Gak ada kata-kata, kecuali, sehat selalu buat semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanty fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
K E S E L
🐣Selamat Membaca🐣
Malam itu, Abie benar-benar gelisah. Karena chat Shafa tadi membuatnya merasa bersalah, walau awalnya Abie tak mau mengalah, karena menurutnya apa yang dia lakukan adalah sebuah perhatian, bukan mengumbar rasa kasihan.
Namun dari situlah Abie belajar, bahwa jangan menilai orang dari apa yang terlihat sebab semua itu belum tentu kenyataanya. Senyum bukan berarti sedang bahagia, begitulah Shafa, penulis amatiran yang terkenal dengan segala humorisnya, ternyata menyimpan berjuta kesedihan di dalam dunia nyata.
__________
Pagi pun datang, sang matahari, mulai menyapa. Dia bersinar begitu indahnya. Dani baru saja membuka mata, sementara Abie sudah selesai mandi dan terlihat begitu rapih.
"Wiiih, anak sultan udah cakep aja," puji Dani.
"Bangun! Masa kala sama ayam," sergah Abie.
Dani pun segera berdiri dari ranjang empuk milik Abie, segera masuk ke kamar mandi dan beberapa menit kemudian dia hadir dan terlihat lebih tampan dari sebelumnya.
"Kita kuliah pagi hari ini, Bie." Ucap Dani.
"Aku gak masuk, lagi gak niat mikir," jawab Abie santai.
"Kamu sering banget gak, masuk. Tapi gak di keluarin sih, aneh banget!" Ceplos Dani.
"Pake otak, belajar lewat rumah. Orang smart, mudah-mudahan selalu di butuhkan." Jawabnya dengan senyuman.
"Ihhh, sombong!" Hardik Dani lagi.
"Sombong itu boleh, asal nyata. Jangan aja, sombong tapi bohong!"
"Maksudnya?" Tanya Dani heran.
"Iya gini loh, dia tak tampan tak juga rupawan, dia tak juga bergelimang harta, tetapi gayanya seperti superstar." Jelas Abie tapi terkesan seperti sedang bernyanyi.
"Perasaan itu lirik lagu deh,"
"Iya. Tapi begitulah kira-kira, wajah pas-pasan tapi sok kegantengan, kagak kaya-kaya amat, tapi suka hura-hura. Kan songong!" Jelasnya.
Dani pun heran, kata-kata yang Abie ucapkan seperti sedang menyinggung seseorang. "Tapi untuk siapa, kata-kata itu," batin Dani penuh tanya.
Abie kembali meraih benda pipih di meja yang terletak tak jauh dari sisi ranjangnya, anak muda itu kembali menyandarkan tubuh di kursi sofa
Mata Abie melotot tak percaya, tanganya menggaruk-garuk kepala yang tak gatal di rasakanya. Anak muda itu tersenyum kelu, saat banyak sesama penulis mengucapan banyak do'a untuk Shafa. "Astaga, akhirnya benar-benar menyebar. Tapi gak masalah dong harusnya, banyak do'a maka akan lebih banyak di dengar, Tuhan." Batinya.
Akhirnya Abie seharian full di depan benda pipihnya, untuk menjawab pertanyaan dari para penulis itu tentang Shafa.
"Jadi, Kak Shafa masih di rumah sakit, Bie. Sakit apa sih, sebenarnya?" Pertanyaan itu berkali-kali Abie dapatkan, seolah-olah dialah orang paling dekat si Shafa.
Dan mulai dari sinilah, Abie berani Chat salah satu penulis yang juga membuat dia penasaran. Ya itu, Desy puspita, sebab selama sudah saling menyapa hampir 2 bulan lamanya, si Desy Puspita itu tak sekali pun menyapa dia lewat chat pribadi. Jadi karena merasa heran Abie pun berani mulai menyapa, walau kenyataanya wanita itu tak seramah yang dia duga. Jawaban chatnya, singkat padat dan jelas.
"Habis, ketemu Shafa, targetku ketemu sama dia, walau gimana pun caranya, akan ku pastikan menemui mereka berdua." Gumam Abie dalam hati.
Sementara Dani menatap heran, tingkah Abie yang tak biasa. "Aneh. Kenapa Abie justru terlihat bahagia dan tertawa saat berbicara dengan teman dunia mayanya." Batin Dani lirih.
Saat Abie tengah asik otak-atik ponselnya lagi, barulah Shafa membalas chat darinya, namun bukan Shafa namanya, jika tak memiliki cara untuk menyindir Abie.
"Assllamuallaikum, sahabat haluku, terima kasih atas perhatianmu dan kini, isi GCku berbela sungkawa semua, macam aku mau mati besok!" Chat Shafa yang langsung membuat Abie tersenyum kelu.
"Aku kira, manusia aneh satu-satunya di dunia dia, tapi makin dia aneh, makin aku kepo." Gumamnya.
Abie pun membaca chat kedua. "Ehh, begook, kalau elu ada di sini, udah gue gampar kanan kiri, lu. Punya jari enteng amat, lapor sana, lapor sini!" Chat kedua.
Abie menepuk jidatnya sendiri, untuk sabar menghadapi perempuan satu ini. "Kalau aku ladeni, pasti cekcok mulut setiap hari."
Anak muda itu bukan menjawab amarah Shafa, tapi justru mengirim foto dirinya untuk si penulis. Yang langsung mendapat caci maki.
"Haaaaaaay, anda! Gak perlu anda tipu saya pake foto orang cakep. Ampe pohon rambutan berbuah mangga, gua gak akan percaya, kalau itu Real anda.!"
"😭...... Astafirullah! Cewek satu ini, maunya apa, sih?" Batin Abie kesal.
"Haaaaaaaaah! Serius, anda nyebut?" Shafa penasaran.
"Menurut situ bagaimana?"
"Woooooooo. Syukurlah kalau begitu!" Ceplos Shafa.
"Asal anda tau, ya! Itu foto saya, asli dan real, ya!"
"Aaahhh, masa iya. Aku gak percaya tu!"
"😭..... Harus pakai cara apa biar lu percaya, kalau itu foto, gue?"
"Lu mau tau caranya?"
"Laaah, iya dong!"
"Masih sama kayak kemaren-kemaren. Lu berdiri di depan gue, baru dah percaya kalau elu itu laki-laki tulen, bukan cowok jadi-jadian." Jelas Shafa
"Astaga, jadi lu kira gue, apaan?"
"Bencong ora banci gitu! Ye mane ku tahu, kan, belum liat. Aneh lu!"
"Okeeeeeeeeeeee..... Aku pastikan, lu ma gue ketemu. CATET, awas lu kalau sampai jatuh cinta ma gua!"
"😂.. It is oke, boy. Berdiri depan gue aja dulu! Baru, ngancem." Ledeknya lagi.
"Ya Tuhaaaan......!"
"😂............!" Tawa si penulis pun sepertinya semakin memggema, sebab dia memberi emoticon tertawa 1 gudang full untuk si Abie.
Chat gila bin menyebalkan itu pun berakhir, namun rasa kesal begitu memenuhi benak si Abie. Parahnya lagi, makin si penulis memaki dia habis-habisan, hal itu justru membuat Abie semakin penasaran.
Anak muda itu segera menghubungi tantenya dan meminta alamat lengkap rumah si Shafa. Dengan senyum paling mempesona, fikiran Abie sudah traveling kemana-mana.
"Jadi kapan mau ke rumah dia, Bie?" Tanya Dani tiba-tiba.
"Hari ini."
"Haaaaah. Serius lu?" Dani kepo.
"Serius dong. Gue mau cukur nih kumis tipis, biar tu cewek baper gila, ma gue!"
"Diiih, sejak kapan lu ribet ketemu cewek, gak usah di apa-apain tu muka, 100 persen dia bakal suka ma elu. Apa lagi, tantemu bilang, si Shafa ternyata cewek desa, gue yakin banget dia bakal suka, ma elu!" Tegas Dani meyakinkan.
Abie tersenyum mendengar ucapan dari bibir sahabatnya. Entah mengapa, karena semakin sering di hina si Shafa membuat Abie insecure saat memutuskan bertemu wanita itu, hingga akhirnya Abie ganti baju sebanyak 8x hanya untuk berpenampilan sempurna. Hal itu sontak membuat Dani geleng-geleng kepala.
"Demi cewek kampung, Abie gitu amat jadinya, kenapa aku kepo, seperti apa sih, caci maki si Shafa itu untuk dia." Kini Dani ikut-ikutan penasaran.
.
.
.
.
_____
🐥TERIMA KASIH🐥
bank abie maaf ya waktu itu gak sengaja kepencet unfollow jadi ilang pertemanan kita pdhal banyak yg pingin diobrolin.
Tetap semangat dan selalu positif thingking meski semua bergantung takdir yang kuasa
Semoga dipermudahkan, dikuatkan dan selalu ikhlaskan hati
Apapun serba mungkin jika Yang Kuàsa berkehendak
sepertinya ortunya jg mengingkari kenyataan🤔
kangeeeeeeeennnnn 🥰
mdh2n Abang selalu d beri kesehatan yahhh
aku gabung d GC tp baru tau segala nya hari ini 😭😭😭😭
yg sabar ka Desi buat ngasih semangat k bang BIE 💪💪💪💪