NovelToon NovelToon
PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:977
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 - KUNCI PERPUSTAKAAN TERLARANG

Kunci besi itu beratnya hampir setengah kilogram.

Bentuknya tidak seperti kunci pada umumnya. Kepalanya berbentuk kepala naga kecil yang sedang menganga, dengan mata dari batu giok hitam yang sudah kusam. Batangnya berkarat di beberapa bagian, tapi di bagian ujungnya yang berbentuk aneh, masih mengkilap seperti baru. Kunci itu dingin saat aku genggam, bahkan di siang hari yang terik.

Sejak Sistem memberikannya kepadaku kemarin sore, tepat setelah misi berbahaya mencium pipi Segara El-Bhumi itu berhasil, aku belum berani memakainya sama sekali. Kunci itu aku sembunyikan di bawah bantal, di bawah tumpukan kain jarik, di dalam kotak P3K yang sudah kosong. Pindah-pindah terus karena aku takut ketahuan Mbok.

Perpustakaan Terlarang. Nama itu saja sudah membuat bulu kuduk semua pelayan di istana berdiri.

Letaknya ada di ujung paling barat istana, melewati Taman Mawar Putih, melewati Paviliun Selir yang sudah kosong, dan melewati sebuah jembatan kayu kecil yang sudah lapuk. Bangunannya terbuat dari kayu hitam yang sama dengan ranjang Kaisar, tapi jauh lebih tua dan berdebu. Tidak ada lentera yang menyala di sana. Tidak ada pengawal yang berjaga di sana. Karena semua orang percaya, perpustakaan itu dijaga oleh arwah.

Arwah permaisuri-permaisuri yang mati penasaran sebelum aku.

Pangeran Tirta Anantya yang masih menjadi tamu di istana, kemarin sempat bertanya padaku saat kami duduk di teras, "Gusti Permaisuri, apa benar Perpustakaan Terlarang itu berisi buku-buku sihir hitam peninggalan Kaisar pertama?"

Aku hanya tersenyum dan menjawab, "Mungkin saja, Pangeran."

Padahal di dalam hatiku, Sistem terus berbisik dengan tulisan merah mudanya yang genit.

[PETUNJUK BUKU KOSONG DARI ABAD 21 ADA DI DALAM PERPUSTAKAAN TERLARANG. PERGI MALAM INI SAAT GERHANA BULAN SEPARUH. PINTU HANYA BISA DIBUKA SAAT BULAN TIDAK PENUH]

Malam ini adalah malam gerhana bulan separuh. Langit mendung, bulan hanya terlihat setengah. Para pengawal pasti mengantuk karena dingin.

Ini kesempatanku.

Aku menunggu sampai Paviliun Mawar benar-benar sepi. Mbok sudah tertidur pulas di paviliun pelayan setelah minum teh jahe yang aku buatkan. Segara El-Bhumi, kata pengawalnya, malam ini lembur di Balairung Langit karena ada laporan penting dari desa perbatasan yang kebanjiran kemarin. Dia tidak akan kembali ke kamarnya sampai tengah malam.

Aku memakai jubah hitam tebal milik Mbok yang kebesaran, menutupi gaun tidur putihku. Aku menyelipkan kunci naga itu di dalam saku jubah, membawa lentera minyak yang kecil dengan cahaya yang sengaja aku buat sangat redup, dan membawa buku panduan drainase sebagai alasan jika ada yang menangkapku.

"Kalau ada yang menangkapku, aku akan bilang aku ingin mengembalikan buku ke perpustakaan," gumamku pelan, mencoba meyakinkan diriku sendiri.

Aku berjalan menyelinap di koridor istana yang sepi. Hanya suara jangkrik dan suara air kolam yang terdengar. Jantungku berdebar kencang, bukan karena takut hantu, tapi karena takut ketahuan Segara. Jika Segara tahu aku menyelinap ke Perpustakaan Terlarang tanpa izin, dia pasti akan marah besar. Perpustakaan itu adalah tempat terlarang bahkan untuk permaisuri.

Lima belas menit berjalan, akhirnya aku sampai.

Perpustakaan Terlarang itu jauh lebih besar dan lebih menyeramkan daripada yang kuceritakan. Pintunya dua kali lebih tinggi dari tubuhku, terbuat dari kayu hitam yang tebal, dan dililit oleh rantai besi besar yang sudah berkarat. Di rantai itu ada gembok raksasa sebesar kepalaku, dengan ukiran naga yang sama persis dengan kunci di sakuku.

Tidak ada suara apa pun dari dalam. Hanya bau kertas tua dan kayu lapuk yang menyeruak keluar dari celah pintu.

Aku menarik napas dalam-dalam. Tanganku gemetar saat memasukkan kunci naga itu ke dalam gembok raksasa itu.

Kunci itu masuk dengan pas. Sempurna.

Klek... krek...

Suara gembok terbuka itu menggema sangat keras di keheningan malam, membuatku hampir menjatuhkan lentera karena kaget.

Rantai besi itu jatuh ke tanah dengan suara berdentang yang berat. Bruk!

Pintu kayu itu terbuka sedikit dengan sendirinya, menimbulkan suara berderit panjang yang menyeramkan. Sreeeettt...

Debu tebal beterbangan keluar, membuatku terbatuk-batuk.

Aku mengangkat lentera ku dan mengintip ke dalam.

Di dalam, pemandangannya membuatku membeku.

Ribuan, bahkan mungkin puluhan ribu buku berjejer rapi dari lantai sampai langit-langit yang tingginya hampir sepuluh meter. Rak-rak kayu hitam menjulang tinggi seperti hutan. Semua buku itu terlihat sangat tua, sampulnya dari kulit, dari kayu, bahkan ada yang dari batu tipis. Tidak ada satu pun lentera yang menyala di dalam, hanya cahaya bulan separuh yang masuk dari jendela-jendela kecil di atas.

Tapi ada satu hal yang aneh. Di tengah-tengah perpustakaan yang berdebu itu, ada satu meja kayu besar yang sangat bersih. Tidak ada debu sama sekali. Di atas meja itu, ada satu buku.

Satu buku yang berbeda dari semua buku di sini.

Buku itu tidak berdebu. Sampulnya putih bersih, bukan hitam atau cokelat tua. Bahannya bukan kulit atau kayu, tapi seperti kertas HVS putih tebal dari abad 21. Di sampulnya tidak ada judul, tidak ada nama pengarang, hanya kosong putih.

Aku berjalan mendekat dengan langkah pelan, setiap langkahku menimbulkan suara berderit di lantai kayu yang sudah tua.

Semakin dekat, semakin jelas buku itu terlihat aneh. Buku itu memancarkan sedikit cahaya putih yang sangat lembut, seperti cahaya dari layar ponsel di kegelapan.

Aku meletakkan lentera di atas meja dan mengambil buku putih itu dengan kedua tangan yang gemetar.

Buku itu ringan. Sangat ringan.

Aku membukanya.

Halaman pertama kosong. Halaman kedua kosong. Halaman ketiga sampai halaman terakhir, semua kosong melompong. Tidak ada satu huruf pun.

"Buku kosong?" bisikku kecewa. "Sistem bohong? Katanya ada petunjuk tentang abad 21."

Tepat saat aku mengatakan itu, halaman pertama yang tadinya kosong melompong itu, tiba-tiba muncul tulisan dengan sendirinya.

Tulisan itu muncul seperti ada tangan tak terlihat yang menuliskannya dengan tinta hitam yang masih basah. Tulisan itu rapi, tulisan tangan perempuan, dengan gaya tulisan anak kuliahan abad 21.

Selamat datang, Kahiyang dari abad 21. Akhirnya kau datang juga.

Darahku berdesir. Tulisan itu tahu namaku. Tulisan itu tahu aku dari abad 21.

Tulisan itu berlanjut, muncul baris demi baris.

Namaku Rania Putri Wijaya. Mahasiswi Kedokteran angkatan 2023, Universitas Gadjah Mada. Aku terdampar di Kerajaan Langit ini 2 tahun sebelum kau. Aku masuk ke dalam tubuh Selir Ayu, selir yang mati karena diracun Ibu Suri di hari ke-10.

Aku yang meninggalkan Kotak P3K dan lipstik merah delima itu untukmu di inventaris Sistem. Sistem itu bukan sihir. Sistem itu adalah program bantuan yang ditinggalkan oleh penjelajah waktu sebelum kita.

Aku menulis buku ini dengan sisa tenagaku sebelum aku menghilang.

Tanganku menutup mulutku karena kaget. Jadi Rania ini adalah orang sebelum aku? Mahasiswi Kedokteran UGM 2023?

Halaman berikutnya muncul lagi.

Dengarkan aku, Kahiyang. Jangan percaya pada Ibu Suri. Dia bukan ibu yang baik. Dia yang meracuni Permaisuri Li Hua, permaisuri pertama, karena Li Hua tahu rahasia besarnya. Dia juga yang mencoba meracunimu lewat Selir Jelita.

Dan satu hal lagi yang paling penting...

Tulisan itu berhenti sejenak, seolah penulisnya ragu.

Jangan jatuh cinta pada Segara El-Bhumi.

Karena jika kau jatuh cinta padanya dengan tulus, dengan hati abad 21 mu yang utuh, pintu pulang ke abad 21 yang akan terbuka saat gerhana bulan penuh nanti, tidak akan pernah bisa membawamu pulang lagi. Cinta akan mengikat jiwamu di sini selamanya.

Pilih dengan bijak. Pulang dan lanjutkan skripsimu, atau tinggal dan menjadi Permaisuri Mawar selamanya.

Aku, Rania, memilih pulang. Dan aku menyesalinya sampai detik terakhirku menghilang.

Tulisan itu berhenti. Tidak muncul lagi.

Aku berdiri membeku di tengah Perpustakaan Terlarang yang sepi dan berdebu, dengan buku putih kosong yang baru saja memberiku rahasia terbesar di istana ini, di tangan ku yang gemetar.

Jangan jatuh cinta pada Segara El-Bhumi?

Tapi di kepalaku, Sistem baru saja berbunyi pelan kemarin sore.

[KETERTARIKAN KAISAR SEGARA EL-BHUMI 120% - STATUS JATUH CINTA LEVEL 1]

Dan di pipi Segara, masih ada bekas lipstik merah delima ku yang belum dia hapus sampai sekarang.

Aku terlambat. Aku sudah terlanjur jatuh cinta?

Dari luar perpustakaan, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang berat dan suara jubah yang berkibar.

Langkah kaki yang sangat aku kenal.

Langkah kaki Kaisar Segara El-Bhumi.

"Kahiyang? Apa yang kau lakukan di sini malam-malam?" Suara dinginnya terdengar dari balik pintu yang terbuka sedikit.

Aku panik setengah mati dan langsung menyembunyikan buku putih itu di balik jubah hitam Mbok yang kebesaran.

Pintu terbuka lebih lebar.

Segara berdiri di sana dengan lentera besar di tangannya, jubah hitamnya masih terpasang, wajahnya dingin dan sedikit marah karena melihatku ada di tempat terlarang ini.

Tapi malam ini, alurnya masih santai. Aku belum siap menjelaskan semuanya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!