Arabella Qaseema, wanita dewasa berumur 24 tahun. Sesuai dengan namanya yang cantik, Arabella memiliki paras yang cantik dan imut. Tapi sayang, ia sulit mendapatkan pasangan. Setiap bulan yang berganti, bergulir disetiap harinya. Arabella, selalu berharap akan ada seorang pria yang akan datang untuk melamar.
"Hilal jodoh belum terlihat. Jadi nunggu hilal dulu. Nanti ya, kalau enggak Sabtu, ya Minggu,"
"Kalau diundang, aku gak mau ngasih kado. Hari minggu gini KUA-nya tutup,"
"Memang mau nyariin calon buat aku?"
"Besok ya, kalau enggak hujan. Aku cariin satu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revolusi Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ana Uhibbuki Fillah, Ara!
Haafizh menghela napas panjang, lalu menatap Arabella dengan lembut. Sebelum malam tiba Haafizh akan mengungkapkan perasaannya pada Arabella, ia ingin pergi bertugas dengan perasaan tenang. Meninggalkan goresan indah dihati Arabellla.
"ARABELLA, MENIKAHLAH DENGAN, SAYA!" Teriak Haafizh dengan mantap, teriakan pertama begitu lantang. Haafizh yang melihat Arabella terdiam segera berteriak kembali.
"JADILAH ISTRI SAYA, ARA!"
Setelah berteriak cukup keras, Haafizh segera menyusul Arabella. Tidak peduli dengan jawaban Arabella nanti, yang penting perasaan Haafizh sudah didengar oleh Arabella.
Dibawah langit senja, dengan hembusan angin yang begitu kuat Haafizh menyatakan cintanya, ajakan nikah yang begitu serius Haafizh nyatakan membuat tangis Arabella pecah. Hatinya terasa berkecamuk, rasa sedih sekaligus bahagia Arabella rasakan diwaktu yang bersamaan.
Kini pria yang berprofesi sebagai tentara itu berdiri dihadapannya, tidak peduli dengan keberadaan Haafizh sekarang, Arabella hanya ingin menangis.
"Ara, kenapa kamu menangis? Apa saya melukaimu," Haafizh terlihat panik sekaligus khawatir.
Arabella tidak menjawab ia terus menangis, entah kenapa buliran air matanya terus mengalir. Dari sekian bulan berganti disetiap tahun, akhirnya ada seorang pria tulus seperti Haafizh mengajak dirinya menikah. Jodoh itu emang misterius. Dia datang begitu saja dan lewat begitu saja. Seperti hal nya Haafizh.
"Ara, kamu kenapa, hem"
"Haafizh, tadi kamu.. " Ucap Arabella yang langsung dipotong oleh Haafizh.
"Iya Ara, saya mengajakmu menikah! Arabella menikahlah dengan saya. Saya mencintaimu, Ara. Saya ingin memiliki kamu, saya ingin memeluk setiap kekurangan dan kelebihan kamu. Kamu adalah bidadari surga saya, Ara." Ucap Haafizh dengan tegas dan tulus.
Arabella tertegun, ia malah merasa semakin tidak percaya kalau Haafizh akan mengajaknya menikah, padahal selama ini mereka berdua hanya sebatas hubungan teman.
"Apa kamu sedang bercanda? Selama ini kita hanya berteman, saya juga belum mengenal siapa kamu dengan baik Haafizh. Tolong jangan mengatakan hal seperti itu, mana bisa saya menjadi istri kamu sementara kita hanya seorang teman."
"Saya tidak bercanda! Jika saya bukan seorang prajurit mungkin saya akan menikahimu besok atau sekarang juga boleh. Tapi kamu tahukan menikah dengan seorang prajurit harus pengajuan dulu. Mengajakmu berteman adalah cara saya untuk bisa mendekatimu, Ara. Mengenal bagaimana karakter dan sifat kamu. Maaf, Ara. Sepertinya saya sudah jatuh cinta duluan"
"Ja-jadi kamu me-mencintai saya" Ucap Arabella dengan terbata-bata, bahkan ia menatap Haafizh tak percaya. Hatinya berdetak kencang dengan perasaan yang tidak karuan.
Haafizh mengangguk. "Ana Uhibbuka Fillah, Ara." Senyum lebar itu menghiasi wajah tampan Haafizh. Jika Arabella mahramnya mungkin Haafizh sudah memeluk Arabella sekarang.
Semburat rona merah dipipi Arabella terpancar jelas. Terlihat malu-malu dan menggemaskan, Haafizh makin terpesona saja oleh kecantikan Arabella.
"Tapi.. " Arabella nampak bingung, antara percaya dan tidak percaya. Ketulusan Haafizh selama ini membuat Arabella nyaman. Jika bertanya apa Arabella mencintai Haafizh? Jawabannya Arabella sediri tidak tahu. Masih terlalu cepat bagi Arabella untuk menerima semuanya.
"Saya tau ini terlalu cepat. Ara, percayalah pada saya! Perasaan cinta dan kasih sayang merupakan anugerah dari yang Maha Kuasa. Saya juga tidak tahu, kalau pertemuan pertama dibus itu adalah cara Allah untuk menyatukan kita. Arabella, saya mohon tunggu saya menyelesaikan tugas negara, setelah itu saya akan menemui orang tua, Mu."
Arabella terdiam, kedua matanya terus menatap lekat pada Haafizh. Apakah ini mimpi, jika iya tolong bangunkan dirinya dengan cepat. Tapi jika ini nyata, Arabella sangat bersyukur karena dicintai oleh seseorang yang begitu tulus dan baik.
"Tapi Haafizh kenapa kamu mengajak saya menikah,"
"Karena saya tidak ingin buang-buang waktu, jika kita sudah merasa yakin kenapa harus menunggu lagi"
Entah harus bagaimana ia menjawab semua perkataan Haafizh barusan, Arabella masih tidak percaya selama ini Haafizh memang baik padanya, bahkan Haafizh selalu memberi perhatian padanya. Selama ini Haafizh menunjukkan kasih sayangnya pada Arabella tapi ia tidak menyadari hal itu, Arabella pikir, itu hanya kasih sayang pada seorang teman ternyata ia salah.
"Ayo kita pulang!" Ajak Haafizh saat mendengar adzan berkumandang.
Arabella hanya mengangguk seraya mengikuti langkah kaki Haafizh.
Sepanjang perjalanan keduanya saling terdiam, sibuk dengan pemikiran masing-masing. Sampai akhirnya mobil Haafizh berhenti didepan rumah Arabella.
Saat ingin hendak membuka pintu mobil, Haafizh segera menahan Arabella.
"Kenapa" Tanya Arabella, menatap Haafizh. Wajah pria itu terlihat sendu, entah kenapa Arabella menjadi betah berlama-lama menatap Haafizh.
"Besok pagi saya akan pergi, tolong! Antar saya ke bandara. Jika mau nanti teman saya yang akan menjemput kamu."
Arabella nampak berpikir, toh besok dirinya masih libur kerja. Tidak ada salahnya mengantar Haafizh dulu. Dengan senyum manis, Arabella mengangguk mau.
" Terimakasih, Ara" Ucap Haafizh dengan tersenyum senang.
"Sama-sama. Pasti besok ada keluarga mu ikut mengantar, apa tidak masalah kalau ada saya?"
"Mungkin hanya ada ayah saya saja. Bunda tidak pernah ikut, dilarang ayah, setiap saya pergi bertugas bunda selalu saja menangis seperti tidak mengizinkan saya pergi. Waktu itu pernah sekali bunda ikut mengantar ke bandara, bunda malah semakin bertambah bersedih dengan tangisnya yang makin tak terkendali"
"Jujur waktu itu saya tidak tega sekali meninggalkan bunda, tapi mau bagaimana lagi tugas negara lebih penting, saat sedang bertugas saya selalu memikirkan bunda. Hingga saat saya sedang dalam sebuah misi tugas, saya tertembak. Waktu itu pikiran saya tidak fokus, karena wajah sedih bunda selalu memenuhi pikiran saya."
Arabella tertegun, mendengar cerita Haafizh. Terlihat wajah pria tampan itu semakin sendu, mungkin kesedihan itu masih terasa sampai sekarang.
"Seorang ibu memang seperti itu, ketika anaknya akan pergi dari jangkauannya ia akan sangat khawatir takut anaknya terluka. Kasih sayang seorang ibu itu sangat besar, bahkan ia rela berkorban nyawa demi anaknya selamat." Ucap Arabella dengan lirih, Tiba-tiba saja ia teringat dengan Alm ibunya.
Setelah diantar Haafizh pulang, Arabella segera masuk ke kamar. Hatinya terus berdebar-debar. Ucapan Haafizh dipantai, masih terngiang jelas dipikiran Arabella. Senyum bahagia terus tersungging diwajahnya. Membuat Ana terheran-heran.
"Kak Ara kenapa sih? Dari mulai masuk rumah sampai mau masuk ke kamar mandi pun senyum-senyum. Tuh sekarang keluar dari kamar mandi pun masih senyum-senyum." Gumam Ana, seraya memperhatikan gerak gerik Arabella. Sementara dirinya duduk bersila diatas kasur.
"Jangan-jangan kak Ara ketempelan demit" Batin Ana menjerit.
Ana segera beranjak dari tempat tidur, berlari kencang ke kamar ayahnya untuk segera meruqyah Arabella.
Arabella yang melihat Ana tiba-tiba berlari kencang keluar kamar seperti itu hanya bisa mengerjit bingung.
"Kenapa dengan, Ana," Tanya Arabella pada dirinya sendiri. Tidak mau memikirkan Ana yang bertingkah aneh, Arabella segera menyisir rambut panjangnya kembali.
tinggal menunggu prahara sang bunda nya hafiz lanjut....!
Masya Allah...
🤣