NovelToon NovelToon
Menantu yang Diremehkan

Menantu yang Diremehkan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.

Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.

Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.

*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*

Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.

Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20: Hubungan Palsu

Nadia tidak menyerang Surya secara langsung setelah Permata Kreasi jatuh.

Ia menyerang Meilu.

Laporan itu masuk ke Bidpropam Polda Metro Jaya pada Selasa pagi. Isinya rapi, terlalu rapi untuk tangan Nadia sendiri. Ada foto tas kecil yang pernah Surya berikan kepada Meilu setelah bantuan prosedural kasus Mega Awan. Ada foto jam tangan mewah di pergelangan Surya, hadiah balasan dari Meilu setelah makan malam Senopati. Ada narasi bahwa AKP Lim Mei Lu menerima barang dari pihak yang pernah diperiksa Dittipideksus.

Surya membaca salinan laporan itu di ruang rapat Sentana dengan rahang mengeras.

"Ini jebakan," katanya.

Diana duduk di ujung meja, membaca halaman demi halaman. "Jebakan tidak otomatis tidak berbahaya. Polisi menerima hadiah dari pihak terkait perkara bisa terlihat buruk, meski faktanya bukan suap."

"Meilu tidak pernah meminta apa pun."

"Publik tidak membaca niat. Mereka membaca foto."

Ferdy mengangguk pelan. "Kita perlu penjelasan yang sederhana dan tidak terdengar seperti pembelaan berbelit."

Diana menatap Surya. "Apa hubunganmu dengan AKP Lim?"

Surya tidak langsung menjawab.

Itu justru jawaban.

Diana menutup map. "Kalau kalian hanya rekan perkara, hadiah pribadi berisiko. Kalau kalian pasangan, konteksnya berbeda."

Surya menatapnya. "Anda menyuruh saya berbohong?"

"Saya menyuruhmu memilih kebohongan yang paling dekat dengan kebenaran."

Kalimat itu membuat ruang rapat sunyi.

Sore hari, Surya datang ke Polda Metro Jaya sebagai saksi klarifikasi. Meilu sudah duduk di ruang tunggu internal, wajahnya datar. Namun, ujung jarinya mengetuk lutut terlalu teratur.

"Kamu tidak perlu ikut campur," katanya.

"Laporan itu memakai nama saya."

"Saya bisa menjelaskan."

"Dengan mengatakan apa? Bahwa saya memberi tas karena berterima kasih, lalu Anda memberi jam tangan karena kasihan melihat saya masih memakai jam murah?"

Meilu menatapnya tajam. "Jam itu bukan karena kasihan."

Surya berhenti.

Di ujung lorong, dua petugas menunggu. Di belakang kaca, ia melihat bayangan orang-orang yang ingin menilai Meilu dari foto, bukan dari integritas bertahun-tahun.

Surya melangkah mendekat.

"Bu AKP," katanya pelan, "izinkan saya kali ini membuat laporan itu salah arah."

"Bagaimana?"

Surya tidak memberi waktu bagi keberanian untuk kabur.

Ia menarik Meilu ke dalam pelukannya.

Tubuh Meilu kaku.

Lorong itu langsung hening.

Surya menunduk, berbicara cukup keras agar orang-orang mendengar tetapi tidak seperti pertunjukan murahan.

"Saya memberi hadiah kepada perempuan yang sedang dekat dengan saya. Dia memberi hadiah kembali karena kami memang punya hubungan pribadi. Kalau itu perlu saya jelaskan secara resmi, saya akan jelaskan."

Meilu tidak bergerak selama dua detik.

Lalu tangannya naik perlahan, menyentuh punggung Surya.

Sentuhan kecil itu seperti tanda tangan di bawah sandiwara.

"Kamu selalu memilih cara paling merepotkan," bisiknya.

"Saya belajar dari polisi yang datang ke restoran membawa Lamborghini."

Meilu hampir tersenyum, lalu menahannya karena beberapa petugas masih melihat.

Klarifikasi berlangsung satu jam. Mereka menjelaskan garis waktu: perkara Mega Awan sudah melewati tahap awal, semua dokumen diserahkan resmi, tidak ada keputusan penyidikan yang dibeli hadiah, dan hubungan pribadi mereka dimulai setelah intensitas komunikasi di luar perkara. Meilu tetap mendapat catatan etik ringan untuk menjaga jarak dalam kasus mendatang. Namun, tuduhan suap tidak berdiri.

Di luar gedung, hujan tipis turun.

"Satu bulan," kata Meilu.

"Apa?"

"Kalau laporan ini ditindaklanjuti media atau Nadia bergerak lagi, kita perlu konsisten. Satu bulan berpura-pura."

Surya menatapnya. "Anda yang mengusulkan?"

"Diana mengusulkan. Saya menyetujui karena lebih bersih daripada membiarkan narasi Nadia hidup."

"Dan setelah satu bulan?"

"Kita putus baik-baik."

Kata putus terasa aneh untuk sesuatu yang belum dimulai.

Minggu-minggu berikutnya, hubungan palsu itu menjadi latihan yang terlalu mudah dilakukan. Surya mengirim pesan agar Meilu makan. Meilu menjemputnya sekali ketika hujan deras. Surya belajar bahwa Meilu minum kopi tanpa gula. Namun, diam-diam suka es cendol. Meilu belajar bahwa Surya akan memperbaiki kompor longgar di apartemen siapa pun jika diberi obeng.

Pada malam keempat belas, Meilu tidak bisa tidur.

Ia duduk di ranjang, menatap ponsel.

Pesan terakhir Surya hanya berbunyi, Jangan lupa makan malam.

Tidak romantis.

Tidak puitis.

Tetapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada pria yang tidak menuntut akses ke dunianya, tidak takut pada seragamnya, dan tidak silau pada mobil keluarganya. Ia hanya mengingatkannya makan.

Meilu membalik ponsel menghadap kasur.

Lima menit kemudian, ia membaliknya lagi.

Masalah berikutnya datang dari undangan reuni kecil alumni UNAIR Surya. Nadia tahu acara itu dari media sosial lama, lalu datang bersama Kevin seolah masih punya hak memasuki masa lalu Surya. Ia memakai gaun hitam dan wajah pucat yang dipoles riasan tebal. Kevin berdiri di sampingnya seperti sponsor yang mulai menyesal.

Ketika Surya masuk sendirian, beberapa teman lama berbisik.

"Itu mantan suami Nadia, kan?"

"Katanya sekarang magang di kantor hukum."

Nadia tersenyum tipis. "Surya, pacar polisi kaya kamu tidak datang? Atau sudah sadar kamu cuma beban?"

Sebelum Surya menjawab, suara mesin rendah terdengar dari luar restoran.

Semua kepala menoleh.

Lamborghini merah berhenti tepat di depan pintu. Meilu turun dengan gaun putih sederhana, rambut diikat rendah, dan sikap seolah seluruh halaman parkir memang disediakan untuknya.

Ia masuk, menggandeng lengan Surya tanpa ragu.

"Maaf terlambat, Sayang. Rapat keluarga."

Kata Sayang itu membuat beberapa alumni menahan napas.

Wajah Nadia berubah kelabu.

Kevin menatap Lamborghini, lalu Meilu, lalu Surya. Untuk pertama kalinya, kesombongannya terlihat seperti jas yang kebesaran.

Seorang teman lama Surya berbisik, "Bro, ini pacarmu?"

Surya melirik Meilu.

Meilu tersenyum kecil. "Untuk sementara, iya."

Kalimat itu hanya mereka berdua yang memahami.

Malam itu, Nadia tidak menemukan celah. Setiap kali ia mencoba menyindir masa lalu Surya sebagai suami rumahan, Meilu menjawab dengan tenang bahwa pria yang bisa merawat rumah biasanya lebih mampu merawat hidup daripada pria yang hanya merawat citra. Setiap kali Kevin mencoba bicara tentang bisnis, Surya menanyakan sumber dana Rp 5 miliar dengan nada ringan.

Akhirnya, Nadia menarik Kevin pergi lebih cepat.

Mereka keluar seperti orang kalah taruhan.

Di parkiran, Meilu melepas genggamannya dari lengan Surya.

"Misi selesai," katanya.

"Terima kasih."

"Jangan terbiasa."

Satu bulan kemudian, mereka benar-benar mengumumkan kepada beberapa orang dekat bahwa hubungan itu selesai baik-baik. Tidak ada drama. Tidak ada pertengkaran. Hanya strategi yang ditutup.

Tetapi malam itu, setelah pulang ke rumah keluarga Lintang, Meilu berdiri lama di depan cermin.

Dadanya terasa kosong di tempat yang tidak bisa ia jelaskan dengan pasal, prosedur, atau laporan.

Untuk pertama kalinya, ia tidak mau mengakui bahwa ia sedang memikirkan seorang pria.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!