Setelah sekian lama Nathan berusaha menghindari Nadira—gadis yang melukai hatinya. Namun, pada akhirnya mereka dipertemukan kembali dalam sebuah hubungan kerjasama yang terjalin antara Nathan dan Rendra yang merupakan atasan Nadira di Alfa Group.
Sebuah kecelakaan yang dialami Davin dan Aluna dan menyebabkan mereka koma, membuat Nathan akhirnya menikahi Nadira demi untuk melindungi gadis itu dari bahaya yang mengancam keluarga Alexander.
Siapakah sebenarnya yang mengintai nyawa seluruh keluarga Alexander? Mampukah Nona Muda Alexander meluluhkan hati Nathan? Atau justru ada cinta lain yang hadir di antara mereka?
Simak kisahnya di sini.
Jangan lupa follow akun sosmed Othor
Fb : Rita Anggraeni (Tatha)
IG : @tathabeo
Terima kasih dan selamat membaca gaes
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Tatha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
"Mereka memang tidak sadar, tapi mereka bisa mendengar sekitarnya. Om yakin kalau daddy kamu bahagia saat ini karena kamu sudah menikah dengan orang yang tepat," papar Marvel. Nadira tersenyum tipis. Dia mengecup kening Davin dan Aluna bergantian.
"Lihatlah Kak Al, Bi. Daddy terus saja membuat kita cemburu. Segitu bucinnya daddy, sampai-sampai ikut terlelap seperti mommy. Daddy memang pantas dipanggil Dewa Bucin!" Nadira berkelakar, tapi tawanya terdengar garing, seperti makanan yang terasa hambar.
"Aku yakin kalau daddy dan mommy akan segera sadar." Febian memeluk Nadira dengan erat, Alvino pun ikut mendekat dan memeluk kedua adiknya.
Ketika mereka sedang saling berpelukan, ponsel Nadira terdengar berdering. Nadira melerai pelukan itu dan mengambil ponsel di saku celananya. Dia menepuk keningnya saat melihat nama Rendra tertera di layar.
"Astaga, aku lupa belum bilang pada Mas Rendra." Nadira bangkit berdiri, lalu berpamitan keluar dari sana untuk menerima panggilan Rendra. Nathan hanya menatap Nadira tanpa sedikit pun membuka suara.
"Nat, terima kasih kamu sudah bersedia menikahi Nadira." Alvino menepuk pundak Nathan dengan bibir tersenyum lebar.
"Sama-sama, Al. Sudah kewajibanku menjaga keluarga Alexander." Nathan berusaha memaksakan senyumnya.
"Tadi Om denger kamu memberi maskawin rumah di Bandung. Kenapa bukan di Jakarta?" tanya Ardian yang sedari tadi penasaran.
"Nathan sedang membangun cabang perusahaan di Bandung, Om. Bekerja sama dengan Alfa Group dan mungkin akan tinggal di sana," sahut Nathan.
"Alfa Group 'kan punya Rendra. Atasan Nadira." Ardian menautkan kedua alisnya, sedangkan Nathan mengangguk mengiyakan.
"Terus perusahaan di sini siapa yang akan mengelola?" tanya Marvel yang sedari tadi hanya diam menyimak.
"Aku dan Rayhan nanti bergantian." Nathan terdiam saat melihat Nadira masuk ke ruangan itu lagi. Pandangannya tak lepas dari tubuh Nadira.
"Kak, aku harus ke Bandung karena pekerjaanku tidak bisa ditinggal saat ini. Mungkin aku akan kerjakan dengan cepat supaya bisa menemani mommy dan daddy," kata Nadira dengan menunduk. Dia merasa tidak enak hati karena harus tetap bekerja padahal kedua orangnya butuh ditemani.
"Tidak apa, Nad. Nanti kamu bisa sesekali pulang. Kalaupun ada apa-apa nanti Kakak kabari. Lagi pula Om Marvel selalu siap sedia menjaga daddy dan mommy," kata Alvino. Dia mengusap puncak kepala Nadira.
"Tapi Nad ... aku belum bisa pulang. Aku masih harus di sini. Atau kamu pulang dengan Om Ardi saja," kata Febian.
"Om juga masih harus di sini. Masih ingin menemani Kak Luna," timpal Ardian. Nadira menghembuskan napas kasar.
"Kalau begitu aku bawa mobil sendiri saja," kata Nadira dengan lesu.
"Jangan!" cegah Alvino begitu saja.
"Cha, kemasi barangmu. Nanti sore kita akan pulang ke Bandung," perintah Nathan. Dia memalingkan wajahnya saat Nadira menoleh ke arahnya.
"Kenapa mendadak? Aku masih kangen sama Bunda dan Ayah." Cacha memeluk tubuh Mila dengan erat.
"Cha, pulanglah dengan kakakmu dan Nadira. Kapan-kapan ayah dan Bunda akan datang menginap di apartemenmu." Cacha melerai pelukannya dan menatap wajah Mila dengan semringah.
"Benarkah, Bun?" tanya Cacha memastikan.
"Tentu saja. Bunda ingin merasakan seberapa empuk kasur di apartemenmu. Kira-kira bisa bikin pinggang Bunda encok enggak," seloroh Mila. Johan mendengus kesal karena tahu ke mana arah pembicaraan istrinya.
"Mana ada, Bun. Kasur Cacha pasti empuk lah," sanggah Cacha tidak terima.
"Justru karena kasurmu empuk, pinggang Bunda bisa encok karena digarap ayah berkali-kali. Aduh!" Mila menjerit saat Johan menyentil keningnya dengan cukup kencang.
"Sakit, Mas. Kenapa kamu tidak pernah berubah?" rengek Mila sambil mengusap keningnya yang terasa sakit.
"Kamu juga tidak pernah berubah. Mulutmu masih saja tidak punya malu," cibir Johan.
"Aku jadi merindukan jargonku, Mas. Aku tidak punya malu, tapi aku punya ...."
"Diamlah, Mil!" perintah Johan dengan ketus. Mila pun terdiam. Mereka yang berada di ruangan itu tidak bisa lagi menahan tawanya.
"Ikutlah denganku. Ada yang mau aku katakan." Nathan menggandeng tangan Nadira dan mengajaknya keluar dari ruangan itu. Mereka yang berada di dalam ruangan hanya menatap kepergian Nathan dan Nadira.
"Bi, memang kamu tidak balik ke Bandung?" tanya Cacha saat Nathan dan Nadira sudah benar-benar keluar dari ruangan itu.
"Balik lah. Aku cuma mau Kak Nathan dan Nadira pulang bersama. Kamu lihat sendiri 'kan kalau kakakmu sangat perhatian dengan Nadira." Febian menaik-turunkan alisnya dengan senyum lebar. Cacha menghembuskan napas secara kasar.
"Astaga! Kamu jahat banget, Bi. Terus aku suruh jadi obat nyamuk mereka?" Cacha melipat tangan di dada dengan bibir cemberut.
"Nanti kalau kalian mau berangkat. Kamu tinggal kasih alasan aja gak bisa ikut. Jangan bodoh!" Febian menonyor kepala Cacha membuat gadis itu bersungut-sungut.
"Bi!" pekik Cacha. Febian tertawa sambil melindungi tubuhnya dari pukulan Cacha. Mereka yang melihat pun kembali tertawa.