Sebuah pertemuan yang tidak terduga terjadi pada Mariana purnama, yang akan mengubah hidup nya, akibat salah sasaran kebencian dan juga dendam dari seorang bos mafia, yang di kenal sebagai Hansen Deen.yang punya pengaruh dan kuasa besar di negara A.
pertemuan yang awalnya tidak di sengaja untuk Ana malah menjadi pertemuan yang akan membawa nya dalam masalah besar untuk hidup nya.
SELAMAT MEMBACA ,SEMOGA TERTARIK😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shkira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 11
Mobil berhenti di mansion besar milik Hansen.
Ana berjalan pelan mengikuti Ares masuk kedalam mansion. Saat ini perasaan nya benar-benar gelisah.. entah apa yang akan terjadi pada nya di dalam nanti.
Langkah mereka berhenti di ruang tengah. Ana tidak melihat siapa pun di ruangan itu.
Ia tidak menyadari keberadaan Hansen di lantai 2 sedang memperhatikan nya dari Atas.
Ares berjalan mengambil selembar kertas yang sejak awal sudah di siapkan di atas meja.
"Nona, silahkan tanda tangani kertas ini!" Pinta nya, menyodorkan.
Ana mengerutkan dahi dengan bingung. "Apa ini?"
"Silahkan, nona membaca nya!"
Ana melirik pada Ares yang sejak tadi terus berwajah datar. Ia lalu membaca kertas yang ada di tangan nya. Setiap baris ia baca dengan serius hingga akhir tulisan.
Ia terbelalak mundur melepaskan kertas di tangan nya.
"A..apa maksud kalian dengan menyerahkan 'jantung?" Tanya nya, takut.
Ares mengambil kertas yang terjatuh ke lantai "Nona sudah membaca nya hingga akhir, ini surat perjanjian kematian!" Jelas nya. Datar.
"Kalian pasti bercanda?" Melangkah mundur "Atas dasar apa aku harus tanda tangani surat ini!"
Ares menarik nafas panjang untuk menjelaskan pertanyaan Ana.
"Atas dasar, jantung yang kamu miliki saat ini, bukan milik mu nona!"
"Omong kosong! Kalian ini perdagangan manusia ya!" Maki nya. Melindungi diri.
Ares mengernyit tidak senang mendengar kalimat Ana, "Nona, jaga ucapan mu! Kami taat pada hukum!" Gertak nya.
Ana tersenyum pahit "Hukum, Kalau begitu biarkan aku pergi!"
Ares tertegun diam dengan kecerdasan Ana dalam berdebat "Nona, keputusan ada pada bos kami!"
"Kalau begitu bilang padanya untuk melepaskan aku, aku tidak pernah menyinggung nya kenapa dia mengincar ku!" Bantah nya.
"Nona, kamu sudah menyinggung nya selama 3 tahun!"
"Aku tidak kenal dengan bos kalian, bagaimana aku bisa menyinggung nya selama 3 tahun!"
Ares sampai kebingungan mengahadapi Ana. "Nona, tolong jangan persulit pekerjaan ku!"
"Pekerjaan mu itu tidak masuk akal. Tiba-tiba meminta orang yang masih hidup dan sehat untuk menyerahkan jantung nya, Benar-benar konyol!"
"Nona dengar.."
"Aku tidak mau dengar! Lepaskan aku atau aku telpon polisi" Ancam nya.
Ares panik ketika Ana mengeluarkan ponsel nya.
"Dengar nona, bos kami bukan orang yang mudah di hadapi, sebaik nya kita bicarakan ini baik-baik!"
Ana tersenyum pahit " baik kalau begitu aku tidak mau tanda tangan!"
Ares mengusap kasar wajah nya "Astaga..nona, kamu benar-benar mempersulit aku!"
"Aku tidak mempersulit mu, kalian yang mempersulit aku!" bantah nya.
Ares kebingungan menghadapai Ana, saat mendapat tugas untuk membawa Ana, ia lupa bertanya pada bos nya. boleh menggunakan cara kasar atau tidak pada Ana.
ia takut salah dalam mengambil tindakan, sebab beberpa kali ia pernah melihat sikap Hansen pada Ana, cukup baik saat mereka sedang bersama.
Hansen sejak tadi terus memperhatikan perdebatan mereka, ia engkel dengan Ares yang tidak bisa tegas menangani pekerjaan nya.
"Ares!"
Mereka langsung mendongak bersama ke asal suara.
"Hanya seorang gadis bertubuh lemah, kamu tidak bisa mengatasi nya!" ucap nya, dingin.
Ana tertegun saat mendengar suara pria bertopeng itu merasa sedikit mirip dengan Hansen, namun ia menepis pikiran nya.
"Paksa dia tanda tangan!" Tegas Hansen, dingin.
Ares langsung meminta kedua anak buah nya untuk mengatasi Ana, setelah mendapat perintah dari Hansen.
Ana tertegun panik, saat kedua pria besar itu berjalan mendekat. Ia tau dia tidak akan bisa melawan mereka yang bertubuh besar.
"BERHENTI!" teriak nya. Panik.
"Beri aku alasan yang jelas, aku akan menanda tangani kertas itu, jika semua nya jelas!" Ucap nya, mengulur waktu. Mencari cara untuk kabur.
Mendengar permintaan Ana. Ia setuju dengan mudah
Hansen mengisyaratkan Ares untuk menjelaskan soal jantung yang di miliki Ana saat ini.
.
.
Bersambung...