Gwen adalah seorang dokter spesialis jantung di salah satu rumah sakit di tengah kota New York. Di suatu siang yang sibuk, dia mendapatkan seorang pasien. Seorang pria tua yang mendapatkan serangan jantung. Gwen berhasil menyelamatkan nyawanya, sehingga pria itu sangat berterima kasih. Ia menghadiahi Gwen tiket pesawat dan sebuah vila di Bali.
Saat sampai di vila, betapa terkejutnya Gwen ketika menyadari bahwa dia tidak akan tinggal sendiri. Karena pria tua itu ternyata belum memberitahu cucunya kalau vila itu akan diberikan kepada Gwen.
Zachary, nama si cucu. Pria yang tampan, dan arogan. Sedang asyik mencumbu seorang wanita di dekat kolam renang.
KARYA:
1. Hutang Kepada Mr. Devil (end)
2. Aku Bukan Malaikat (end)
3. My Arrogant Prince (ongoing)
4. Kesempatan Kedua (otewe)
Salam kenal dari author penggemar Happy ending story 😊✌️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cakaran Kitty
“Siapa dia?” tanya Gwen kepada Farah.
Pria di depannya menaikkan alis. “Seriously?” tanyanya heran. “Masa baru dua minggu ga ketemu, udah lupa?”
Tidak adil, padahal Zach sudah dua minggu memendam rasa penasarannya kepada Nafeera. Si cantik bermata kucing yang tak luruh oleh pesonanya. Umurnya masih dua puluh tahun, masih terlalu muda, jadi pantas kalau dia malu-malu kucing. Kalau bukan karena Samantha yang memintanya menjauhi Nafeera, Zach takkan mengendurkan usahanya untuk mendekati model belia itu.
“Perkenalkan, Pak Zachary Dave Ilyas,” jawab Farah langsung, karena dia tahu kalau Gwen bukanlah Nafeera, jadi wajar kalau dia tidak tahu siapa orang terkenal di depannya.
“Oh, I see,” jawab Gwen. Dia teringat cerita Nafeera. Mr. Devil alias Om-om hidung belang, mesum, arogan, sok tajir yang pengen Nafeera cakar-cakar mukanya. Panjang sekali julukannya.
“Maaf tuan Zachary, saya harus pergi,” lanjut Gwen sambil berlalu.
Merasa diabaikan, Zach menggeram tak terima. Ia langsung menarik lengan Gwen saat gadis itu melewatinya. Sontak bahu Gwen mendarat ke dadanya. Aroma parfum maskulin mahal langsung menelusup ke indera penciuman Gwen.
“Let me go!” hardik Gwen sambil memukul perut Zach dengan sikunya.
Pukulan dari Gwen tak seberapa menyakitkan, tapi ia melepaskan gadis itu karena dari tadi ia merasa heran dengan suara Gwen. Seingatnya dulu, Nafeera bersuara bening khas remaja yang baru menginjak usia dewasa. Namun gadis yang di hadapannya sekarang memiliki suara serak. Penasaran, Zach mencoba memancingnya untuk bicara lebih banyak.
“Jangan begitu, dong. You said that you miss me. And we sould do again what we did last week at the hotel, it’s a hot night, my Kitty,” (Kamu bilang kalau kangen aku. Dan kita harus melakukan hal yang sama seperti Minggu lalu di hotel, itu adalah malam yang panas, my Kitty!) ujar Zach dengan senyum bak malaikat.
Begitu banyak netra yang menyaksikan mereka berdua, hati Gwen yang masih berduka, senyum Mr. Devil yang menjijikkan, nama baik mendiang adiknya–Nafeera–yang dipertaruhkan, cukup menjadi alasan Gwen untuk membalasnya.
“I’m not your Kitty!” Sekali ayun, hak runcing sepatu merah berkulit buaya di tangan Gwen menghantam dahi Zach. Spontan Zach mengeluarkan suara teriakan, sedang Gwen tak peduli. Dia tinggalkan sepatunya tergeletak di samping Zach yang jatuh terlentang.
Dengan panik, Farah mengikuti Gwen yang sudah berhasil menyambar pakaiannya dari ruang ganti. Gwen berlari keluar ruangan, menuruni tangga lalu menyetop taksi.
“Gawat gawat gawat!” pekik Farah. Gwen belum melepas gaunnya, dan dia tak dapat mengejar gadis itu. Kariernya di dunia fashion dipertaruhkan.
Langkah kaki jenjang Gwen tak bisa diimbangi oleh Farah. “Gini, nih, kalau tower dikasih nyawa!” keluhnya.
Dengan napas tersengal, Farah telah sampai ke luar gedung. Beruntung, Gwen belum menghilang dari tepi jalan. Gadis itu sudah berhasil mendapatkan taksi, jadi Farah segera ikut masuk ke dalamnya.
“Kamu, ha ha ha, belum balikin bajunya,” kata Farah dengan napas yang hampir putus.
Gwen sadar sepenuhnya akan hal itu. Dia sempat panik tadi setelah melempar sepatunya ke kepala Zach, jadi secepat mungkin pergi dari TKP. Bahkan Gwen sudah membayangkan kalau saat sampai di Indonesia dia akan digugat karena mencelakakan orang dengan sengaja.
“Aku tahu. Aku ganti baju nanti kalau sudah sampai bandara,” jawab Gwen sekenanya.
“Good. Dan sekarang, aku bingung gimana cara balik ke gedung tadi. Aku ga bawa dompet,” ujar Farah yang baru tersadar akan kebodohannya.
“Jangan kuatir, nanti aku kasih ongkos,” jawab Gwen. “Maaf, merepotkanmu,” lanjutnya.
“Sudah biasa,” jawab Farah. Menghadapi model yang berbagai macam karakter sudah jadi makanan Gwen sehari-hari. “Tapi, Gwen ... kamu minta maafnya ke Pak Zach, deh. Aku takut kalau dia marah,” ujar Farah dengan alis bertaut.
*****
“Nafeeraa!!! Di mana dia?!” pekik Zach saat dia bangun dari posisi tidur terlentang di lantai. Sedangkan Gwen sudah berhasil mencapai pintu keluar.
Dengan tergopoh, Samantha menghampiri Zach. Dokter yang disiapkan di tiap pergelaran melakukan tindakan pertolongan pertama. Zach mendapatkan empat jahitan di dahinya.
Zach merasa kepalanya tak berhenti berdenyut. Harga dirinya diinjak-injak. Beberapa wartawan sempat mengambil gambarnya sewaktu dalam posisi terlentang di lantai. Sial sial sial, Zach mengumpat terus dalam hati. “Awas kamu, Nafeera,” geramnya.
______________________________________________
***Mr. Devil, Kapok!
Kurang tuh, harusnya ditancepin di jidatnya***.
bang Diesel lope lope bang