Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
“Hah?” Queen hampir tersedak ludahnya sendiri. Ekspresinya benar-benar runtuh kali ini.
Nial tertawa rendah. "Kenapa? Tidak mau?"
Beberapa tamu yang berdiri paling dekat mulai menutup mulut, menahan tawa. Beberapa lainnya saling bertukar pandang—bingung antara ini skandal … atau hiburan.
Queen menatap Nial dengan mata melebar.
“Kau—” Namun kalimatnya tidak pernah selesai. Karena dalam satu gerakan cepat untuk diantisipasi—Nial mengangkatnya.
“NIAL—!”
Queen refleks berteriak saat tubuhnya tiba - tiba terangkat dari lantai. Tangannya otomatis mencengkeram bahu pria itu, keseimbangannya hilang dalam sekejap.
“Turunkan aku!” desisnya marah, setengah panik.
Namun Nial tidak menjawab. Ia bahkan tidak melambat.
Dengan langkah panjang, mantap, ia berjalan menembus kerumunan—membawa Queen dalam gendongannya seolah itu hal paling wajar di dunia.
"Woo, apa yang sedang terjadi?" Seru Nael, penasaran.
“Ya Tuhan—”
“Apa yang dia lakukan?”
“Bukankah itu…?”
Bisik-bisik langsung pecah. Ruangan yang tadinya elegan berubah menjadi riuh dalam hitungan detik.
Queen semakin gelisah.
“Nial! Turunkan aku sekarang!” suaranya meninggi, benar-benar kehilangan kendali untuk pertama kalinya malam itu. “Kau gila?!” Ia mencoba melepaskan diri, mendorong dada pria itu—namun sia-sia.
Cengkeraman Nial kokoh. Tak tergoyahkan.
“Diam,” ucapnya rendah, tanpa menoleh.
Nada suaranya tidak keras. Namun cukup untuk membuat sesuatu dalam diri Queen … berhenti sejenak. Dan itu justru membuatnya semakin kesal.
“Lepaskan aku!” teriaknya lagi. “Tolong—!”
“Tolong!”
Suara itu menggema. Dan kali ini—mengundang reaksi.
“Nial!”
Elara. Wanita itu bergegas maju, wajahnya berubah panik. Gaunnya yang anggun bergerak cepat saat ia mencoba menyusul putranya yang sudah hampir mencapai tangga.
“Nial, apa yang kau lakukan?!” serunya, jelas tidak memahami situasi. “Turunkan dia!”
Namun langkah Nial tidak berhenti.
Tidak bahkan melambat.
Queen masih berusaha meronta dalam gendongannya. “Lepaskan aku! Kau tidak berhak—”
“Nial!” Elara semakin mendekat, hampir menyentuh lengan putranya—Dan saat itulah—Nial akhirnya berhenti.
Hanya satu detik. Ia menoleh sedikit. Tidak sepenuhnya. Hanya cukup untuk memperlihatkan profil wajahnya.
Dingin.
Tajam.
Berbahaya.
“Jangan ikut campur.”
Suasana langsung berubah.
Elara terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu di mata putranya yang … tidak biasa.
“Kalau tidak,” lanjut Nial, pelan namun cukup jelas untuk terdengar oleh semua orang. “sesuatu yang buruk akan terjadi pada wanita ini.”
Deg.
Seluruh ruangan seolah kehilangan suara.
Queen membeku. Tubuhnya yang tadi meronta perlahan berhenti—bukan karena menyerah, tapi karena … kalimat itu terlalu absurd untuk diproses.
“Apa—?!” desisnya tidak percaya. Namun Nial sudah kembali berjalan menaiki tangga. Langkahnya tetap tenang. Stabil. Seolah tidak ada puluhan pasang mata yang menatapnya. Seolah tidak ada kekacauan yang baru saja ia ciptakan.
“Nial! Berhenti!” Elara masih mencoba memanggil, namun kali ini—ia tidak bergerak maju lagi. Ada sesuatu dalam instingnya yang menahan. Sesuatu yang mengatakan jangan.
Sementara di atas—Queen mencengkeram jas Nial lebih erat, napasnya tidak teratur.
“Kau benar-benar sudah gila,” bisiknya tajam. “Turunkan aku atau aku bersumpah—”
“Apa?” potong Nial datar, tanpa melihatnya. “Kau akan kabur lagi?”
Kalimat itu—menusuk.
Queen terdiam. Dan hanya dalam sepersekian detik itu—Nial sudah sampai di lantai atas.
Lorong panjang terbentang. Sepi. Jauh dari keramaian di bawah. Tanpa ragu, ia berjalan menuju salah satu pintu. Membukanya. Dan—menutupnya kembali dengan satu gerakan tegas.
Klik.
Sunyi.
Hanya mereka berdua sekarang.
Queen refleks mundur. Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Nial. Justru itu membuat sudut bibirnya terangkat tipis—senyum yang tidak hangat. Tidak juga ramah. Lebih seperti sindiran.
Queen tidak menjawab. Rahangnya mengeras, namun ia tetap berdiri tegak, berusaha mempertahankan kendali yang tersisa.
Nial memiringkan kepala sedikit, masih menatapnya tanpa berkedip.
“Aku hampir lupa ... kalau kau memang ahli dalam satu hal.” Ia berhenti sejenak. Sengaja. Memberi ruang. Untuk setiap kata berikutnya terasa lebih tajam. “Menghilangkan jejak.”
Deg.
Queen tidak bergerak. Tapi sesuatu di dalam dirinya … bergetar.
“Pergi tanpa kabar. Tanpa penjelasan.” lanjut Nial, pelan. “Seolah-olah kau tidak pernah ada.” Matanya sedikit menyipit. “Rapih, bersih.”
Queen menahan napas.
Senyum Nial muncul lagi. Tipis. Nyaris tidak terlihat.
“Terlalu bersih.”
Queen mengalihkan pandangan. Tidak kuat. Bukan karena takut—tapi karena … ada sesuatu yang jauh lebih berat dari itu yang tiba - tiba menekan dadanya.
Sakit.
Perasaan itu datang tanpa izin. Menyusup. Menyesakkan.
Ingatan yang selama ini ia paksa kubur dalam-dalam—tiba-tiba muncul ke permukaan.
Ruangan putih. Lampu yang terlalu terang. Suara alat medis. Dan … sunyi.
Tangannya perlahan mengepal di sisi tubuhnya.
Nial masih berbicara, namun suaranya seperti menjauh—tertutup oleh gema masa lalu yang kembali menghantamnya.
“Queen,” ucapnya lagi, kali ini lebih rendah. “Kau definisi paling nyata dari kata tega.”
Kalimat itu seharusnya membuat Queen marah. Namun yang datang justru … perih.
Queen menarik napas perlahan, lalu—ia mengangkat wajahnya kembali. Menatap Nial.
Seandainya saja pria ini tahu … tentang malam-malam panjang yang ia lewati sendirian. Tentang bagaimana ia duduk di lantai kamar mandi, menahan suara tangis agar tidak terdengar siapa pun.
Tentang bagaimana tangannya gemetar saat harus menandatangani lembar persetujuan itu.
Tentang detik ketika dokter berkata … tidak ada lagi detak.
[Seandainya saja kau tahu bahwa di saat duniaku runtuh, nama yang pertama kali ingin ku panggil … adalah namamu.]
"Kenapa kau diam saja, hah? Ayo katakan sesuatu." Desak Nial. "Atau kau ... memang berniat meninggalkanku sejak awal?"
Queen menelan ludah. Rahanya mengeras, berusaha menahan sesuatu yang hampir lolos. Ingin membalas setiap kata tajam yang dilontarkan pria itu. Namun kenyataannya—yang tersisa sekarang justru sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
Rindu dan penyesalan yang tidak punya tempat untuk pulang.
Queen akhirnya mengangkat dagunya sedikit lebih tinggi. Menatap Nial lurus. Wajahnya kembali tenang.
“Kalau itu yang ingin kau pikirkan ... silakan.”
Nial tertawa sumbang, sebuah suara pendek yang tidak mengandung humor sedikit pun. Langkah kakinya yang berat perlahan mempersempit jarak di antara mereka, mengabaikan pertahanan tak kasatmata yang coba dibangun Queen di sekelilingnya.
“Hanya itu pembelaanmu?” Nial menatapnya dengan pandangan menuntut. “Setelah setahun menghilang, kau akhirnya muncul di kota ini hanya untuk berdiri di aula rumahku, menatapku seolah aku adalah monster yang paling ingin kau hindari, lalu ingin kabur begitu saja tanpa penjelasan?”
Queen membuang muka. Matanya yang memanas tak sengaja menyapu ke arah meja.
Di sana, di samping vas bunga kering yang elegan, terletak sebuah kartu undangan tebal berlapis beludru biru tua dengan cetakan tinta emas yang sangat mencolok.
Undangan yang membuatnya berasumsi bahwa Nial akan mengikat janji dengan wanita lain malam ini.
Jemari Queen bergerak lambat, meraih kartu itu dan membukanya dengan gerakan kaku. Detik berikutnya, matanya membelalak lebar.
The Engagement of:
Nael & Emma
Queen membeku di tempat. Dunia seolah mendadak berhenti berputar secara konyol.
Nael. Bukan Nial.
Nama yang tertulis di sana adalah Nael, adik tiri Nial yang memang memiliki pelafalan nama hampir serupa jika diucapkan dengan cepat.
‘Sialan! Bodoh sekali kau, Queen! Bagaimana bisa kau tidak membaca huruf 'E' sebesar itu? Aduh, memalukan sekali’ rutuknya dalam hati, frustrasi setengah mati pada kecerobohannya sendiri yang kelewat batas.
Nial yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Queen, menyipitkan matanya. Ia melirik kartu undangan di tangan wanita itu, lalu beralih menatap wajah Queen yang kini terlihat seperti seseorang yang baru saja salah masuk toilet umum.
“Kenapa?” bisik Nial, nadanya berayun malas namun penuh selidik. “Ada yang salah dengan undangan pertunangan adikku?”
Queen menelan ludah dengan susah payah. Ia buru-buru menutup kartu itu dan meletakkannya kembali ke meja dengan gerakan kaku. “T-tidak. Tidak ada yang salah. Desainnya bagus.”
“Oh, ya?” Nial menaruh kedua tangannya di tepi meja, mengurung tubuh Queen di antara kedua lengannya. Tatapannya begitu dekat, mengunci manik mata Queen yang bergerak gelisah ke segala arah. “Tapi wajahmu mengatakan sebaliknya. Katakan padaku, Queen ... apa yang kau pikirkan saat melihat nama di kartu undangan itu?”
Queen mencoba mendorong dada Nial, namun pria itu tidak bergeming satu inci pun. “Bukan urusanmu!”
“Bagaimana jika aku katakan bahwa pertunangan malam ini memang milikku?” pancing Nial, suaranya merendah, sengaja berbisik tepat di dekat telinga Queen. “Apa kau akan memberikan ucapan selamat padaku? Atau ... kau akan menangis lagi di pelukan pria lain seperti setahun lalu?”
Kalimat memancing itu seketika memicu sumbu pendek dalam diri Queen. Rasa malu yang tadi mendominasi langsung menguap, digantikan oleh kekesalan yang meletup-letup. Ia mendongak, menatap Nial dengan berani dan menuding dada pria itu dengan telunjuknya.
“Berani sekali kau membiarkanku salah paham atas sesuatu yang seharusnya bisa kau jelaskan sejak awal!” omel Queen, suaranya meninggi karena kesal. “Kau sengaja, kan? Kau sengaja membuatku terlihat seperti orang bodoh!”
Nial menaikkan alis. “Kau juga berani sekali langsung mengambil kesimpulan sendiri tanpa berniat memastikannya padaku,”
Queen membuang muka, namun tangan Nial terangkat, menjepit dagunya agar kembali menatapnya.
“Siapa yang kabur ke London tanpa kata? Siapa yang memblokir semua akses komunikasiku? Aku bahkan harus mengerahkan seluruh informanku hanya untuk mengetahui kau masih bernapas atau tidak, Queen.”
“Itu karena kau mengusirku!” bela Queen, napasnya memburu.
“Aku menyuruhmu pergi dari hadapanku saat emosiku sedang kacau, bukan menyuruhmu pindah negara!” desis Nial, wajahnya kembali mengeras, namun kali ini intensitasnya dipenuhi oleh rasa frustrasi yang intim. “Kau menghukumku terlalu kejam untuk sebuah kesalahpahaman.”
“Semua itu sudah menjadi masa lalu, Nial,” perlahan, Queen menurunkan jarinya yang tadi menunjuk dada Nial. “Siapa yang pergi, siapa yang mengusir, tidak ada gunanya lagi dibahas sekarang. Permisi, aku ingin keluar.”
Queen memutar tubuhnya, bersiap melangkah menuju pintu kamar yang terasa begitu jauh. Namun, baru saja ia mengambil satu langkah, sebuah sentuhan hangat namun posesif mencengkeram pergelangan tangannya.
Nial menariknya perlahan, memaksa wanita itu kembali berputar menghadapnya. Langkah kaki Nial bergeser, mempersempit jarak yang baru saja Queen ciptakan.
“Masa lalu?” Nial mengulang kata itu dengan nada rendah, hampir berbisik. Matanya yang gelap menatap lurus ke dalam manik mata Queen, mencari celah di balik topeng ketenangan yang coba wanita itu kenakan. “Mudah sekali kau bicara.”
Queen mengepalkan tangan kirinya yang bebas, menyembunyikan getaran halus di ujung jemarinya. “Ya, bagiku semua itu cuma bagian dari masa lalu. Jadi lepaskan tanganku.”
Nial tidak melepaskannya. Ibu jarinya justru bergerak perlahan, mengusap kulit halus di pergelangan tangan Queen—sebuah gestur familiar yang seketika mengirimkan sengatan hangat ke seluruh tubuh Queen.
“Tatap aku!” tuntut Nial, suaranya melembut. "Katakan padaku dengan jujur... apa kau sedikit pun tidak merindukanku?”
Queen tertegun. Jantungnya berdentum begitu keras. Di dalam kepalanya, badai pertimbangan langsung berkecamuk. Jika ia berkata 'ya', ia takut pertahanannya akan runtuh seutuhnya. Ia takut rasa sakit dari masa lalu itu akan kembali menjeratnya ke dalam pusaran hubungan mereka yang rumit. Ia harus kuat. Ia harus melindungi hatinya yang baru saja coba ia tata kembali.
Maka, setelah pergulatan batin yang menyesakkan, Queen mengangkat dagunya, menatap lurus ke dalam netra kelam pria di hadapannya.
“Tidak,” jawab Queen, mantap namun dingin. “Aku tidak merindukanmu. Sama sekali.”
Satu detik. Dua detik.
Nial tidak tampak terkejut. Ia justru tersenyum—sebuah senyuman tipis yang sarat akan kepedihan sekaligus kepasrahan. Genggamannya di pergelangan tangan Queen perlahan melonggar, namun ia tidak mundur. Sebaliknya, ia mencondongkan tubuhnya ke depan, hingga dahi mereka nyaris bersentuhan.
“Tapi aku merindukanmu, Queen,” bisik Nial. Matanya berkaca-kaca, memperlihatkan sisi rapuh seorang Nial Percy yang tidak pernah ia tunjukkan pada dunia luar. “Aku merindukanmu sampai rasanya aku hampir gila.”
Deg!
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰