NovelToon NovelToon
Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.

Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Rumah Pembalap dan Aturan Gadis

Reza mengerutkan kening. “Tanpa syarat itu bohong.”

“Bukan bohong. Saya hanya ingin dia aman.”

Keenan berbicara pelan, “Saya juga bisa. Tapi saya punya jam kerja. Tidak bisa menemani full time.”

Aira menatap Raka. “Kalau saya ikut kamu, kamu tidak boleh mencium saya lagi tanpa izin.”

Raka tersenyum lebar. “Izinnya bisa diminta tiap hari?”

“Tidak. Izinnya harus dibeli. Harganya mahal.”

Reza menutup muka. “Aira, demi Tuhan…”

Keenan menghela napas panjang. “Baik. Kalau kamu memutuskan ikut Raka, saya tetap akan datang untuk kontrol. Jadwalnya saya atur.”

Reza menatap Aira serius. “Saya setuju sementara. Tapi saya akan pantau. Kalau ada gerakan mencurigakan dari organisasi, saya ikut campur.”

Aira mengangguk pelan. “Deal. Tapi semua tagihan rumah sakit harus lunas sebelum saya keluar. Saya tidak mau ditagih belakangan.”

Raka sudah mengeluarkan ponsel. “Sudah saya bayar tadi pagi. Lunas.”

Aira menatapnya. “Berapa totalnya?”

“Tidak perlu tahu.”

“Perlu. Supaya saya tahu berapa yang harus saya kembalikan nanti.”

Raka mendekat, menunduk sampai wajahnya sangat dekat. Bau mint dari permen yang dia kunyah terasa di antara mereka. “Kembalikan dengan cara lain. Nanti.”

Aira menatap bibirnya yang semalam sempat menempel di bibirnya. “Cara lain itu biasanya mesum. Saya tidak tertarik.”

“Belum tertarik,” koreksi Raka pelan.

Reza batuk keras. Keenan memalingkan wajah ke jendela.

Aira mendorong dada Raka pelan. “Minggir. Saya mau ganti baju. Kalian keluar.”

Raka masih tersenyum saat keluar. Reza mengikutinya dengan wajah masam. Keenan sebagai yang terakhir, sempat menoleh sebelum pintu tertutup.

“Aira.”

“Ya?”

“Kalau dia melakukan sesuatu yang tidak kamu mau… telepon saya. Kapan saja.”

Aira mengangguk. “Kalau saya telepon, apakah pulsa saya diganti?”

Keenan tertawa kecil, geleng-geleng kepala, lalu keluar.

Aira duduk sendirian di tempat tidur. Dia menatap tangan yang masih terasa hangat bekas sentuhan Raka dan Keenan.

"Tiga pria. Satu keputusan. Dan saya masih tidak mengerti kenapa mereka semua bersedia mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk seorang gadis yang bahkan tidak bisa tersenyum manis."

Dia menghela napas, lalu mulai membuka perban pelan-pelan untuk diganti.

Di luar, di koridor, Raka bersandar di dinding sambil tersenyum puas. Reza berdiri dengan tangan tersilang, rahang mengeras. Keenan menatap keduanya bergantian.

“Kalian sadar dia hanya memikirkan uang, kan?” kata Keenan pelan.

Raka menjawab tanpa menoleh. “Saya sadar. Makanya saya akan buat dia berhenti memikirkannya.”

Reza menatapnya. “Atau dia akan buat kita semua bangkrut dulu.”

Keenan tidak menjawab. Dia hanya menatap pintu kamar yang tertutup, lalu mengucapkan dalam hati sesuatu yang sangat tidak profesional. "Semoga saya tidak ikut bangkrut."

Sesaat kemudian, mobil sport hitam yang dinaiki Aira dan Raka berhenti di basement parkir yang terlalu bersih. Aira menatap langit-langit beton di atasnya. “Ini bukan kost.”

Raka mematikan mesin. “Tidak. Ini rumah saya.”

“Terlalu besar. Listriknya pasti mahal.”

“Saya yang bayar.”

“Tetap mahal.” Aira membuka pintu sendiri sebelum Raka sempat membantu. Rusuknya protes pelan saat dia turun. “Kalau saya tinggal di sini, saya harus tahu berapa biaya air dan listrik per hari. Supaya nanti bisa saya ganti.”

Raka mengunci mobil dan berjalan di sampingnya. “Tidak usah diganti. Anggap saja kamu sedang rawat inap versi mewah.”

“Rawat inap biasanya ada batasan waktu. Ini berapa lama?”

“Sampai kamu sembuh. Atau sampai kamu bosan.”

Aira menekan tombol lift. “Saya cepat bosan kalau tidak ada pemasukan.”

Lift terbuka. Raka masuk lebih dulu, lalu menahan pintu. Saat Aira melangkah masuk, jarak mereka hanya selebar bahu. Bau parfum mahal dan sedikit keringat dari jaket balapnya langsung terasa. Aira berdiri tegak, memegang tas plastik kecil berisi pakaiannya yang hanya sedikit.

“Kamu tidak perlu tegang,” kata Raka pelan.

“Saya tidak tegang. Saya menghitung.”

“Menghitung apa?”

“Berapa kali kamu akan mencoba mendekat sebelum saya bilang tidak.”

Raka tersenyum miring. Pintu lift menutup. “Saya sudah coba semalam. Kamu tidak sepenuhnya menolak.”

“Karena tulang saya retak. Sulit dorong orang dengan sempurna.”

Lift berhenti di lantai tertinggi. Pintu terbuka ke ruang tamu yang luas, minimalis, dengan kaca besar menghadap kota. Aira berdiri diam di ambang pintu.

“Ini berapa meter persegi?”

“Tidak penting.”

“Penting. Supaya saya tahu berapa debu yang harus saya bersihkan kalau saya tinggal lama.”

Raka tertawa pelan, lalu mengambil tas dari tangannya. “Kamu tidak perlu bersihkan apa-apa. Ada asisten rumah tangga tiga kali seminggu.”

“Asisten juga perlu gaji. Itu biaya tambahan.”

“Saya yang bayar.”

Aira berjalan masuk pelan. Lantainya mengilap. Sofanya terlihat terlalu empuk. Dia berhenti di depan jendela kaca. “Kalau organisasi itu datang ke sini, security-mu kuat?”

“Sangat.”

“Kalau tidak kuat, saya yang urus. Tapi nanti saya tagih biaya jasa.”

Raka meletakkan tas di sofa, lalu mendekat dari belakang. Dia tidak menyentuh, hanya berdiri cukup dekat sehingga napasnya terasa di tengkuk Aira. “Kamu selalu bilang soal tagihan. Kapan kamu bilang terima kasih?”

“Terima kasih tidak mengisi rekening.”

“Coba sekali.”

Aira menoleh sedikit. Wajah Raka terlalu dekat. Mata gelapnya menatap lurus. “Terima kasih sudah bayar rumah sakit. Nanti saya kembalikan.”

“Bukan itu yang saya mau dengar.”

“Lalu apa?”

Raka mengangkat tangan, menyingkirkan rambut yang jatuh di pipi Aira dengan jari telunjuk. Sentuhannya ringan, tapi cukup membuat bulu kuduknya berdiri. “Bilang kamu tidak keberatan saya dekati.”

Aira menatap jari itu. “Saya keberatan. Karena dekat biasanya berujung ke sesuatu yang membuat detak jantung naik. Detak jantung naik membuat nyeri rusuk bertambah. Nyeri bertambah membuat saya tidak bisa tidur. Tidak tidur membuat saya lemas. Lemas membuat saya tidak bisa bertarung. Tidak bertarung berarti tidak ada uang.”

Raka menghela napas, lalu tertawa pelan. “Kamu bisa mengubah segalanya jadi soal uang.”

“Karena uang jelas. Perasaan tidak.”

Dia berbalik total menghadap Raka. Jarak mereka sekarang hanya satu langkah. “Saya mau aturan.”

“Silakan.”

“Satu... kamu tidak boleh masuk kamar saya tanpa mengetuk lebih dulu. Dua... kamu tidak boleh mencium saya tanpa izin tertulis. Tiga... semua makanan yang kamu belikan harus saya catat harganya. Empat... kalau ada orang mencurigakan mendekat, bilang ke saya dulu sebelum kamu bertindak.”

Raka mengangkat alis. “Izin tertulis?”

“Supaya jelas. Tidak ada salah paham.”

“Baik. Aturanmu diterima. Tapi saya punya satu syarat balasan.”

“Apa?”

“Kalau kamu sakit malam hari, kamu harus panggil saya. Bukan tahan sendiri.”

Aira menimbang. “Deal. Karena kalau saya pingsan sendirian, biaya ambulans mahal.”

Raka menggelengkan kepala, masih tersenyum. “Kamarnya di ujung koridor. Ada kamar mandi dalam. Saya sudah siapkan pakaian ganti ukuranmu. Jangan tanya bagaimana saya tahu ukurannya.”

“Saya tetap tanya. Bagaimana?”

“Saya lihat saat kamu di rumah sakit. Dan saya bisa mengira-ngiranya sendiri.”

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
🤣🤣🤣🤣 raka cemburu
falea sezi
suka cwek Badas gini 🤣🤣 sat sett gk menye 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!