Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji
Hari sudah cukup gelap ketika Sean dan Hanis kembali ke rumah. Begitu langkahkan kaki melewati pintu utama, mereka langsung disambut oleh Jinny. Istri sah Sean tersebut sedang duduk di sofa ruang tamu, seolah memang sengaja menunggu kepulangan mereka.
“Gimana? Lancar urusannya?” Jinny berdiri, seolah menyambut.
Sean menggeleng dengan raut wajah lesu. “Nggak bisa. Dokter nggak mau kalau bukan pasangan suami istri sah.”
“Lalu?” tuntut Jinny, seolah tak sabar ingin mendapatkan informasi yang lengkap.
“Ya manual,” jawab Sean sambil lalu, iya ingin segera naik ke kamarnya tanpa banyak berdebat dan segera beristirahat.
“Manual gimana?” Jinny mengikuti suaminya naik ke lantai dua, menuju kamar mereka.
Sean berhenti sejenak saat berada di anak tangga teratas. “Hanis, kamu tidur aja, istirahat dulu. Nanti turun lagi waktu makan malam.”
Di bawah, Hanis hanya terdiam. “Baik…”
Pintu kamar utama tertutup. Sean dan Jinny kini berdua disana.
“Jin… Kamu paham kan? Masa harus aku jelasin?” kesal Sean. Ia benar-benar lelah, dan tidak ingin membahas ini. Karena ia sendiri sebenarnya tidak merencanakan ataupun menginginkan ini. Planning awalnya adalah melakukan inseminasi buatan.
“Jadi, kamu bakal tidur sama dia? Kamu selingkuh, Sean,” cecar Jinny. Ikut naik ke atas ranjang.
Sean tidak jadi membaringkan tubuh. Ia melepas kemejanya, melemparkan ke kotak keranjang kotor di depan kamar mandi. “Aku capek, Jin. Kita bahas ini nanti. Aku mau mandi dulu.”
Jinny memang tidak keberatan Hanis menjadi ibu pengganti. Namun ia tak menyangka bahwa semuanya akan berubah. Sean berhubungan dengan wanita lain is not on her bingo list.
Dengan gelisah Jinny menunggui hingga Sean selesai mandi. Menyiapkan pakaian rumah untuk suaminya di atas ranjang sehingga begitu keluar dari kamar mandi, Sean bisa langsung mengenakan kembali pakaian yang lebih nyaman.
“Kamu beneran bakal lakuin itu sama Hanis?”
Sean menghela napas panjang. “Cuma sekali. Janji. Kamu yang hitung tanggalnya, biar cukup satu kali percobaan aja.”
“Janji?”
“Janji. No kiss. No love. Murni buat bikin anak, Jin,” jawab Sean. Mendekat ke arah Jinny dan memeluknya. “Aku nggak niat selingkuh. Cuma ini cara termudahnya. Tolong ngerti. “
Dalam pelukan suaminya, Jinny mengangguk. Berusaha berlapang dada menerima semuanya. “Ya udah…”
Perlahan Sean memundurkan wajahnya. Ia mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Jinny, membawa sang istri ke dalam sebuah ciuman yang hangat dan penuh kasih.
Tubuh Jinny dibimbing berbaring di atas kasur tanpa ciuman terlepas. Sean menggunakan kedua sikunya untuk menopang tubuh agar tidak menindih Jinny.
“Nggh…” Jinny melenguh di sela ciuman mereka.
Menyadari istrinya mulai kehabisan napas, Sean mengangkat kepalanya. “Ayo, Jin… Sebelum makan malam.”
“Simpan tenagamu buat Hanis aja,” tolak Jinny.
“Itu nanti, Jin. Sekarang aku cuma mau kamu.”
Kini Jinny membalas perlakuan Sean. Ia balas memeluk. Bibir kembali saling melumat. Tak berselang lama, pakaian yang baru saja Sean kenakan kembali dilepaskan, dibuang begitu saja ke lantai. Pakaian Jinny menyusul kemudian.
“Jin, aku janji. Aku sama Hanis nggak pakai perasaan,” bisik Sean sebelum menyatukan tubuh mereka.
“Iya, Sean. Aku percaya kamu,” jawab Jinny. Matanya terpejam saat menerima Sean sepenuhnya.
***
Sementara itu, di kamar sebelah yang hanya berbatasan sebuah dinding, Hanis tengah duduk diam. Otaknya masih berusaha mencerna segalanya yang terjadi hari ini. Bagaimana dokter menolak prosedur tersebut, Sean yang memintanya mengusahakan kehamilan dengan cara tradisional, Rino yang mengizinkan begitu saja dan rumah yang diberikan pada suami serta anak-anaknya.
Meski masa depan anak-anaknya kini jauh lebih terjamin karena setidaknya mereka memiliki tempat bernaung permanen tanpa perlu memusingkan tagihan uang sewa pemilik kontrakan, namun hatinya hancur. Hanis merasa rendah, merasa seperti seorang pelacur yang menjual diri demi uang. Demi kehidupan anak-anaknya.
Namun ia tidak memiliki pilihan lain. Rino telah menyerahkannya pada Sean. Uang sudah diterima, rumah sudah ditempati. Hanis tidak bisa mundur.
...****************...