MISI KEPENULISAN!
JANGAN HERAN JIKA ADA NOVEL DENGAN ALUR YANG SAMA.
Amanda Batari, atau lebih dikenal dengan nama Amanda, harus rela tinggal bersama pria yang bernama Daniel Aiden. Dan dia juga harus menjadi sekretaris Daniel selama 3 bulan. Hal itu dilakukan Amanda, sebagai upaya menolak perjodohan yang diminta kakeknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NUR ASRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mati Lampu
12
Amanda sedang membereskan barang-barangnya. Dia bersiap untuk pulang. Tiba-tiba, Amanda mendapat panggilan dari Mayang. Amanda mengangkat panggilan itu.
"Aku sudah menyelesaikan tugas darimu nona Mayang" ucap Amanda.
"Aku kira ini hari terakhirmu di perusahaan ini. Tapi ternyata tidak" balas Mayang.
"Ada apa?" tanya Amanda.
"Aku lupa memberikan pekerjaan terakhir untukmu. Pekerjaan ini harus selesai besok pagi. Apa kau bisa membantuku?" jawab serta tanya Mayang.
"Pekerjaan apa?" tanya Amanda.
"Pekerjaan ini cukup sulit. Kau harus menunggu sampai aku datang. Karna kau sebelumnya belum pernah mengerjakan pekerjaan ini. Aku takut terjadi kesalahan. Kau tau kan, tuan Daniel tidak suka ada kesalahan sekecil apapun. Apalagi menyangkut pekerjaan" jelas Mayang.
"Hem,, baiklah. Aku akan mengerjakan pekerjaan ini" balas Amanda.
"Bagus. Kalo begitu tunggu aku. Aku akan segera ke perusahaan" ucap Mayang.
Panggilan pun berakhir.
Amanda berpikir kalau Mayang pasti hanya ingin mempersulitnya. Jadi dia tidak berpikir kalau ini adalah jebakan yang dibuat oleh Mayang.
Amanda menyetel musik dan bermain game untuk merileks kan tubuhnya.
"Aku sudah menyuruhnya menungguku datang nona Sonia" ucap Mayang pada Sonia ditelpon.
"Bagus. Lakukan sesuai rencana. Aku yakin, dia akan masuk perangkap kita" balas Sonia.
"Tentu saja nona" ucap Mayang.
Waktu terus berlalu.
Amanda melihat jam di tangannya yang menunjukan pukul 00.30, namun Mayang belum juga datang.
"Ke mana dia? Kenapa dia belum datang juga? Aku sudah menunggunya berjam-jam di sini. Awas saja jika dia berani menipuku, aku akan memberi pelajaran untuknya" ucap Amanda kesal.
Akhirnya Amanda memutuskan untuk menelpon Mayang.
"Di mana kau? Kenapa belum juga datang?" tanya Amanda yang mulai kesal.
Saat mendapat panggilan dari Amanda, ternyata Mayang sedang bersantai sambil memakai massker di wajahnya.
"Aku sedang diperjalanan. Kau tunggu saja aku" jawab Mayang sambil terus berbaring dengan santai.
"Aku akan menunggu 10 menit lagi. Jika dalam 10 menit kau tidak datang, maka kau yang akan bertanggung jawab atas pekerjaan yang belum selesai ini" ucap Amanda dengan tidak sabar.
Amanda memutuskan panggilan secara sepihak.
Mayang tersenyum senang, karna Amanda masuk jebakannya.
"Tunggulah aku Amanda,, aku akan datang. Tapi tidak sekarang" ucap Mayang tersenyum licik. "Hahah,, Amanda yang bod*h. Dia tidak tahu kalau aku sedang menjebaknya. Dia tidak sepintar yang aku banyangkan. Dengan mudahnya dia masuk ke dalam jebakanku. Amanda terlalu lugu. Karna kau sudah membuatku marah, maka rasakan akibatnya" Mayang tersenyum senang.
"Apa yang dia lakukan selama itu? Tidak mungkin perjalanan menuju ke kantor memakan waktu selama itu" ucap Amanda. "Aku rasa ini tidak benar. Ada yang salah di sini" pikir Amanda.
Amanda segera mencari nomor seseorang.
"Hallo" sapa Amanda.
"Hai, Amanda. Tumben sekali kau menelpon ku. Itupun tengah malam begini" balas orang itu.
"Maaf Tio, aku mengganggu waktu istirahat mu. Tapi aku sangat membutuhkan bantuanmu saat ini" ucap Amanda.
Tio adalah seorang hacker hebat. Dia teman Amanda.
"Apa yang bisa ku bantu?" tanya Tio.
"Bisa kau kau membantuku melacak keberadaan nomor telepon seseorang?" pinta Amanda.
"Tentu saja. Hal sekecil itu sangat mudah bagiku" setuju Tio.
"Baiklah, aku akan mengirimkan nomornya padamu" ucap Amanda.
"Ok" balas Tio.
"Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih padamu" ucap Amanda.
"It's oky. No promlem" balas Tio.
Amanda mengakhiri panggilan, kemudian dia mengikikan nomor Mayang pada temannya itu. Tak butuh waktu lama, kini Amanda sudah melihat letak keberadaan Mayang.
Amanda membulatkan matanya saat melihat keberadaan Mayang.
"Kurang ajar. Berani sekali dia menipuku. Aku sudah menunggunya selama berjam-jam. Tapi dia dengan nyamannya duduk di rumah dan mengatakan aku sedang dalam perjalanan" gerutu Amanda.
Amanda menyadari kalau dirinya sudah ditipu oleh Mayang. Dan Amanda tau kalau dirinya terlalu polos untuk percaya pada Mayang. Amanda sangat marah pada Mayang. Amanda pun mengambil tasnya bertujuan untuk pulang.
Saat beberapa langkah, tiba-tiba lampu mati.
"Aaa.." Amanda berteriak kemudian dia berjongkok.
Amanda berdiri dan melihat ke sekelilingnya. Hatinya mulai gelisah saat melihat semuanya gelap.
"Yang aku takutkan terjadi" ucap Amanda. "Tenang Amanda. Kau tidak boleh panik. Ini hanya mati lampu sementara saja. Sebentar lagi lampunya pasti nyala" Amanda menyemangati dirinya sendiri.
"1,, 2,, 3,, 4,, 5.." Amanda menghitung sampai lima.
Kata orang, jika sedang mati lampu, kita harus menghitung sampai lima agar lampunya nyala kembali.
"1,, 2,, 3,, 4,, 5.." Amanda mencoba yang ke-2 kalinya.
Namun hasilnya sama dengan percobaan ke-1
"1,, 2,, 3,, 4,, 5.." Amanda mencoba yang ke-3. Namun hasilnya masih sama.
Amanda mulai panik.
Secara perlahan, Amanda kembali ke tempat duduknya. Amanda menyalakan lampu senter handphonenya, namun handphonenya tiba-tiba mati dan tidak bisa dipakai. Amanda tambah gelisah.
Dari kecil Amanda memang sudah takut pada kegelapan. Awalnya Amanda tidak takut. Tapi karna suatu kejadian yang menimpanya, sejak saat itulah Amanda menjadi takut akan kegelapan. Jika sudah takut seperti ini, maka Amanda akan gelisah, gemetar ketakutan dan panik.
Amanda duduk memeluk kakinya di bawah meja kerjanya. Karna terlalu panik, otak Amanda menjadi ngeblank. Amanda tidak bisa berpikir dan melakukan apapun.
"Tolong,, siapapun tolong aku" ucap Amanda namun tidak berteriak. "Kakek,, tolong aku kek,, aku takut sekali" ucap Amanda.