Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).
Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).
Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.
Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.
Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara Dimulai 11.
Gemerincing sendok yang beradu dengan mangkuk kaca terdengar seperti detak jam dinding yang mengintimidasi.
Di meja makan minimalis itu, tidak ada percakapan. Hanya ada Langit dan Ulfa, duduk berhadapan namun dipisahkan oleh sekat tak kasat mata yang tebal.
Ulfa melirik jam tangannya. Pukul 06.15 WIB. Ia meletakkan sendoknya dengan pelan, berusaha tidak menimbulkan suara yang bisa memicu ketegangan.
"Gue berangkat duluan," ucap Ulfa datar. Ia berdiri, merapikan rok abu-abu sebatas lututnya yang rapi tanpa cela, lalu meraih tas ranselnya.
Langit tidak menyahut. Cowok itu sibuk memasukan bubur yang dibelinya dengan gerakan lambat, seolah sengaja mengulur waktu. Namun, tepat saat Ulfa berbalik menuju pintu depan, Langit bersuara tanpa menoleh. "Jangan lewat jalan protokol. Ban mobil gue bocor kemarin, hari ini gue pakai motor lewat sana."
Ulfa menghentikan langkahnya sejenak. Bahunya menegang. "Gue selalu lewat jalur barat, Lang. Lo tahu itu."
"Bagus. Berarti kita enggak bakal papasan di radius satu kilometer dari sekolah," balas Langit dingin, akhirnya menggigit rotinya.
Ini adalah protokol tetap mereka. Sejak status hubungan keluarga mereka berubah secara hukum karena pernikahan orang tua mereka, rumah ini menjadi zona gencatan senjata yang canggung. Namun, begitu melangkah keluar pagar, mereka adalah dua orang asing.
Lebih tepatnya, dua kutub magnet yang saling menolak. Di SMA Bhineka, tidak boleh ada satu jiwa pun yang tahu bahwa mereka tinggal di bawah atap yang sama.
Hubungan ini, jika tercium oleh anak-anak Bhineka, akan menjadi bahan gosip yang merusak segalanya.
Sepuluh menit setelah Ulfa pergi dengan mobil jemputannya, Langit memanaskan mesin motor gedenya. Ia sengaja memberi jeda waktu yang cukup agar jalur perjalanan mereka benar-benar terpisah.
Gerbang SMA Bhineka menyambut Ulfa dengan hiruk-pikuk yang familier. Sebagai Ketua OSIS, atmosfer ini adalah makan malam harian baginya. Dengan ban lengan OSIS yang melingkar di lengan kirinya, Ulfa berdiri di dekat gerbang bersama beberapa anggota seksi ketertiban. Tatapannya jeli, mencatat setiap pelanggaran kecil dari siswa yang berlarian mengejar bel masuk.
"Pagi, Kak Ulfa," sapa beberapa siswi kelas sepuluh dengan nada segan. Ulfa hanya mengangguk formal, memberikan senyum tipis yang profesional namun berjarak. Di mata anak-anak Bhineka, Ulfa adalah definisi kesempurnaan. Tegas, pintar, dan tak tersentuh.
Tiba-tiba, suara deru motor yang bising memotong ketenangan pagi. Dari arah jalan raya, motor sport hitam milik Langit melesat masuk ke area parkir, meninggalkan kepulan asap tipis dan decitan ban yang sengaja dibuat dramatis.
Ulfa mengembuskan napas pendek melalui hidung. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, bukan karena kagum, melainkan karena rasa antipati yang langsung naik ke permukaan. .
Tak lama kemudian, Langit berjalan keluar dari area parkir. Jaket denimnya disampirkan di bahu kanan, menyisakan seragam putihnya yang sengaja tidak dimasukkan ke dalam celana. Dan dia tidak sendiri. Di sampingnya ada Zara.
Zara tertawa manja, jemari lentiknya bergelayut manja di lengan kiri Langit.
Ulfa tetap berdiri tegak di posisinya, memegang papan dada berisi daftar absensi. Ia tahu mereka berjalan ke arahnya karena koridor utama terletak tepat di belakang barisan OSIS.
Saat jarak mereka mengikis menjadi tiga meter, Langit memperlambat langkahnya.
Alih-alih berjalan terus seperti siswa lain yang takut ditertibkan, Langit justru berhenti tepat di depan Ulfa. Matanya yang tajam menatap Ulfa dengan kilat provokatif yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
"Pagi, Ibu Ketua," sapa Langit. Suaranya terdengar malas, namun ada penekanan yang sinis di sana.
Zara ikut berhenti, melirik Ulfa dengan pandangan menilai yang agak meremehkan, lalu beralih menatap Langit. "Aduh, Lang, nanti kita telat masuk kelas. Kamu kan janji mau nemenin aku ke kantin dulu beli minum."
Langit tidak mengalihkan pandangannya dari mata Ulfa. Senyum miring tercetak di sudut bibirnya. Dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat dan intim, Langit mengangkat tangan kanannya, mengacak rambut Zara dengan lembut, lalu merangkul pundak gadis itu, menariknya lebih rapat ke tubuhnya.
"Iya, Sayang. Sebentar ya, kita izin dulu sama yang punya sekolah," kata Langit, suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar oleh anggota OSIS lain di sekitar mereka.
Ulfa merasakan dadanya sedikit sesak, bukan karena cemburu romantis, melainkan karena kombinasi antara rasa muak atas kepura-puraan ini dan penghinaan terang-terangan yang dilakukan Langit di ranah profesionalnya.
Langit sedang pamer kemesraan, bukan karena dia begitu mencintai Zara, melainkan karena dia tahu hal itu akan mengusik ketenangan Ulfa. Itu adalah cara Langit untuk menegaskan batas,
Di sini, gue bebas melakukan apa saja, dan lo enggak punya hak untuk mengatur hidup gue.
Ulfa menurunkan pandangannya ke arah seragam Langit, menolak untuk terpancing masuk ke dalam permainan emosi cowok itu.
"Seragam lo enggak rapi, Langit," ucap Ulfa, suaranya terdengar sangat tenang, dingin, dan terkontrol. "Dan ini sudah tujuh kurang lima menit. Kalau lo berdua enggak segera masuk ke kelas, gue bakal catat nama kalian berdua di buku pelanggaran akumulatif."
Zara merengut, bergelayut lebih erat pada lengan Langit. "Ih, Lang, kok dia galak banget sih? Kan belum bel."
Langit terkekeh rendah. Tatapannya menajam, menembus topeng ketegaran yang sedang dipakai Ulfa.
Dia tahu persis bagaimana cara menekan tombol kemarahan gadis di depannya ini. Langit menundukkan kepalanya sedikit, mendekat ke arah Ulfa hingga aroma parfum maskulinnya yang kuat menyeruak di antara bau antiseptik koridor sekolah.
"Catat aja, Ulfa" bisik Langit, menyebut nama gadis itu dengan nada yang terdengar seperti sebuah ancaman sekaligus rahasia. "Gue enggak peduli sama buku catatan lo itu. Sama seperti lo yang enggak peduli sama apa yang terjadi di luar lingkungan sekolah ini."
Setelah mengucapkan kalimat yang sarat akan makna ganda itu, Langit berbalik. Dia menuntun Zara berjalan melewatinya, sengaja menyenggol bahu Ulfa dengan pelan namun cukup untuk membuat papan dada di tangan Ulfa sedikit bergetar.
Ulfa tetap bergeming. Ia tidak menoleh saat mendengar tawa manja Zara yang menjauh di sepanjang koridor. Jemarinya mencengkeram pinggiran papan dada kayu itu erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.
'Batas itu sudah jelas' pikir Ulfa dalam hati, mencoba menata kembali napasnya yang sempat tertahan.
Di rumah mereka berbagi ruang, namun di sekolah, mereka berada di dua dunia yang saling memerangi. Dan Ulfa bersumpah, dia tidak akan pernah membiarkan Langit memenangkan peperangan ini.
......................
...****************...
Tbc,
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳