari keluarganya demi meredam kisruh di dalamnya, alih-alih mendapat ketenangan, hidupnya mendadak tak lagi sama saat membiarkan sosok Khalisa yang dipenuhi problema masuk ke dalamnya.
"Dua ratus juta!"
"Dua ratus juta di muka sekarang juga, untuk dia!" Yudhistira mengarahkan telunjuknya tepat pada Khalisa. Dengan rahang mengetat dan sorot mata tajam tak terbaca.
Akankah Khalisa tetap suci semurni arti namanya? Atau justru tergerus noda yang tak pernah diinginkannya.
Ikuti kisahnya.
Jangan plagiat! Ingat Azab
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjahari_ID24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cibiran Pagi
Bab 12. Cibiran Pagi
“Suami sama mertua enggak ada, dia malah pulang larut malam, dianter mobil polisi sama laki-laki lagi. Pasti nyari kesempatan dalam kesempitan."
“Ya gitu deh. Namanya juga turunan wanita nakal, buahnya ya jatuhnya enggak jauh dari pohonnya. Paling semalam dia kena razia.”
Para tetangga yang melintasi rumah Wulan pagi ini berhenti sejenak, mendelik sinis pada Khalisa yang sedang menjemur pakaian di halaman samping rumah. Mulut mereka seolah gatal jika tak menyempatkan diri mencibir, sungguh tabiat manusia semacam ini banyak bertebaran di seluruh penjuru Bumi, gemar mencari-cari kesalahan orang lain, tetapi tak sadar dengan kekeliruan sendiri. Seperti peribahasa, Gajah di pelupuk mata tak tampak, tetapi semut di seberang lautan terlihat jelas.
Khalisa berpura-pura tak mendengar. Mempercepat kegiatannya menjemur dan bergegas masuk kembali melanjutkan pekerjaannya berbenah rumah.
Ya, semalam Khalisa memang diantar pulang oleh dua orang pria yang mengira dirinya kuntilanak. Keduanya menunjukkan bukti valid guna meyakinkan Khalisa yang terlihat takut dan ragu.
Si pria bawel berjas biru bernama Yudhistira itu ternyata bukan polisi, melainkan seorang pengacara publik. Pantas saja begitu bawel meski dalam kebawelannya itu memang terkandung banyak sisi positif, mengedukasi. Sedangkan si pria satu lagi yang menunjukkan identitas bernama Ghaisan, memang benar anggota polisi yang sedang bertugas patroli.
Demi keamanannya juga Afkar, Khalisa tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran diantar. Diantarnya pun memakai mobil pick-up patroli polisi. Khalisa tak keberatan, yang penting bisa selamat dan aman sampai di rumah, daripada bertemu lagi dengan preman kelas teri yang cuma beraninya mengganggu wanita yang membawa balita, setelah tahu angkutan umum menuju arah pulang ternyata tadi malam sedang berdemo terkait kenaikan harga BBM.
Khalisa sempat melihat beberapa rumah tetangga menyibak gorden begitu semalam ia turun dari mobil pick up polisi. Sudah pasti esok harinya dirinya menjadi pergunjingan. Akan tetapi, kali ini Khalisa tak mau terlalu ambil pusing akan prasangka miring orang-orang yang memang selalu miring padanya, yang penting Afkar dan dirinya bisa pulang dengan selamat.
Menyelesaikan semua pekerjaan rumah dengan cepat, Khalisa menggendong Afkar menuju kedai bubur ayam. Mumpung mertuanya sedang tidak di rumah, Khalisa ingin memuaskan dirinya memanjakan Afkar dengan membeli sarapan enak.
“Wah, kedai bubur ayamnya penuh. Hari libur begini banyak yang makan di tempat,” gumam Khalisa, berhenti melangkah sekitar lima meter jauhnya dari kedai, mengamati kerumunan pembeli.
Tidak percaya diri berbaur dengan kerumunan orang yang mayoritas adalah warga sekitar, Khalisa memutar haluan, hendak memasak bubur sendiri saja untuk Afkar. Seperti yang biasa dilakukannya, memblender nasi hangat kemudian memasaknya sebentar di atas tungku lalu ditambah toping telur rebus atau orak-arik.
“Afkar mamamnya bubur bikinan Bunda di rumah saja ya, kayaknya bubur ayamnya sudah habis.” Khalisa beralasan.
“Iya, Unda. Mamam lumah aja.” Si balita pintar itu mengangguk patuh. Tetap ceria, balas memeluk sang Bunda yang menggendongnya.
"Anak Bunda memang yang terbaik." Khalisa memuji sebagai bentuk apresiasi akan pengertian sang anak yang tidak merajuk.
“Tapi, Unda. Af boyeh beyi itu endak?” Afkar menunjuk penjual donat kampung yang biasa berkeliling di daerah Buah Batu menggunakan motor di akhir pekan, sedang berhenti dicegat pembeli tak jauh dari sana.
“Boleh. Tunggu yang lain selesai beli ya."
Khalisa melangkah ringan kembali ke rumah, dengan Afkar di gendongannya yang bersukacita menikmati donat tabur gula. Mendorong pagar besi rumah bermaksud bergegas ke dapur. Niatannya terhenti saat Windy si tukang kredit pakaian dari kampung sebelah mengetuk pagarnya.
“Eh, Khal. Mertuamu ada? Aku bawakan daster batik asli pesanan Bu Wulan minggu lalu."
Bersambung.