CINTA SEMANIS PARE
Seorang playboy komersil yang terkenal di kampusnya, sangat terkejut ketika bangun tidur mendapati tubuhnya berubah menjadi seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu sebenarnya adalah Awen, seorang mahasiswi tercantik di kampus namun sudah meninggal beberapa hari yang lalu.
Alu mempunyai saudara kembar bernama Afu, di mana Afu sangat menyukai awen pada saat Awen masih.
Seiring perjalanan waktu, dari kerumitan yang dialami alu dan perjalanan hidupnya Dia pun akhirnya benar-benar menjadi Awen.
Walaupun awalnya sempat terkendala tentang hubungan darah.
Akhirnya Afu dan Awen, yang sebelumnya adalah alu, akhirnya mereka berpacaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIAPAKAH DIA?
SIAPAKAH DIA?
Sesampainya di apartemen, Awen langsung mengempaskan tubuhnya ke sofa. Air matanya masih mengalir, meskipun kini hanya tersisa isakan kecil.
Afu yang semakin penasaran segera duduk di dekatnya.
“Tolong ceritain ke gue, apa sebenarnya yang terjadi?”
Awen mengusap air matanya menggunakan ujung gaun merah jambunya. Sambil terisak, dia mulai bercerita.
“Saat Lo pergi, Louhan menyatakan cinta dan ngajak gue berpacaran. Gue bahagia banget. Gue bahkan udah mau menerima pernyataannya.”
Awen berhenti sejenak, berusaha mengendalikan tangisnya.
“Tapi tiba-tiba, ada seorang wanita yang sangat cantik. Rambutnya putih bercahaya, kulitnya juga putih bercahaya. Dia mengenakan baju pink yang memancarkan cahaya merah muda kebiruan. Yang lebih aneh, dia duduk melayang tepat di atas Louhan.”
Afu mengernyitkan dahi.
“Cuma gue yang bisa melihatnya, sepertinya. Wanita itu menyilangkan tangannya, seolah-olah meminta gue menolak pernyataan cinta Louhan.”
Awen menunduk. Isakannya kembali terdengar.
“Dan saat itu, tiba-tiba gue teringat sebuah kejadian yang sebenarnya belum pernah gue alami.”
Afu semakin penasaran. Dia mendekatkan telinganya ke wajah Awen, berusaha mendengarkan setiap perkataannya dengan saksama.
“Kejadian apa yang lu ingat sampai bikin lu nangis begini?”
Awen mengangkat wajahnya. Matanya yang basah menatap Afu.
“Gue teringat kejadian di taman kampus. Waktu itu, gue lagi duduk. Terus gue nyuruh lu duduk di samping gue. Lu bawa dua es krim, lalu ngasih satu ke gue.”
Afu terdiam.
“Karena lu makan belepotan, gue mengambil tisu dan membersihkan bibir lu. Terus lu memegang tangan gue. Kita saling berpandangan dan hampir berciuman.”
Awen kembali terisak.
“Tapi es krim lu tumpah ke paha gue, jadi ciuman itu gagal. Entah kenapa, gue justru merasa sangat sedih. Setelah itu, wanita tadi tiba-tiba menghilang.”
Dia menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
“Awalnya gue mau berlari nyusul lu ke kamar mandi. Tapi ternyata, lu udah keluar lebih dulu.”
Awen menggelengkan kepalanya, seolah masih tidak percaya dengan ingatannya sendiri.
“Padahal gue yakin belum pernah mengalami kejadian itu.”
Afu terperanjat.
Dia ingat betul kejadian tersebut. Bahkan, sebelumnya dia sendiri yang membayangkan adegan itu saat berada di kamar mandi.
Namun, bagaimana mungkin Awen juga mengingatnya?
Awen tiba-tiba memeluk tubuh Afu erat-erat. Tangisnya kembali pecah, jauh lebih keras daripada sebelumnya.
Afu kebingungan.
Dia ingin merengkuh tubuh gadis itu, membelainya, lalu mengucapkan kata-kata indah untuk menenangkannya.
Namun, tubuhnya justru terpaku.
Kedua tangannya tidak mampu bergerak. Bibirnya pun seolah terkunci.
Tatapannya kosong, sementara suara isakan Awen memenuhi kepalanya.
Entah berapa lama mereka bertahan dalam posisi itu. Malam terus berlalu, tetapi tak satu pun dari mereka kembali membuka suara.
---
Pagi harinya, Afu terbangun dalam posisi terbaring di lantai. Sementara itu, Awen masih tertidur di atas sofa.
Dia segera memeriksa pakaiannya sendiri, kemudian memperhatikan pakaian Awen.
Semuanya masih rapi.
Sepertinya, tidak terjadi apa-apa di antara mereka semalam.
Afu bangkit perlahan dan mendekati sofa. Dia mengamati wajah Awen yang masih terlelap, lalu mengusap bekas air mata yang mengering di pipi gadis itu.
Tiba-tiba, tubuh Awen menggeliat.
Afu terkejut. Dia buru-buru kembali berbaring di lantai dan berpura-pura masih tidur.
Namun, beberapa saat berlalu tanpa suara.
Afu membuka matanya sedikit dan mengamati Awen dengan saksama.
Gadis itu ternyata masih tertidur.
Afu mengembuskan napas lega.
Entah perasaan apa yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya. Dia merasa iba kepada Awen, meskipun dia tahu bahwa gadis itu adalah saudara kembarnya, Alu, yang kini berada dalam tubuh Awen.
Perasaan itu sulit dijelaskan.
Tanpa benar-benar memahami apa yang sedang dilakukannya, Afu bergerak mendekati sofa. Dia mengangkat tubuh Awen dengan hati-hati, lalu membawanya ke kamar dan membaringkannya di atas tempat tidur.
Setelah menyelimuti tubuh gadis itu, Afu berdiri mematung di samping ranjang.
Dia memperhatikan wajah Awen cukup lama, kemudian mengusap dahinya dengan lembut.
Dalam hati, dia berbisik.
Seandainya lu benar-benar Awen, gue bakal sangat berterima kasih kepada dunia karena udah mempertemukan kita kembali.
Namun, senyum tipis di wajahnya segera menghilang.
Tapi bagaimana dengan Alu? Kalau lu benar-benar Awen, lalu ke mana saudara kembar gue? Apa yang harus gue jelasin kepada kedua orang tua gue?
Afu mengacak rambutnya sendiri, frustrasi.
Kepalanya terasa semakin penuh oleh pertanyaan yang tak mampu dia jawab.
Akhirnya, dia meninggalkan kamar dan masuk ke kamar mandi. Dia membasahi rambutnya, berharap air dingin bisa membantu menenangkan pikirannya yang mulai memanas.
Dia bahkan tak menghitung berapa lama dirinya berada di sana.
Sampai akhirnya merasa jenuh, Afu mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya. Setelah melilitkan handuk di pinggang, dia melangkah keluar kamar mandi.
Namun, langkahnya langsung terhenti.
Awen sedang duduk di meja makan.
Gadis itu mengenakan celemek, sementara berbagai hidangan telah tersaji lengkap di atas meja.
Afu berkedip beberapa kali.
“Afu, sini! Gue udah masakin buat lu. Ayo, sarapan dulu!”
Afu mematung.
Dia tidak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya.
Alu, saudara kembarnya yang bahkan tak pernah menyentuh dapur, kini duduk di antara begitu banyak hidangan sambil mengaku telah memasak untuknya.
Afu menggelengkan kepala. Dia mengusap wajah, lalu mencubit lengannya sendiri.
“Aduh!”
Dia menahan teriakannya sambil memegangi lengan.
“Ya ampun, ini bukan mimpi!”
Afu berjalan mendekati meja makan. Namun, sebelum sempat duduk, Awen tiba-tiba terdiam.
Matanya membelalak ketika melihat penampilan Afu.
Gadis itu bahkan tidak berkedip selama beberapa saat.
Barulah Afu menyadari bahwa dirinya belum mengenakan pakaian lengkap.
“Ah!”
Dia segera berbalik dan bergegas masuk ke kamar.
Setelah selesai berganti pakaian, Afu baru saja hendak keluar ketika sebuah tangan lembut menyentuh pundaknya.
“Afu, ayo buruan makan. Gue udah lapar. Udah capek-capek gue masakin. Kalau nggak lu makan, gue bakalan marah!”
Suara itu terdengar begitu merdu dan lembut.
Afu hampir saja berteriak kegirangan.
Namun, sebelum dia sempat menikmati kebahagiaannya, Awen sudah menarik tangannya dan menyeretnya keluar kamar.
Dengan santai, gadis itu mendudukkannya di kursi makan.
Belum selesai Afu memahami apa yang sedang terjadi, Awen sudah menyodorkan sesendok makanan ke mulutnya.
Tanpa diperintah, mulut Afu terbuka begitu saja. Dia menerima suapan tersebut dan mulai mengunyah.
Sampai akhirnya, suara lembut Awen kembali menyadarkannya.
“Afu, gimana masakan gue? Enak nggak?”
Afu menelan makanannya, lalu tersenyum lebar. Dia mengacungkan kedua ibu jarinya.
“Wah, mantap! Ini enak banget! Alu, sejak kapan lu belajar masak?”
Senyum Awen langsung menghilang.
Gadis itu mencubit bahu Afu sambil memalingkan wajah dengan sedikit malu.
“Afu, lu gimana, sih? Gue udah cantik kayak gini, masa masih lu panggil Alu juga? Gue Awen! Masa lu nggak bisa bedain, sih?”
Afu mengerutkan kening.
Belum sempat menjawab, Awen kembali menjepit pipinya.
Kali ini, cubitannya cukup keras. Bahkan, gadis itu memelintir pipinya sampai Afu benar-benar merasakan sakit.
“Aduh! Sakit! Halo, kenapa lu cubit pipi gue?”
“Alu lagi, Alu lagi! Kan udah gue bilang, gue ini Awen!”
Awen bangkit dari kursinya, kemudian memperagakan beberapa pose di depan Afu.
“Lu lihat baik-baik! Coba, siapa gue?”
Afu menatapnya lekat-lekat.
“Gue sih berharap lu itu Awen. Tapi bukannya lu Alu?”
Awen berjalan mendekat, lalu menepuk kening Afu.
“Lu lihat baik-baik, Afu! Gue ini siapa?”
Kali ini, Awen mengucapkannya dengan wajah serius. Matanya sedikit membelalak, seolah benar-benar menuntut Afu memberikan penilaian yang sungguh-sungguh.
Namun, Afu tidak menjawab.
Dia hanya menatap Awen dengan penuh rasa penasaran.
Apa sebenarnya yang terjadi sama saudara kembar gue? Kenapa dia jadi centil kayak gini?
Afu masih mengenal Alu sebagai sosok yang jauh berbeda dari gadis di hadapannya.
Sementara itu, Awen terus menunggu jawaban dengan wajah penuh harap.
Keduanya masih sibuk mencari kepastian, tanpa menyadari bahwa waktu terus berjalan.
Matahari perlahan naik, meninggalkan pagi hingga akhirnya hampir tepat berada di atas kepala mereka.
Namun, satu pertanyaan masih menggantung di benak Afu.
Siapakah sebenarnya gadis yang kini berada di hadapannya?