Lima bulan sebelum pernikahan Rara dan Devan terlaksana, Rara memergoki tunangannya itu tengah berada di rumah saki bersama seorang perempua hamil, awalnya ia mengira itu saudara nya, namun kenyataan pahit harus terpaksa ia telan mengetahui bahwa wanita yabg bersamanya adalah istrinya, wanita yang dinikahi devan satu tahun yang lalu. Dunia Rara seakan berhenti detik itu juga, sakit tentu saja iya rasakan, kecewa apa lagi, Rara tidak tahu harus bagaimana lagi hidupnya tak lagi sma, Rara yang dulu periang kini berubah menjadi pendiam dan berkali kli masuk rumah sakit karena terlalu lelah karena pikirannya. Angga yang kebetulan menjadi dokter yang menangani Rara dan juga seorang sahabat dari Riri, kakak Rara berniat menjodohkan keduanya Angga tentu saja bahagia karena bagaimana pun ia memang sudah diam-diam menyimpan hati pada perempuan cantik pemilik cafe tempat dirinya makan siang di jam istirahatnya. Angga tidak ingin menyerah meskipun gadis itu tidak juga memberikan kepastian meski berkali-kali dirinya mengungkapkan perasaannya. Rara hnya tidak ingin menerima laki-laki itu di saat hatinya masih bersemayam laki-laki masa lalu yang telah menggoreskan luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Hari ini Angga mendapat cuti dari rumah sakit, bertepatan juga dengan hari dimana seharusnya pernikahan Rara dan Devan terlaksana. Angga pun semalam mendapat kabar dari sahabatnya, Riri. Bahwa dari kemarin Rara mengurung diri di kamarnya, tidak makan dan tidak minum yang terdengar hanya isak tangis yang memilukan.
Pagi ini juga Angga berniat untuk mengunjungi rumah Rara, untuk melihat kondisi gadis yang dicintainya itu. Bukan Angga tak sakit hati melihat gadis yang dicintainya itu menangisi laki-laki lain, tapi Angga juga tahu bahwa ini lah resiko yang harus ia ambil.
Sesampainya dikediaman Rara, Angga disambut oleh Ferdi, ia tersenyum dan menjabat tangan sahabatnya itu. Setelah bercakap-cakap sebentar di depan rumah keluarga Rara, akhirnya Angga dan Ferdi masuk. Hal yang pertama kali Angga lihat adalah Mamanya Rara yang keadaannya sangat kacau. Angga mengerti, pasti sangat sakit sekali melihat anaknya seperti ini. Orang tua mana yang akan biasa saja ketika melihat anaknya terluka batin seperti itu.
“Tante, apa boleh, Angga memcoba membujuk Rara?” Tanya Angga meminta izin. Risa mengangguk memperbolehkan.
Dengan perlahan Angga berjalan mendekati pintu kamar Rara. Ia sudah bisa mendengar suara tangisan yang begitu memilukan, hati Angga merasa tertusuk ribuan jarum saat mendengar suara tangis yang bersumber dari gadis yang sangat ia cintainya itu.
Mencoba mengetuk pintu kamar Rara beberapa kali dan tidak lupa juga menyampaikan kedatangannya, cukup lama Angga mengetuk dan memanggil-manggil Rara untuk membuka pintu namun tidak juga ada jawaban.
Angga ingin menyerah namun ia tidak bisa. Angga terlalu khawatir kepada gadis itu, hingga ketukan entah yang keberapa kali, Angga mendengar langkah kaki mendekat kearah pintu, dan terdengar suara kunci yang terbuka membuat semua orang yang berada disitu mengembangkan senyum lega begitupun dengan Angga. Angga menengok kearah orang tua Rara meminta persetujuan untuk masuk kedalam kamar Rara, mereka hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban, lalu Angga menoleh pada Riri dan juga Ferdi yang juga mendapat anggukan dari mereka. Dengan menghembuskan napas panjang terlebih dulu akhirnya Angga membuka pintu kamar Rara dan berjalan perlahan menghampiri Rara yang kini tengah menghadap keluar jendela, isak tangis masih terdengar namun tidak sekeras tadi.
“Mau ke Pantai?” Tawar Angga saat sudah berdiri tepat disamping Rara, perempuan cantik dengan mata sembab itu menatap kearah Angga tanpa mengucapkan sepatah katapun. Angga yang tahu tidak akan mendapat jawaban, menarik pelan lengan Rara dan membawanya keluar dari kamarnya itu, melewati semua orang yang tengah berdiri di depan pintu kamar Rara, dan tidak lupa juga Angga meminta izin kepada orang tua Rara untuk membawa anak gadisnya pergi sebentar.
Angga membukakan pintu mobil untuk Rara dan menutupnya kembali sebelum dirinya berlari menuju pintu kemudi. Angga tersenyum saat melihat Rara yang kini tidak lagi menangis, hanya isakan sisa tangisnya saja, meskipun tetap tidak mengeluarkan sepatah katapun namun Angga tetap bersyukur.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, akhirnya mereka sampai ditempat tujuan, Pantai. Angga keluar dari mobil terlebih dahulu lalu setelahnya membuka kan pintu untuk Rara sambil tersenyum menenangkan, menggenggam erat tangan Rara dan membawanya ketepi pantai.
Angin pantai yang berhembus kencang membawa ketenangan kepada Rara, membuat wanita itu merasa tenang dan damai berada di tempat itu. Pantai ini tidak terlalu ramai namun juga tidak terlalu sepi. Rara memejamkan matanya menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya. Angga yang melihat itu menyunggingkan senyumnya.
“Aku tahu kamu masih bersedih, tapi semoga angin-angin ini membawa terbang semua kesedihanmu itu,” ucap Angga lembut sambil menatap Rara yang kini tengah menatapnya pula.
“Saat aku melihatmu lima bulan yang lalu, entah kenapa aku tertarik kepadamu, selama itu pula aku selalu diam-diam memperhatikanmu. Aku melihat ada banyak sekali kesedihan dimatamu, namun itu semakin membuat aku penasan hingga saat itu, Tania meminta tolong padaku, mengatakan bahwa temannya sakit. Aku tak menyangka bahwa itu adalah kamu..”
Angga menghela napasnya pelan sebelum melanjutkan ucapannya. “Dan pada saat dirumah sakit, mengetahui kebenaran bahwa kamu adalah adik dari Riri entah kenapa aku sedikit merasa senang, apa lagi saat ucapan Riri yang mau menjodohkan aku dengan kamu. Ada kebahagia tersendiri di hatiku. Awalnya aku ragu dengan perasaanku sendiri, tapi setelah kamu keluar dari rumah sakit dan beberapa hari tidak bertemu denganmu aku merasakan sepi, aku sempat menepis perasaan itu namun aku tidak bisa. Aku sayang sama kamu Ra, bahkan sudah cinta.” Jujur Angga, tersenyum tulus pada perempuan dihadapannya itu.
“Ta- Tapi Kak..”
“Kamu gak perlu jawab sekarang Ra. Aku tahu saat ini masih ada dia di hati kamu, aku gak akan maksa kamu. Aku juga gak lagi nembak kamu, aku hanya ingin menyampaikan perasaan aku yang sesungguhnya sama kamu.” Cepat Angga memotong perkataan Rara.
Angga tahu ini bukanlah waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya kepada Rara, namun entah kenapa itu terucap begitu saja dari mulutnya tanpa bisa ia tahan. Rara berhambur kedalam pelukan Angga yang membuat laki-laki itu sedikit terlonjak kaget, namun setelahnya Angga tersenyum dan membalas pelukan Rara dengan erat.
“Udah dong jangan nangis lagi. Aku ngajak kamu kesini untuk happy-happy bukan untuk ngeliat kamu nangis kayak gini,” ucap Angga lembut sembari menghapus air mata Rara yang masih mengalir, memberinya senyuman untuk menenangkan, membuat Rara juga ikut tersenyum dan kembali memeluk Angga erat.
“Maafkan aku yang belum bisa membalas perasaan Kakak,” ucap Rara menunduk merasa bersalah.
“Gak apa-apa Rara, aku juga gak ingin terburu-buru apa lagi saat ini masih ada dia dihati kamu. Aku tidak mau berbagi hati dengan laki-laki lain, karena aku ingin menjadi satusatunya laki-laki yang ada di hatimu bukan salah satunya,” ucap Angga sungguh-sungguh sambil menatap lekat manik mata Rara.
Saking asiknya bermain di pantai, sampai Angga dan Rara tidak sadar bahwa hari kini sudah mulai sore. Mungkin sunset sebentar lagi akan muncul, dan dengan semangat Angga menarik lengan Rara membawanya keatas karang dan duduk berdua menunggu saat-saat matahari terbenam.
“Indahkan?” Tanya Agga pelan, masih menatap matahari yang kini tengah tenggelam perlahan menggantikan siang menjadi petang.
“Indah banget.” Pelan Rara berucap menyutujui perkataan Angga.
“Tapi ada lagi yang lebih indah dari itu,” ucap Angga lagi sambil menatap serius kearah Rara.
“Apa?”
“Senyum kamu.” pipi Rara menghangat karna ucapan laki-laki tampan itu.
“Janji untuk selalu tersenyum, Ra karena senyummu adalah kebahagian untukku, bukan hanya aku tapi keluargamu juga,” ucap Angga dengan nada serius dan lembut.
“Siang akan berganti dengan malam, tapi jangan gantikan senyummu dengan air mata,” ucap Angga lagi dengan lembut, membuat Rara tersenyum dan mengangguk.
“Ya udah, sekarang kita pulang. Yang dirumah pasti khawatir sama kamu,” ucap Angga akhirnya lalu menuntun Rara untuk berdiri dan berjalan menuju parkiran dimana Angga menyimpan mobilnya.
Rara melihat kesungguhan Angga hari ini, Rara tahu bahwa Angga adalah laki-laki yang baik, namun untuk saat ini Rara belum bisa membalas perasaannya. Bukan karna Rara tidak percaya akan kesungguhan Angga, tapi Rara hanya tidak ingin membalasnya ketika dimana hatinya masih terluka. Ia tidak ingin menjadikan Angga sebagai pelarian patah hatinya. Mungkin nanti, jika hatinya telah sembuh, Rara akan membalas dan Rara berharap bahwa Angga akan sabar menunggunya.
Sesampainya dihalaman rumah Rara, Angga segera keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Rara, membuat pipi wanita itu menghangat. Rara tersenyum tidak lupa mengucapkan kata terima kasih lalu turun dari mobil Angga, berjalan beriringan memasuki rumah dan mendapati kedua orang tuanya sedang menonton tv.
“Assalamualaikum! Rara yang cantik pulang,” ucap salam Rara dengan semangat dan ceria, membuat kedua orang tuanya kaget, begitu juga Riri dan Ferdi yang baru saja kembali dari dapur.
“Wa’alaikum salam,” jawab salam semua orang dengan wajah melongo tak percaya.
“Rara,” ucap Riri memastikan sambil berjalan mendekati Adiknya yang kini masih juga tersenyum, Rara mengangguk dan langsung memeluk erat Kakaknya itu.
“Ini beneran Rara kan?” Tanya Riri masih belum percaya bahwa yang tengah tersenyum ceria itu adalah Adiknya.
“Iya Kakakku sayang, ini Rara Adik kakak yang paling cantik.” jawab Rara gemas karana kakaknya itu masih tidak mempercayainya juga.
“Aaaa … Rara, Anak Mama yang ceria kembali lagi?” Tanya Risa tak percaya, berlari kearah anak bungsunya itu dan langsung saja memeluknya erat.
“Maafin Adek ya, Ma, Adek udah buat Mama khawatir selama ini.” Sesal Rara menangis dalam pelukan sang Mama.
“Gak apa-apa, sayang yang penting sekarang kamu udah kembali ceria lagi,” ucap sang Mama senang karna kini anak bungsunya itu telah kembali seperti dulu. tidak seperti kemarin-kemarin yang banyak melamun dan menangis bahkan mengurung diri dikamar.
Bagas sebagai Ayah tersenyum melihat putri bungsunya kini sudah bisa tersenyum lagi begitu juga dengan Ferdi selaku Kakak ipar. Ia juga merasa bahagia melihat Adik dari istrinya itu kini telah kembali ceria, mereka bergantian memeluk Rara dan mengajak Rara beserta Angga untuk berkumpul di ruang keluarga.
“Kamu kasih dia apa, Ga sampai dia bisa seceria ini? Padahal tadi saat kamu bawa dia keluar rumah mukanya masih kayak orang gak punya semangat hidup.” Tanya Riri kepada Angga sekaligus meledek adiknya itu, yang kini tengah bermanja kepada sang Mama. Dan semua orang yang berada disitu menatap Angga penasaran.
“Aku kasih balon tadi.” Jawab Angga dengan wajah serius.
“Cuma dikasih balon, dan dia bisa seceria ini?”Tanya Riri tak percaya. Angga mengangguk.
“Beneran, Nak Angga Cuma di kasih balon?” Tanya Bagas yang masih tidak percaya.
“Tau gitu aku beliin dia balon dari awal!” Gerutu Ferdi, membuat Angga dan juga Rara tertawa karna berhasil mengerjai orang tua dan juga Kakaknya itu.
“Serius amat nanggepinnya! Dikira aku anak kecil apa, dikasih balon doang bahagia?” ucap Rara masih dengan tawanya.
Setelah lumayan lama bercengkrama dengan keluarga Rara, Angga melirik jam tangannya dan ternyata waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, meskipun ia masih ingin berada dekat dengan Rara tapi ia juga merasa tidak enak dan memutuskan untuk pulang kerumahnya, berhubung ia juga ingin segera istirahat karna sudah sangat lelah setelah seharian ini bermain dipantai bersama Rara.
“Ra, pertahankan senyummu. Jangan sampai besok aku melihat kamu kembali murung lagi seperti kemarin-kemarin! Jadilah Rara yang ceria,” ucap Angga saat sampai didepan mobilnya lalu dibalas anggukan oleh Rara tidak lupa juga senyum manisnya ia tunjukan pada laki-laki tampan yang sudah menghiburnya itu.
“Aku pulang ya? Kamu langsung bersih-bersih lalu tidur, ini sudah malam.” Pamit Angga.
“Ok! Kakak hati-hati dijalannya ya? Terima kasih untuk hari ini dan untuk semuanya,” ucap Rara tulus yang dibalas anggukan oleh Angga, lalu masuk kedalam mobil setelah mengelus pelan puncuk kepala Rara dan tak lupa senyum manisnya ia berikan sebelum akhirnya pergi meninggalkan halaman rumah Rara.
Setelah mobil Angga sudah tidak terlihat oleh pandangannya Rara masuk kembali kedalam rumah dengan senyum yang tak lepas dari wajah cantiknya, entah kenapa hari ini ia merasa bahagia sekali. Entah itu karna Angga atau karna bermain di pantai, tapi bukannya bermain dipantai juga ia bersama Angga? Entahlah yang penting saat ini adalah Rara bahagia.
“Senyum-senyum terus dari tadi kamu Ra, kenapa?” Tanya sang Mama yang heran.
“Gak apa-apa kok, Ma.”elak Rara tersenyum canggung.
“Ya sudah, kamu ke kamar gih! Bersih-bersih terus tidur, kamu pasti cape bangetkan seharian ini habis main?” Tanya sang Mama yang di angguki oleh Rara.
“Ya udah, adek kekamar ya Ma, Mama juga tidur ini udah malam,” pamit Rara lalu mengecukp sayang kedua pipi Mamanya sebelum berjalan menuju kearah kamarnya.
paling suka liat matahari terbenam
eeeeeaaaa 😁
tuh ortu Devan gk setuju sm Rara atau gmn sich, kok bisa"nya baru seminggu tunangan mlh di jodohkan sm orang lain, dan Devan jg harusnya tuh bicara sm keluarga Rara dr awal gk jadi cowok pengecut kayak gitu, masak dh nikah setahun msh ada rencana nikah sm Rara 😤