Parasit sering dipakai sebagai kata kiasan pengambaran : *Cara Hidup Seseorang*
Sebagaimana kisah yang terjadi dalam kehidupan Ambar Kirania, seorang Ibu muda bersama Rulof Kardasa, seorang Pejabat ASN. Begitu juga dengan Mathias Naresh, Pengacara muda bersama Angel Chantika, seorang calon model.
》Apakah mereka mampu hidup bersama parasit, atau tenggelam dan dihancurkan oleh para parasit?
》Ini adalah kisah orang-orang yang bertahan dan berjuang saat berada dalam lingkaran Manusia Parasit.
🙏🏻Yuuuukk., mari baca karya keduaku.♡
🙏🏻Semoga tidak berada dalam lingkaran ini.♡
Selamat Membaca.
❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Rulof - Ambar.
...~•Happy Reading•~...
Ambar langsung pulang ke rumah naik ojol, karena sudah membeli makanan untuk mereka makan malam di rumah. Dia tidak naik commuterline seperti biasanya, sebab ingin lebih cepat tiba di rumah untuk bertemu dengan putranya.
Setelah tiba di rumah, Juha sudah menunggunya. Ambar melihat, mobil Rulof ada di garasi. 'Berarti dia ada di rumah.' Ambar membatin.
"Juha... Tunggu Mama bersihin badan dulu baru kita makan, ya." Ambar menghindari pelukan Juha lalu berjalan cepat ke kamar Juha.
"Iya, Ma." Juha mengiyakan, tapi ikut di belakangnya dan masuk ke kamar. Ambar tersenyum, melihat Juha terus mengikutinya.
Setelah mandi, Ambar memeluk putranya dengan sayang dan mengajaknya keluar kamar menuju ruang makan. "Seni, tolong buatkan teh panas buat Ibu, ya." Ambar duduk di kursi bersama Juha.
"Baik, Bu... Mau makan sekalian juga, Bu? Biar saya siapkan lauk yang Ibu bawakan tadi." Sontak Ambar melihat jam di dinding.
"Boleh, Seni. Mari siapkan makanannya buat kita makan." Ambar berkata demikian karena melihat jam dinding, juga melihat Juha yang sudah ingin makan.
"Bu, apa bapak diajak makan juga?" Seni bertanya dengan suara pelan, sebab tahu majikannya ada di rumah. Dia tidak mungkin duduk makan bersama nyonyanya di meja makan.
"Kita makan saja dulu, nanti kau angkat untuk bapak makan malam. Mungkin kalau sudah lapar, mau makan." Ambar berdiri menyiapkan perangkat makan untuk mereka bertiga.
"Bu, saya makan di belakang saja. Jangan sampai bapak keluar mau makan dan melihat saya duduk di sini, beliau jadi marah." Seni merasa tidak enak makan bersama nyonyanya, saat majikannya ada di rumah.
"Baik. Ambil makananmu dan makan di belakang." Ambar mengerti maksud Seni, lalu mengajak Juha makan. "Ayoo, Juha. Mari berdoa sebelum makan." Ambar mengambil piring Juha. Dia mengisi dengan nasi dan lauk pauk. Begitu juga untuk dirinya, kemudian mereka makan bersama.
Ketika melihat Juha makan dengan wajah yang senang dan lahap, Ambar bersyukur dalam hati. Bisa memberikan makanan yang lumayan lezat, setelah beberapa hari makan telur dan nasi.
Seni juga makan dengan hati yang senang dan bersyukur, bisa makan makanan lezat. Dia menyadari, mungkin Nyonyanya sudah memiliki uang, sehingga bisa membeli lauk yang enak.
Setelah selesai makan, Ambar merapikan meja. "Juha, masuk ke kamar dan sikat gigi, ya. Mama mau bicara dengan Mba Seni. Nanti Mama menyusul Juha ke kamar." Ambar mengelus puncak kepala putranya lalu menyuruhnya ke kamar.
"Seni, sudah selesai makan?" Tanya Ambar, melihat Seni sudah mencuci piring.
"Sudah, Bu. Mari saya cuci sekalian." Seni mengambil perangkat makan dari tangan nyonyanya.
"Seni, Ibu mau ke kamar Juha sebentar. Nanti setelah Juha tidur, baru kita berbicara. Kalau bapak mau makan, tolong siapkan makanan, ya." Ucap Ambar. "Iya, Bu." Kemudian Ambar meninggalkan Seni menuju ke kamar Juha.
Ambar memeriksa yang dipelajari Juha sepanjang hari saat dia sedang pergi kerja. "Tadi Juha belajar apa? Mama bisa lihat?" Tanya Ambar, sambil duduk di tempat tidur Juha.
"Tadi Juha belajar tulis huruf, Ma. Ini Mama lihat, sudah bagus belum?" Jawab Juha sambil menunjuk buku yang sudah penuh dengan tulisan huruf.
"Waaahh... Anak Mama sudah pintar menulis. Huruf-hurufnya sudah mulai bagus. Tetapi belajar terus ya, biar makin bagus." Ambar mengusap kepala Juha dengan sayang.
"Karna besok Juha belum bisa sekolah, jadi tetap belajar di rumah. Besok, selain tulis lebih bagus, Juha belajar tulis angka 1 sampai 10, ya. Nanti pulang kerja baru Mama periksa lagi." Ambar menunjuk buku pelajaran tentang angka.
Ambar juga menunjukan cara menulis angka dan Juha melihatnya. Ambar mengambil tangan Juha dan melatihnya tulis angka di udara. Setelah melihat Juha mulai terbiasa, Ambar mengajak istirahat.
"Mama, hari ini tidak usah baca cerita. Kita tidur saja. Juha sudah mengantuk. Juha ngga minum susu, Ma. Masih kenyang." Juha langsung berbaring.
"Kalau begitu, Juha bangun dulu. Kita berdoa, baru tidur." Ambar menyatukan tangannya dengan tangan Juha untuk berdoa.
Tiba-tiba pintu kamar Juha dibuka dengan kasar. Hal itu membuat Ambar dan Juha terkejut. Ambar tetap menggenggam tangan Juha untuk tetap terus berdoa. Setelah Amin, Ambar membaringkan tubuh Juha dan menyelimuti.
"Selamat tidur, sayang. Tidur yang nyenyak, ya." Ambar mencium pipi Juha, lalu keluar dari kamar Juha, tanpa mempedulikan Rulof yang sedang berdiri di depan pintu kamar Juha.
Ambar berjalan ke ruang tamu, menunggu Rulof di sana. "Apa kau tidak bisa buka pintu dengan pelan? Apa kau tidak tahu anakmu bisa saja sudah tidur?" Ambar sangat emosi melihat Rulof masuk ke ruang tamu.
"Kau berani berkau-kau denganku? Aku ini lebih tua darimu." Rulof berkata sambil menahan emosinya.
"Kau lebih tua dariku, tetapi kau tidak bisa menunjukan sikap sebagai seorang yang lebih tua dan harus dihormati." Ambar menjawab sambil melihat wajah Rulof dengan berani.
"Tidak usah banyak bicara, mana semua perhiasan yang ada di lemari. Kau kemanakan semua perhiasan itu?" Rulof bertanya dengan marah.
"Untuk apa kau tiba-tiba menanyakan perhiasanku? Itu perhiasanku, jadi mau dikemanakan juga bukan urusanmu." Ambar sudah tidak mau mengalah lagi.
"Perhiasanmu? Memangnya kau kerja apa sampai bisa membeli perhiasan? Itu semua dari uangku dan sekarang aku butuh. Jadi lekas kembalikan ke tempatnya." Rulof berkata tegas.
"Itu dari uangmu? Itu dari uang hasil resepsi pernikahan kita. Bukan hasil dari pekerjaanmu." Ambar membalas ucapan Rulof, dengan berani.
"Bagianmu sudah habis. Mau kutunjukan catatannya, sudah berapa banyak yang diambil olehmu? Kau ambil lebih dari setengah untuk berikan kepada keluargamu." Ambar sudah naik level marahnya.
"Kau pikir aku akan diam terus menerima perbuatanmu kepadaku dan Juha?" Ambar bertanya dengan emosi yang tidak turun. Hal itu membuat Rulof meninggalkan dia dengan marah.
Ambar mengabaikan amarah Rulof dan kembali ke kamar Juha. Kemudian Ambar keluar lagi, turun dan berjalan menuju kamar Seni. "Seni, sudah tidur?" Tanya Ambar sambil mengetuk pintu kamar Seni.
"Belum, Bu..." Jawab Seni, lalu buka pintu. Ambar langsung masuk ke kamarnya. "Seni, ini Ibu ganti uang yang dipinjam. T'rima kasih, ya." Ambar memberikan amplop berisi uang kepada Seni.
"Kalau Ibu masih mau pakai, ngga papa, Bu." Seni masih memegang amplop di tangannya.
"Ibu sudah ada uang. Nanti besok kita bicarakan lagi. Oooh iyaa, bapak sudah makan malam?" Tanya Ambar, mengingat Rulof.
"Sudah, Bu. Tadi ngga lama setelah Ibu ke kamar Juha, bapak keluar kamar dan tanya, ada makanan apa. Jadi saya siapkan makanan yang Ibu bilang." Seni menjelaskan.
"Ooh, iya Bu. Tadi pagi bapak mau pinjam uang sama saya, setelah mencari sesuatu di kamar dan juga mobil. Bapak sepertinya sedang kehilangan sesuatu, agak panik dan bingung sepanjang hari." Seni menceritakan apa yang terjadi di rumah.
"Dan ini, Bu. Saya angkat celengan Juha dan simpan di sini. Menurut Juha, tadi bapak tanya celengannya. Tapi Juha bilang tidak tau, karna dia tidak tahu saya pindahin ke sini." Seni menceritakan yang dilakukan.
"Oooh, begitu. T'rima kasih, Seni. Simpan dulu di sini. Ibu belum tahu apa yang terjadi. Seni tolong perhatikan rumah dan Juha, ya."
"Iya, Bu." Ambar keluar dari kamar Seni menuju kamar Juha.
Mendengar yang diceritakan Seni, Ambar jadi berpikir. 'Pasti Rulof sedang bermasalah dengan uang, sebab tidak mungkin dia cari perhiasannya, apalagi celengan Juha.' Hati Ambar sangat bersyukur, tadi pagi dia teringat perhiasannya dan membawanya untuk dijual.
...~●○♡○●~...