Aira tidak pernah berharap menikah untuk kedua kalinya. Namun dia menyangka, takdir pernikahan pertamanya kandas dengan tragis. Seiring dengan kepedihan hatinya yang masih ada, takdir membawanya bertemu dengan seorang pria.
"Aku menerimamu dengan seluruh kegetiran dan kemarahanmu pada seorang lelaki. Aku akan menikahimu meski hatimu tidak tertuju padaku. Aku bersedia menunggu hatimu terbuka untukku," ujar pria itu.
"Kamu ... sakit jiwa," desis Aira kesal sambil menggeram marah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu
Lea dan Yeri membawa bos mereka menuju aula. Saat pintu terbuka, semua mata memandang ke satu titik, yaitu Ibrar. Mata mereka melihat, memeriksa dan memperhatikan pria yang akan jadi bagian dalam Nirvana Mall.
Ibrar paham, mata mata itu sangat ingin tahu tentangnya karena dia adalah orang baru, tapi perhatian Ibrar terpaku pada kursi tengah. Dimana perempuan itu mendongak setelah lama berkutat dengan sesuatu. Menatapnya dengan tatapan terkejut.
Ibrar merasa tidak asing dengan wajah itu. Meski wajah itu sudah terpoles dengan make-up, Ibrar merasa yakin pernah melihat perempuan yang masih tetap melihat dengan mata bulat yang tegas. Kemudian menunduk karena merasa sedang di tatap lama.
Bahkan saat makanpun Ibrar tak berhenti mencoba melihatnya. Mata Ibrar mengikuti gerak-gerik yang di lakukannya.
Benar. Itu dia! Perempuan yang menangis di ranjang dokter Gogot. Perempuan itu. Aku yakin sekali itu dia.
Ibrar sangat yakin penglihatan dan daya ingatannya masih bagus.
Tatapan mereka bertemu saat tangan perempuan itu membawa seporsi makanan yang sejak tadi lama untuk memilihnya. Ibrar berpikir mungkin makanan yang tersedia bisa membuatnya mual. Dia tahu perempuan itu tengah hamil. Lalu melihatnya yang membungkuk sopan dan kembali ke mejanya.
Ibrar tidak menyangka akan menemukan perempuan itu di sini. Di depan mobilnya. Memperhatikan mobilnya dengan seksama sambil berpikir. Ternyata mobilnya menghalangi motornya.
Mata Ibrar memperhatikan dari kaca spion mobil. Dimana wanita itu sedang menyalakan mesin. Ibrar segera turun dari mobil karena dia tahu bahwa sebentar lagi perempuan itu akan melewatinya.
Aira sudah menyalakan motornya. Saat melihat ke depan, manajer baru itu sedang berdiri di dekat mobilnya. Saat perempuan ini akan sampai tepat di depan manajer baru, kepala Aira mengangguk.
"Terima kasih, Pak," ujar Aira. "Saya permisi."
"Ya. Silakan." Manajer baru itu mempersilakan. Yeri yang baru saja menelepon mbak Lea hendak memberitahu Aira bahwa mobil itu bukan milik pak bos, tapi milik manajer baru. Melihat kemunculan manajer baru itu dan berbincang dengan Aira, gadis ini urung mengatakannya.
"Selamat beristirahat, Pak Ibrar." Motor Yeri sengaja mendekat ke arah mereka berdua. Aira terkejut jalannya di hadang Yeri.
"Ya, Yeri. Terima kasih." Rupanya dia menghapal nama staff HRD.
"Kita pulang dulu ya, Pak."
"Langsung pulang ke rumah?" tanya Pak Ibrar ke Yeri. Hanya sebuah basa-basi. Mungkin karena sejak tadi bersama, manajer baru ini lebih merasa mengenal Yeri.
"Tidak, Pak. Kita masih akan nongkrong dulu." Yeri dengan santai tanpa mengurangi sikap sopan dan hormatnya, menjawab pertanyaan manajer baru.
"Nongkrong?" tanya Pak Ibrar. Ekor matanya melirik sebentar ke arah Aira yang sedikit membelakanginya. Entah kenapa bola mata itu mengarah ke perempuan muda yang tengah membelokkan motor, agar bisa terbebas dari motor temannya.
"Iya, Pak. Kita berdua akan nongkrong sebentar sebelum pulang kerumah." Yeri tersenyum. Lalu matanya melirik ke arah Aira yang masih berwajah datar.
"Begitu ya ...."
"Permisi, Pak." Yeri berpamitan. Ibrar mengangguk. Lalu membiarkan mereka berdua lenyap di belokan.
"Jadi dia masih punya waktu untuk berkumpul bersama teman-temannya walau sudah bersuami ...," gumam Ibrar sendiri. Dia tentu masih memikirkan dia. Perempuan hamil yang menangis di atas ranjang dokter kandungan, dokter Gogot. "Apakah dia sebenarnya belum menikah? Jadi menangis saat mengetahui dirinya hamil?" Ibrar berpikir keras soal itu.
Pertemuan pertamanya dengan wanita bernama Aira itu membuatnya sempat berpikir panjang. "Entahlah... Nantinya aku juga akan tahu siapa dia." Akhirnya Ibrar memutuskan untuk menyerah berpikir soal perempuan itu.
Yeri dan Aira menjalankan motor menuju keramaian kota di daerah sekitar double way sebuah universitas. Pima melambai memberitahu keberadaannya. Dua motor mereka berbelok dan tiba di dekat sebuah cafe.
Karena malam minggu, daerah ini sangat ramai. Banyak cowok juga. Yeri tersenyum mengangkat alisnya. Memberi tahu bahwa ada banyak laki-laki di arah jarum jam 2. Aira hanya menoleh sebentar. Bermaksud hanya memenuhi kode temannya. Ternyata benar. Banyak pria disana. Aira tidak banyak menunjukkan reaksi.
"Banyak." Yeri tersenyum senang. Aira menanggapi dengan senyuman tipis. Mungkin, kalau Aira tidak pernah merasakan rasa sesakit ini, bertemu kaum pria sangat menyenangkan. Kali ini setelah dia di sakiti oleh seorang Eros, minatnya pada lelaki berkurang. Dia tidak memikirkan romansa lagi.
"Aku kenalin seseorang ..." Pima berujar dengan wajah cemerlang. Dari sini Aira baru ingat bahwa Pima punya kekasih baru.
"Yang mau kamu kenalin ke aku itu?" tanya Aira.
"Benar. Pria itu." Pima menjentikkan jarinya. "Saat kamu sedang berkencan suami istri itu ..." Aira tersenyum tipis. Yeri melirik melihat ekspresi temannya.
"Ayo. Kita masuk. Dia sudah menunggu kalian bersama teman-temannya." Yeri dan Aira mengikuti langkah Pima di belakang. Masuk ke dalam cafe. Beberapa pasang mata melihat ke arah mereka. Pasti itu meja tempat laki-laki yang akan di kenalkan oleh Pima.
Dugaan mereka benar. Pima melambaikan tangan dan di sambut oleh seorang pria.
"Nih, sobat-sobatku. Kenalin." Pima menyuruh mereka saling berkenalan. Tangan mereka pun terulur untuk berjabat tangan. Setelah itu duduk bersama. Bercengkrama sambil memesan sncak ringan. Semacam kentang goreng dan roti bakar.
Awalnya Aira tidak merasakan apa-apa. Namun saat sesudah makan beberapa suap roti bakar dengan cokelat leleh, perutnya bergolak. Matanya melebar terkejut.
"Aku ke toilet." Aira segera pamit. Pima mengangguk.
"Mau aku anterin?" tanya Yeri, tapi Aira sudah tidak bisa mendengar. Perempuan ini sudah terlanjur pergi duluan. Aira tidak bisa menjawab atau berbicara. Dia harus segera ke toilet dan memuntahkan apa yang perlu di muntahkan.
Bruk!
Karena Aira terburu-buru untuk memperendek waktunya agar cepat sampai, dia juga lengah dan menabrak seseorang. Mulutnya tak sempat meminta maaf atau sekedar mengangguk pertanda dia bersalah. Aira segera melesat ke dalam toilet dengan mulut di bekap jari-jarinya.
"Ahh ..." Suara Aira terdengar lega setelah berhasil mengeluarkan beberapa makanan yang membuat perutnya tidak nyaman. Menghela napas yang sempat tercekat karena kebingungan jika seandainya muntah dan mual di depan teman-teman Pima.
Mual dan muntah yang di sebabkan hamil atau bisa juga pola makan yang tidak baik. Aira memang mulai tidak bernafsu makan seperti biasanya. Sungguh mustahil bisa merasa baik-baik saja setelah membuktikan perselingkuhan suaminya.
Setelah membersihkan mulut dan merasa perutnya baik, Aira keluar. Tak lupa dia juga merapikan rambut dan tatanan penampilannya. Kemudian kembali menuju meja tempat dia dan teman-temannya tadi.
Namun kali ini berbeda. Jika tadi pikirannya hanya terfokus pada rasa mual dan ingin muntah yang mendera, kali ini dia merasa ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya. Karena rasa ingin tahu, Aira menoleh ke tempat di mana dia merasa tatapan itu berasal dari sana.
Di meja bar yang ada di sudut cafe, pria itu sedang melihatnya. Dia manajer baru itu. Bola mata Aira mengerjap. Terkejut dan juga ragu. Apa benar dia, manajer itu. Sungguh aneh menemukannya di sini.
Kaki Aira melangkah ingin melanjutkan, tapi rasa penasaran masih menyerangnya. Kepalanya menoleh lagi. Benar. Itu manajer baru itu. Kepala Aira akhirnya mengangguk. Memberi sapaan. Pria itu mengangguk juga menyambut sapaan Aira.
"Ada Pak Ibrar," ujar Yeri. Dugaan Aira benar, itu manajer baru. Untung saja dia memberi sapaan. Aira mengangguk pelan. "Kok mengangguk? Memangnya sudah tahu?" tanya Yeri heran.
"Aku melihatnya tadi." Aira berkata pelan. Sebenarnya Ibrar sudah tahu itu Aira. Saat perempuan itu menuju toilet dan menabraknya. Namun Aira tidak paham. Karena terlalu fokus sama mual yang dirasakannya. Ibrar sedikit terkejut bertemu perempuan ini disini.
Entah kenapa, dia menunggu. Duduk di kursi bar yang pasti akan di lewati oleh orang yang baru saja dari toilet. Sambil menyesap minuman yang dia pesan, Ibrar dengan gelisah menunggu kemunculan Aira.
Setelah beberapa menit, muncullah perempuan ini. Wajah tidak sehat terlihat sekilas. Ibrar paham pasti itu ada hubungannya dengan kehamilan perempuan itu.
banyak pelajaran yang di dapat
berharap ada bonchap sampai aira melahirkan
masih terbawa kesel sm nara dan eros
rasa sakit dan trauma aira belum sebanding sakitnya nara dan penyesalan eros
Aira masih sangat ingin dekat eros
Buktinya dia masih g bisa move on
Kesan nya kayak perempuan bodoh
Anak dalam nikah meninggal
Jadi aira ga da iktan lagi
kalo Aira, kakaknya Ibrar dijodohin sama Yuta gimana y...?