Andika seorang bayi berumur satu bulan yang ditinggal oleh ibunya untuk selama-lamanya. Besar bersama ayahnya yang benama Adam membuatnya berubah menjadi nakal dan banyak tingkah.
Banyak wanita yang dijodohkan dengan ayahnya berakhir gagal karena ulahnya. Akankah Andika berhasil menemukan ibu sambung yang sesuai dengan pilihannya?
Simak kisah mereka di karya kedua aku ini!!!
sebelumnya, mampir juga dikarya pertamaku
ABANG TENTARA, TEMBAK AKU!!!
Happy Reading...😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zur Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekutu...
Keesokan harinya...
Abah yang sedang mengotak-atik sepeda motor tua miliknya dikejutkan dengan kedatangan Rara.
"Motornya kenapa Kek?" Tanya Rara yang sudah berdiri di samping Abah.
"Ini motor tua kesayangan Kakek, gak tau kenapa pagi ini dah gak mau hidup."
Berbekal pengetahuan yang didapat dari bengkel bang Beni, Rara langsung mengambil alih motor Kakek.
"Biar Rara lihat dulu ya?"
Abah yang tadinya kurang yakin dengan kemampuan Rara karena menurutnya masih kecil hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya tanda tidak percaya pada apa yang dilihat. Motor tuanya kembali hidup setelah di perbaiki oleh Rara.
"Wuihhh...ternyata penggemar Abah hebat ya!" Ucap Abah Mansur sambil tertawa bahagia.
"Maaf Kek, tapi Rara bukan penggemar Kakek lagi." Ucap Rara datar yang membuat Abah berhenti tertawa.
"Kenapa?" Tanya Abah penasaran.
"Rara gak mau dijadiin barang jualan para orang tua?" Abah mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Rara.
"Barang jualan?" Ucap Abah kembali mengulang kata-kata Rara.
"Iya, sama seperti sales yang menawarkan barang dengan mengatakan kelebihan setiap barang tersebut, seperti itulah perjodohan yang Rara lihat, dan benar kata mama, jadi sekarang Rara udah bukan penggemar Kakek lagi." Rara masuk ke dalam untuk membersihkan dirinya setelah berhasil memperbaiki motor tua Abah.
Abah masuk kedalam mendekati Adam dan Yuni yang tengah membicarakan masalah pekerjaan.
Abah duduk sambil menghela nafasnya "Yun, putrimu sudah bukan penggemar Abah lagi." Ucap Abah dengan sedikit tertawa.
Adam dan Yuni menatap Abah dengan raut wajah seakan menuntut penjelasan, "Rara bilang dia perjodohan itu seperti barang jualan para sales, hmmm...anak jaman sekarang ada-ada aja pikirannya." Abah geleng-geleng kepala mengingatnya.
"Assalamualaikum, Pak Haji."
"Walaikumsalam," Jawab ketiganya serentak dari dalam.
Ternyata tamu yang datang adalah Pak Ismail ayah dari Widuri. Setelah beramah-tamah sebentar, Pak Ismail langsung menyampaikan maksud kedatangannya kepada Abah.
Di ruangan tersebut, kini sudah ada Amak, Rara yang sudah mandi juga ikut duduk disamping ibunya.
"Sebelumnya saya minta maaf pada Pak Haji sekeluarga, karena putri saya Widuri tiba-tiba ingin kuliah ke Padang, jadi dia tidak mau melanjutkan perjodohan ini dulu, katanya dia juga ingin punya ilmu yang tinggi, agar suatu saat nanti bisa mandiri tidak bergantung pada suami, kalau suaminya masih hidup tidak masalah, tapi kalau tiba-tiba ajal menjemput, makanya dia memutuskan melanjutkan kuliahnya di Padang, sekali lagi saya minta maaf sebesar-besarnya pada Pak Haji dan keluarga, terutama nak Adam." Ucap Pak Ismail.
"Adam gak pa-pa Pak, Adam justru mendukung pemikiran Widuri, walaupun hanya perempuan, tapi dia juga berhak mengejar cita-citanya, dia juga masih muda, kesempatannya untuk mengembangkan diri masih panjang, sayang jika harus berakhir dengan pernikahan yang hanya akan mengikat dia di rumah." Ucap Adam tersenyum, lain halnya dengan Abah yang tampak kecewa, karena untuk kesekian kalinya rencana perjodohan anaknya kembali gagal.
Setelah kepulangan Pak Ismail, Abah dengan langkah gontai masuk ke kamarnya. Adam yang melihat raut kesedihan di wajah Abahnya hanya bisa menghela nafasnya.
Setelah satu jam berlalu, Adam sudah menyelesaikan pembicaraannya tentang pekerjaan bersama Yuni. Setelah makan siang, Dika sudah menelpon minta di jemput ke rumah nenekanya.
"Rara, apa kalian kemaren ke rumah Bapak yang tadi datang?" Tanya Adam saat diperjalanan menjemput Dika.
"Bilang aja, Om gak masalah kok, Dika sudah sering seperti itu, Om diam bukan berarti Om gak tau kelakuan dia." Ucap Adam kembali.
"Ini apasih maksudnya?" Tanya Yuni yang dari tadi tidak mengerti dengan perbincangan antara Adam dan Putrinya.
"Maaf Om, kemaren kak Dika memang mengajak Rara ke rumah kak Widuri." Rara mengaku dengan wajah yang sedikit ketakutan.
Adam tergelak mendengar perkataan Rara, "Lihat kan Yun? Aku tidak perlu turun tangan untuk menggagalkan perjodohan ini, putraku saja sudah cukup." Seloroh Adam yang akhirnya membuat Yuni mengerti jika perjodohan ini batal karena ulah Dika.
"Om gak marah sama kak Dika?" Tanya Rara pelan.
"Ngapain Om marah, Om malah senang. Kami sudah biasa hidup berdua, kalo mau rame tinggal ajak kalian aja, Om pernah jadi suami, mama kamu pernah jadi istri dan kalian, lengkapkan?" Seloroh Adam yang membuat Yuni geleng-geleng kepala.
Mereka tiba di rumah nenek Dika, yang minta di jemput sudah bersiap di depan pintu ditemani sang nenek.
"Kita jalan-jalan dulu ya!" Ucap Adam saat Dika sudah masuk ke mobil.
"Oke." Jawab mereka serentak diiringi tawa bahagia layaknya sebuah keluarga.
"Aku kasihan lihat Abah tadi, dia seperti kecewa banget sama keputusan Pak Ismail." Ucap Yuni saat mereka di dalam mobil.
"Aku harus gimana Yun, aku sendiri belum butuh istri saat ini, apalagi Dika, ya kan Dik?" Tanya Adam pada putranya.
"Iya Yah, aku bisa urus diri aku sendiri, di rumah juga ada bibi yang ngurus aku." Jawab Dika santai.
Yuni hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka jika Adam dan Dika kompak menggagalkan acara perjodohan yang sudah direncanakan oleh Abah Mansur.
Mereka mengunjungi berbagai tempat wisata seharian penuh. Rara dan Dika terlihat bahagia, mereka bercanda, tertawa bersama layaknya sepasang adik kakak.
Sementara Yuni dan Adam tampak santai melihat kedua anaknya terlihat akrab dan bahagia. Sesekali Yuni memotret putrinya yang tertawa lepas bersama Dika.
"Mereka terlihat seperti adik kakak ya?" Ucap Yuni. "Dan kita terlihat seperti suami istri yang sedang berlibur dengan anak-anaknya." Seloroh Adam yang hanya didiamkan oleh Yuni.
"Kita kapan kembali? Tanya Yuni.
"Lusa,"Jawab Adam, "Udah bilang sama Abah?" Tanya Yuni kembali.
"Nanti malam aku bilang."
"Kenapa gak kamu terima aja perjodohan kali ini Dam, aku kasian lihat wajah kecewa Abah kayak tadi." Ucap Yuni.
"Terus aku harus gimana, Dika juga gak mau, aku gak mau egois hanya mementingkan kepentinganku sendiri." Jawab Adam.
Tampa mereka sadari, kedua anak mereka ternyata mendengar perkataan orang tuanya. Dika dan Rara saling menatap, "Ra, ikut aku! Ada yang mau aku bilang." Ucap Dika yang terus berjalan diikuti oleh Rara.
"Ada apa Kak?" Tanya Rara yang penasaran.
Dika menatap anak perempuan di depannya, sedikit menghela nafasnya "Mau gak jadi adik tiri aku?" Tanya Dika.
Rara mengernyitkan keningnya seakan meminta penjelasan. "Ayah aku menikah dengan mama kamu, gimana?" Rara menatap Dika lekat, "Kakak gak salah ngomong? Kakak sadarkan?" Tanya Lala kembali.
"Aku sadar, gimana?" Tanya Dika kembali masih menatap Rara.
"Aku terserah Mama, kalo mama mau ya silahkan."
"Kita harus cari cara agar mereka mau, gimana?" Ucap Dika.
"Kenapa harus mamaku Kak?" Pertanyaan Rara yang membuat Dika kembali menghela nafasnya.
-------------
Like...
Komen....
Vote...
salam kenal dari pengisi suara novel ini 😊😊