NovelToon NovelToon
Madu Yang Pahit

Madu Yang Pahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nittagiu

Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia dan Malam yang Panjang

Arga masih terdiam beberapa saat padahal mobilnya sudah terparkir rapi di basement apartemen miliknya yang saat ini juga menjadi tempat tinggal Nadira. Entah mengapa, kakinya masih terasa berat untuk melangkah masuk

Hari ini cukup melelahkan, dari biasanya Arga rasakan. Padahal pekerjaan di kantor masih sama seperti biasa. Sejak pembicaraan dengan kedua orang tuanya sore ini, pikirannya terus dipenuhi persoalan yang belum menemukan jalan keluar.

Angga menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia keluar dari dalam mobil, laku melangkah masuk ke dalam lift dan naik menuju lantai di mana apartemennya berada.

Angga berdiri beberapa saat di depan pintu apartemen. Ia berusaha menyingkirkan kegelisahannya, dan tidak ingin membawa persoalan perjodohan ke hadapan Nadira.

Setelah mengetuk pintu dua kali, tak lama kemudian terdengar langkah kaki dari dalam. Pintu terbuka, Nadira yang mengenakan piayama dengan rambut tergerai sedikit basah melewati bahunya.

Senyum perempuan itu langsung mengembang. “Arga, akhirnya datang juga.” Nadira mendekat, memeluk lengan Arga lalu membawa laki-laki itu masuk ke dalam. “Aku kira kamu bakal pulang malam lagi.” Lanjutnya masih dengan senyum manja di bibirnya.

Arga membalas senyumnya. “Maaf, tadi Ayah dan Ibu memintaku mampir, ada hal yang harus mereka bicarakan.”

Nadira mengangguk mengerti. “Kalau begitu, cuci tangan dulu. Aku sudah menyiapkan makan malam.”

Nadira kembali ke dapur, sementara Arga meletakkan tas kerjanya di sofa. Ia memperhatikan apartemen kecil yang sudah sangat dikenalnya itu. Tidak ada yang istimewa dari tempat tersebut, tetapi di sanalah ia sering menemukan ketenangan setelah seharian berhadapan dengan berbagai persoalan pekerjaan. Tempat itu juga menyimpan banyak kenangan mereka.

Arga lalu melangkah menuju wastafel dan mencuci tangan. Di atas meja makan sudah tersedia nasi hangat, sayur bening, dan ayam kecap kesukaannya. Nadira bahkan menyiapkan sambal terpisah karena tahu Arga tidak terlalu suka makanan pedas.

Hal-hal kecil seperti itu selalu membuat Arga merasa diperhatikan. Ia menatap makanan yang sudah terhidang di atas meja, lalu beralih kepada Nadira yamg terlihat begitu bahagia melayaninya makan.

“Terimakasih.” Angga tersenyum. “Apa semua ini kamu lagi?” tanyanya sambil menarik kursi.

Nadira mengangguk. “Memangnya kenapa? Kelihatan tidak enak ya?”

“Bukan begitu.” Arga tersenyum tipis. “Kelihatannya enak. Aku cuma heran, apa kamu tidak capek setelah pulang kerja tapi masih mengerjakan semua ini?”

“Capek, sih. Tapi capek aku hilang saat kamu memakan semua masakan aku.” Jawab Nadira penuh semangat.

Mereka kemudian mulai makan sambil membicarakan hal-hal sederhana. Nadira bercerita tentang seorang rekan kerjanya yang keliru mengirimkan berkas kepada klien. Arga sesekali menanggapi, bahkan sempat tertawa ketika Nadira menirukan wajah panik rekannya itu.

Untuk beberapa saat, Arga hampir melupakan persoalan perjodohan yang membebaninya. Namun, setiap kali melihat Nadira tersenyum, pikirannya kembali pada perkataan ayahnya siang tadi.

Arga menunduk, mengaduk nasi di piringnya tanpa benar-benar berniat mengambil suapan berikutnya.

“Arga?”

Panggilan Nadira membuat Arga tersadar.

“Kenapa? Dari tadi kamu melamun.” Nadira meletakkan sendoknya. “Apa ada masalah di kantor?”

Arga menggeleng, berusaha menampilkan senyum yang meyakinkan. “Cuma banyak pekerjaan. Belakangan ini memang agak melelahkan.”

Nadira memperhatikannya beberapa saat, kemudian mengangguk pelan. “Kalau capek, jangan dipaksakan terus. Kamu juga perlu istirahat.”

Ucapan itu sederhana, tetapi justru membuat dada Arga terasa sesak. Nadira tidak tahu apa yang sedang terjadi. Perempuan itu masih memperlakukannya seperti biasa, masih mengkhawatirkan kesehatannya, dan masih berusaha membuatnya nyaman.

Sementara itu, Arga menyimpan sesuatu yang mungkin saja akan mengubah kehidupan mereka. Ia ingin bercerita. Ada dorongan untuk mengatakan bahwa orang tuanya sedang menjodohkannya dengan perempuan lain. Namun, setiap kali hendak membuka mulut, ia membayangkan reaksi Nadira.

Bagaimana jika perempuan itu merasa dirinya tidak cukup baik untuk diperkenalkan kepada keluarga Arga? Bagaimana jika Nadira mengira semua yang selama ini mereka bangun tidak berarti baginya?

Arga tahu ia seharusnya tidak menyimpulkan perasaan Nadira sebelum memberikan kesempatan kepadanya untuk memahami keadaan. Akan tetapi, ia juga belum siap menghadapi percakapan yang mungkin akan mengubah segalanya. Dan pada akhirnya, ia tetap memilih diam.

Setelah makan malam, Nadira membereskan meja, sedangkan Arga duduk di sofa ruang tengah. Ia memperhatikan perempuan itu yang sesekali berjalan dari dapur ke ruang makan untuk membawa piring kotor.

Beberapa saat kemudian, Arga begitu terkejut karena Nadira sudah duduk di atas pangkuannya.

“Apa pekerjaanmu sudah selesai?” Arga mengangkat Nadira ke dalam pelukannya, membuat perempuan itu spontan melingkarkan kedua tangan di lehernya. Tawa kecil sempat terdengar dari bibir Nadira, tapi suara itu perlahan mereda saat laki-laki itu membungkam bibirnya dengan liar.

“Arga,” panggil Nadira lirih.

Alih-alih menjawab, Arga menunduk dan mengecup leher jenjang Nadira, dan istrinya itu hanya bisa memejamkan mata di sela kecupan panas itu.

Arga membaringkan Nadira di sofa, kemudian menahan tubuh istrinya dengan satu tangan agar perempuan itu tetap nyaman. Mereka kembali berciuman, kali ini lebih lama. Nadira menariknya mendekat, sementara Arga membelai pipinya sebelum menyelipkan jemari ke rambutnya.

Piyama Nadira yang semula rapi kini kusut karena gerakan mereka. Salah satu bahunya sedikit terbuka, dan tanda merqh keunguan terlihat jelas di leher jenjangnya, namun ia tidak lagi memedulikannya.

“Tumben sekali,” bisik Nadira setelah mereka berhenti sejenak, dengan nafas terengah.

“Tumben apa?” Tanya Arga. Tatapan matanya sudah dipenuhi gairah.

“Kamu biasanya tidak sabaran kalau sudah begini.” Ujar Nadira.

Arga terkekeh pelan. “Memangnya kamu keberatan?”

Nadira menggeleng, lalu menarik wajahnya mendekat untuk mencium bibir suaminya lagi.

Namun, ketika Arga kembali menatapnya, gerakan laki-laki itu mendadak melambat, membuat senyum Nadira menghilang.

Laki-laki itu masih berada dekat dengannya, tangannya masih menggenggam jemari Nadira, tetapi tatapannya berubah. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, sesuatu yang bahkan tidak mampu ia sembunyikan meskipun sedang berada bersama perempuan yang dicintainya.

“Arga?” Nadira menyentuh pipi suaminya. “Kamu kenapa?” Tanyanya.

Arga menunduk, lalu mengecup kening Nadira seolah ingin menutupi kegelisahannya dengan sebuah perhatian kecil. “Tidak apa-apa, Sayang.”

“Jangan bohong.” Nadira mengusap rambut Arga penuh kasih sayang. “Dari tadi kamu kelihatan banyak pikiran.”

Arga memejamkan mata sebentar. Wajah perempuan dalam foto yang ditunjukkan kedua orang tuanya sore tadi kembali melintas di benaknya. Ia masih ingat pembicaraan mereka, juga bagaimana ayahnya menyampaikan rencana perjodohan itu seolah tidak ada alasan bagi Arga untuk menolaknya.

Pikiran itu membuat dadanya terasa berat. Padahal, Nadira sedang berada di hadapannya. Tidak tepat berada di bawah tubuhnya dan sedang menatapnya dengan penuh kepercayaan. Tidak ada sedikit pun kecurigaan di wajah istrinya ini. Nadira bahkan baru saja tertawa dan membalas kecupannya, sama seperti malam-malam mereka sebelumnya.

Perasaan bersalah terasa di hati Arga. Ia kembali memeluk Nadira, kali ini tanpa mengatakan apa-apa. Wajahnya tersembunyi di sisi leher perempuan itu, sementara Nadira mengusap punggungnya perlahan.

“Kalau kamu lelah, kita istirahat saja,” bisik Nadira.

Arga menggeleng kecil. “Aku tidak lelah.”

Nadira membiarkannya beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat wajah Arga dengan lembut.

“Lihat aku.” Nadira membingkai wajah Arga dengan kedua tangannya. “Aku ini istrimu,” ujar Nadira pelan. “Kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, kamu boleh cerita kepadaku. Aku mungkin tidak bisa menyelesaikan semuanya, tetapi setidaknya kamu tidak perlu memikirkannya sendirian.”

Arga menatapnya lama. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan. Ia ingin menceritakan pertemuannya dengan kedua orang tuanya, tentang perempuan dalam foto itu, dan tentang perjodohan yang mendadak menjadi persoalan besar dalam hidupnya.

Namun, keberanian itu kembali menghilang. Arga hanya meraih tangan Nadira, kemudian mengecupnya. “Temani aku malam ini, ya?”

Nadira mengernyit kecil, tetapi kemudian tersenyum.“Memangnya selama ini aku ke mana?”

“Jangan menggoda.”

“Aku tidak menggoda.” Nadira tertawa pelan. “Aku cuma ingin suamiku berhenti terlihat seperti orang yang baru kehilangan seluruh uangnya.”

Arga akhirnya tertawa. Suara itu membuat Nadira ikut tersenyum lega, meskipun ia masih merasa ada sesuatu yang belum beres.

Laki-laki itu kembali mendekat dan mengecup bibirnya dengan lembut. Nadira menyambutnya, kemudian merangkul lehernya ketika Arga memeluknya lebih erat.

Kali ini Arga berusaha hadir sepenuhnya. Ia membiarkan dirinya menikmati kehangatan Nadira, sentuhan lembut perempuan itu, dan kecupan-kecupan kecil yang mereka bagi tanpa perlu banyak bicara.

Ketika akhirnya mereka berpisah, Nadira menyandarkan dahinya pada dahi Arga. “Aku sayang kamu,” bisiknya.

Arga menatap Nadira lekat, kemudian mengecup kening istrinya itu berulang kali. “Aku juga sayang kamu.”

Nadira tersenyum dan kembali memeluknya. Malam itu, mereka tetap bersama di sofa lebih lama dari biasanya, saling mendekat dan menikmati kemesraan yang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Sesekali Nadira melontarkan godaan kecil, membuat Arga tertawa dan melupakan sejenak kegelisahannya.

Hingga akhirnya Arga mengangkat Nadira dari sofa dan membawanya menuju kamar.

Nadira menyembunyikan wajah di bahunya sambil tertawa kecil. “Kalau kamu terus begini, besok punggungku bisa sakit.”

Arga tersenyum. “Salah sendiri berat sekali.”

“Arga!”

Tawa mereka memenuhi lorong menuju kamar.

Untuk malam itu, Nadira memilih tidak bertanya lagi. Ia ingin percaya bahwa suaminya hanya sedang mengalami hari yang melelahkan.

Sementara Arga, meskipun masih menyimpan persoalan yang belum terselesaikan, kembali memeluk perempuan itu dengan erat. Ia tahu dirinya tidak bisa terus menghindari kenyataan.

Namun, malam ini belum berakhir. Dan untuk beberapa jam ke depan, ia ingin menikmati kehidupan yang telah dipilihnya bersama Nadira, sebelum akhirnya harus menghadapi keputusan yang tidak mungkin ia tunda selamanya.

1
Setyowati Setyowati
dari kemarin ngintip trs sy kira keman Thor ...tp syukurnya up juga ..jangan Hiatus Thor 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kalau bisa jangan simpan semua sendiri Nadira...karena kamu akan banyak pikiran jadi akan berimbas pada janinmu dan dirimu ..bagi bebanmu pada Arga juga ..biar sama " mencari solusinya
Setyowati Setyowati
lanjut 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kemungkinan Nadira hamil ..dan tidak ada alasan untuk minta pisah ...Alya dan Nadira sama" terjebak pada laki" yg egois ..tidak ada pemenang maupun yg kalah ..karena kedua" nya posisinya sama ..di tipu di sembunyikan dari istri lainnya
Setyowati Setyowati
maaf .. sampai lupa kasih bintang 5 ..keasikan baca
Setyowati Setyowati
masih merasa enak ya si Arga Tengo sana sini masih oke ..tp kalau semua sudah ketahuan sama orangtua dan Nadira ...apa alasan yg keluar dari mulutmu
Setyowati Setyowati
angga lagi mampir ya thor
Anita Giu: Ah typo 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!