Mega pernah berharap, cintanya pada Bayu yang tumbuh di usia remajanya akan berkembang menjadi cinta dewasa seiring bertambahnya usianya. Tapi kenyataan berkata lain, terpisah jarak dan waktu membuat kisah cintanya kandas di tengah jalan.
Seiring waktu berjalan, Mega mulai menata hatinya kembali dan berdamai dengan masa lalunya. Lima tahun berlalu, Mega pulang kembali ke tanah kelahirannya sebagai seorang dokter. Bukan lagi remaja tanggung yang manja dan cengeng seperti ucapan seseorang padanya dulu.
Pertemuannya kembali dengan Fajar Anugrah, seorang Insinyur Pertanian, pemilik banyak lahan dan perkebunan di desanya mulai mengusik hatinya. Sama-sama memiliki keinginan kuat untuk memajukan desanya, dengan latar belakang profesi yang berbeda. Ada tawa, ada benci, ada cinta di balik cerita luka masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RisFauzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Bertemu kembali
“Beres bos! Semua kotak obat sudah masuk dalam mobil,” ucap Warno lalu menutup pintu mobil.
“Yakin nggak ada yang ketinggalan?” sela Sri yang datang mendekat dengan membawa kotak kecil berisi obat yang sepertinya luput dari perhatian Suwarno.
“Sebenarnya Aku yo nggak yakin sih, Sri. Opo onok seng ketinggalan maneh yo?” ucap Warno berpikir keras sambil mengetuk dagunya dengan ujung jarinya.
“Hillih, gayamu mikir! Lah, ini apa coba?” kata Sri lagi sambil menunjukkan kotak berisi obat di tangannya.
“Ketinggalan lagi! Si Warno kebiasaan, kerja mesti diawasi. Selalu saja ada yang ketinggalan,” kata Fajar sambil menggelengkan kepalanya. “Ayo diperiksa ulang lagi!” perintahnya lagi, lalu berjalan masuk ke dalam mobilnya.
“Kelalen awakku, bos.” Warno meringis, lalu dengan cepat mengambil kotak dari tangan Sri. “Untung onok awakmu, Sri. Tengkyu yo yank,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Sri.
“Hiyy, nggilani bocah ki.” Sri bergidig ngeri. “Kudu muntah Aku, kresek mana kresek!”
Dari balik kaca spion mobilnya, Fajar tersenyum kecil melihat tingkah keduanya. Asistennya yang satu ini memang sudah lama naksir sama Sri, di setiap kesempatan selalu saja berusaha mendekati Sri meski tidak sekalipun mendapatkan tanggapan.
“Wes bos, kita berangkat!” ucap Warno setelah masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Fajar, sementara Sri sudah kembali masuk ke dalam rumah.
Baru saja Fajar hendak menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba dari arah depan muncul sebuah motor memasuki halaman rumahnya dan berhenti tepat di samping mobilnya.
Seorang wanita muda dengan perut besar sepertinya tengah hamil tua, turun perlahan dari boncengan motor si lelaki bersama seorang anak kecil berusia sekitar tiga tahun. Sambil menggendong anaknya, lelaki itu dengan langkah cepat berjalan menghampiri Fajar di mobilnya.
“Mas, Aku pinjam mobilnya ya. Mau bawa Alya periksa kandungannya ke puskesmas.”
Fajar menatap sesaat pada Alya yang tengah mengusap-usap perutnya, lalu beralih menatap pada Bayu adiknya.
“Bareng satu mobil saja. Aku juga mau ke puskesmas ngantar obat buat Rendra,” ucap Fajar kemudian.
“Ya sudah, kebetulan sekali kalau begitu. Biar bareng mas saja,” katanya lalu menghela bahu istrinya dan menuntunnya masuk ke dalam mobil.
“Rio duduk sama ibu di sini. Biar Ayah taruh motor dulu ya,” kata Bayu sambil mengusap rambut anak lelakinya, yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Rio.
“Rio mau dipangku pakde Warno?” kata Warno menawarkan diri sambil mengulurkan tangannya pada Rio.
Anak kecil itu menggeleng kuat dan menyembunyikan wajahnya di balik lengan ibunya.
“Makasih pakde, Rio biar sama ibu saja.” Alya menjawab sambil memeluk Rio.
Fajar hanya diam memperhatikan, dia tahu kalau Alya merasa tidak nyaman berada satu mobil dengannya. Sikap Fajar yang dingin dan tidak banyak bicara berbanding terbalik dengan sikap Bayu suaminya.
Dalam perjalanan menuju puskesmas tidak banyak perbincangan di antara mereka, hanya sesekali suara Warno terdengar bertanya tentang tempat yang mereka lewati ditimpali suara Fajar yang menjawab dengan singkat. Sementara Bayu dan Alya, lebih banyak bercanda dengan anak mereka.
Perlu waktu satu jam untuk sampai ke tempat tujuan. Fajar menepikan mobilnya persis di depan pintu masuk puskesmas, setelah itu dia dan Warno langsung menurunkan kotak kardus berisi obat-obatan sementara Bayu dan Alya langsung masuk ke dalam puskesmas.
Di depan pintu sudah ada Rendra yang berdiri menunggunya dengan tangan memegang kunci.
“Langsung taruh di gudang obat ya, No. Ini kuncinya,” Rendra menyerahkan kunci gudang kepada Warno.
“Siap mas dokter!” sahut Warno dan langsung menuju gudang obat.
“Ini catatan nama obat dan jumlahnya, sesuai pesananmu tadi di telpon.” Fajar menyerahkan kertas catatan obat di tangannya pada Rendra yang langsung memeriksanya.
“Santai Dra, kemana yang lain?” tanya Fajar melihat suasana puskesmas yang terlihat lebih sepi dari biasanya.
“Hari ini tidak terlalu banyak pasien yang datang. Jadi bisa lebih santai,” jawab Rendra tanpa mengalihkan pandangannya pada kertas di depannya.
Sementara itu Mega yang tengah berkeliling melihat-lihat sekeliling puskesmas bersama bidan Yati, tanpa sengaja bertemu dengan Warno yang sedang duduk santai di bangku panjang yang ada di belakang puskesmas dekat dengan pohon jambu air yang sedang berbuah lebat.
Tanpa disadarinya, ada sekumpulan tawon yang sedang berputar-putar di atas kepalanya.
Nguuungg!
Ngiuunngg!
Warno bergeming di tempatnya, matanya setengah terpejam menikmati semilir angin yang berembus. Samar-samar telinganya mendengar bunyi denging yang semakin dekat.
“Huaaa! Tawonn. Aku disentup tawonn!” teriaknya Warno lantang kesakitan.
Detik berikutnya Warno berlari sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke sembarang arah.
“Mba Yati, mas nya kesentup tawon itu!” ucap Mega terkejut melihat Warno, dan berhasil menghindar saat Warno berlari ke arah mereka berdua dan hampir saja menubruknya.
“Walah bahaya kalau tawonnya bubar itu!” ucap bidan Yati sambil menyeret tangan Mega untuk menjauh.
“Sepertinya nggak, mba. Mungkin hanya satu dua saja yang tadi mengenai mas nya itu,” jawab Mega sambil melihat ke arah pohon jambu.
“Syukurlah. Lumayan sakit kalau kena sentup tawon itu,” kata bidan Yati, lalu menutup mulutnya dengan tangan.
“Mau ketawa takut dosa,” katanya mengulum senyum, dan detik berikutnya ia tidak dapat menahan tawanya lagi.
“Maaf, maaf! Aku kok jadi geli lihat mas Warno lari tadi ya,” katanya masih dengan tawanya.
“Ish, mba Yati. Bukannya simpati lihat orang kena sentup begitu, malah diketawain.”
“Kasihan sih, cuma pas lihat wajahnya jadi pengen ketawa.”
Mega jadi ikutan tersenyum mendengarnya, tertawa di atas penderitaan Suwarno. Seperti itu mungkin kata yang lebih tepat untuk menggambarkan apa yang sedang dilakukan bidan Yati saat ini.
Suara teriakan Warno membuat yang lainnya terkejut, tidak terkecuali Fajar yang sedang berada di ruang kerja Rendra. Ia bergegas keluar dan melihat apa yang terjadi.
“Aku disentup tawon, mas bos! Panas mas bos!”
“Biar Aku periksa,” kata Rendra lalu membawa Warno masuk ke dalam ruangannya.
“Memang Kamu lagi ngapain kok bisa kena sengat tawon?” tanya Fajar heran.
“Di belakang puskesmas ada pohon jambu, mungkin Warno kena sengat tawon yang ada di pohon itu.”
Rendra lalu memeriksa bagian leher dan kepala Warno yang terkena sengatan tawon. Setelah mengeluarkan duri tawon di sekitar bagian yang memerah, Rendra kemudian mengompresnya dengan air es selama dua puluh menit dan memberinya paracetamol untuk meredakan panas.
Efek sengatan tawon bisa sembuh dalam dua hari atau lima hari. Duri tawon itu sangat kecil. Bila kita terkena sengatan tawon, cari duri tawon di sekitar daerah yang memerah. Ambil durinya dengan menggunakan pinset atau ujung atm. Ditekan supaya durinya keluar, setelah itu kompres dengan air es selama dua puluh menit. Berikan paracetamol untuk meredakan panas, atau bisa juga oleskan baking soda untuk mengurangi rasa gatal.
Mega yang berjalan kembali ke arah ruang kerja Rendra untuk berpamitan pulang, tanpa sengaja berpapasan dengan Bayu dan Alya yang telah selesai memeriksakan kandungannya.
Untuk beberapa saat Mega terpaku di tempatnya berdiri saat ini. Wajah-wajah lama yang selama ini berusaha dilupakannya, kini terpampang jelas di hadapannya.
Mega berusaha menguasai dirinya, rasa sakit itu masih ada dan kini kembali hadir menguasai hatinya. Tapi ia tidak ingin terlihat lemah di depan mereka.
“Apa kabar?”
Akhirnya Mega bisa bersuara, dan tersenyum pada Alya sahabatnya.
“Ba-baik,” sahut Alya terbata-bata.
“Kamu sudah kembali lagi, Ga.” Bayu menyapanya.
Mega menganggukkan kepalanya, lelaki di hadapannya itu kini terlihat lebih tua dari usia sebenarnya.
Dari balik kaca jendela ruang kerja dokter Rendra, Fajar memperhatikan mereka bertiga. Ia tahu wanita yang berhadapan dengan Bayu adalah Mega, mantan kekasih adiknya. Wanita itu terlihat biasa-biasa saja, tidak terlihat kalau ia patah hati pada Bayu. Atau memang wanita itu pandai menyembunyikan perasaannya.
🌹🌹🌹