Amira Anastasya, yang setia menunggu janji dari Glen Anggara yang akan segera pulang dalam dua tahun setelah menyelesaikan pendidikannya di Eropa dan menikahi nya. Namun tidak sesuai dengan ala yang Amira harapkan.
Bertahun-tahun Amira menunggu akan tetapi Glen tidak kunjung datang, bahkan tidak pernah menghubungi Amira setelah satu bulan di Eropa tiba-tiba saja dia menghilang tanpa kabar, dan Amira pun tidak dapat menghubunginya.
Hingga lima tahun kemudian, ketika Amira dibandara dan hendak pergi keluar negeri tanpa sengaja mereka bertemu. Saat itu juga Glen pulang dari luar negeri.
Melihat kepergian Amira, Glen merasa sedih ketika dia hendak menemui Amira tetapi kenapa malah amira pergi keluar negeri dan tidak mau mendengarkan Glen saat itu.
Selama di Indonesia Glen berusaha mencari tahu kehidupan Amira selama ini, apakah dia baik-baik saja selama dia tidak ada atau malah sebaliknya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penpena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Tidak Mengenal
"Oh, aku tahu." Melly tersenyum dan menatap Glen, "Pasti kamu takutkan Amira diambil orang lain duluan?." Tanya Melly bercanda, Amira pun tersenyum mendengar temannya itu bercanda kepada Glen. "Atau, janga-jangan kamu yang akan diambil orang lain?." Tambahnya lagi.
"Kamu benar, aku tidak mau Amira diambil oleh orang lain duluan. Karena aku dia sudah dipersiapkan Tuhan untukku, dan aku sangat beruntuk bisa menikahinya. Siapa pun yang menikah dengannya, pasti hidupnya akan dipenuhi keberuntungan." Jawab Glen tersenyum sambil menatap Amira bersyukur.
Melly tersenyum kaku, "Oh, tepat sekali. Teman ku ini memang memancarkan aura yang sangat positif bagi sekelilingnya. Aku berharap aura positif itu tidak memudar, ya?." Ujarnya.
"Ya ampun, Melly kamu berbicara seakan-akan menekan Glen untuk tidak mengecewakan ku. Maaf ya Glen, Melly sudah seperti kakak bagiku, dan dia akan sangat menjagaku." Ucap Amira berpikir kalau Melly berusaha memastikan Glen untuk tidak macam-macam kepadanya. "Dan bersiapalah dari sekarang mendengar kata-kata sarkas darinya." Tabahnya memperingatkan Glen.
"Hahaha, aku akan sering berbicara sarkas padanya, Mir. Karena aku akan mengungkapkan setiap berbuatannya yang tidak baik padamu," Melly tersenyum kepada Amira, dan perkataanya itu mampu membuat Glen menatapnya serius. "Kalau aku menemukan kebohongan di diri Glen, maka aku akan segera memberitahukannya pada mu, Mir." Tambahnya.
Amira tersenyum bahagia, "Tenang saja Mir, dia tidak akan berani berbohong padaku, aku mengenalnya, dan Glen sangat baik." Ucapnya percaya diri, "Benarkan sayang?." Tanya nya menatap Glen tersenyum.
"Hem." Glen mengangguk.
"Oh iya, Mel, jadi sekarang kamu menginap dimana?"
"E-em, aku belum mencarinya, mungkin setelah ini."
"Kalau begitu, selama kamu disini menginaplah dirumah kami."
Glen menatap Amira serius, dia merasa keberatan jika Melly sampai menginap dirumah mereka.
"Apa kamu serius?." Tanya Melly.
"Iya, aku serius. Lagipula ada beberapa kamar kosong dirumah kami. Daripada kamu buang-buang uang menyewa apartemen atau hotel beberapa minggu ini, lebih baik kamu dirumah kami saja. Selain itu kita tidak akan saling berjauhan, benar kan?."
"E-em, ide kamu bagus juga Mir, tapi," Melly menatap Glen yang berekspresi datar, "Apakah Glen akan menerimanya?."Tanya nya.
Lalu Amira menatap Glen, "Oh iya sayang. Bagaimana?, aku yakin kamu juga berpikir yang sama ya kan?."
Jujur saja Glen tidak ingin kalau Melly sampai menginap dirumahnya, apalagi kalau sampai beberapa minggu. Karena dia khawatir kalau Melly akan memper-ribet hubungan nya degan Amira. Namun Glen tidak punya alasan untuk menolak Melly menginap dirumahnya, Amira pasti akan merasa kesal nantinya.
"Sepertinya Glen keberatan." Ucap Melly pura-pura canggung setelah melihat Glen terdiam.
"e-em, kamu keberatan sayang?." Tanya Amira bingung.
"Ah, enggak kok. Tentu saja dia bisa menginap dirumah kita. Lakukan apa yang membuat mu bahagia sayang. Kalau kamu bahagia, aku akan sangat lebih bahagia."
"Wah, terimakasih sayang." Ucap Amira.
"Wah-wah, romantis sekali. Mir, ternyata Glen bisa berkata-kata romantis juga, selama ini dia tidak pernah berkata-kata seromantis itu padaku." Ucapnya blak-blakan.
Seketika raut wajah Amira yang tadinya tersenyum berubah menjadi bingung mendengar ucapan Melly tai, begitu pun dengan Glen yang berusaha menahan amarahnya sedari tadi.
"Ya ampun," Melly tertawa canggung. "Aku minta maaf, maksud ku, Ketika kita Kuliah dulu aku belum pernah melihat Glen berkata-kata seromantis itu padamu dihadapan ku, Mir. Maafkan aku yang sering typo kalau berbicara ini" Tuturnya.
Amira pun tersenyum memahami sahabatnya itu. "Mungkin beberapa tahun dia menghilang untuk mempelajari kata-kata gombalannya itu." Ucap Amira tertawa dan menatap Glen bangga, dan Glen pun memberikan senyuman padanya.
"Oh iya, kalian mengobrol lah, aku akan kembali mengerjakan pekerjaan ku." Ucap Glen pamit.
"Baik lah Glen," Jawab Melly menatap Glen tersenyum. Glen tersenyum singkat padanya dihadapan Amira, setelah beranjak raut wajahnya menjadi sangat datar. Dia sangat muak melihat Melly.
"Oh iya, Mell. Apa tujuan mu datang ke Indonesia? apakah hanya untuk liburan saja?."
"E-em, tentu saja tidak."
"Lalu?."
"Aku ingin melakukan sesuatu yang bisa menggemarkan orang-orang terdekat ku." Jawabnya.
"Ha?, menggemparkan apa maksudnya?." Mira menatap serius kepada Melly.
"Amira, kamu tidak mengenalku?." Tanya Melly serius membuat Amira kebingungan. "Ya ampun, Mir. Bagaimana kamu tidak mengenalku lagi." Ucap Melly cemberut.
"Aku tahu, pasti kamu ingin membuka usaha baru, benar kan?." Tebak Mira percaya diri.
"Nah, tepat sekali. Ternyata kamu masih mengenalku, Mir." Ucapnya tersenyum.
"Jelas dong, kita sudah begitu akrab, bagaimana bisa aku tidak mengenal sahabat ku ini." Amira dengan percaya dirinya beranggapan kalau dia memang benar-benar mengenali sahabatnya itu.
"Bagus lah kalau begitu, tapi ada satu hal yang tidak kamu kenal dari ku, Mir."
"Apa itu?."
"Ada deh, rahasia, hahaha."
"Em, jadi penasaran."
"Entar juga kamu tahu, tunggu ajah."
"Apa sih hal yang tidak aku tahu dari sahabatku ini, jadi kepo deh." oloknya.
**
Amira dan Melly pulang terlebih dahulu kerumah, sementara Glen masih berada dikantor. Merek memilih pulang karena amira merasa tidak enak kepada Melly jika harus menunggu terlalu lama, sementara Melly pasti kecapek an karena baru sampai.
"Wah, rumah kalian sangat bagus."
"Benarkah?."
"Hem, desain interiornya seleraku banget." Ucap Melly.
"Kebetulan Glen yang memilihnya."
"Oh iya?."
"Hem, aku juga merasa kalian hampir menyukai hal yang sama. jadi aku tidak perlu berkomentar tentang pilihannya, karena aku percaya dengan pilihanmu Mell, pasti bagus-bagus."
"Hahaha, artinya dia punya selera yang bagus."
"Oh iya, mell. Kamu tidur diruangan ini, ya." Ucap Mira menunjukkan ruangan tamu yang tidak kalah bagusnya dengan kamar utama rumah itu.
"Oke, sepertinya aku akan sangat nyama tinggal lama-lama disini Mir, kalau kamarnya sebagus ini."
"Haha, boleh banget. Sepertinya menyenangkan kalau kita punya waktu bersama lebih lama."
"Oh iya, aku ingin menanyakan sesuatu pada mu." Ucap Melly mulai serius.
"Hem, boleh."
"Apa, orang tua Glen mengetahui pernikahan kalian?."
Amira menundukkan kepalanya, mengingat orang tua Glen tidak merestui hubungan mereka dari dulu. Lalu Amira menggeleng kepalanya.
"E-em, aku minta maaf Mir, kalau menanyakan hal ini."
"Ah, tidak perlu meminta maaf Mir, lagi pula aku ingin menceritakan semuanya padamu. Karena hanya kamu yang bisa mendengar semua keluh kesah ku Mell. Dan kamu yang bisa menguatkan aku disetiap masalah yang ku alami."
Melly menghampiri Mira dan mengelus punggungnya untuk menenagkannya, namun hatinya berkata lain.
"Aku paham perasaan mu Mir. Oh iya, apa kamu sudah cari tahu kenapa Ibu Glen tidak merestui hubungan kalian?."
"Aku tahu dia tidak menyukai ku, karena aku dari keluarga kelas bawah, Mell. Aku penah mendengar dia berbicara seperti itu kepada Glen." Ucapnya dan menghela napasnya pasrah.
"Tapi Mir, sekarang kamu suda punya segalanya. Kamu sudah berhasil, bahkan lebih berhasil dari Glen."
"Mungkin saja dia tidak mengetahui hal itu."Jawab Amira.
"Bisa jadi, atau apakah kemungkinan Glen sudah dijodohkan dengan orang lain?, makanya Ibu Glen tidak merestui hubungan kalian?.".