Diangkat dari kisah nyata seorang gadis yang terbelenggu kebodohan cinta hingga hamil.
Namaku adalah Mia, seorang gadis yang beranjak dewasa merasa naluri ku berontak melihat yang terjadi di depan mata.Walau sebenarnya aku pun dari keluarga yang tak sempurna.
Sedangkan Kak Dinda adalah korban dari seorang lelaki yang memanfaatkan keluguan dan tubuhnya hanya untuk kesenangan sesaat.
Berbagai macam prahara ku hadapi bersama Kak Dinda untuk mencapai kebahagiaan semu.
Mampukah Aku dan Kak Dinda menghadapi hidup yang penuh lika liku ini.
Ikuti terus kisahnya, jangan lupa like dan komen serta vote. Agar menulisnya lebih semangat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dice Mariyetti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Di sekolah Roy lebih banyak duduk bersama Aku dan Yani. Biasanya, jika jam istirahat tiba Roy selalu di kantin ngobrol sama temannya.
Kebiasaan itu berubah drastis. Roy selalu mengikuti Aku dan Yani kemana pun kami pergi.
Aku, Yani dan Roy duduk di dalam kelas yang kebetulan sedang sepi.
" Sebenarnya ada apa sih kalian mencari Pak Boy. Nggak mungkin masalah utang. Masa orang yang punya rumah gede gitu punya utang ama anak sekolah hahha, "Sidik Roy menyangsikan alasan Yani kemaren.
" Huahaha aku ngasal. Biar Nyonya itu nggak cepat cepat ngusir kita,"balas Yani jujur.
"Pak Boy itu sebenarnya memang punya utang. Tapi bukan sama kita.Tepatnya orang yang bernama Boy itu punya banyak utang sama Kak Dinda, "jelas ku.
" Siapa lagi tuh kak Dinda ? "tanya Rio sambil menyeruput es capuc*no.
" Kak Dinda itu Kakaknya Mia hihihi, "potong Yani cekikikan.
" Sembarangan Kak Dinda tetangganya Yani. Diduga Pak Boy adalah orang yang paling bertanggung jawab atas upik anaknya Kak Dinda "
" Upik ini berarti anak Pak Boy, gitu? "
"Tepat sekali. Sayangnya Pak Boy ini belum pernah mengunjungi anaknya,"jelas Yani.
" Wow kasus, "kata Rio serius.
" Maka daripada itu sebagai anggota baru, saudara Roy harus siap membantu dan hadir pada penyelidikan selanjutnya"
Nampaknya Yani semakin semangat mengajak Roy dengan segala kemudahanya. Dan tentu saja hari hari Yani semakin penuh bunga jika selalu disamping Roy.
"Kalian diam-diam ternyata penuh intrik,"kata Roy.
"Begitulah. Kami berambisi sekali untuk mengetahui ayah kandung si Upik, "kata Yani.
" Tepatnya bukan berambisi. Hanya aku tak ingin perempuan seperti Kak Dinda diperlakukan seperti itu oleh seorang lelaki. Kalian tahu sendiri lelaki itu punya banyak istri. Entah Kak Dinda ini perempuan yang ke berapa yang telah Ia rusak, "jelasku sejelas jelasnya pada Roy.
" Aku sebagai lelaki juga tak setuju dengan perbuatan Pak Boy. Ia pikir semua perempuan itu murahan"
"Benar. Kak Dinda yang lugu dan tak tahu apa-apa juga adalah sasaran empuk bagi orang seperti Boy"
"Maka itu aku akan membantu Kak Dinda dan upik untuk mendapatkan haknya, "kataku dengan yakin.
" Oh ya, Bukan kah sebulan lagi kita ujian akhir sekolah"
Aku baru menyadarinya. Sebentar lagi kami akan ujian kelulusan guna melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
"Sebaiknya untuk sementara waktu kita lebih fokus kesekolah dulu deh"
"Setuju. Waktu belajar harus ditambah. Biasanya belajar cuma hari sabtu. Bagaimana setiap pulang sekolah kita isi dengan belajar. Terserah mau dirumah siapa? Atau rolling juga boleh, "usul Roy.
" Setuju!! "sorak Yani tersenyum lebar.
Aku pun setuju dengan usul Roy. Pulang dari sekolah, kami diajak ikut naik mobilnya Roy. Tujuannya Roy mengajak kami ke rumahnya untuk belajar kelompok perdana.
Aku dan Yani tidak mengubris tatapan mata iri kaum hawa yang melihat kami masuk ke dalam mobil Roy. Malah dengan sombongnya Yani menambah aksinya duduk di depan sebelah Roy . Siapa yang tak kenal Roy. Pria paling tampan dan tajir di sekolah. Semua cewek yang ada di sekolah pasti ingin jadi pacarnya.
Awalnya kami belajar di rumah Roy yang besar dan megah. Saat masuk perkarangannya, kami sudah mulai terasa takjub dengan tekstur taman yang indah sekali. Ini baru tamannya bagaimana dengan didalam rumah. Pasti lebih megah lagi.
Roy mengajak kami ke halaman belakang rumahnya yang mewah. Disana ada ruang yang langsung dengan alam terbuka dan disampingnya ada kolam renang.
"Bagaimana kalau belajarnya di atas aja. Biar lebih fokus. Lagian kalau butuh sesuatu atau buku semua ada disana"
Aku dan Yani hanya terdiam dan menurut saja yang diucapkan oleh Rio. Kami masih terpesona melihat rumah Rio yang bak istana.
Sama dengan lantai satu, di ataspun ruangannya juga luas. Seorang asisten rumah tangga datang dengan membawa minuman serta cemilan.
"Koq aku belum kenalan sama Mama Roy? dari tadi yang bertemu di rumah ini baru satu orang,"tanya Yani.
"Mamaku lagi ada arisan sedangkan Papa lagi dinas luar kota, "jawab Rio datar.
Tugas dari sekolah tentang menyelesaikan kisi kisi ujian akhir telah selesai. Roy mengantar kami pulang.
Ada sesuatu yang aneh kurasakan tentang sikap Roy saat di rumahnya.Roy seakan mencuri pandang kepadaku. Satu kali kepergok Roy memandangku lama.
"Kenapa? "tanyaku pelan.
Roy membalas dengan gelengan kepala.
Ketika mengantarku pulang juga begitu, Roy mencoba menyentuh tanganku lembut.
" Apaan sih, "kataku sambil mengibaskan tangannya. Roy pun tersenyum sambil memalingkan wajahnya.
Aku juga tak bisa membohongi hatiku. Saat Roy mendekatiku seperti itu tiba-tiba saja jantungku berdetak lebih kencang.
Apakah Roy sengaja mendekati ku dengan dalih belajar kelompok. Bisa sajakan Roy belajar ditempat lain, bimbel contohnya.
Terus terang Aku pun terpesona dengan sosok Roy yang tampan, dengan mata teduhnya mampu meluluhkan hati wanita yang memandangnya.
Aku harus berusaha menampik sikap Roy padaku. Jika ternyata Roy benar-benar ingin mendekatiku.
Aku harus memikirkan perasaan Yani. Dari Semula Yani telah jatuh cinta kepada Roy, bahkan memuja Roy sebagai lelaki idamannya.