NovelToon NovelToon
RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiawan

Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 Kunjungan Tak Diundang

Kehidupan tenang Gavin setelah malam balapan liar yang menegangkan kembali diuji oleh realitas yang paling ia hindari: keluarganya sendiri. Hari Kamis sore itu, suasana di gang sekitar Kos Bu Broto yang biasanya hanya dilewati oleh gerobak siomay dan motor bebek mendadak sunyi. Sebuah mobil sedan hitam mewah, Mercedes-Benz S-Class keluaran terbaru dengan kaca super gelap dan pelat nomor khusus Jakarta, berhenti tepat di ujung gang.

Dari dalam mobil, turun seorang pria paruh baya dengan rambut klimis yang disisir rapi ke belakang. Ia mengenakan setelan jas tiga potong buatan penjahit terbaik di ibu kota, lengkap dengan sepatu kulit yang mengilat seperti cermin. Pria itu adalah Pak Handoko, kepala pelayan pribadi kediaman utama keluarga Dewantara yang sudah mengabdi selama tiga dekade. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak kayu mahogani kecil dengan ukiran logo Dewantara Group yang elegan—berisi suplemen kesehatan premium dan surat dari ibu Gavin.

Gavin, yang saat itu hanya mengenakan celana pendek kolor hitam dan kaus singlet putih, sedang asyik jongkok di depan kosan sambil menyabuni ban motor Astrea Grand-nya menggunakan ember plastik bocor. Begitu matanya menangkap siluet Pak Handoko yang berjalan anggun menghindari genangan air got di gang, jantung Gavin serasa copot.

"Waduh, mampus gue," gumam Gavin panik.

Pak Handoko menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan Gavin, lalu menegakkan punggungnya dengan takzim. Ia bersiap memberikan penghormatan formal yang biasa dilakukan di Menteng. "Selamat sore, Tuan Muda Gavin. Nyonya Besar sangat mengkhawatirkan kesehatan Anda di perantauan, oleh karena itu saya diutus untuk—"

Baru saja kata "Tuan Muda" keluar setengah dari mulut Pak Handoko, Gavin langsung melompat berdiri secepat kilat. Tanpa memedulikan tangannya yang masih penuh busa sabun colek, ia langsung membekap mulut pria tua itu dan menyeret tubuh tegap Pak Handoko ke balik tembok gang yang dipenuhi jemuran baju anak kos.

"Aduh, Pak Han! Tolonglah, demi apa pun jangan panggil saya Tuan Muda di sini!" bisik Gavin dengan wajah panik setengah mati, matanya melirik liar ke sekeliling teras kosan. "Kalau anak-anak kos atau Bu Broto lihat ada orang berjas mewah membungkuk ke gue, hancur reputasi gembel yang udah gue bangun susah payah!"

Pak Handoko mengerjap-erjemit di balik bekapan tangan Gavin yang berbau sabun ekonomi. Setelah Gavin melepaskan bekapannya sambil meminta maaf canggung, Pak Handoko merapikan kembali dasinya yang sedikit miring dengan helaan napas pasrah. "Tapi, Tuan... maksud saya, Mas Gavin, ini adalah amanah langsung dari Ibu Anda."

Tepat pada detik yang krusial itu, pintu utama kosan terbuka. Rian berjalan keluar sambil menyampirkan handuk di pundaknya, berniat untuk mandi sore. Langkah Rian terhenti seketika saat melihat Gavin sedang berdiri berdekatan di balik tembok gang dengan seorang pria paruh baya yang penampilannya tampak seperti menteri kabinet atau CEO bank multinasional.

"Eh... Gav? Lu ngapain di situ? Terus... ini siapa?" tanya Rian bingung, matanya menatap setelan jas Pak Handoko dari atas sampai bawah dengan pandangan takjub sekaligus terintimidasi.

Gavin terkesiap kecil, namun otak taktisnya langsung bekerja dalam hitungan mikrodetik. Ia segera melepaskan ketegangannya, memasang cengiran slengean andalannya, lalu merangkul pundak Pak Handoko dengan sangat kasar dan akrab hingga membuat pelayan setia itu terkejut.

"Eh, Rian! Kenalin, ini... ini paman jauh gue dari kampung! Namanya Om Handoko!" teriak Gavin dengan suara yang sengaja dikencangkan. "Dia ini agen asuransi jiwa kelas kakap di Jakarta, Yan! Makanya gayanya necis banget kayak gini, padahal aslinya mah jualan polisnya dari pintu ke pintu. Hari ini dia lagi lewat daerah sini terus mampir bentar buat nawarin gue asuransi kecelakaan motor!"

Rian membetulkan letak kacamatanya, menatap Pak Handoko dengan pandangan kagum. "Oh... agen asuransi. Keren banget ya, Om, jasnya. Kelihatan mahal banget kayak di TV."

Pak Handoko menelan ludah. Ia menatap Gavin yang sedang melotot memberi kode darurat, lalu terpaksa memaksakan sebuah senyuman formal yang kaku kepada Rian. "I-iya, Mas Rian. Ini... seragam kerja wajib dari perusahaan kami. Guna meyakinkan nasabah," sahut Pak Handoko dengan suara yang bergetar menahan canggung.

"Ya udah, Om, sukses ya jualan asuransinya. Gue mandi dulu, Gav!" kata Rian santai, lalu melangkah menuju kamar mandi di ujung koridor tanpa menaruh curiga sedikit pun.

Setelah punggung Rian hilang dari pandangan, Gavin langsung melepaskan rangkulannya dan mengembuskan napas panjang seolah baru saja lolos dari kejaran anjing gila. Ia merebut kotak kayu mahogani dari tangan Pak Handoko.

"Pak Han, tolong bilang ke Mama, saya sehat walafiat. Makan mi instan tiga kali sehari juga masih bikin saya hidup," kata Gavin sambil tersenyum miring, menepuk pundak Pak Handoko pelan dengan tangan yang kini sudah kering. "Dan tolong, besok-besok kalau mau datang lagi, minimal pakai kaos oblong dan naik ojek pengkolan ya, Pak. Jangan bawa mobil yang harganya bisa buat beli kosan ini beserta isinya."

Pak Handoko hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala penuh pasrah, membungkuk hormat sekali lagi secara sembunyi-sembunyi, lalu berjalan kembali menuju sedan mewahnya di ujung gang. Gavin menatap kepergian mobil itu dengan senyum kecil, merasa puas karena topeng penyamarannya masih terpasang kokoh, meskipun retakannya mulai bermunculan satu per satu.

1
Mey-mey89
lanjut
Azmi Zildiawan: Terima kasih sudah membaca
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!